Rambo By blueshark Published: January 24, 2008 PrintEmail
Story Synopsis
20 tahun sudah berakhir setelah John Rambo membantu para pejuang Mujahidin mengusir tentara Soviet di Afghanistan. Sekarang, John Rambo hidup menyendiri di daerah Thailand dan menjalankan semacam usaha perahu di sungai Salween. Sementara itu, di dekat perbatasan Thai-Burma (Myanmar), terdapat sebuah desa yang dihuni suku Karen yang sudah selama 60 tahun mengalami konflik dengan pihak Burma. Namun Rambo sudah lama tidak berperang, dan dia sendiri pun memilih untuk hidup menyepi. Hari-harinya dihabiskan dengan memancing, menangkap ular untuk dijual, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan kontak senjata. Dia seakan-akan tidak peduli lagi dengan perang, meskipun sering kali ada bantuan medis ataupun prajurit bayaran yang hilir mudik melalui jalur sungai yang menuju ke daerah perang itu.
Semuanya berubah ketika sekelompok misionaris bantuan kemanusiaan mencari John Rambo sebagai pemandu sungai. Sarah dan Michael Bennet menjelaskan kepada Rambo bahwa sejak tahun lalu, pihak militer Burma menggelar ranjau di sepanjang jalan darat menuju daerah itu, sehingga perjalanan darat menjadi hampir tidak mungkin. Mereka meminta Rambo untuk memandu mereka untuk menyusuri sungai Salween dan membawa mereka mengantar persediaan obat-obatan serta makanan untuk penduduk suku Karen. Setelah awalnya menolak untuk menyeberang ke Burma, Rambo akhirnya mau juga untuk membawa Sarah, Michael, dan para pekerja bantuan kemanusiaan itu.
Kurang dari dua minggu kemudian, pastur Arthur Marsh menemui Rambo dan memberitahukannya bahwa para pekerja kemanusiaan tidak kembali dan kedua belah kedutaan tidak membantu dalam menemukan mereka. Dia memberitahu Rambo bahwa dia juga telah menyewa tentara bayaran demi menyelamatkan para pekerja kemanusiaan yang ternyata sudah ditawan oleh tentara Burma. Sudah bertahun-tahun Rambo berhenti berperang, namun akhirnya sang veteran tahu apa yang harus dilakukan.
Overall
Sepanjang karirnya, Stallone sudah memberikan hiburan yang luar biasa bagi kita yang hidup di era 80 dan 90-an. Mulai dari Rocky, Rambo, Driven, D-Tox, Avenging Angelo, Demolition Man, hingga Shade. Kesuksesan Rocky Balboa di 2007 menjadi salah satu bukti bahwa aktor yang satu ini masih dicintai khalayak umum. John Rambo, film ke empat dari legenda veteran perang Amerika ini juga bisa jadi merupakan bukti lain bahwa sang aktor itu masih layak untuk berakting di layar lebar, meskipun usia sudah menggerogoti tubuh kekarnya. Di film ini, tidak ada lagi Rambo yang berlarian sambil telanjang dada, dia mengenakan kaos singlet hitam. Namun, ikat kepala masih bisa dinikmati khas ala Rambo. Usia Stallone yang saat ini mencapai 62 tahun memang terhitung sudah luar biasa jika kamu nonton film ini, karena berbagai akting disini rasanya mustahil dilakukan aktor kawakan manapun yang usianya sudah sedemikian tua.
John Rambo sendiri memiliki kisah yang sederhana, namun penuh makna secara etika dan politik. Inilah kisah seorang prajurit tua yang akhirnya harus mengabaikan sumpahnya untuk menghindari kekerasan, dan harus terjun kembali ke medan perang. Dan Rambo pun harus membalas kekerasan para tentara dengan kekerasan versinya sendiri yang tidak kalah kejam dan brutalnya. Berbagai adegan penuh darah bisa kamu lihat di film ini, dan 'ajaib' karena bisa lulus sensor, mengingat adegan-adegannya benar-benar berdarah. Lihat saja trailernya di halaman 2.
Akting Stallone sendiri sangat meyakinkan sebagai prajurit veteran yang sudah muak dengan kekerasan dan memilih untuk hidup menyendiri. Namun ketika dia beraksi, kamu masih bisa melihat kejayaan sang bintang dan sepak terjangnya yang tidak kalah dibanding masa mudanya dulu. Jika kekerasan saja yang kamu tangkap disini, maka kamu salah besar. Inilah perang, inilah kekejamannya, inilah pelanggaran hak asasi, dan inilah pesan yang dilemparkan film ini secara intrinsik. Bukan hanya dari perang saja, karena perang hanya asyik jika dilihat dari layar kaca - bukan dari balik tembakan senapan mesin atau siksaan prajurit musuh.
Secara umum, saya hanya bisa mengatakan bahwa film ini sukses membawakan dua hal, yaitu pesan moral tentang kekejaman perang, dan juga nostalgia dengan Rambo tempo dulu. American Supremacy? Yah, itu juga deh kalau mau sekalian dihitung, jadi ada 3 pesan. Oh ya, kalau kamu mau nonton film ini dengan fun, jangan pernah nonton bersama anak-anak, karena adegan di film ini terlalu brutal buat ukuran Indonesia secara umum.