|
| Role Playing Cyber Novel Create your own story here. Only one person per topic. Come in for great stories originally made by our forum members! |
22-06-2007, 12:42 AM
|
#1
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
[Fanfic] Wangan Midnight: The Son of Devil Z
Ngomong2 gw pengen sekali-kali bikin cerita2 novel yg berhubungan ama mobil.
Berhubung gw demen ama komik Wangan Midnight, gw pengen bikin cerita sendiri dengan tokoh original buatan gw tapi masih ada hubungannya dengan tuh Komik.
Yah, untuk bahasa penulisannya gw mohon maaf jika bahasanya aneh.
Maklum udah lama gak nulis cerita dalam bahasa Indo
(sekedar catatan, semua percakapan di sini seharusnya dalam bahasa Jepang, karena gw gak bisa bahasa Jepang dan supaya gampang di mengerti yah gw tulis dalam Indo aja tapi anggap aja dalam Bahasa Jepang, Oke?)
Segala Komentar dan pertanyaan sangat wellcome ^^
Legal Disclaimer
All trademarks and copyrights belong to their respective owners, and are used here under the terms of Fair Use
Copyright:
Wangan Midnight is © Michiharu Kusunoki
350Z, 240Z, 300ZX (Z32), Silvia (S15) and Skyline GT-R (R32, R34) are trademarks and/or the intellectual property rights of Nissan Motor co., LTD.
NSX is the trademarks and/or intellectual property rights of Honda Motor Co., Inc.
911 Carrera turbo is the trademark of Dr Ing. h.c. F. Porsche AG
DB9 is the trademark and/or intellectual property right of Aston-Martin Lagonda
The names and logos of all after market car part companies are trademarks of their respective owners.
McDonald's is the trademark of McDonald's Corporation
Karasuma Chitose is the character of Galaxy Angel and the intellectual property rights of Broccoli Co., Ltd.
Last edited by TheSisterPrincess; 03-09-2007 at 03:25 PM..
Reason: update legal disclaimer
|
|
|
|
The Following User Says Thank You to TheSisterPrincess For This Useful Post:
|
|
22-06-2007, 12:43 AM
|
#2
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Wangan Midnight:
The Son of Devil Z
Stage 0: At one glance, you will not forget it
“Ayo Z, kita kalahkan BlackBird bersama!!!” Akio Asakura seorang pengendara Datsun 240Z yg telah di modifikasi dan dijuluki “Devil Z” oleh pambalap jalanan lainnya karena kecepatannya yg mematikan. Tetapi ini lah yg membuat pemuda tersebut terus mengendarai “Devil Z”. “BlackBird” mobil yang ditakdirkan menjadi rival “Devil Z”, sebuah mobil Porsche 911 berwarna hitam yang di kendarai oleh Tatsuya Shima yang merupakan teman dari pemilik lama “Devil Z” yang kebetulan mempunyai nama yang sama dengan pemilik “Devil Z” yang sekarang. “BlackBird” telah dimodifikasi oleh orang yang sama dengan yg memodifikasi “Devil Z”, Jun Kitami. Sekarang mereka berdua adalah dua orang yg memperebutkan titel “Yang tercepat di Wangan”.
1 Juni 1998; New Belt Line, wangan.
“Hei, siapa nama mu lagi? Oh ya Wataru. Ceria dikit kenapa sih? Baru 2 mingguan lu pindah ke Tokyo. Gw tahu lu kangen Indonesia.”
Wataru Ko, orang Indonesia yang terpaksa pindah ke Tokyo karena kerusuhan di Jakarta itu hanya terdiam duduk di kursi penumpang Honda NSX berwarna merah yang dikendarai oleh Ryo Arishima.
“Gw denger lu demen mobil kaya gw, makanya gw kenalin apa itu 'Hashiriya' di Wangan” kata Ryo.
“Hashiriya?” Kata Wataru dengan mencoba menirukan suara Ryo.
“Hashiriya itu balapan di jalanan” Kata Ryo
“Balapan di jalanan? Saya mengerti maksud kamu” jawab Wataru dengan bahasa Jepang ala orang asing.
“Bagus deh kalo lu mengerti” Kata Ryo.
Tiba-tiba terdengar bunyi mesin inline 6 (six) dengan turbo.
“240Z?” Wataru mengamati Fairlady Z generasi pertama tersebut.
“Oh 'Devil Z'” kata Ryo
“Devil Z?” tak lama setelah Wataru berbicara terdengar bunyi mesin flat 6 yang juga diperkuat dengan Turbo dan mobil itu melewati mereka.
“Porsche 911?” kata Wataru
“Seperti biasa 'BlackBird' dan 'Devil Z' selalu balapan untuk menentukan siapa yang tercepat di Wangan” kata Ryo.
“Kenapa kamu tak mencoba balapan?” Tanya Wataru.
“Hahahaha, mesin gw belum kuat menghadapi mereka.” Ryo tertawa setelah mendengar bahasa Jepang Wataru yang seperti anak polos.
Wataru terus melihat pertarungan mereka dari jauh sehingga mereka hilang dari pemandangan.
“Tampaknya lu tertarik banget ama mereka?” Tanya Ryo.
“Mobil itu, 240Z terlihat seakan akan hidup dan bernafas. Ini pertama kalinya saya melihat mobil seperti itu.” Kata Wataru.
“Wah, lu punya mata yang bagus. Terus terang aja, gw merasakan ada bakat terpendam dalam diri lu.” Kata Ryo sambil terus menyetir NSX-nya melewati Rainbow bridge ke Yokohama.
“Kamu tahu? tampaknya saya mulai menyukai negara ini.” Wataru tersenyum kecil di bibirnya.
“Hahaha, bagus deh kalo lu jadi sedikit “happy”. Selamat datang di Jepang dan Wangan. Gw akan menantikan debut mu di 'Tanah Suci' para pembalap jalanan ini.” Kata Ryo.
“Tapi sebelumnya…hmmmm” Ryo menahan tawanya.
“Apa?” tanya Wataru.
“Bahasa Jepangmu, jangan terlalu kaku gitu dong. Sini deh gw ajarin ngomong Jepang yg enak di dengar” Kata Ryo.
“Baik, saya akan berusaha” kata Wataru.
“Ok, my boy.” NSX merah melaju meninggalkan Yokohama dan kembali ke Tokyo.
3 Febuari 2005;”Omega Speed”
“Taru-kun, gimana mobil mu?” tanya seseorang yang kelihatannya sudah cukup tua dengan uban di kepalanya.
“Makin lama mobil saya makin kencang, 'Oyaji'” kata Wataru ke seseorang yang dipanggilnya 'Oyaji', yang merupakan pemilik bengkel bernama “Omega Speed”.
“Oh ya ini slip gaji-mu juga bonusmu karena udah mau bekerja di hari sabtu” Oyaji menyerahkan slip gaji ke Wataru.
“Arigatou, oyaji” kata Wataru.
“Wah Bahasa Jepang-mu makin lancar aja” kata oyaji
“oyaji, saya pikir gaji saya agak berlebihan nih?” tanya Wataru.
“Gak pa pa, kerjamu udah terlalu bagus nak. Tak salah oyaji memperkerjakan lulusan Todai sepertimu. Oh ya, pakai juga untuk menyenangkan pacar-mu itu” kata oyaji.
“Baik, oyaji” kata Wataru sambil membungkuk untuk pamit.
“Ok, Z. kita ngebut di Wangan nanti malam” Wataru berbicara ke mobilnya.
Wataru menstarter 350Z-nya yg berwarna hitam dengan body kit Nismo S-tune GT dan velg volk racing TE 37 berwarna perunggu itu.
Lalu Wataru dan mobilnya keluar garasi dan jalan menuju Wangan.
To be continued……
Last edited by TheSisterPrincess; 28-07-2007 at 09:47 PM..
|
|
|
23-06-2007, 06:55 PM
|
#3
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 1: Ignition
3 Febuari 2005; 9:00 PM; Daikoku Futo service area
350Z Wataru memasuki area perpakiran di kota Yokohama yang terkenal sebagai tempat berkumpulnya pembalap jalanan, yaitu sebuah tempat parkir di Daikoku Futo.
