The Golden Compass - New Line Cinema By blueshark Published: December 26, 2007 PrintEmail
Official Trailer on Page #2
The Prologue
Awal mula film ini dimulai dengan narasi yang cukup membuat penasaran. Alam semesta merupakan kumpulan dimensi yang berbeda satu sama lain. Ada Bumi dimana jiwa manusia bersatu dengan raganya, yaitu dunia kita. Dan ada Bumi lain dimana jiwa manusia berada dalam raga binatang yang mengikuti manusianya. Jiwa dengan raga binatang itu disebut sebagai Daemon, yang selalu mengikuti manusianya, dan juga merasakan sakit jika pemiliknya disakiti. Dunia paralel itu dihubungkan dengan Dust, sebuah partikel magis. Dust mengetahui kebenaran dan segalanya, dan terdapat juga sebuah alat bernama Althiometer yang dapat membaca kebenaran melalui Dust.
The Story
Tersebutlah Lyra, seorang gadis pelajar yang tinggal di Oxford's Jordan College di dunia tersebut. Lyra diceritakan sebagai keponakan Lord Asriel, salah seorang bangsawan yang meneliti kebenaran tentang adanya Dust. Lyra merupakan gadis tomboy dan bandel, dia juga mempunya kawan-kawan anak Gyptians (kaum seperti gipsy dengan gaya kultur seperti orang Mesir kuno jaman Alibaba). Salah satunya adalah Roger. Lyra juga memiliki Daemon dengan bentuk yang masih belum pasti, masih dapat berubah-ubah. Bentuk Daemon yang tidak tetap ini merupakan hal yang wajar di dunia tersebut jika pemiliknya masih anak-anak.
Suatu hari Lyra mencuri dengar pertemuan pamannya dengan pihak Oxford dan Magisterium, yang merupakan nama pemerintah di dunia ini. Sang paman, Asriel, hendak menuju ke kutub utara yang diklaim sebagai tempat dimana Dust bisa terlihat dan mengalir ke tubuh manusia melalui Daemonnya. Dia mendengar kata "Dust", dan sempat menanyakan hal tersebut kepada sang paman, namun Asriel memintanya untuk tidak pernah membahas tentang hal itu lagi.
Ketika sang paman sudah pergi, datanglah Ms.Courtler di Oxford, dan wanita cantik penuh daya magis ini mengajak Lyra untuk mengikuti ekpedisi ke kutub utara. Lyra lalu meninggalkan Oxford, dengan bekal Althiometer yang diberikan oleh sang Master of Oxford untuk mengetahui kebenaran. Awalnya Lyra sangat menyukai wanita ini dan mengikuti perintahnya, namun ternyata Ms.Courtler mengincar Althiometer miliknya. Lyra bahkan menemukan bukti bahwa Ms.Courtler merupakan dalang dari sindikat Gobbler, penculik anak. Dengan bantuan kaum Gyptians, Lyra berhasil kabur dari kejaran komplotan ini.
Belakangan Lyra mengetahui bahwa Roger, sahabatnya, juga sudah diculik oleh para Gobbler. Dengan bantuan Althiometer, Lyra mengetahui bahwa komplotan ini bermarkas di kutub utara. Dalam perjalanan menyelamatkan Roger, Lyra juga mendapat bantuan dari Iorek, si beruang kutub, dan Lee Scorsby, pilot balon udara. Dia juga bertemu dengan Serafina Pekkala, ratu para penyihir. Dan dimulailah perjalanan panjang menuju markas Gobbler untuk membuat perhitungan dan balas dendam.
