Baru saja minggu lalu ada seorang warga VGI datang ke kantor kami di Slipi, Alung namanya. Dia melakukan wawancara terhadap saya sebagai pimpinan perusahaan, yang akan digunakan untuk tugas akhir. Dia katanya tertarik dengan editorial VGI Februari lalu, yaitu sebab mengapa publisher game console tidak ada yang masuk ke Indonesia.
Seiring wawancara, saya baru sadar kalau hidup saya tergantung cukup banyak dengan hobi pribadi saya, yaitu Video Games, dimana saya sangat bersyukur. Fakta ini membuat saya ingin mencari tahu, apakah sebuah hobi itu masih bisa dibilang "hobi" pada saat sudah menjadi mata pencarian?
Menurut wikipedia, secara definisi, hobi adalah kegiatan rekreasi diwaktu yang luang.
Hobi dibagi beberapa kategori sebagai berikut :
Koleksi
Games
Rekreasi outdoor
Performing arts
Hobi kreatif (fotografi, musik, membuat film, melukis, dll)
Modeling (merakit figure, mobil, replika, dll)
Memasak
Gardening (bercocok tanam)
Membaca
Video Games termasuk dalam kategori kedua, dimana sebagai gamer kita tertarik untuk memecahkan persoalan dalam suatu ruang lingkup tertentu, yang terkait dalam peraturan-peraturan yang dibuat untuk mencapai sebuah tujuan (goal). Mungkin pada awalnya kategori ini dibuat bagi pengemar catur, monopoli, ataupun congklak. Tapi seiring waktu berkembang, video games menjadi bagian dari budaya modern dimana manusia tidak lagi bermain berdua, melainkan ratusan bahkan ribuan terkait dalam satu misi tertentu. Membunuh monster misalnya, dalam konsep virtual tentu saja.
Pada saat saya membaca definisi hobi di wikipedia tersebut, sayapun berpikir kalau definisi tersebut sudah tidak terlalu relevan dalam hidup saya. Karena sebagai gamer yang sehari-harinya bekerja di dunia game, saya tidak merasa bahwa Video Game adalah kegiatan rekreasi diwaktu yang luang lagi, melainkan adalah gaya hidup dan mata pencarian. Ini adalah hal yang cukup menarik untuk dikupas.
Saya dibayar untuk melakukan hobi saya, yaitu main gundu, eh bola...
Di kehidupan klasik, umumnya manusia sekolah untuk menimba ilmu. Demikianpun dengan jaman sekarang. Masih banyak orang berpikir bahwa sekolah ditempuh seseorang untuk mencari diploma, agar bisa bekerja ditempat yang baik untuk digaji sehingga bisa membawa uang pulang kerumah untuk membiayai keluarga. Tetapi yang terjadi di jaman ini, sudahlah tidak demikian umumnya.
Di jaman yang makin modern ini, mencari uang tidak hanya terbatas pada bekerja pada suatu jenis perusahaan dimana kita menimba ilmu sesuai dengan perusahaan yang kita impikan untuk bekerja. Sebagai contoh, seorang mahasiswa ekonomi bertujuan untuk bekerja di bank. Setelah dia lulus, dia melamar ke banyak bank dan kecewa resumenya ditolak karena dia memiliki nol pengalaman. Sehingga pada saat dia menemukan kesempatan lain untuk bisa mendapat penghasilan, diapun langsung mengambilnya. Sering kali yang terjadi adalah pekerjaan di tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendidikannya.
Biasanya kejadian diatas terjadi pada seorang yang memiliki interest ataupun skill yang dikembangkan melalui pengalaman maupun otodidak. Sebagai contoh lagi, seorang mahasiswa lulusan design akan memiliki kemungkinan bagus untuk masuk ke perusahaan publisher game, hanya karena dia rajin bermain banyak game-game MMORPG. Tetapi seorang lulusan ekonomi akan sulit sekali masuk kerja di sebuah bank tanpa dia memiliki latar belakang pengalaman di perbankan. Kedengarannya tidak adil ya? Tapi demikianlah yang terjadi.
Saya dibayar untuk balapan sama temen-temen, padahal engga usah dibayar juga udah seneng, hehehe...