“Seperti biasa, banyak mobil berkumpul di sini.” gumam Wataru sambil mencari tempat parkir yang kosong. Wataru terus berkeliling mencari tempat parkir yang dipenuhi oleh bermacam jenis mobil dari yang hanya untuk pamer sampai mobil yang di modifikasi untuk membalap. Sampai akhirnya Wataru menemukan tempat parkir di sebelah Nissan Skyline GT-R R34 yang berwarna biru.
Setelah Wataru memakirkan 350Z-nya, dia keluar untuk mengamati semua mobil di sekelilingnya yang di mulai dari GT-R berwarna biru di sebelahnya. “Hmmm… walaupun kelihatannya biasa aja, tampaknya pemiliknya sudah berbuat banyak di bagian mesinnya, juga kaki-kakinya sudah di rubah cukup banyak. Velg-nya Enkei RP-03 berbalut high performance tires dan remnya sudah diganti dengan yang lebih besar, begitu juga suspensinya sudah diganti. Bentar nomor platnya, Y?” pikir Wataru.
“Excuse me, is there something wrong with my car?” terdengar suara orang asing di belakang Wataru. Wataru menoleh ke belakang dan dilihatnya orang Kauskasia berambut pirang dan tingginya sekitar 190 cm yang tentunya cukup tinggi untuk Wataru yang tingginya hanya 168 cm. “Eh…. Ah….. there is nothing wrong with it, but sure you have a cool car.” Jawab Wataru dengan sedikit gagap dalam bahasa Inggris. “Oh, finally a Japanese who can speak English.” Jawab pria kauskasia itu. “Wait a minutes, I am not Japanese. I am Indonesian” Jawab Wataru. “Oh… So we are same as ‘gaijin’ here. Hahahaha. Sorry for mistaken you as Japanese because your appearance is same as their. What is your name? my name is Ivan Redfox.” Kata Ivan sambil menjulurkan tangan. “My name is Wataru Ko, nice to meet you mr Ivan.” Kata Wataru sambil berjabat tangan.
“Just call me Ivan” katanya sambil menunjukan perasaan gak enak. “Ok, so you can call me Wataru then. Is it your car?” tanya Wataru memastikan. “Yes, it is. What is your car Wataru?” tanyanya. “My car is next to yours” kata Wataru sambil menunjuk 350Znya.
“What a nice car. Can I see under its bonnet?” tanya Ivan. “Sure, you can” kata Wataru yang kemudian membuka kap mesin 350Z-nya.
Ivan mengamati mesin 350Znya Wataru sambil begumam “HKS single turbo, hi cap intercooler, blow off valve, so you should changed the ECU. I predict the total horse power is around 500 HP.”. “Oh! My engine was stroked from 3.5 L to 4.0 L” potong Wataru. “In that case the power should be around 600 HP” kata Ivan sambil tercenggang melihat 350Z Wataru
“Ok then you can see mine too” tawar Ivan ke Wataru. “Thanks” kata Wataru sambil menuju GT-R nya Ivan. “Hmm…. Apa yang telah dia lakukan ke mobilnya hamper setara sama 350Z gw. RB26DETT yang seharusnya twin turbo di konversi ke Single turbo yang besar, juga yang pasti intercoolernya bukan yang dari pabrik lagi. Wah nih bule hebat juga” pikir Wataru sambil menunjukan senyum kecil. “How is it?” tanya Ivan.
“It is a good car, I like it. Oh yeah! I have one question. Are you come from America?” tanya Wataru. “Yes I am, how can you know?” tanya Ivan. “From your plate number, it shows that the owner is from American Army” Jawab Wataru. “Oh I see, yeah that’s right I am from American army which have duty on Japan and I am a Japanese car enthusiast. So that’s why I am very happy to be here, but there is a problem with my Japanese” kata Ivan sambil menggaruk kepalanya. “You can practice it to me if you wanted. I know how it feels” kata Wataru. “Haik… saya akan berusaha” kata Ivan sambil memaksakan berbicara Jepang.
Setelah beberapa lama mereka mengobrol dan juga melatih Ivan berbicara bahasa Jepang, tiba tiba Ivan bertanya, “Siapa yang tercepat di Wangan?” tanya Ivan. “Wah itu cukup susah ya? Soalnya cukup banyak pembalap di Wangan. Tapi kalo di suruh memilih satu maka saya akan menjawab ‘Devil Z’.” Kata Wataru dalam bahasa Jepang yang di sederhanakan agar Ivan dapat mengerti. “Devil Z? bagaimana penampilan mobil tersebut?” tanya Ivan. “240Z dengan warna biru dengan full body kit dan memakai velg Watanabe 8 spoke berwarna perunggu, kabarnya mesin L28-nya sudah diganti dengan RB26DETT yang di modifikasi sama ‘Tuner from Hell’, Jun Kitami” kata Wataru. “Wah tampaknya mobil tersebut menarik sekali” kata Ivan dengan semangat.
“Oh ya! Bagaimana kalau kita balapan?” tanya Wataru. “A race?” tanya Ivan memastikan.
“Iya race, sekalian kita ke parking area Shibaura. Kan mudah ke situ kalau melewati Raindow Bridge. Yang kalah traktir minum, bagaimana?” tanya Wataru. “Baik, kebetulan saya ingin mencoba settingan baru mobil saya” kata Ivan.
Mereka menuju ke mobil masing masing. “Oh ya Ivan, sebaiknya nomor plat depan-mu di hadapkan ke bawah” bilang Wataru sebelum masuk mobil. “Kenapa?” tanya Ivan. “Supaya speed camera tak menangkap nomor plat kita.Tapi aku rasa sekarang tak apa apa sementara begini dulu. Nanti aku beri satu deh buat mengubah posisi plat nomor” Bilang Wataru. “Terima Kasih” kata Ivan sambil masuk ke mobil-nya.
“Hmm, tampaknya bakal menarik. Dari mesinnya GT-R tersebut bukan sembarangan mobil.” Pikir Wataru sambil membetulkan kacamatanya. Terdengar mesin GT-R tersebut sudah hidup dan di susul oleh suara mesin 350Z Wataru. Wataru memutuskan untuk keluar tempat parkir telebih dahulu dan diikuti oleh GT-R Ivan. Kedua mobil men-spin roda nya sedikit dengan tujuan menghangatkan ban sebelum keluar tempat parkir. Suara kedua mesin tersebut mengundang perhatian seluruh orang yang disana. Sorak sorai mengiringi kedua mobil tersebut keluar tempat parkir.
Last edited by TheSisterPrincess; 28-07-2007 at 09:48 PM..
|
|
|
11-07-2007, 06:12 PM
|
#4
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 2: Over the Rainbow
Tepat sebelum keluar tempat parkir 350Z Wataru berhenti sejenak dan GT-R Ivan berhenti di sebelahnya. Jendela 350Z Wataru terbuka, dia berkata “Ivan, kamu mengerti rulenya kan?”.
“Ya, tentu saja mengerti. Setelah lampu hazard mobil di depan dimatikan, balapan dimulai kan?” kata Ivan setelah membuka jendela mobilnya.
“Yes, betul sekali. Ok finish kita adalah bagian akhir dari Rainbow bridge ya?”
“Ok” kata Ivan sambil mengancungkan jempol.
Kedua orang tersebut menutup kembali kaca jendelanya dan keluar tempat parkir.
3 Febuari 2004; 10:30 PM; Sebelum Tsurumi Tsubasabashi Bridge.
Kedua mobil tersebut mendekati Tsurumi Tsubasabashi Bridge, sebuah Jembatan gantung yang besar yang menghubungkan Tokyo dan Yokohama. Jembatan yang dibangun dengan gaya modern ini disukai oleh banyak orang, tapi para pembalap jalanan menyukai jembatan ini karena mereka bisa memacu mobilnya sampai batas maksimal mobil mereka diatas aspal yang mulus dan jalan 3 jalurnya yang lurus seakan-akan tanpa akhir.
Tepat sebelum memasuki Tsurumi Tsubasabashi Bridge, 350Z Wataru menyalakan lampu hazardnya menandakan Ivan untuk bersiap-siap untuk balapan.
