Setelah menyaksikan film ini, saya jadi bisa mengerti mengapa banyak sekali suara-suara yang menyatakan kalau film ini mengecewakan. Tampaknya film ini berhasil menyusul jejak film Dragonball Evolution yang juga habis dikritik oleh para penggemarnya. Film hasil kerjasama antara Hyde Park Entertainment, Capcom Company Ltd., dan Adlabs Films Ltd ini secara keseluruhan tampil mengecewakan, tidak hanya bagi penggemar game Street Fighter tapi mungkin juga para penggemar film laga.
Andrzej Bartkowiak dan Kristin Kreuk
Dari segi cerita, film ini boleh dibilang memiliki materi yang cukup menarik. Bagaimana perjuangan Chun-Li yang ingin membalaskan dendam atas penculikkan ayahnya oleh Bison. Namun, entah kenapa pada saat pengaplikasiannya cerita menjadi terkesan basi dan mudah ditebak. Belum lagi dialog-dialog yang berkesan murahan dan asal-asalan, terutama dialog-dialog milik karakter Charlie Nash dan juga Maya Sunee. Terlalu maksa deh kesannya.
Maya in Action
Kalau dilihat dari segi laga-nya, film ini juga seharusnya menjanjikan aksi-aksi khas beberapa karakter Street fighter, bukan hanya sekedar numpang lewat atau yang penting ada. Secara film ini judulnya Street Fighter, seharusnya aksi-aksi street fighting juga diperbanyak. Plus, teknologi film laga kan juga sudah maju, saya rasa film ini harusnya bisa lebih. Kok, malah berkesan kayak dibikin di tahun 80-an, dimana teknologi film masih lebih terbatas.
Ayo kembaliin sepatu gue...
Pemilihan para pemain juga patut dijadikan catatan. Kristin Kreuk, pemeran utama dalam film ini, memang tampil memikat dan menurut saya menjadi satu-satunya daya tarik dari film ini. Para penggemar serial Smallville (termasuk saya), pasti tidak sabar untuk melihat aksi pemeran Lana Lang ini. Aksi laganya juga cukup mumpuni kok. Tapi pemeran lainnya, basi banget. Film ini benar-benar seperti film Kristin Kreuk dan yang lain cuma numpang main atau lewat. Terutama untuk karakter Vega (atau dalam versi Jepang disebut Balrog), pasti banyak banget yang kecewa dengan aksinya. Sori banget yah buat para penggemar karakter ini. Tampaknya pembuat film benar-benar gagal menghidupkan karakter ini dalam layar lebar. Selain itu, masukan untuk pembuat film, sebaiknya jangan gunakan pemeran dari film sejenis yang karakternya di film lain sangat dominan. Agak jayus aja menurut saya.
Taboo sebagai Vega
So, siap-siap aja yah untuk kecewa kalau nonton film ini. Kecuali kalau kamu hanya ingin menikmati film ini tanpa prasangka dan juga penilaian. Karena toh pada akhirnya film ini tetap bisa menghibur kok. Terutama ada satu bagian yang pasti bikin kamu semua penggemar game Street Fighter ingin berteriak. Satu lagi, kalau melihat ending film, ada kemungkinan untuk sebuah sekuelnya. Jadi, selamat menonton aja ya…