The Adapted Movie vs The Original Trilogy
His Dark Materials: Northern Lights, merupakan judul asli dari buku pertama dari film trilogi ini di UK. Ketika masuk ke US, pihak publisher menggantinya dengan nama Golden Compass. Banyak fans dari karya epik trilogi Philip Pullman akan penasaran dengan film ini, yang merupakan adaptasi dari bukunya. Dalam buku itu, ceritanya menakjubkan, menimbulkan penasaran, dan terkadang kejam. Selain itu, pesan yang ada dalam novel aslinya juga mengandung nilai filosofi, dan terkadang spiritual di beberapa sudut. Sayang sekali, filmnya justru gagal menampilkan poin ini. Film adaptasi ini justru mengangkat sudut fantasi, laga, dan si beruang kutub yang bisa bicara (panserbjorne).
Semangat yang terkandung di dalam cerita novel justru hilang. Seperti misalnya pengembangan pemahaman setiap individu terhadap Daemon-nya. Patut diakui bahwa pengembangan cerita kompleks seperti di novel memang sangat sulit untuk ikut diadaptasi, sehingga hanya menghasilkan film dengan durasi pendek, 114 menit saja. Dengan menghilangkan unsur itu, penonton hanya disajikan oleh suatu film yang memamerkan special effect, daripada sebuah kisah yang seharusnya jauh lebih epik.
Overall
Karakter yang ada di film ini juga terkesan tidak diberikan kesempatan untuk berkembang. Konsep Daemon, Dust, Magisterium, dan sihir yang ada pun hanya diceritakan lewat narasi pendek saja. Hasilnya adalah sebuah perasaan yang hambar terhadap setiap karakter, karena tidak ada yang kesan khusus pada diri mereka.
Namun, dibalik kekecewaan terhadap plot dan karakter, buat kamu pecinta grafik, maka mata akan benar-benar dimanja di film ini. Bagaimana dunia tempat Lyra hidup digambarkan, lalu indahnya nuansa kutub, serta efek ketika beruang bertarung gila-gilaan, semua cukup membuat penonton untuk menahan nafas.
Pengembangan karakter yang hampir nol juga nampaknya masih bisa ditutupi dengan akting mereka yang cukup kuat. Setiap aktor disini bisa memerankan karakternya dengan baik, meskipun kurang dari segi pengembangan watak. Daniel Craig mampu membawakan Lord Asriel seperti di dalam bukunya. Nicole Kidman masih tetap memiliki kecantikan dan daya tarik magis, serta mampu tampil sinis sekaligus pintar. Sam Elliot juga cukup bisa tampil menyenangkan sebagai Lee Scorsby. Dan yang utama adalah sosok Lyra yang dibawakan dengan baik sekali oleh Dakota Blue Richards, meskipun masih belum seperti di novelnya.
Sejauh film ini berjalan, adegannya memang memikat mata dan memukau. Namun fase adegan demi adegan yang relatif cepat justru membuat penonton seperti tidak punya banyak waktu untuk bernapas. Jika kamu pergi 2 menit saja untuk ke toilet, bisa jadi kamu akan kembali ke tempat dudukmu dan bertanya, "Lho? Kok jadi gitu?" Memang adegannya keren, saya akui sekali. Sayangnya adegan keren ini tidak diimbangi dengan pengembangan yang mendalam, sehingga kurang meninggalkan kesan ketika saya harus berdiri dari kursi bioskop.
Meskipun demikian, saya cukup menyarankan untuk melihat film yang merupakan rangkuman dari novel aslinya ini sebagai salah satu hiburan alternatif di akhir tahun. Anak-anak juga saya yakin akan menyukai ceritanya, karena cenderung mudah dimengerti. Jika kamu mengharapkan plot dan pengembangan karakter yang berat, ini nasehat saya: jangan banyak berpikir, cukup nikmati film ini dengan sebungkus popcorn karamel dan segelas softdrink bersama orang-orang yang kamu sayangi di akhir pekan nanti.
VGI Rates: A-
Overview
Director
:
Chris Weitz
Writers (WGA)
:
Chris Weitz (screenplay)
Philip Pullman (novel)
Genre
:
Action / Adventure / Drama / Family / Fantasy / Thriller