Tak lama kemudian setelah itu, lampu hazard 350Z Wataru mati dan balapan pun dimulai.
Kedua mobil tersebut menggerung gerung menandakan kedua mesin dari mobil tersebut berada di RPM tinggi. Suara mesin kedua mobil langsung menggema di sekitar jembatan.
350Z yang berada di jalur tengah disusul oleh GT-R Ivan dari jalur kanan.
“Wah akselerasinya hebat juga” gumam Wataru
“Tak heran dengan sistem 4WD Attesa ETS mobil dia bisa berakselerasi lebih baik dari 2wd 350Z, tapi kita akan lihat di top speednya”
GT-R Ivan sementara memimpin di ikuti oleh 350Z Wataru tepat di belakangnya.
“Untuk sementara tak banyak traffic, tentu ini akan memberi dia kesempatan berakselerasi dengan leluasa. Kalau keadaannya begini gw harus melakukan slip streaming dan melakukan sling shot pada saat yang tepat” pikir Wataru.
Kecepatan kedua mobil saat ini sudah mencapai 290 km/h dan mereka sudah mencapai bagian akhir dari jembatan. GT-R sudah mulai menampakan tanda bahwa mobil tersebut sebentar lagi mencapai kecepatan maksimalnya.
“Bagus! Ini kesempatan gw “ teriak Wataru.
350Z segera pindah jalur kanan menyusul GT-R Ivan yang berada di jalur tengah.
Kedua mobil sudah melwati Tsurumi Tsubasabashi Bridge dan sekarang sedang sedang menelusuri jalan lurus menuju Higashi Ougishima. Sekerang kedua mobil dihadang oleh traffic yang lebih ramai disbanding di Tsurumi Tsubasabashi Bridge yang memaksa kedua pembalap bergerak lebih hati-hati.
350Z Wataru yang berada di depan terus berpindah jalur dan dibuntuti oleh GT-R Ivan yang berada di belakangnya.
“Sial, dia bisa menempel gw terus. Hmm hahaha sudah lama tak merasakan adrenalin seperti ini” pikir Wataru sambil tersenyum. Kedua mobil terus berusaha melaju cepat walaupun ada beberapa traffic yang mengganggu laju mereka, jadi mereka di uji bagaimana mereka melewati traffic dengan kecepatan tinggi.
Sampai mereka menemui hambatan yang cukup berarti, 3 mobil traffic berjajar menghalangi 350Z Wataru dan GT-R Ivan. Tanpa pikir panjang Wataru langsung memindahkan jalur mobilnya ke jalur yang paling kiri yang seharusnya dipakai dalam keadaan darurat. Hal ini cukup membuat Ivan mengurangi kecepatannya, menunggu mobil mobil penghalang tersebut memeri ruang lewat. Hal ini menyebabkan GT-R Ivan membuat jarak dengan 350Z Wataru, yang sebelumnya bisa dikatakan sangat dekat.
350Z Wataru memasuki terowongan menuju Kawasaki Ukishima Junction. Suara 350Z Wataru menggaung di terowongan tersebut. Tak lama kemudian gaung GT-R Ivan.
Keadaan traffic masih seperti sebelumnya, memberi kesempatan untuk GT-R Ivan yang mempunyai teknologi Attesa ETS dan akselerasi yang bagus menyelip semua traffic. Sedangkan Wataru terus mencari celah dimana dia tak perlu banyak mengurangi kecepatan untuk mencegah GT-R Ivan mendekatinya.
Kedua mobil pun akhirnya keluar terowongan dan disambut lagi oleh terowongan kedua yang menuju ke Wangan Kampachi. Jalanan yang mengarah ke kiri sedikit demi sedikit memberi kesulitan pada 350Z Wataru, dikarenakan Wataru harus menjaga mobilnya yang ber-lay out FR terus stabil di kecepatan tinggi.
Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Ivan untuk mengejar ketinggalan. GT-R Ivan langsung menyusul 350Z Wataru yang sedang dalam keadaan kesulitan dikarenakan keadaan mobilnya yang sedang mengalami sedikit drift.
“Sial! Dia bisa menyusul gw. Tenang tenang, setelah ini gw bisa dapat keuntungan karena selajutnya adalah jalan lurus yang cukup panjang” Wataru memikirkan strategi berikutnya.
350Z Wataru terus mengikuti GT-R Ivan melakukan slip streaming. Kini kedua mobil sudah hampir mencapai Kuukouchuuou. Setelah itu mereka memasuki terowongan lagi. . Deru suara kedua mesin bergema kembali di terowongan tersebut.
*Ngggreenngggg……..psttt……*
Suara blow off valve dari 350Z Wataru membuat balapan menjadi semakin panas.
Traffic yang berjumlah sedikit tak menghalangi kedua mobil untuk melaju sekencang kencangnya.
GT-R Ivan terus menghalangi 350Z Wataru untuk mencegah Wataru mengambil posiinya.
“Sial, dia benar benar tak mau memberi gw jalan. Baiklah kalau begitu”
Wataru menyalakan lampu besar untuk memberikan tekanan ke Ivan.
“Kalau begini keadaannya, gw harus memberikan tekanan mental ke dia.”
Kedua mobil keluar terowongan dan menuju ke Toukai junction dimana mereka akan berbelok menuju ke Rainbow bridge. 350Z Wataru terus mengikuti GT-R Ivan tepat dibalakangnya sehingga jarak kedua mobil sangat dekat sekali.
GT-R Ivan mengambil jalur kiri di Toukai junction untuk menuju ke Rainbow bridge diikuti 350Z Wataru.
Sebelum tikungan ke kiri, GT-R Ivan mengambil jalur di kanan dan mulai mengurangi kecepatan, sedangkan 350Z Wataru tetap di jalur kiri dan mengerem beberapa saat setalah GT-R Ivan mengerem. Hal ini menyebabkan 350Z tepat sejajar dengan GT-R.
350Z melepaskan remnya, menyusul GT-R, dan mengerem lagi.
Wataru menurunkan giginya dan membanting stirnya ke kiri menyebabkan 350Z-nya mengalami sliding tepat di depan GT-R Ivan.
“Oh god, he will crash!” teriak Ivan sambil mengurangi laju mobilnya.
Wataru men-counter stirnya ke kanan sehingga 350Znya melakukan gerakan drift.
“Bagus, timingnya tepat” kata Wataru sambil tersenyum.
350Z berhasil menaklukan tikungan tersebut dan memperlebar jaraknya dengan GT-R Ivan yang melambat dikarenakan pengereman yang berlebihan.
“Shot! He trick me. That Wataru guy sure know how to drift” pikir Ivan.
350Z Wataru diikuti GT-R Ivan memasuki jalan 2 jalur yang dihiasi jeruji besi yang membentuk terowongan dan tak lama mereka sampai di rainbow bridge.
“Huh…no chance” pikir Ivan.
Jarak 350Z dan GT-R cukup jauh membuat Ivan mulai putus asa, tapi Wataru tetap menggeber mobilnya.
Akhirnya 350Z melewati batas akhir dari rainbow bridge terlebih dahulu yang merupakan garis finish yang ditentukan oleh mereka berdua. Tak lama kemudian GT-R Ivan melewati garis finish tersebut.
350Z memberi lampu sign ke kiri dan menuju ke Shibaura parking lot. Begitu juga GT-R Ivan mengikuti 350Z Wataru ke tempat tersebut.
“Bagus, gw menang” pikir Wataru sambil tersenyum.
3 Febuari 2004; 10:40 PM; Shibaura parking lot.
Kedua mobil memasuki Shibaura parking lot yang tak kalah ramai-nya dengan Daikoku Futo. Mereka mencari tempat parkir kosong dan mendapatkan 2 tempat yang kebetulan bersebelahan.
“Oh man, how the hell can you drift like that?! It is cool man!” teriak Ivan sambil menunjukan perasaan takjubnya.
“I often train on Haruna-san” jawab Wataru.
“Mr Haruna?” kata Ivan sambil kebingungan.
“I mean mount Haruna, ‘san’ is used as mountain too” jawab Wataru
“Oh I see I see. Ok I will treat you a drink because I lost the race” kata Ivan.
Mereka menuju ke vending machine.
“Ok which one do you want?” tanya Ivan.
