Otomatis Romantis - ISI Production By blueshark Published: January 16, 2008 PrintEmail
The Story
Tersebutlah Nadia, seorang wanita muda, cantik, dan sukses sebagai pemimpin redaksi di sebuah majalah wanita. Nadia telah berusia 29 tahun, namun selalu merasa dirinya tidak mampu menemukan pasangan yang ideal. Sangat ironis, mengingat ia terkenal sebagai pakar dalam urusan percintaan dan memberikan tips jitu dalam mencari pasangan ideal di majalah tempat ia bekerja. Ayah Nadia sendiri berlatar belakang Jawa ningrat dan selalu memegang teguh adat istiadat meskipun sudah hidup kaya di jaman modern, dan dia selalu menagih putrinya itu untuk segera berkeluarga.
Lalu hadirlah tokoh Bambang, seorang pria desa yang lugu, bersahaja, yang bekerja sebagai karyawan admistrasi di perusahaan tempat Nadia bekerja. Sikap Bambang yang selalu tulus dalam melakukan segala hal inilah yang akhirnya menyentuh hati Nadia. Sayangnya, rasa gengsi Nadia yang cukup besar tak mampu mendorong wanita cantik ini mengungkapkan isi hatinya kepada karyawannya itu. Bambang sendiri selalu menganggap Nadia sebagai seorang atasan yang harus dihormati.
Ternyata, gelagat ini tercium oleh Nabila, kakak Nadia. Nabila sepenuhnya mendukung perasaan sang adik. Namun, Nabila selalu khawatir Bambang nantinya akan mengikuti jejak Dave. Dave adalah suami Nabila, yang dulunya juga pria lugu dan ndeso, namun mendadak berubah total menjadi pria tengil dan genit setelah kaya dan sukses.
Saat Nadia tak sanggup lagi membohongi perasaannya dan nekad menyatakan cintanya pada Bambang, tanpa diduga pria lugu ini malah mengungkapkan keinginannya untuk menikahi kekasih Trisno, kakak Bambang. Retno, demikian nama wanita itu, ditinggal hamil oleh sang kakak yang tak bertanggung jawab. Akankah keinginan tulus Bambang ini mengakhiri rasa cinta Nadia pada pria yang dicintainya ini?
Overall
Film komedi romantis ini sangat kuat di dialog dan pengkarakteran tokoh. Memiliki alur cerita yang terbagi kedalam 3 plot besar (3 act structure
formulas). Plot ini biasa digunakan oleh film-film bergenre komedi romantis di Amerika (50 First Date, Serendipity, Nothing Hill, dll)
Film ini unik karena menyajikan tema yang beda. Film komedi romantis di Indonesia hampir sebagian besar mempunyai genre yang sama, yaitu perbedaan kelas sosial. Laki-laki kaya dan perempuan miskin yang bertemu kemudian menjalin hubungan, dan seterusnya. Tapi di film ini justru terbalik. Sebuah hal yang baru dimana tokoh laki-laki berasal dari kelas sosial rendah (miskin) dan perempuan adalah wanita mapan dan kaya. Sebuah pola yang unik, ketika mereka berinteraksi dan saling berkomunikasi selalu muncul konflik tak terduga. Kadang lucu, tapi di lain waktu malah terdengar satir.
Pemilihan peran di film ini cukup menarik, dimana seorang bintang baru berperan sebagai aktris utama, ditemani oleh seorang bintang elit sebagai lead actor, dan mereka dikelilingi oleh sederetan nama-nama veteran dalam dunia hiburan. Pengkarakteran tokoh di-direct secara natural dengan menggali kekuatan humor
masing-masing pemain. Proses reading yang dilakukan secara intensif
menjadikan chemistry para pemain terbangun secara natural pula. Karakter Bambang yang diperankan oleh Tora Sudiro sukses menciptakan sebuah sosok yang lugu dan terkadang ndeso. Sedangkan kehadiran Tukul Arwana sebagai salah satu pemain merupakan daya tarik
tersendiri, karena film Otomatis Romantis ini adalah film pertamanya. Dengan
gayanya yang khas, Tukul berperan sebagai tokoh yang bernama Dave. Disini
Tukul beradu akting dengan Marsya Timothy, Tora Sudiro, Wulan Guritno,
Tarsan, dan lain-lain. Hanya sayangnya untuk karakter Nadia yang diperankan oleh Marsya Timothy, tampaknya terlalu over dalam mengikuti emosinya yang terlalu meledak-ledak. Dengan sifatnya yang sering kali terlalu ketus dan mengikuti emosi, agak tidak masuk akal jika seorang Nadia bisa secara profesional mencapai posisi pekerjaan dimana dia harus memimpin orang-orang dengan berbagai sifat dan kinerja yang cukup dinamis.
Pola penggalian cerita di film ini mempunyai struktur drama komedi yang
seimbang, karena di setiap cerita drama yang bergulir selalu ada joke yang tidak terduga. Waktu saya nonton film ini, seperti halnya Nagabonar Jadi Dua, rasanya kayak dikerjain. Adegan sedang serius dan tegang, lalu tiba-tiba saja para pemeran melakukan reaksi tak terduga yang membuat saya harus terbahak-bahak.
Teknik penggunaan kamera dan editing tidak banyak menggunakan bahasa simbol. Hanya saja sayangnya, di screening yang saya tonton sebelum presscon film ini, tampaknya pihak production house harus mencermati lagi teknik pemotongan gambar dan perpindahan adegan, karena rasanya masih kasar.
Film merupakan media komunikasi yang sangat efektif untuk menyampaikan
sebuah pesan. Oleh karenanya, pendekatan visual dari film ini lebih
menitik beratkan kepada pesan yang terkandung dalam cerita yang disampaikan
secara terang / verbal sehingga dapat tersampaikan secara utuh kepada
penonton. Titik berat film ini adalah penggambaran cerita yang ringan, renyah, kocak
dan tidak kampungan. Sehingga penonton dari semua kalangan bisa menikmati
film ini. Jika kamu menyukai Nagabonar Jadi Dua dan Quickie Express, maka kamu pasti akan tertawa lepas sepanjang pemutaran film, serta tersenyum puas ketika melangkah keluar teater bioskop.