Alvin and the Chipmunks - 20th Century Fox By blueshark Published: January 14, 2008 PrintEmail
The Story Synopsis
Tiga bersaudara chipmunk, Alvin, Simon, dan Theodore hidup di sebuah hutan cemara. Suatu hari pohon tempat mereka tinggal ditebang untuk pohon natal. Pohon itu pun pindah tempat dari hutan ke sebuah gedung di perkotaan. Ketika mereka mencoba untuk melarikan diri dari suasana asing di sekelilingnya, mereka masuk ke keranjang roti yang sedang dibawa oleh Dave, seorang musisi yang selalu gagal membuat lagu.
Ketika tiba di rumah Dave, para chipmunk ini mulai bertingkah layaknya binatang. Mereka mengacak-acak seisi rumah Dave dan bahkan sempat membuat Dave pingsan. Ketika Dave siuman, para chipmunk ini pun mencoba bicara dengannya. Dave hampir tak bisa menerima kenyataan bahwa dia sedang bicara dengan binatang. Setelah beberapa lama, para chipmunk akhirnya berhasil meyakinkan Dave bahwa dia tidak gila, para chipmunk ini memang bisa bicara bahasa manusia. Dan tidak hanya itu saja, mereka juga bisa menari dan menyanyi.
Dave yang bagaikan melihat berlian belum diasah, akhirnya membuat perjanjian dengan para chipmunk. Mereka boleh tinggal disitu, tapi harus menari dan menyanyi untuk Dave. Ian, kawan Dave yang memiliki usaha rekaman, awalnya tidak percaya para chipmunk ini bisa bernyanyi. Namun ketika para chipmunk ini memperlihatkan kebolehannya, akhirnya Ian memberikan kontrak. Lagu chipmunk pun tersebar di pasaran dan menduduki puncak tangga lagu.
Sikap chipmunk yang selayaknya binatang, suka senang-senang dan mengacak-acak, lambat laun membuat Dave kesal. Dia pun melarang para chipmunk untuk melakukan perusakan di rumahnya. Tak hanya itu saja, Dave yang sudah terlalu lama hidup menyendiri ini tidak tahu bagaimana memperlakukan keluarga di hari Natal. Sementara Ian memanjakan para chipmunk dengan banyak hadiah.
Akhirnya, Ian pun berhasil mengambil hari para chipmunk. Mereka meninggalkan Dave yang dianggap tidak sayang terhadap mereka. Dave pun harus berusaha untuk membuktikan kasih sayangnya kepada para chipmunk, sekaligus membongkar siasat busuk Ian yang memanipulasi para chipmunk demi uang.
Overall
Kisah Alvin and the Chipmunk ini memang sudah ada sejak 50 tahun lalu. Film ini membangkitkan banyak kenangan masa kecil saya. Karakter Alvin, Simon, dan Theodore masih selucu yang dulu. Hanya saja, mungkin dulu kita hanya melihat versi kartun. Kali ini, versi animasi 3D-lah yang menghias layar lebar.
Peluncuran film ini di Indonesia memang bisa dibilang terlambat, karena di negara asalnya film ini adalah film musim natal, bersamaan dengan I Am Legend-nya Will Smith. Memang film ini belum bisa menyaingi film 'legenda' itu, namun perolehannya yang mencapai lebih dari 40 juta dollar di minggu pertama tampaknya memang tidak bisa dianggap remeh. Trailer yang sempat saya lihat memang tidak terlalu bagus. Tapi ketika melihat film ini, saya cukup menikmatinya. Guyonan ringan khas anak-anak, seperti kentut dan mengacak-acak seisi rumah, terasa membangkitkan kenangan lama. Cerita binatang yang bisa bicara dengan manusia memang jelas termasuk film anak-anak, tapi saya tidak bisa menolak kenyataan bahwa ini film ini cukup menghibur. Apalagi jika dinikmati tanpa racun "ah, masa binatang bisa bicara".
Musik merupakan faktor pendukung utama di film ini. Alvin & The Chipmunks memang bercerita tentang 3 chipmunk yang bisa bernyanyi dan menari. Jadi tidak aneh kalau film ini dipenuhi lagu yang dinyanyikan oleh mereka. Awalnya saya memang agak skeptis tentang hal ini. Apa enaknya sih mendengar lagu yang dinyanyikan oleh vokal yang mencicit? Tapi kalau dipikir dan dinikmati dengan rileks, lagu-lagunya boleh juga. Ada Chipmunk Song yang di-remix, lalu Witch Doctor dengan sentuhan 'chipmunk', juga ada Funky Town, Only You, dan Bad Day-nya Daniel Powter. Nice songs, really!
Tiga tokoh chipmunk yang merupkan tokoh utama di film ini adalah rekayasa grafik komputer. Alvin memiliki pengisi suara Justin Long, yang juga dikenal sebagai Mac-guy di iklan Apple Macintosh. Sedangkan Simon dan Theodore masing-masing diisi suara oleh Matthew Gray Gubler dan Jesse McCartney. Tapi tentu saja suara mereka sudah diubah sedemikian rupa sehingga terdengar mencicit. Tokoh Alvin sendiri memiliki peran yang kuat. Simon merupakan yang paling serius, sedangkan Theodore adalah yang paling bersifat kekanakan diantara 3 bersaudara itu.
Sedangkan tokoh Dave yang merupakan figur ayah bagi mereka, diperankan oleh Jason Lee yang juga dikenal sebagai Earl Hickey di serial My Name Is Earl. Saya tidak tahu apa mungkin Jason Lee memang memiliki gaya khas, karena saya melihat cara aktingnya disini tidak jauh berbeda sebagaimana yang ia perankan di My Name Is Earl. Mulai dari cara bicara, cara jalan, cara menjelaskan, mimik wajah, semuanya terlalu "Earl" buat saya.
Sedangkan untuk tokoh antagonis, Ian, diperankan dengan baik oleh David Cross. Dia adalah tokoh yang mampu memberikan kesan baik, namun ternyata ada rencana licik dibalik kata-katanya. Sedangkan untuk tokoh pemeran wanita, Claire, yang diperankan oleh Cameron Richardson, rasanya harus banyak berlatih lagi.
Secara umum, film ini adalah film keluarga yang sangat menghibur. Saya yakin anak-anak dan wanita pasti senang jika kamu ajak buat nonton film ini. Mungkin memang tidak sebaik Enchanted, tapi paling tidak film ini merupakan film keluarga terbaik yang sedang ditayangkan di bioskop tanah air saat ini.