Journey to the Center of the Earth - New Line Cinema By blueshark Published: November 3, 2008 PrintEmail
Trevor dan Sean menemukan catatan dalam novel Jules Verne 'Journey to the Center of the Earth' milik Max. Catatan itu mengandung koordinat bujur lintang dan mereka pun berniat menyelidikinya karena Max menghilang bertahun-tahun lalu. Ditemani Hannah, pemandu cantik, mereka pun akhirnya tiba di dasar inti bumi. Masalah utamanya adalah mereka terkurung di dunia dalam bumi yang dipenuhi berbagai makhluk unik itu. Berhasilkah mereka keluar hidup-hidup?
The Story
Trevor Anderson adalah seorang vulkanologis yang memiliki keponanakan berusia 13 tahun yang hendak menghabiskan 10 hari bersamanya, bernama Sean. Trevor sempat lupa bahwa sang keponakan akan datang, dan baru ingat ketika kakak iparnya sudah berada di depan pintu. Selain mengantar Sean, ibunya juga memberikan kotak berisi barang-barang milik mendiang Max, kakak Trevor yang juga merupakan ayah Sean. Max menghilang beberapa tahun lalu, dan laboratorium miliknya terancam ditutup karena tidak ada yang mendanai riset vulkanologi yang kini dilanjutkan oleh Trevor.
Di kotak milik Max, Trevor menemukan berbagai barang peninggalan sang abang, seperti misalnya yoyo, sarung tangan baseball, dan novel Journey to the Center of the Earth karya Jules Verne, sang bapak fiksi ilmiah dunia. Di buku inilah Trevor menemukan coretan-coretan dari Max, yang berisi koordinat bujur dan lintang. Trevor dan Sean lalu pergi ke lab untuk meneliti tentang catatan-catatan dari buku itu. Disana mereka menemukan sebuah titik di daerah Iceland yang menampakkan tanda-tanda vulkanik seperti yang dikatakan dalam buku novel. Mereka pun akhirnya pergi ke Iceland untuk menyelediki secara langsung.
Ditemani oleh Hannah, pemandu panjat gunung, Trevor dan Sean pun akhirnya menjelajahi gunung itu untuk mendapatkan data dari tremor probe yang sebelumnya sudah diletakkan disana. Namun mereka bertiga malah terjebak di gua yang runtuh, dan gua tersebut merupakan sisa penambangan yang sudah ditinggalkan karena terjadi kecelakaan sekitar 50 tahun yang lalu.
Trevor, Sean dan Hannah akhirnya menjelajah lebih jauh ke dalam gua dengan harapan mereka akan menemukan jalan keluar, namun perjalan tersebut akhirnya malah membawa mereka jauh lebih dalam ke dasar inti bumi. Disanalah Trevor dan Sean akhirnya menemukan nasib Max. Berhasilkah mereka bertiga keluar hidup-hidup dari dasar inti bumi?
Overall
Satu hal yang patut saya katakan sebelum kamu memutuskan untuk nonton film ini, bahwa Journey to the Center of the Earth bukanlah film blockbuster yang merupakan interpretasi sesungguhnya dari novel karya Jules Verne. Film ini jauh lebih terasa ringan, dan bukanlah film yang penuh aksi serta darah.
Hal yang seru seperti adegan penuh kecepatan akan banyak ditemui disini. Jatuh merupakan hal yang biasa dalam inti bumi. Sayangnya semuanya terasa sangat tidak realistis. Dari awal kita belajar IPA, kita sudah tahu bahwa inti bumi adalah lava, bukan 'dunia dalam dunia' seperti dalam film ini. Namun hal itu jelas kita abaikan disini, karena genre sci-fi memang mengharuskan kita mengabaikan ilmu pasti. Yang membuat tidak realistis bukanlah unsur sci-fi di film ini, namun unsur lain. Seperti yang saya katakan, jatuh merupakan hal yang sering terjadi jika kamu berada dalam dunia lain di inti bumi, namun ketiga karakter ini tampaknya punya ilmu kebal karena tidak ada cedera sedikitpun.
Kamu akan menemui ketiga karakter ini jatuh dari ketinggian beratus-ratus meter dan terjatuh ke air tanpa mengalami patah tulang. Lalu kamu juga akan mendapati mereka berada dalam lingkungan dengan suhu 120 derajaf Fahrenheit (48,89 derajat Celcius) dan tidak berkeringat. Kamu akan mendapati mereka berada di permukaan lautan yang dipenuhi ikan purba yang meloncat sambil membuka rahang bergigi sebesar belati, namun mereka bisa selamat. Kamu juga akan mendapati mereka kejar-kejaran dengan Tyrannosaurus Rex dan bisa mengimbangi kecepatan lari sang raja predator purba itu. Kamu pun bisa melihat mereka terpental setinggi lebih dari 40 meter di ujung gunung, dan mendarat dengan selamat. Memang seru melihat semua kejadian ini dalam lingkungan 3D, namun pengabaian logika yang ada di film ini sungguh-sungguh sudah berlebihan.
Bicara soal 3D, kamu mungkin tidak akan menemui teks terjemahan di film ini, karena kemungkinan besar hasil re-mastering yang mengandung teks justru akan membuat teksnya tidak terbaca. Film 3D ini terlihat buram dan tidak fokus jika kamu tidak menggunakan kacamata 3D yang disediakan oleh XXI. Tapi hasilnya jauh berbeda jika kamu pakai kacamata 3D, karena setiap objek di film ini jadi terasa memiliki jarak yang bener-bener terasa. Saya mungkin kurang bisa mengungkapkan dengan kata-kata, namun saya berani menekankan bahwa unsur 3D di film ini benar-benar sudah membawa pengalaman baru kepada saya dan beberapa rekan pers. Rasanya seperti masuk ke dalam dunia film atau bahkan rasanya seperti berada dalam nuansa film itu sendiri.
Sayangnya, fitur 3D adalah satu-satunya fitur yang paling menonjol di film ini. Kamu tidak akan menemui tokoh musuh disini, karena kisah film ini adalah tentang Trevor, Hannah dan Sean yang berusaha keluar hidup-hidup dari inti bumi. Kamu pun tidak akan menemui kejadian yang mengandung darah, kecuali ketika Hannah mengalami cedera tangan akibat bergesekan dengan tali yang dipegangnya. Jadi buat kamu yang ingin melihat film 3D atau hendak mengajak adik kecil untuk sekedar have fun menikmati joyride, ini adalah film yang tepat. Namun buat kamu yang mengharapkan film ini akan jadi film serius karena kamu fans karya-karya Jules Verne atau karena kehadiran Brendan Fraser, buang jauh-jauh bayangan itu dan lipat kembali dompetmu untuk film lain yang lebih menarik.
VGI Rates: C+
Overview
Directed by
Eric Brevig
Produced by
Brendan Fraser (executive)
Written by
Jules Verne (novel)
Michael Weiss
Mark Levin
Starring
Brendan Fraser
Josh Hutcherson
Anita Briem
Music by
Andrew Lockington
Cinematography
Chuck Shuman
Editing by
Paul Martin Smith
Dirk Westervelt
Steven Rosenblum