Speed Racer - Warner Bros By blueshark Published: May 6, 2008 PrintEmail
The Prologue
Kalian yang lahir di Indonesia tahun 80-an mungkin masih ngalamin masa kecil dimana ada acara kartun Speed Racer di sebuah TV swasta. Well, buat kalian yang punya kenangan indah dengan film kartun Jepang itu, versi live-action sebentar lagi bakal beredar di Indonesia. Dan VGI cukup beruntung karena ikut press-screening Speed Racer tadi pagi, and we were so excited about it. Here comes our review...
The Story
Speed adalah putra kedua dari Pops & Mom Racer (yeap, those're their names), dan dia sangat membanggakan sang kakak - Rex Racer. Di sekolah, Speed selalu terbayang akan pertandingan balap mobil, dan sepulang sekolah pun dia sering minta ikut latihan balap bersama Rex. Sampai suatu hari, Rex pergi meninggalkan rumah dan ikut balap reli. Di balap reli itulah, Rex mengalami kecelakaan dan tewas. Kenangan akan Rex selalu terbayang di benak Speed.
Ketika beranjak dewasa, Speed pun masih melanjutkan cita-citanya untuk menjadi pembalap grand prix. Racer Motors, bengkel yang didirikan Pops, berhasil menciptakan mobil balap yang benar-benar stabil dan juga cepat, yang dinamakan The Mach 5. Adik Speed, Spritle, juga mirip seperti Speed ketika dia seusia adiknya. Speed dan Spritle saat ini bisa dibilang mirip seperti Rex dan Speed 14 tahun lalu. Trixie, kawan sekelas Speed sejak TK dulu, kini resmi menjadi pacar Speed, dan selalu memberikan dukungan penuh kepada Speed.
Ketika Speed berhasil menjuarai sebuah lomba balap mobil, banyak sponsor menawarinya untuk masuk ke Grand Prix. Tawaran mereka ditolak karena prinsip utama Racer Motors adalah tidak berada dibawah perusahaan mana pun, alias independen. Suatu hari, Arnold Royalton, pemilik Royalton Industries yang merupakan pabrik onderdil dan mobil balap, menawarkan diri untuk menjadi sponsor Speed di ajang grand prix. Tawaran ini ditolak oleh Speed, dan tentu saja Arnold tidak tinggal diam. Dia lalu membuka kisah dibalik Grand Prix, dimana semua kemenangan dan kekalahan sudah ditentukan sebelum lomba, agar nilai saham dan harga produk para sponsor tetap terjaga. Dia kemudian memberikan ancaman terhadap Racer Motors jika Speed tetap menolak tawarannya. Speed dengan tegas tetap menolak tawaran tersebut.
Di lomba berikutnya, Speed mengalami tabrakan sewaktu melakukan Car Fu (teknik adu berantem menggunakan mobil balap), dan dia pun gagal masuk penyisihan grand prix. Tak lama kemudian, tuntutan pengadilan pun datang terhadap Racer Motors atas tuduhan mobil mereka yang dinilai menyalahi aturan keselamatan. Namun tuduhan ini adalah rekayasa belaka, akibat penolakan Speed atas tawaran Royalton Industries, dan Arnold sendiri sudah mengatakan hal ini ketika Speed menolak tawarannya. Grand prix pun tinggal kenangan.
Tak lama kemudian, Pops didatangi oleh Inspektur Detector (yeap! it's his real name). Insp.Detector bekerja sama dengan Racer X - seorang pembalap misterius yang selalu mengenakan topeng, mengajak Speed untuk bergabung di tim Togokahn. Kasus rekayasa hasil lomba grand prix selama ini sudah menarik perhatian Insp.Detector, dan tukang pukul Arnold dalam tindak kejahatan ini adalah Cruncher Block. Korban terakhir Cruncher Block adalah Taejo, putra sulung dari Togokahn Industries. Taejo berniat membuka kartu ini jika Insp.Detector membantunya memenangkan lomba reli lintas benua The Crucible. Dan juga, siapa pun yang memenangkan The Crucible, maka mendapatkan Wild Card untuk ikut Grand Prix.
Speed pun setuju untuk ikutan di reli The Crucible ini di tim Togokahn. The Crucible merupakan reli 5000KM lintas benua, dan terbagi ke dalam beberapa etape. Di reli ini, semua bisa terjadi, dan kebanyakan peserta reli akan melakukan cara apapun demi kemenangan. Bagaimana usaha Speed, Racer X, dan Taejo memenangkan The Crucible? Mampukah Speed mendapatkan wild card untuk masuk ke Grand Prix? Watch this great racing movie!
View Trailer
Overall
Wachowski bersaudara benar-benar membuat trend baru di dunia perfilman Hollywood. Saya anggap Speed Racer ini adalah perwujudan anime yang disulap jadi live-action. Saya beberapa kali berdecak kagum melihat adegan balapan di film ini. Cinematografi film ini jauh melebihi perkiraan saya, dan saya yakin metode editing di film ini akan banyak membuat orang berganti paradigma dalam hal editing film.
Buat kalian yang suka nonton anime, saya yakin film ini pasti jadi salah satu favorit. Speed Racer bukan hanya mempertahankan unsur asli film kartunnya, tapi juga memberikan kesan retro dan oldies yang dicampur dengan kehidupan modern. Jagoan dan penjahat ala Jepang yang punya model rambut aneh-aneh seperti anime, gaya kung fu mirip anime, garis gerak seperti komik Jepang / manga, dan juga balapan fast-pace, benar-benar membuat saya tersenyum puas ketika melangkahkan kaki keluar teater.
Musiknya juga masih mempertahankan melodi asli kartunnya, dan terdengar klasik meskipun dimainkan dengan instrumen masa kini. Sepeti layaknya film keluarga, ini adalah film yang dibuat untuk bersantai. Jadi, buanglah pikiran superhero yang barusan kamu dapat setelah nonton Iron Man, dan nikmati saja film ini.
Soal cerita, mungkin terlalu gampang ditebak, karena memang tidak jauh berbeda dengan versi animenya. Namun pergantian transisi yang cepat di beberapa adegan kadang kala membuat saya harus agak berfikir, terutama ketika Arnold Royalton menjelaskan konspirasi yang dilakukannya. Tapi secara umum, ini adalah film keluarga, dan saya tidak bisa menyangkal bila ada yang mengatakan ceritanya terlalu santai.
Soal pemilihan karakter, saya cukup puas dengan aksi Emile Hirsch yang memerankan Speed. Namun yang benar-benar pas adalah Matthew Fox yang memerankan Racer X. Karakter Racer X yang dibawakannya terlihat sekali memiliki karisma dan wibawa sebagai seorang tokoh jagoan misterius. Sedangkan Trixie yang diperankan oleh Christina Ricci juga mampu mengingatkan saya akan versi animenya.
In the end, I dare to say that this is a pretty good anime adaptation. This live-action version will be loved by its anime-lovers, regardless what I say. And once again, Wachowski brothers have done it!