Saya tidak ingin bercerita lebih banyak lagi mengenai alur dari film ini. This is a must seen movie. Jadi, pastinya akan lebih seru lagi apabila penikmat film cari tahu sendiri bagaimana cerita lengkapnya. Setelah sekian lama absen dari produksi film layar lebar, Cameron kembali dengan satu film yang pada nantinya juga akan dikenang sebagai salah satu karya besarnya. Dan seperti biasanya, Cameron tampak all-out untuk mempersiapkan setiap filmnya termasuk yang satu ini. Antusiasme para pemerhati film yang sudah menunggu lama untuk film ini sepertinya tampak cukup terpuaskan kali ini. Untuk urusan ceritanya, jalan cerita dari film ini memang cukup terkesan sederhana untuk ditebak dan mengalir dengan tempo yang cukup standar. Namun, lain halnya dengan bagaimana Cameron mengemas film ini agar dapat menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Film ini digarap dengan menyediakan dukungan stereoscopic 3D yang indah dan juga nyata. Pandora yang eksotis serta indah, tampak semakin nyata keindahannya berkat sajian visualisasinya. Obyek-obyek yang ada pun tampak semakin dekat mata berkat hal ini. Fitur 3D ini tampak dengan sangat maksimal di dalam Avatar, dan jelas bahwa ini mutlak merupakan suatu nilai lebih dalam hal penyampaian film ini.
Sam Worthington adalah pria “beruntung” yang bisa bekerjasama dengan Cameron pada kali ini. Sebelumnya, nama pria kelahiran Inggris ini telah sempat kita saksikan kebolehan aktingnya sebagai tokoh Marcus Wright dalam Terminator Salvation di pertengahan tahun ini. Sukses meraih simpati dan perhatian dari para penonton sebagai Terminator, kini Worthington kembali mengundang simpati lewat perannya kali ini sebagai Jake Sully, tokoh utama yang bisa memperoleh lagi kedua kakinya berkat Avatar. Selain itu, film ini juga diwarnai dengan hadirnya Sigourney Weaver, yang pastinya sudah tidak asing lagi lewat Aliens, dan Michelle Rodriguez yang populer lewat Fast & Furious. Namun, nilai lebih lainnya bisa ditemukan pada hidupnya Avatar dan Na’vi yang tampak realistis sebagai hasil rekayasa komputer. Masing-masing Na’vi terlihat memiliki model dasar manusianya, maka tidak heran kalau para Na’vi ini bisa semakin terlihat nyata dengan berbagai ekspresinya. Bisa saya bilang bahwa kualitas CGI dan visual effects dari film ini merupakan salah satu terbaik dari yang pernah ada. Setting bernuansa futuristik dengan berbagai kendaraan canggih dan mobile armor dipadu dengan keindahan alam Pandora yang eksotis juga fantastis adalah latar dari perang besar antara manusia dan Na’vi.
Jangan terlalu berharap untuk jalan cerita yang rumit dan mengundang kita untuk lebih berpikir ketika menyaksikannya. Film ini tidak menyajikan cerita yang terlalu berat dengan formula cerita yang mungkin sempat kita lihat di beberapa film lain sebelumnya, misalnya seperti The Last Samurai. Cukup duduk dan nikmati betapa indahnya film ini dikemas untuk menarik kita langsung ke dalam situasi peperangan antara manusia melawan Na’vi. Strategi pemasaran yang selama ini dilakukan berkaitan dengan film ini pun tampak cukup membantu. Selama ini, orang-orang sempat dibuat penasaran dengan minimnya informasi dan trailer untuk film ini, yang terlihat sangat berperan dalam membangun antusiasme dari orang-orang yang telah menunggunya. Sebagai sebuah film, Avatar hadir dengan berbagai keunggulan dari sisi teknis, yang menjadikannya sebagai film yang perlu untuk dilihat bagi mereka yang ingin tahu perkembangan teknologi film saat ini. Meskipun cerita yang dibawakan dalam dua setengah jam lebih ini sudah bisa diperkirakan alurnya, hal tersebut tidak akan mengganggu kenikmatan para penonton ketika menyaksikannya sebagai sebuah film yang penting disaksikan dengan dukungan suara yang mantap serta visualisasi 3D-nya. Berhentilah berspekulasi, karena film ini merupakan sebuah film yang harus para penikmat film saksikan sendiri. Selamat menyaksikan. (LYR)
VGI Rates A
Directed by
James Cameron
Produced by
James Cameron
Jon Landau
Written by
James Cameron
Starring
Sam Worthington
Zoë Saldaña
Stephen Lang
Michelle Rodriguez
Sigourney Weaver