Jumper - 20th Century Fox By blueshark Published: February 14, 2008 PrintEmail
Hayden Christensen dan Samuel L. Jackson reuni lagi lewat Jumper, setelah sebelumnya mereka main film bareng di Star Wars Episode II dan III. Filmnya masih berbau sci-fi, tapi kali ini nggak di luar angkasa. Film dari novel fiksi tahun 92-an ini bercerita tentang seorang pemuda yang bisa teleport. Bakatnya ini ternyata nggak cuma dimiliki oleh dia aja, karena ternyata ada semacam pertempuran antara orang-orang yang punya kemampuan ini dan pihak tertentu yang bersumpah untuk menghabisi mereka.
The Trailer
The Synopsis
Film ini dimulai dengan awal pengalaman David Rice (Hayden Christensen) ketika masih berusia 15 tahun, dimana ia mengalami "lompatan" untuk pertama kalinya. David adalah tipikal anak pecundang yang sering dikerjai teman-temannya. Ketika ia hendak memberikan sebuah snowball kepada Millie (Rachel Bilson), seorang anak mengganggunya dan melemparkan bola salju itu ke tengah sungai yang membeku. David memaksakan diri untuk mengambil snowball itu, dan permukaan sungai yang jadi es tiba-tiba pecah. David pun tercebur dan hanyut terkena arus sungai, ketika tiba-tiba "poof" - dia berada di tengah-tengah perpustakaan.
Gw minggat, ah! Babeh sarap sih!
Kejadian yang sangat membingungkannya itu terjadi lagi ketika ia pulang dan hendak dihajar sang ayah yang memang tipe "orang sarap" karena ditinggal minggat sang istri, ibu David. Dia kembali teleport ke perpustakaan tempat dia pertama kali melakukannya tanpa sadar. Mulai sadar akan kemampuannya, David pun minggat. Dia menghabiskan hidupnya dengan jalan-jalan di Eropa di pagi hari, berenang di Hawaii siang hari, berjemur di Sphinx, makan malam di Inggris, semua dalam satu hari saja. Uang? Well, dia tinggal mendarat saja di dalam brankas bank, tau kan buat apa?
Gw ngapain yah kok kesini...
Masalah mulai hadir ketika Roland Cox (Samuel L Jackson) menemuinya dan hendak menangkapnya. Roland berkata bahwa mereka sudah mencarinya selama 8 tahun terakhir, sejak kejadian perampokan yang pertama kali dilakukannya. David dengan susah payah berhasil kabur dari Roland, yang ternyata memiliki teknik canggih dan memang dilatih untuk memburu serta membunuh orang-orang dengan kemampuan seperti dia, atau disebut para Jumper.
This means WAR!
David pun mulai melupakan kejadian itu dan menemui gebetan lamanya, Millie. Well, gampang ditebak, kan? CLBK, deh! David mengajak Millie jalan-jalan ke Roma, tempat yang udah lama banget diidam-idamkan oleh Millie. Ketika mereka berada di Colloseum Roma, beberapa Paladin mengejar David. Tak diduga, hadir seseorang yang juga memiliki kemampuan untuk teleport, Griffin (Jamie Bell). Griffin membantu David lolos dari kejaran para Paladin. Setelah lolos, David pun mengirim Millie pulang ke Michigan. Ketika bertemu dengan Griffin lagi, David pun baru menyadari siapa para Paladin itu. Dia pun khawatir atas keselamatan Millie, dan berencana untuk menyelamatkannya, karena para Paladin jelas mengincarnya - setelah Roland sebelumnya juga sudah membunuh ayah David.
Overall
Soal sinematografi, well, blueshark cuman bisa bilang kalo film ini bener-bener manjain mata. Bayangin aja, baru aja satu orang ada di US, hitungan detik dia udah ada di Inggris yang lagi hujan. Nggak beberapa lama, dia lompat lagi ke Hawaii buat main selancar. Wait! Ombaknya kurang gede? Poof! Aloha, Fiji island. Abis kedinginan gara-gara main selancar, berjemur deh di Sphinx. Malemnya, dinner di Irlandia. Pengen belanja? Tinggal ke Jepang. Yep! Segala macam negara bisa kamu lihat disini. Nggak cuman itu aja, spesial efek yang dipake waktu para Jumper ini berantem juga nggak kalah keren. Wait, wait! Nightcrawler? Yah, kamu tonton sendiri aja deh. Yang pasti, kalo soal visual efek, ini film top banget kok.
'Jalan-jalan' di Big Ben
Sci fi movie? Not quite. Drama? Perhaps. Superhero? Hmm... sedikit beda. Actually, blueshark agak bingung nih, ini film masuk kategori superhero atau sci fi, atau drama, atau tiga-tiganya. Soalnya plot di film ini benar-benar nyampur. Kita disuguhin orang dengan kemampuan yang kayaknya cuma dimiliki Tuhan, berpindah tempat kemana pun, dimana pun, kapan pun. Dan sayangnya lagi, nggak ada penjelasan kenapa mereka punya kemampuan itu. Yang ada hanyalah kita disuguhi sebuah adegan yang menceritakan usaha para Paladin untuk memburu para 'nature freak' ini, dan di plotnya juga dijelaskan bahwa perang antara dua kubu ini sudah ada sejak abad pertengahan. Trus ada adegan drama percintaan antara si jumper dengan wanita biasa. Lalu ada lagi pertempuran sesama Jumper. Pokoknya nyampur semua. Dan ini malah bisa jadi bumerang, karena plotnya malah jadi melemah dan nggak jelas, juga nggak fokus.
Well, in the end, blueshark cuman bisa bilang kalo film ini sebenernya punya banyak potensi yang bisa digali, apalagi buku novel aslinya juga bagus banget. Tapi sayangnya hal itu nggak ada disini. Oh ya, kalau kamu mau nonton sama anak-anak, pikir-pikir lagi deh. Soalnya ada beberapa adegan kayak pencurian yang harus dijelasin buat anak-anak, dan juga ada adegan yang rasanya nggak pantas buat dilihat anak-anak orang Timur macam kita, kecuali kamu mau repot-repot jelasin kalo hal itu nggak baik dan nggak boleh ditiru. Heheheh...