30 Days of Night By blueshark Published: November 27, 2007 PrintEmail
The Story
30 Days of Night, film yang diadaptasi dari novel dengan judul serupa ini menceritakan tentang sebuah kota yang jauh dari kota-kota lain di daerah Alaska. North Slope Borough atau The Burrow, itulah nama kota terpencil tersebut. Bayangkan, jarak kota ini dengan kota lainnya paling dekat 80 mil. Dan lebih gilanya lagi, apabila bumi sedang pada titik apelium, atau titik terjauh dengan matahari, maka selama 30 hari cahaya sinar matahari tidak akan menyinari kota ini. Komunikasi dengan dunia luar benar-benar terputus, dan para warga kota biasanya sudah menyiapkan perbekalan untuk 30 hari yang selalu malam itu.
Inti cerita film dimulai ketika malam panjang 30 hari itu terjadi, dan badai salju melanda kota itu hampir setiap hari. Tanpa ada sinar matahari, para vampir datang dan berencana untuk membantai para penduduk kota North Slope Borough. Awalnya para vampir menyuruh seorang budak manusianya untuk mengalihkan perhatian Sheriff Eben Oleson supaya tidak berpatroli, dan mereka bisa leluasa merusak pusat listrik kota. Tujuan penyerangan ini supaya kota menjadi gelap gulita, dan tidak ada cahaya lampu.
Setelah para vampire berhasil melakukan misi yang pertama, barulah mereka melakukan misi utama, yaitu dengan membantai para penduduk kota. Penyerangan pusat listrik itu akhinya diketahui oleh Eben, lalu dia menghimbau agar para penduduk kota untuk tetap berada di dalam rumah atau berkumpul di satu tempat. Tapi dengan beringas para vampire tetap membantai para penduduk kota. Mereka memasuki rumah para penduduk dan menculik siapa saja yang ada di dalamnya. Disinilah terjadi pertumpahan darah yang sangat mengerikan.
Vampire di film ini cukup intelek dan punya strategi perang yang lumayan canggih. Mereka sengaja tidak menunjukkan diri selama berabad-abad agar para penduduk kota beranggapan bahwa vampire cuma ada dalam dongeng. Disaat manusia sudah tidak ada yang percaya adanya vampire, itulah saatnya mereka keluar untuk membantai manusia secara terang-terangan.
Para vampire juga sengaja tidak menggit dan menjadikan penduduk kota menjadi seperti mereka, karena mereka menganggap manusia hanya sebagai santapannya saja. Dengan kejam, mereka membantai manusia hingga tersisa hanya beberapa saja.
Diantara yang tersisa ini, terdapat Eben Oleson, Stella Oleson, Jake Oleson (adik dari Eben), dan para kawan-kawannya. Untungnya mereka dapat menemukan tempat persembunyian yang aman, meski tempat itu tidak ada persediaan makanan. Mampuhkah Eben menyelamatkan kawan-kawanya dari serangan vampire, untuk lebih jelasnya kamu tonton saja di bioskop kesayangan kamu.
Overall
Keluar dari bioskop usai melihat film ini, masih terbayang betapa kejamnya vampir-vampir itu membantai penduduk kota kecil The Burrow. Tak hanya itu saja, dari darah berceceran hingga leher yang ditebas kapak pun masih teringat di benak saya. Tak diragukan lagi, efek blood & gore di film ini memang TOP!
Tidak seperti film vampir lain yang kebanyakan mengambil tempat di hutan atau di kota atau bahkan di rumah kosong, film ini juga sudah cukup untuk membuat saya percaya bahwa Alaska bukan tempat yang bersahabat bagi manusia. Badai salju, udara dingin, dan malam yang tak kunjung berakhir benar-benar siksaan batin tersendiri bagi mereka yang tinggal disana. Apalagi ditambah segerombol vampir yang lapar. Lengkaplah sudah.
Film ini benar-benar mampu memberikan sebuah perspektif baru, karena sebelum saya nonton film ini, saya sempat beranggapan bahwa tak ada tempat yang paling kejam selain di hutan rimba. Dan disaat bahaya datang dan keadaan terdesak, maka munculah sifat asli dari masing-masing manusia itu. Kita bisa melihat apa yang dilakukan mereka ketika mereka panik, ketika takut, dan bahkan ketika anggota keluarganya terancam bahaya. Semua tampak cukup real disini.
Dibagian akhir pun, kita masih disuguhi adegan perkelahian yang keren. Dan di bagian penutup, masih ada sebuah adegan yang memperlihatkan sebuah pembuktian kasih sayang - duh ileh....!!!
Oh ya, dengan adegan sadis dan aksi brutal serta darah dan organ tubuh yang berceceran, kayaknya kamu patut mikir kalo mau bawa adik kecil kamu buat nonton film ini. Really, guys, it was total mayhem!