“Just get me a cold green tea” jawab Wataru
Ivan memasukan koin dan memijit tombol untuk memilih tea hijau dingin.
*cklang*
Wataru mengambil dan membuka kaleng minumannya dan Ivan membeli sekaleng Cola untuk dirinya.
“I still wondering, why is Japanese mention soft drink as ‘juice’?” tanya Ivan.
“Hahaha I don’t know neither” jawab Wataru
Tiba2 terdengar bunyi mesin dari beberapa mobil yang datang berurutan memasuki Shibaura parking lot. Salah satunya adalah Honda NSX merah.
“Hey itu NSX-nya Ryo!” teriak Wataru sambil bangkit berdiri.
Last edited by TheSisterPrincess; 27-08-2007 at 10:59 PM..
|
|
|
13-07-2007, 03:37 AM
|
#5
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 3: My Fair Lady
Kelompok mobil tersebut masuk Shibaura parking lot dan memakir mobil mereka tak jauh dari Wataru dan Ivan. Setiap mobil punya stiker bergambar naga Wyvern dan bertuliskan ‘Black Crimson’, maupun itu di kaca jendela-nya atau body mobil mereka.
“Yo Wataru, apa kabar nih?” sapa Ryo setelah keluar dari NSX merahnya yang diberi body kit dengan GT wing dan juga memakai Volk Racing CE28 berwarna emas untuk velg-nya.
“Baik sekali Ryo-san, lagi ngumpul sama team nih?” tanya Wataru.
“Who are they?” tanya Ivan.
“Oh they are one of the most famous team on Wangan. They aim to be the fastest on Wangan. Not all racer can be a member, at least they must have a car which can reach over 300 km/h.” jelas Wataru.
“Wataru, siapa dia?” tanya Ryo
“Oh dia? Kenalkan nama dia Ivan Redfox yang barusan balapan ama gw dari Daikoku Futo ke sini” Wataru memperkenalkan Ivan ke Ryo.
“Oh, yang mengendarai R34 biru itu ya? Nice to meet you Mr Redfox, both of you is hell fast” kata Ryo.
“Thanks, just call me Ivan, Ryo-san.” Kata Ivan sambil membungkuk ala orang Jepang.
“Bagaimana Ryo-san tahu dia mengendarai R34 biru?” tanya Wataru
“Tadi kami lagi berhenti di Rainbow Bridge dan melihat kalian. Karena tahu itu kamu, maka kami mengikuti kalian.” kata Ryo
“Hey Ryo! Siapa mereka?” sapa seseorang yang memakai jaket hitam dengan strip merah yang juga dipakai oleh Ryo dan juga mempunyai rambut yang di cat warna merah.
Dia keluar dari 300ZX (Z32) yang berwarna merah dengan GT-Wing dibelakang mobilnya.
“Hey, Fukoki-san. Ini nih yang sering gw ceritakan, yang mengendarai 350Z hitam, Wataru dan juga pengendara GT-R biru yang tadi, Ivan” Ryo memperkenalkan.
“Yo guys, kenalkan nama gw Fukoki Fujin, pemimpin Black Crimson. Terus terang saja, gw tertarik sama kalian berdua.” Fukoki memperlihatkan sebuah senyum.
“Ryo! Ayo kita ke Daikoku Futo sekarang” ajak Fukoki
“Ok, yo udah dulu ya. See you” kata Ryo sambil lari menuju ke mobilnya.
Wataru dan Ivan melambaikan tangannya ke kedua orang tersebut.
Team Black Crimson pun meninggalakan Shibaura parking lot.
“Ok, Wataru. I think it is the time to me to go home. I am very tired after that race. I will give you my phone number. It is nice to be friend with you, Wataru” kata Ivan sambil memberi secarik kertas berisi nomor telponnya dan memasuki GT-Rnya.
“I will call you tommorow night, is it ok?” tanya Wataru
Ivan hanya mengacunhgkan jempolnya menandakan ‘ok’ dari balik kaca jendelanya dan mengendarai GT-Rnya keluar Shibaura Parking lot.
“Yah, sepi lagi deh” pikir Wataru
“Mungkin gw bakal balik lagi ke apartmen gw, hooaahhemm” Wataru menguap sambil masuk ke mobilnya.
350Z keluar shibaura parking lot dan menuju ke apartemen Wataru
Sesampainya di sana, Wataru langsung beristirahat.
4 Febuari 2005; 9:30 AM; Apartemen Wataru
*kring…..kring……kring……*
Handphone Wataru berdering cukup jelas sehingga membangunkan Wataru yang cukup susah bangun.
“Ya, halo. Siapa ini?” Wataru menjawab telpon dengan nada orang ngantuk.
“Aduh, dasar kamu ini tukang tidur. Ini Chitose Karasuma, pacarmu!” jawab Chitose di telpon.
“Hmmm? Ada apa sih Chitose? Gw masih pengen tidur nih.” Jawab Wataru.
“Kamu kan janji kencan hari ini. Aku udah di depan pintu apartemen mu nih!” jawab Chitose.
“Huh? Apa?” Wataru langsung menutup handphone-nya dan langsung menuju pintu depan apartemennya.
Wataru membuka pintunya dan muncul seorang wanita berparas cukup cantik dan berambut hitam panjang yang memakai pita berwarna merah.
“Sori, Chitose. Gw kecapean kemarin. Kemarin gw ada balapan seru di Wangan” Kata Wataru sambil menggaruk kepalanya dan menuju ruang makan bersama Chitose.
“Wah, hebat. Ini hadiahnya” Chitose mencium pipi Wataru
“Awawawa!, jangan tiba-tiba begitu dong!” Wataru menunjukan sikap malu dan mukanya memerah.
“Hihihi, dasar kamu. Kamu itu selalu bersikap cool, tapi sekali di cium langsung berubah deh.” Kata Chitose sambil ketawa geli.
“Ya udah. Tapi terima kasih atas hadiahnya, untuk itu hari ini gw tak akan cuci muka” kata Wataru
“Jangan begitu dong, bersihkan seluruh badanmu termasuk mukamu biar segar sana” Chitose mendorong Wataru ke kamar mandi yang berada di sebelah pintu kamar Wataru.
“Yah… tapi ciumannya hilang donk” kata Wataru
“Yang pentingkan artinya, lagipula nanti kamu bisa minta lagi kok” kata Chitose
“Bercanda kok, hahaha” kata Wataru sambil masuk ke kamar mandi.
“Dasar kamu ini” kata Chitose sambil melihat Wataru masuk ke kamar mandi.
Setelah itu Wataru mandi dan Chitose melakukan sesuatu di dapur yang berada tepat disebelah ruang makan.
Setelah kira-kira 15 menit kemudian, Wataru selesai mandi dan menuju ke ruang makan yang berada di tengah.
“Hmm…. Kamu lagi masak apa nih?” kata Wataru sambil mecium bau masakan Chitose.
“Oh ini? Nasi goreng kesukaanmu Taru-kun.” Jawab Chitose yang mengenakan kaos tangan panjang dan rok panjang berwarna pink di balik celemeknya di dapur.
“Oh ini kan nasi goreng ala Indonesia. Bagaimana kamu dapat resepnya?” tanya Wataru.
“Oh itu aku dapat dari ibumu Taru-kun, beliau mengirimnya lewat e-mail. Kan kami sering berkomunikasi lewat e-mail.” Jawab Chitose sambil menyiapkan sarapan.
“Wah, tak salah aku memilihmu sebagai ‘my fair lady’.” Kata Wataru.
“Ah bisa aja kamu Taru-kun. Ok, sudah siap nih.” Chitose memindahkan nasi goreng dari panci ke dua piring sambil tersenyum malu gara-gara rayuan Wataru.
Chitose melepas dan manaruh celemeknya di lemari, lalu mereka berdua duduk di meja makan dan mulai menikmati nasi goreng sebagai sarapan.
“Bagaimana Taru-kun?” tanya Chitose setelah Wataru melahap suap pertamanya.
“Wah, bener-bener enak. Seperti masakan mami-ku” balas Wataru dengan keadaan mulut penuh.
