Kerjaan nongkrong di Kenop 2 kali seminggu memang fun. Walaupun saya punya tanggung jawab sebagai Pimred VGI, saya selalu mengusahakan untuk nongkrong di Kenop Blok M Plaza, hanya untuk mengetahui perkembangan pasar game console secara langsung.
Musim liburan sudah tiba, dan di Kenop yang paling laku tetap PS2. Demikianpun di toko-toko game lainnya. PS2 walaupun sudah memiliki game baru sangat sedikit, tetapi tetap menjadi idola konsumen game, khususnya bagi yang memiliki budget terbatas.
Jika memang PS2 adalah idola bagi para pembeli budget terbatas, lalu bagaimana dengan pembeli dengan budget lebih?
Sering kali saya harus menjelaskan kepada konsumen yang datang ataupun gamer yang suka bertanya kepada saya mana yang harus dibeli, 360, Wii, atau PS3? Jawaban saya pada awal saya ditanya, pasti akan saya jawab secara simple saja. Wii untuk keluarga atau anak-anak, 360 untuk remaja dan dewasa, PS3 untuk gamer yang sudah bekerja, suka koleksi film, dan tentunya punya budget lebih untuk beli game original setiap keluar.
Tetapi jika saya ditanya secara pribadi saya pilih apa, saya selalu mantap untuk menjawab : Xbox 360. Kenapa?
Saya selalu menjawab bahwa kita membeli suatu console bukanlah karena merk, tapi karena gamesnya. Apapun tidak akan bisa menghentikan saya untuk membeli suatu produk yang bagus, walaupun dengan merk yang terdengar aneh. "Xbox" awalnya memang terdengar aneh, karena pada saat saya mendengar kata tersebut, yang terbesit dipikiran adalah kotak besar dengan logo X diatasnya. Eh, ternyata memang begitu ya keluarnya, hehehe...
Meong, meong meonggg... (translate: saya juga main Xbox lhoo...)
Xbox 360 memang berasal dari Bill Gates yang punya uang segunung, karena mencuri ide Macintosh Steve Jobs dengan menjiplak Apple Lisa untuk dijadikan PC dengan OS bernama Windows. Saya terus terang tidak suka dengan Bill Gates secara pribadi, tetapi kalau dia bisa menjual console yang memiliki games bagus, saya akan tetap membeli produknya.
360 bukan console ideal pada saat baru keluar. Designnya memang keren, dan lagi-lagi menggunakan hype warna putih dari Apple (Nintendo juga ikutan putih sih). Belum lagi masalah 3ROLnya yang spektakuler. Tapi lagi-lagi PS2 juga punya penyakit optik yang parah juga. Rata-rata pemilik PS2 membeli consolenya 2 kali. Untuk 360, mungkin lebih. Bagaimana bisa sebuah perusahaan sekelas MS bisa memproduksi 3 motherboard (Zephyr, Xenon, dan Falcon) yang gagal total? Untung saja yang keempat tidak...
Lalu bagaimana bisa seorang gamer membeli console ini hingga berkali-kali walaupun sudah tahu kalau hardwarenya jelek? Jawabannya ada 2. Yang pertama, gamesnya yang banyak dan murah, dan kedua, loyalitas kepada brand.
Dengan demikian, MS sukses untuk membuat gamers "tergantung" kepada Xbox 360, yang memiliki games bagus sehingga gamers bisa berpikir secara idealis tanpa berpikir realistis, dimana consolenya bisa rusak kapan saja. Well, sama saja sih dengan jaman PS2 dulu.
Sekarang jamannya main Wiiiii.....
Kembali ke Kenop, hingga suatu saat seorang gamer yang benar-benar bimbang untuk membeli PS3 akhirnya bertanya kesaya apakah sebaiknya dia membeli Jasper saja? Sayapun menjawab, "Playstation memang juara di masa lalu, seperti Nintendo waktu kita kecil. Sekarang sudah jamannya Xbox, Playstation masanya sudah lewat bro."
Setelah menjawab demikian, sayapun tertegun dan berpikir keras apa memang benar statement yang saya buat tersebut? Setelah melihat sendiri Kenop dimana games 360 lebih banyak, dan survey ke toko-toko game lainnya yang tidak semua menjual Playstation 3 tetapi menjual Xbox dan Wii, saya sadar kalau pernyataan saya benar adanya. Masa keemasan Playstation sudah lewat, dan semua sudah meramalkan hal ini terjadi karena harga console yang terlalu mahal dikarenakan adanya Bluray Drive. Semoga saja Sony bisa belajar dari kesalahan, sehingga PS4 bisa lebih baik dari PS3.