"Wall-E" Walt Disney Pictures Animation / Adventure / Comedy / Sci-Fi A
Tri Mas Getir - Rapi Films By blueshark Published: June 27, 2008 PrintEmail
The Story
Tersebutlah trio mas-mas yang bersahabat satu sama lain, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ciang Pek adalah seorang pemuda pewaris perguruan kung fu. Sugeng adalah seorang mantan karyawan yang sekarang sedang jadi pengangguran. Sugeng juga memiliki istri gemuk bernama Susi yang hypersex. Sedangkan Ujang adalah anak pengusaha rumah makan Padang. Ketiga sahabat ini sering menjadi pemeran figuran, namun sebenarnya mereka bermimpi menjadi bintang besar.
Nasib malang satu per satu mendatangi trio mas-mas ini. Status Sugeng yang pengangguran akhirnya ketahuan oleh Susi, dan Susi memutuskan untuk menikah lagi dengan Syafei, seorang satpam yang punya 'torpedo' luar biasa. Sugeng pun mau tak mau harus mengungsi dari kediamannya, dan menginap di perguruan milik Engkong Ciang Pek. Setibanya di perguruan, terdengar kabar bahwa Engkong Ciang Pek yang merupakan guru besar di sanggar Wushu itu tiba-tiba meninggal karena tersedak rendang yang diantar oleh Ujang dari restoran Padang milik ayahnya. Tak lama setelah kematian sang Engkong, lintah darat Munar Sapawi mendatangi Ciang Pek untuk menagih hutang si Engkong dengan jaminan lahan perguruan kung fu itu. Sedangkan Ujang yang ngefans berat dengan Katrina, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa dia sudah dijodohkan oleh sang ayah. Kesialan mereka bertiga tidak berhenti sampai sini saja, Sugeng bahkan diramal oleh Paman Guru (saudara Engkong Ciang Pek) bahwa dia akan mati seminggu lagi.
Dengan segala keadaan yang benar-benar sial, mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk menculik Katrina demi uang tebusan, dan harus sesegera mungkin, mengingat ajal Sugeng yang sudah tidak lama lagi. Sugeng yang diserahi tugas untuk persiapan pun akhirnya meminjam uang lagi kepada Munar Sapawi. Ketika konferensi pers film terbaru Katrina, mereka pun menjalankan rencana. Namun sial, mereka salah culik. Yang berhasil diculik adalah Fatima, seorang bintang yang namanya sudah mulai pudar. Berhasilkah mereka mengatasi masalah yang ruwet ini? Tonton saja di Tri Mas Getir.
Trailer
Overall
Untuk sebuah tayangan komedi bioskop, saya patut geleng-geleng kepala karena joke yang ada disini banyak yang vulgar dan mengarah ke arah lelucon seksual atau hal jorok (boker di WC, onani, telanjang di hari pernikahan, dll). Lucu memang, namun sangat tidak layak ditonton anak-anak maupun remaja ABG. Selain itu, lelucon pada percakapan Ujang dan sang ayah seringkali tidak dipahami oleh penonton, karena dialek Padang mereka tidak diberikan subtitle sama sekali. Padahal kalau ngerti, cukup lucu juga lho. Jalan cerita di film ini kadang kala sulit untuk ditebak, karena sering diselingi oleh kejadian konyol, sehingga terkesan leluconnya hanyalah numpang lewat belaka. Sedangkat plot secara keseluruhan cukup mudah untuk ditebak dan diikuti.
Untuk faktor sinematografi, saya melihat beberapa kejanggalan pada beberapa adegan. Misalnya adegan kejar-kejaran dengan mobil, masih belum bisa dibandingkan dengan film luar yang berani menabrakkan mobil demi faktor realistis. Dan juga dengan kostum yang digunakan oleh Fatima, tidak tampak kusut atau lusuh meskipun baru saja meronta-ronta ketika diculik. Penggambaran perguruan kung fu ala film Hong Kong jaman 70an juga benar-benar kurang tampak nyata bagi kita yang hidup di era modern. Meskipun demikian, saya patut salut karena konsep pengambilan lokasi ala perguruan kung fu ini bisa dibilang merupakan hal yang unik.
Untuk karakter, saya agak menyayangkan terhadap akting Tora, karena karakter yang diperankannya tidak memiliki watak yang kuat. Indra Birowo yang sering tampil di Extravaganza justru memiliki karakter lebih kuat daripada Tora Sudiro. Juga untuk Vincent Club 80s yang memerankan Ujang, bisa dibilang cukup oke meskipun ini adalah film layar lebar pertamanya. Yang saya sayangkan adalah kehadiran Titi Kamal yang terkesan 'cuma nampang' saja di film ini. Untuk Roby Tumewu dan Tino Sarunggalo, saya cukup salut dengan akting kedua senior ini.
Secara umum, saya hanya bisa berkata bahwa ini adalah film komedi dengan bumbu humor dewasa. Dan tidak banyak faktor yang mampu membuat film ini menjadi sebuah film fenomenal. But again I remind you, jangan bawa anak-anak buat nonton film ini.