“Kunyah dulu baru bicara Taru-kun.” Kata Chitose
“Hahaha, habis masakanmu terlalu enak” balas Wataru setelah menguyah makanannya.
“Ya udah, makannya santai saja.” Kata Chitose.
Mereka melanjutkan sarapan mereka sehingga mereka berdua masing masing menghabiskan seporsi nasi goreng.
“Oh ya Chitose, mau kemana hari ini?” tanya Wataru sambil mencuci piring bekas sarapan mereka.
“Bagaimana kalau Yokohama bay?” tanya Chitose yang sedang membantu Wataru mencuci piring.
“Yokohama bay? Boleh juga.” Jawab Wataru sambil mencuci pring yang terakhir.
Chitose mengambil piring yang terakhir dari Wataru untuk dikeringkan dan ditaruh di rak.
Setelah itu Wataru mengambil jaket kulitnya yang berwarna hitam dan kunci 350Znya. Begitu juga Chitose mengambil sweaternya yang juga berwarna hitam.
Mereka menuju ke 350Z Wataru yang dipakir di bawah.
“Makin lama, aku makin senang ini mobil” kata Chitose sambil masuk ke 350Z.
“Tentu saja, soalnya ini mobil menyimpan banyak kenangan tentang kita berdua.” Kata Wataru sambil menstarter mobilnya dan menyalakan GPS di konsol tengah 350Z.
“Iya, betul juga. Sudah banyak hal yang kita lalui bersama ini mobil.” Kata Chitose sambil mengusap door panel 350Z.
“Aku masih ingat, kau terus menemaniku untuk membangun mobil ini, juga kau terus memberiku dorongan. Kalo boleh, aku ingin bertanya. Kenapa kau memberiku dorongan, padahal tak semua wanita senang menunggu cowonya ngutak ngatik mobil?” tanya Wataru.
“Kenapa ya? Mungkin karena aku sangat senang melihat matamu saat kamu berkerja untuk mobil ini, begitu juga saat kamu menyetir mobil ini.” Jawab Chitose sambil tersenyum.
“Terima kasih, Chitose” Kata Wataru sambil menunjukan senyum kecil di bibirnya.
350Z Wataru sekarang meninggalkan tempat parkir dan menuju ke Yokohama Bay.
4 Febuari 2005; 11:00 AM; New Belt Line menuju ke Yokohama
350Z melaju dalam kecepatan sedang sekitar 100km/h menuju Yokohama.
“Taru-kun, kamu sudah betah di Tokyo?” tanya Chitose.
“Tentu saja, ini sudah menjadi tanah air kedua bagiku. Lagipula ada kamu disini.” Jawab Wataru.
“Apakah kamu rindu akan Indonesia?” tanya Chitose lagi.
“Tentu saja aku rindu, tapi ada beberapa hal yang bisa melupakan kerinduanku, seperti membalap di Wangan. Aku benar-benar menyukai dunia otomotif di sini. Bahkan bisa dibilang, inilah surga bagi penggemar otomotif.” Jelas Wataru.
“Tentunya kamu masih ingatkan ketika Ryo-san membawamu pertama kali ke Wangan?” tanya Chitose.
“Tentu saja aku tak akan melupakan, bagaimana aku pertama kali melihat dunia ‘Hashiriya’ dan juga pertama kalinya aku melihat ‘Devil Z’.” Jawab Wataru dengan penuh semangat.
Wataru meneruskan menyetirnya ke Yokohama, sekarang 350Z memasuki terowongan.
“Hmmm… akhir akhir ini Devil Z lebih jarang kelihatan. Tampaknya aku harus mencari informasi tentang mobil itu.” Pikir Wataru.
350Z terus mengarungi Wangan dengan tenang, dengan alunan music jazz membuat suasana benar tenang. Keadaan yang sungguh berbeda jika dibandngkan dengan malam sebelumnya dimana kenikmatan menyetir di pacu oleh adrenalin. Sekarang kenikmatan menyetir disebabkan oleh ketenangan dari jalan tol yang lurus dan kosong di hari minggu.
Suara knapolt 350Z yang tenang terdengar sebagai penambah alunan music bagi Wataru.
“Benar benar suasana yang berbeda dengan tadi malam” gumam Wataru.
“Memangnya tadi malam gimana?” tanya Chitose keheranan.
“Tadi malam, aku balapan dengan sebuah GT-R. Walaupun rutenya sangat simple, hanya dari Daikoku Futo ke Shibaura tapi balapan berjalan amat seru, tapi bisa dikatakan cukup berbahaya, karena ada traffic dan aku harus melaju secepat mungkin.” Jelas Wataru
“Terus terang saja, aku selalu khawatir keselamatanmu saat balapan.” Kata Chitose.
“Jangan Khawatir Chitose, aku sangat tahu tentang hal itu.. Aku selalu berusaha membalap seaman mungkin, karena aku tak mau kau bersedih karena aku. Juga aku selamat demi kau.” Jawab Wataru sambil tersenyum.
“Walaupun begitu, aku tetap mendukungmu Taru-kun. Karena kamu terlihat sangat keren ketika membalap, terutama matamu itu.” respon Chitose dengan senyum.
“Oh Chitose, aku bersyukur bahwa aku sungguh mecintaimu” kata Wataru.
“Aku juga Taru-kun” respon Chitose.
Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Yokohama Bay, dimana mereka akan menikmati angin sepoi di pinggir pantai.
Last edited by TheSisterPrincess; 20-08-2007 at 06:21 PM..
|
|
|
28-07-2007, 10:41 PM
|
#6
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 4: Feel the Passion
4 Febuari 2005; 11:30 AM; Yokohama Bay
350Z berhenti di dekat sebuah dermaga. Wataru dan Chitose pun segera keluar dari mobil.
Angin sepoi pantai dan bau garampun menghampiri mereka.
“Huah… udaranya membuatku ngantuk, tidur di mobil ah….” Kata Wataru.
“Wataru….kamu ini…” rengek Chitose.
“Hahahaha bercanda kok, soalnya aku demen lihat muka merengek kamu” kata Wataru sambil tertawa.
“Dasar kamu ini” kata Chitose dengan muka malu dan memerah.
Mereka pun duduk di dermaga dan bersantai menikmati pemandangan ke arah Tsurumi Tsubasabashi Bridge.
“Melihat Tsurumi Tsubasabashi Bridge jadi mengingatkan balapanku kemarin malam.” Kata Wataru sambil merebahkan badannya.
“hem? Memangnya ada yang menarik?” tanya Chitose.
“Yah…….sebenarnya bisa dibilang menarik. Ivan Redfox, lawanku kemarin. Dia mempunyai insting membalap yang cukup bagus. Sangat disayangkan, cara menyetirnya dan tuningannya mempunyai style American Muscle yang bisa dibilang kurang cocok untuk Wangan. Tapi tetap saja, dia cukup cepat.” Kata Wataru.
“Kamu sering bilang, ‘makin cepat lawannya, semakin menarik pula balapan tersebut’, kan?” tanya Chitose.
“Iya betul sekali.” Balas Wataru sambil tersenyum.
“Kadang aku bingung, apakah kamu membalap untuk sekadar hobi atau tidak?” tanya Chitose sambil membetulkan rambutnya yang terbang akibat angin.
“Sebenarnya bagiku itu pertanyaan yang cukup sulit, soalnya ini bisa dibilang antara hobi, perkerjaan, dan semangat hidup.” kata Wataru.
“Kalo soal hobi dan perkerjaan sih aku paham, tapi apa yang dimaksud semangat hidupmu?” tanya Chitose
“Sekarang ini semangat hidupku ada tiga, yang paling penting pasti dirimu, kedua adalah 350Z ku ini, dan yang terakhir adalah ‘Devil Z’. Itulah mobil yang membuatku bersemangat untuk membalap dan mengalahkannya, bahkan dianggap saingannya saja sudah membuatku senang.” Kata Wataru.
“Hihihi, kamu makin seperti ayahku saja” kata Chitose dengan suara kecil.
“Hmmm? Apa?” Wataru menoleh ke Chitose.
“Tidak apa apa kok.” Chitose menggelengkan kepalanya dengan senyum.
Mereka terdiam sejenak dan menikmati pemandangan yang berada di depan mata mereka.
