The Spiderwick Chronicles - Paramount Pictures By blueshark Published: March 12, 2008 PrintEmail
New England, sebuah keluarga pindah ke sebuah rumah yang diwariskan dari paman buyut sang ibu. Keluarga tersebut punya tiga anak. Si sulung, Mallory, gemar bermain anggar dan merupakan juara di kelas anggar. Kedua adik kembarnya, Simon dan Jared, punya sifat dan tingkah laku yang berbeda meskipun wajah dan perawakan mereka sama persis. Simon lebih penyabar dan pasif, sementara Jared lebih aktif dan suka bertindak 'semua gue'. Sikap Jared ini sering dipicu oleh rasa sayangnya kepada ayahnya yang pergi meninggalkan mereka, sehingga Jared sering membantah ibunya.
Setibanya mereka di rumah itu, mereka menemui hasil sepeninggalan bibi ibu mereka yang agak janggal. Garam disebar di setiap kusen jendela dan pintu. Di lemari juga banyak terdapat madu dan tomat. Keanehan itu tak berhenti begitu saja. Barang-barang mereka mulai hilang satu per satu, hingga akhirnya Jared menemukan loteng rahasia.
Rasa ingin tahu membuat Jared menjelajahi loteng penuh debu itu, dan dia pun menemukan sebuah buku yang tersegel. Di buku itu terdapat peringatan jangan dibuka segelnya, karena akan mengubah segala persepsi tentang dunia. Tiba-tiba, terdengar bisikan dan Jared pun melihat peringatan tertulis di debu meja: Jared Grace, tinggalkan loteng ini.
Jared yang sangat ketakutan lalu bergegas pergi menuju kamarnya dan Simon. Disana, dia lalu membuka segel buku itu, dan terdengarlah suara-suara aneh dari hutan sekeliling rumah mereka. Jared memaksakan membaca buku itu, yang ternyata adalah panduan dunia peri dan magis yang sebenarnya berdampingan dengan dunia manusia. Dan ternyata buku itu sudah jadi incaran Mulgarath, seorang penyihir ogre yang bahkan sudah mengincar buku itu sejak 80 tahun lalu, agar ia bisa menguasai dunia peri dan magis - dan atau bahkan dunia manusia. Jared telah membuka segelnya, dan Mulgarath pun sekarang mengetahui keberadaan buku itu. Disinilah petualangan Jared, Simon, dan Mallory dimulai.
Overall
Film Spiderwick Chronicles punya plot yang biasa, dan cerita yang cukup sederhana. Berbeda dengan bukunya yang punya banyak kisah petualangan. Jared dan Simon yang diperankan oleh orang yang sama, Freddie Highmore, mampu terlihat punya karakter yang berbeda. Mallory digambarkan sebagai tokoh kakak yang sering kesal dengan ulah Jared yang suka semau gue dan cenderung membangkang. Ibu mereka, Helen Grace, adalah tipikal wanita depresi yang ditinggal suami dan harus membesarkan ketiga anaknya sendirian. Tingkat stres Helen makin diperparah oleh Jared yang terlalu mengagungkan sang ayah, dan Helen tidak mau bercerita kepada putranya kenapa mereka tidak bersama lagi, karena Helen ingin agar sang ayah sendiri yang bercerita kepada anak-anaknya. Status ayah yang nggak gentle ini berlanjut hingga akhir film ini dan tidak ada penyelesaian akan hal itu, sehingga film ini memang jelas nggak buat anak-anak.
Selain itu, horor yang dihadirkan di film ini cukup melewati batas film yang bisa dinikmati anak-anak dibawah 9 tahun. Di awal filmnya pun, pihak bioskop juga menampilkan tulisan "Untuk Remaja", dan ketika saya melihat apa yang dilakukan makhluk-makhluk jahat di sini, saya pun setuju. Tidak seperti Harry Potter, makhluk gaib disini bener-bener galak dan kadang kala nggak kelihatan waktu sedang melakukan aksinya. Ini membuat adegan penyerangan makhluk magis ini jadi seperti Poltergeist atau An American Story. Bekas cakaran mereka dan luka-luka yang didapat ketika diseret oleh para goblin pun jelas terlihat penuh unsur kekerasan. Wajar jika anak-anak akan ketakutan melihat kekejaman ini. Saya rasa, aksi di Harry Potter akan terasa seperti teh celup manis hangat jika dibandingkan dengan film ini yang terasa seperti kopi tubruk panas.
Kekurangan di film ini hampir nggak ada, itu jika kamu belum baca bukunya. Ada sih, tapi saya nggak mau ngomong, karena kekurangan ini ada di bagian endingnya. Tapi jika kamu sudah baca bukunya, yang juga dirilis oleh Gramedia dengan judul yang sama, maka kamu akan kehilangan banyak adegan menarik. Di film ini, tidak ada Elf, tidak ada Fairy Grass, tidak ada Phooka, kompetisi anggar, ataupun adegan merawat Griffon di garasi. Kamu juga nggak akan menemui para Dwarf dan mesin mekanik mereka. Yang kamu lihat di film ini adalah versi bonsai dari kisah fantasi yang sebenarnya mampu bersaing dengan Harry Potter, ditambah dengan CGI yang hanya bisa kamu bayangkan jika kamu membaca bukunya. VGI cukup beruntung bisa membandingkan dengan bukunya, karena pihak Gramedia juga membagikan kedua judul novel dari seri The Spiderwick Chronicles ketika press screening dilakukan kemarin.
Anyway, ini film yang cukup bagus untuk ditonton di akhir minggu ini. Tapi tolong, jangan membawa anak kecil jika kamu mau nonton film ini, demi kenyamananmu dan demi anak itu sendiri. Ini bukan film buat anak-anak meskipun mungkin judulnya berbau fantasi. Oke, jika kamu mau bawa adik yang usianya sudah 11 tahunan, saya rasa dia akan bisa mengatasi rasa takut melihat horor dan kekejaman di film ini, but please... Bimbinglah mereka selama nonton ini.
VGI Rates: B
Overview
Director
:
Mark Waters
Writers (WGA)
:
Karey Kirkpatrick (screenplay)
David Berenbaum (screenplay)
Genre
:
Drama / Family / Fantasy / Thriller
MPAA
:
Rated PG for scary creature action and violence, peril and some thematic elements.