Tiba tiba Wataru memulai topik pembicaraan baru, “Oh ya Chitose, bagaimana rasanya menjadi guru seni Jepang Tradisional?”
“Cukup menyenangkan, murid murid ku terdiri dari anak kecil sampai ibu ibu. Yang paling menyebalkan adalah, ibu ibu selalu mau mengenalkanku ke anak laki laki-nya” kata Chitose sambil memasang muka sedikit sebal.
“Itu karena dirimu begitu cantik Chitose, cantik luar maupun dalam. Sangat jarang gadis sepertimu Chitose.” Kata Wataru berusaha menghilangkan muka sebal Chitose.
“Jadikah itu alasanmu mencintaiku, Wataru?” tanya Chitose.
“Aku mencintaimu karena Chitose adalah Chitose. Tak ada Chitose lain di hatiku. Lagipula, perlukah alasan untuk mencintai?” Kata Wataru sambil memeluk Chitose dari belakang.
Chitose pun tersenyum kembali dan tiba tiba perut Wataru berbunyi
*kriuk…*
Mereka pun terdiam sejenak dan “hahahaha dasar kamu ini, pas saat begini tiba tiba perutmu bunyi.” Chitose tertawa setelah mendengar suara perut Wataru.
“Hehehe gak tahan lagi sih, sudah jam 12:15 nih.” Kata Wataru.
“Ya udah deh, mau makan dimana?” tanya Chitose.
“Kadang aku ingin masakan Cina.” kata Wataru
“Kalau begitu kita seharusnya ke Chinatown.” Saran Chitose.
“Ok deh” kata Wataru sambil menuju ke 350Znya.
Mereka pun menuju ke Chinatown.
Sesampai disana, mereka makan di salah satu restoran cina disitu.
Setelah selesai makan siang, Wataru pun bertanya “Nanti malam mau ikut denganku ke Daikoku Futo?”.
“Boleh sih, mumpung aku tidak ada acara malam ini. Tapi aku mau mandi dulu” kata Chitose.
“Ok deh kalau begitu, kita balik dulu ke apartemenku” Kata Wataru yang sambil berpikir, “sekalian aju mau mengecek mobil sebelum nanti malam.”
Mereka pun segera menuju ke apartment Wataru di Tokyo.
4 Febuari 2005; 2:30 PM; Apartemen Wataru.
“Ok, aku mau mengecek 350Z ku dulu. Kamu kalau mau mandi, ini kunci apartemenku.” Wataru menyerahkan sebuah kunci.
“Baik, kamu gak mau mandi sekalian?” tanya Chitose.
“Nanti saja setelah mengecek mobilku. Kalau sudah selesai, segera kembali ke sini ya?” kata Wataru sambil membuka kap mesin 350Znya.
“Baik..” Chitose segera pergi ke apartemen Wataru.
Sedangkan Wataru sedang mengecek mobilnya.
Sambil meraba-raba komponennya untuk mengecek apakah ada yang kendor dan sebagainya, Wataru berpikir “Gw punya insting bakal ada sesuatu yang menarik nanti malam. Hmmm…. Oh ya aku perlu telpon si Ivan.”
Wataru segera meraih handphone di kantongnya dan melakukan panggilan ke Ivan sambil bersandar pada 350Znya.
“Tut…..tut…..tut…..*cklek* Halo, Ivan speaking” jawab Ivan.
“Yo Ivan, it’s me Wataru from last night.” kata Wataru
“Oh, Wataru. Do you have any plan for tonight?” tanya Ivan.
“Yes, I want to go to Daikoku Futo again tonight. Are you going?” tanya Wataru.
“Sure, I will.” Kata Ivan.
“That’s good, because I feel that something interesting will happen there” Kata Wataru.
“Ok then I will call you again when I arrived. See ya” kata Ivan.
“See ya” balas Wataru
Kedua orang tersebut menutup pembicaraannya. Wataru pun kembali mengecek mobilnya dan mengencangkan beberapa bagian dari 350Z.
“Ok, bagus semuanya sempurna buat nanti malam.” Muka Wataru menunjukan wajah puas dan menutup kap mobilnya.
“Dasar kamu ini, perhatikan juga dong kebersihan badanmu” Kata Chitose sambil mengelap sisa oli di pipi Wataru dengan sapu tangan.
“Ah…. Terima kasih” ucap Wataru.
“Ayo giliranmu mandi” perintah Chitose.
“Iya iya….bentar” Wataru mencabut stir MOMO Jet black-nya dan mengunci mobilnya.
Mereka berdua segera kembali ke apartmentnya. Wataru segera mandi, sedangkan Chitose menonton televisi di ruang tengah sambil menunggu Wataru selesai. Setelah semuanya selesai, mereka segera menuju Daikoku Futo.
4 Febuari 2005; 6:00 PM; Daikoku Futo
Mereka berdua sekarang berada di restoran cepat saji McDonald. Mereka duduk di lantai 2 restoran tersebut sambil menikmati burgernya masing masing.
“Oh ya, tadi aku manggil Ivan juga pas kamu mandi.” Kata Wataru sehabis mengunyah burgernya.
“Oh ya? Mau datang gak dia?” tanya Chitose sambil memegang sedotan minumannya.
“Katanya sih iya” Wataru kembali melahap burger-nya.
*Kring…..kring……kring……*
“Wah kelihatannya dia nih” Wataru pun menjawab panggilan telepon tersebut
“Ya, halo? Oh Ivan, yes I am on Daikoku Futo now. Hmmm….Why?......ok then if you must……it is ok, don’t mind……ok then, see you” Wataru pun mengakhiri pembicaraan.
“Kenapa?” tanya Chitose.
“Dia dapat panggilan tugas mendadak, jadi gak bisa datang hari ini” kata Wataru.
“Jadi?” tanya Chitose.
“Paling setelah ini kita keliling lihat pembalap lain.” Kata Wataru dengan senyum.
Mereka pun menyelesaikan makan malamnya , setelah itu merekapun turun, dan melihat sekitar Daikoku Futo yang cukup ramai seperti biasa pas weekend. Dengan kebetulan mereka bertemu dengan Ryo dan NSX merahnya.
“Yo, my boy. Lagi kencan nih?” kata Ryo dengan nada meledek.
“Iya” kata Wataru sambil tersenyum.
“Selamat malam, Ryo-sempai” kata Chitose sambil membungkuk.
“Yo, selamat malam.” Balas Ryo.
“Tumben lagi gak sama ’Black Crimson’?” kata Wataru.
“Oh mereka semua lagi melakukan ‘cruising’ di Yokohama loop, tapi aku lagi malas melakuknnya. Oh ya, ngomong-ngomong tak seperti biasanya lu bawa Chitose ke sini.” kata Ryo.
“Yah, cepat atau lambat aku ingin memperlihatkan dunia ‘Hashiriya’ ke dia dan juga aku punya feeling kuat bahwa malam ini adalah waktu yang sangat tepat.” Kata Wataru
*srsss….srsss…..* “Ryo-san? Kau ada disana?” kata seorang anggota team Black Crimson dari radio panggil yang terpasang di NSX Ryo.
“Ya ada apa? Aku dengar.” Ryo membalas panggilan radio tersebut.
“De…..Devil Z! Barusan Devil Z melewati kami.” Suara radio tersebut langsung membuat orang di sekitar NSX merah tersebut ikut mendengarkan suara radio tersebut.
“Apa! Bisa kalian katakan dimana dan menuju kemana?” tanya Ryo.
“Barusan kami menemukannya di new belt line dan dia masuk Yokohama loop arah berlawanan arah jarum jam. Mungkin dalam beberapa saat akan melewati Daikoku Futo.” Kata dia.
“Ok, terima kasih laporannya” Ryo menaruh radio panggilnya.
“Taru-kun, kenapa kau?” tanya Chitose.
“Dia….Devil Z, ternyata feeling-ku tak salah. Sudah lama aku ingin balapan dengan dia dalam 350Z ku ini.” Kata Wataru dengan muka semangat.
“Jadi gimana Wataru? Mau menghadapinya?” tanya Ryo.
“Tentu saja, ini adalah kesempatan yang cukup langka. Tapi Ryo-san, minta tolong titip Chitose ya?” kata Wataru.
“Kenapa aku gak ikut kamu aja Taru-kun?” tanya Chitose.
“Hmmm….ini udah jadi prinsip ku untuk tak membawa orang yang kusayangi ke dalam mobil ketika aku balapan. Kamu tentu tahu kan, balapan jalanan itu cukup berbahaya.” Kata Wataru.
“Tapi…..tapi…..” kata Chitose dengan kebingungan.
“Tenang saja Chitose, dia gak sebodoh itu kok nyetirnya. Tapi tetap saja ada bahaya yang tak bisa di duga. Juga disana adalah medan perang bagi kita dimana kita tak seharusnya membawa orang yang kita kasihi. Tapi tenang saja walaupun kamu tak ikut Wataru, tapi kamu bisa menontonnya dari kursi penonton yang terbaik yaitu NSX-ku” Kata Ryo.
Chitose hanya tertunduk tak memberikan jawaban.
“Terima kasih Ryo-san. Maaf Chitose, bukannya aku menganggapmu sebagai pengganggu tapi aku tak mau mencelakakan kamu. Seperti yang Ryo bilang Wangan adalah medan perang yang sangat bahaya. Kalau hanya untuk memberi semangat, dengan hanya dengan dirimu melihat aku membalap sudah sangat cukup memberiku semangat.” Kata Wataru sambil mengusap-usap kepala Chitose.
“Baiklah, aku akan menonton dari mobil Ryo-sempai. Tapi berjanjilah, kembalilah dengan selamat demi aku. Kalau kamu yang celaka, aku juga yang bakal sedih.” Kata Chitose dengan wajah serius.
Wataru hanya mengacungkan jempol dan tersenyum di balik kaca mobil tersebut.
Dengan segera 350Z keluar Daikoku Futo.
“Chitose! Cepat duduk di kursi navigator!” sahut Ryo ke Chitose yang melihat kepergian Wataru. Merekapun masuk NSX Ryo dan segera mengikuti belakang 350Z Wataru.
Sementara itu 350Z Wataru yang diikuti NSX Ryo melaju 60 km/h di jalur kiri menunggu Devil Z. Tak lama kemudian Wataru berkata “Aura ini dan bunyi mesin ini, tak salah lagi dia sudah dekat” Kata Wataru dengan senyum lebar.
Pada saat yang sama Chitose berbicara dengan Ryo, “Akhirnya aku bisa melihat mata itu lagi setelah beberapa lama.” Kata Chitose.
“Maksudmu mata Wataru? Ya betul sekali, mata yang sama saat dia melihat Devil Z untuk pertama kali.” Kata Ryo.
“Ya, dan juga mata ketika dia berbicara tentang mobil.” Kata Chitose.
Kedua mobilpun akhirnya keluar dari Daikoku Futo Junction dan memasuki Wangan Line menuju ke Tokyo.
“Hmmm? Akhirnya dia muncul juga.” Kata Ryo sambil melihat kaca spion.
“Aura ini dan bunyi mesin ini, tak salah lagi. Itu pasti dia” kata Wataru pada saat yang sama.
Devil Z datang mendekati mereka dengan kecepatan sedang dan akhirnya berada di depan 350Z Wataru. Dengan segera Wataru mengedipkan lampu beam beberapa kali.
Setelah itu Devil Z menyalakan lampu hazard, “Bagus, dia menerima tantangan ku. Ok 350Z kali ini kita melaju dengan kecepatan penuh.” Kata Wataru.
Ketika lampu hazard Devil Z mati, dimulai balapan tersebut.
Di atas jalan aspal yang lenggang tersebut, tanpa pikir panjang 350Z dan Devil Z langsung melaju dengan kecepatan penuh.
“Chitose, perhatikan baik baik. Bagaimana Wataru membalap di Wangan.” Kata Ryo yang menyetir NSX-nya untuk menonton balapan antara 350Z Wataru dan Devil Z dengan Chitose.
Last edited by TheSisterPrincess; 12-08-2007 at 02:29 AM..
|
|
|
06-08-2007, 06:12 PM
|
#7
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 5: Devil Z
350Z dan Devil Z yang telah memulai balapannya melaju dengan kecepatan tinggi tanpa ragu ragu. Sedangkan NSX Ryo yang membawa Chitose hanya berusaha agar mereka tetap bisa melihat kedua mobil yang di depannya.
Pada saat ini tak ada perubahan jarak yang berarti antara 350Z dan Devil Z. 350Z hanya bisa melakukan slip streaming di belakang Devil Z.
“Bener bener gila kekuatan Devil Z, 350Z Wataru saja yang mempunyai 600 HP aja kesulitan mengikutinya. Oke Chitose, sekarang pegangan yang erat” Ryo menambah kecepatan NSXnya untuk berusaha mengikuti kedua mobil tersebut.
Chitose yang berpegangan erat bertanya pada Ryo “Balapan seperti ini kapan akan selesainya?”
Ryo yang sibuk menyetir hanya menjawab singkat “Balapan seperti ini biasanya akan selesai sampai salah satu dari mereka menyerah dengan memperlambat laju mobilnya.”
Sementara itu, kedua mobil tersebut dihandang oleh traffic yang memaksa mereka berpindah jalur berkali kali dan melakukan slalom. Kekuatan Devil Z yang terlalu besar menyulitkan dirinya untuk menjaga kecepatannya dan 350Z terus mendekatinya.
NSX Ryo tak mengambil banyak resiko untuk melewati traffic tersebut dan melewatinya dengan kecepatan sedang. Setelah itu NSX Ryo berakselerasi lagi mengejar kedua mobil di depannya. “Sukar dipercaya Wataru bisa mengikutinya di traffic seperti, bahkan orang yang beperngalaman saja belum tentu bisa melakukannya.” Pikir Ryo. Chitose yang duduk di sampingnya hanya terus memperhatikan 350Z Wataru yang melaju di depan NSX Ryo.
Wataru mengganti giginya dari 5 ke 6, membuat knapolt 350Z mengeluarkan api dan berakselerasi lebih cepat lagi.
Posisi 350Z dan Devil Z sekarang semakin dekat dan memasuki sebuah terowongan.
Suara putaran mesin tinggi dan suara turbo kedua mobil menggema di terowongan tersebut. Speedometer digital merek Defi-nya 350Z sudah menunjukan angka 315 km/h.
Sedikit demi sedikit, angka speedometer terus naik sampai menyentuh angka 320 km/h
“Gila aku sudah melampaui top speednya 350Z ku ini.” Pikir Wataru dengan terus mengijak pedal gas 350Z sedalam-dalamnya.
Setelah keluar dari terowongan, 350Z sedikit demi sedikit menjajarkan mobilnya dengan Devil Z.
“Ayo dikit lagi.” Teriak Wataru.
350Z tak mampu lagi melaju lebih cepat lagi dan jarum RPM sudah mendekati redline.
Memasuki terowongan yang kedua, bagian depan kedua mobil sudah berjajar.
Depan 350Z sudah maju lebih sedikit dari Devil Z.
Tiba-tiba terdengar bunyi kopling dari Devil Z.
*jeglek*
“Sial! Ternyata dia belum di pesneling akhirnya!” Wataru terkejut dan hanya bisa menyaksikan Devil Z berakselerasi dan berangsur-angsur meninggalkan 350Znya yang sedang melaju di 320 km/h.
Wataru terus menginjak pedal gas 350Z sampai maksimum, tapi kekuatan mobil tersebut sudah sampai batas maksimal. Devil Z terus menjauh dari 350Z hingga Wataru tak bisa melihat Devil Z.
“Gila, tuh mobil! dan sial gw gak melaju lebih cepat lagi.” Wataru memperhatikan indikator suhu air dan oli yang sudah hampir memcapai garis batas.
Tak lama 350Z keluar dari terowongan dan menepi di sebalah kiri sambil menyalakan lampu hazard.
Kemudian NSX Ryo melewati 350Z Wataru yang sedang berhenti.
“Lho itu bukannya mobilnya Wataru?” kata Chitose.
“Apa?” Ryo juga segera berhenti di tepi jalan tak jauh dari 350Z Wataru.
Chitose segera keluar dari NSX dan berlari ke 350Z, “Taru-kun! Kau tak apa apa?”.
Wataru pun keluar dari 350Z dan dia pun menjawab “Tidak apa apa kok, Cuma 350Z ku udah mencapai batas maksimalnya jadi harus di dinginkan untuk beberapa saat.”.
Ryo berjalan mengikuti Chitose setelah menutup pintu NSXnya dan bertanya“Jadi gimana hasilnya?”
“Aku kalah, padahal aku kira bisa menang karena aku hampir menyusulnya, eh ternyata dia belum pindah ke gigi yang terakhir. Tapi walaupun kalah, aku cukup senang bisa balapan dengan Devil Z. Suatu saat pasti akan kususul.” Wataru menunjukan senyum yang lebar.
“Hahaha hebat kau, masih bisa tesenyum saat kalah. Ada kesan yang mau disampaikan?” tanya Ryo.
Wataru menyandar 350Z dan berkata “Menarik….sangat menarik. Yah, seperti pas aku melihatnya pertama kali. Itu mobil masih terasa hidup.”
“Ya udah deh, yang penting kamu dan mobil kamu gak pa pa.” kata Ryo.
Chitose pun tiba tiba mendekati Wataru dan memeluknya erat.
Wataru pun terkejut dan bertanya “Ah ah….kenapa nih, kok tiba tiba?”
“Gak ada apa apa kok, Cuma bersyukur kamu selamat. Tapi lari 350Z mu dan cara menyetirmu sungguh hebat. “ Chitose pun memeluk Wataru lebih erat dan Wataru hanya bisa mengelus kepala Chitose dan berkata “Terima Kasih, Chitose.”
“Ya udah deh, gw balik dulu ke Daikoku Futo. Tim gw pasti lagi menunggu disana. Yuk duluan.”, lalu Ryo menuju ke NSXnya.
Ketika berjalan Ryo teringat sesuatu, berbalik, dan bertanya ke Wataru “Oh ya besok ada yang ingin kutanyakan, jadi mungkin gw bakal ke ‘Omega Speed’. Bisa kan?”
Wataru menganggukan kepalanya.
“Ok deh” Ryo pun menuju dan masuk ke NSXnya.
NSX Ryo pun pergi meninggalkan mereka.
Wataru pun mulai melangkah ke 350Znya “Ayo Chitose, masuk.”
“Baik” balas Chitose.
Mereka berdua pun masuk mobil dan 350Z mulai berjalan dengan kecepatan sedang.
“Ok Chitose sekarang mau kemana?” tanya Wataru.
Chitose pun berpikir sejenak dan menjawab “Bagaimana kalau kita mampir ke Rainbow Bridge?”
“Baik kalau itu mau mu.” Wataru pun mengendarai 350Znya menuju Rainbow Bridge.
Pada saat yang sama, Ryo sedang mengendarai NSXnya kembali menuju Daikoku Futo dan sedang berbicara kepada Fukoki Fujin melalui radio panggil.
“Bagaimana pertandingannya?” tanya Fukoki Fujin.
Ryo menghela napas dan berkata “Dia kalah, tampaknya belum saatnya ‘Devil Z’ menyerahkan mahkotanya. Tapi dia sudah menunjukan sesuatu yang menarik.”
“Aku makin tertarik padanya. Bagaimana kalau kita memberinya ‘code name’, mumpung belum ada yang membuatkan untuknya.” Kata Fukoki.
“Boleh boleh aja sih. Tapi apa?” Tanya Ryo.
Fukoki terdiam sejenak dan menjawab “Kalau dari sejarahnya dia mulai membalap di Wangan dikarenakan oleh Devil Z, bagaimana kalau ‘The Son of Devil Z’?”
“Wah bagus juga tuh.” Kata Ryo.
“Tapi jangan beri tahu dia tentang ini dulu, untuk kejutan.” Kata Fukoki.
“Baik lah, ok nanti akan kuceritakan lengkapnya pas aku sampai disana.” Kata Ryo.
“Ok kita bertemu kembali di Daikoku Futo lagi, ‘Karakurenai Orochi’” kata Fukoki
Ryo tersenyum dan menjawab “Baik, ‘Wangan no Fujin’.”
NSX Ryo pun meneruskan perjalanannya kembali ke Daikoku Futo.
4 Febuari 2005; 8:30 PM; Rainbow Bridge
350Z memasang lampu hazard dan berhenti di sisi kiri jalan.
Wataru dan Chitose pun keluar dari 350Z.
Wataru mengunci pintu mobilnya dan bertanya “Chitose, kenapa sih kamu senang sekali ke sini?”
“Karena di sini pemandangannya paling bagus dan udaranya cukup segar untuk di Tokyo.” Kata Chitose.
“Oh begitu, walaupun aku jarang memperhatikan pemandangan dari sini, tapi disini merupakan salah satu tempat yang aku sukai untuk menyetir.” Kata Wataru.
Chitose pun menengok ke arah Wataru dan berkata “Oh ya Wataru, terima kasih kau telah memenuhi janji mu di balapan tadi.”
Wataru pun diam sejenak untuk memikirkan responnya, lalu dia berkata “Yah, siapa sih mau celaka? Lagipula sebagai laki laki aku harus memegang janji.”
Tiba tiba Chitose memegang sambil menarik kedua pundak Wataru dan mencium bibirnya. Wataru tak bisa melakukan apa apa dan hanya bisa memeluk Chitose.
Setelah beberapa saat, Chitose pun melepaskan ciumannya dan Wataru berkata “Kenapa begitu tiba tiba sih?”.
“Itu adalah hadiah kemenangan.” Jawab Chitose.
Wataru menunjukan sikap bingung dan bertanya “Tapi kan aku tak menang tadi?”
“Kamu selamat sudah merupakan kemenangan buatku.” Kata Chitose dengan tersenyum.
Mereka terdiam sebentar dan Chitose melihat jam tangannya dan berkata “Aduh, sudah jam 8:40. Aku harus pulang nih.”
Wataru hanya sedikit tersenyum dan berkata “Mari ku antar kau pulang, nanti ortu mu marah marah ke gw lagi.”
“Yuk” kata Chitose sambil masuk 350Z dengan Wataru.
350Z segera menuju ke rumah Chitose yang terletak tak begitu jauh dengan apartemen Wataru. Ketika sampai di sana Wataru mengantarkannya sampai di depan pintu rumahnya yang masih bergaya Jepang tradisional. Wataru pun turun dari 350Znya dan mengucapkan selamat malam buat kekasihnya itu. Setelahnya dia segera pulang ke apartemennya.
4 Febuari 2005; 9:30 PM; Apartemen Wataru
Setelah sampai pun dia merebahkan dirinya diatas sofa dan berkata dalam hati “Duh hari ini betul betul hari yang menyenangkan, gw bisa bertemu Devil Z dan bertempur melawannya. Abis itu…..”
“hehehehe….” Wataru tertawa sendiri setelah mengingat ciumannya dengan Chitose.
Lalu Wataru bangkit berdiri lagi menuju ke lemari es-nya dan mengambil botol minuman dan meminumnya.
Setelah meminumnya, Wataru berpikir lagi “Udahlah, mandi dulu terus tidur. Besok sudah harus kerja lagi.”
Setelah mandi dan melakukan segala sesuatu yang diperlukan sebelum tidur, Wataru mengganti bajunya lalu berbaring di atas ranjangnya.
Dia memikirkan balapan yang barusan dihadapinya. Masih terbayang di benaknya bagaimana balapan itu terjadi. “Aku melaju dengan kecepatan 320 km/h, aku tak pernah melaju secepat itu sebelumnya. Tapi dia bisa melaju lebih cepat lagi, bisa diperkirakan dia melaju dengan kecepatan sekitar 350 km/h. Untuk mobil sekelas 240Z mungkin kurang lebih perlu sekitar 800 HP. Tak salah lagi, mobil itu benar benar ‘Devil Z’. Kalaupun ada 240Z punya mesin yang sama, mungkin kalau melaju seperti ‘Devil Z’ mobil itu akan hancur berantakan karena bodynya tak bisa menahan power mesinnya. Keseimbangan mobilnya sungguh hebat. Tampaknya aku perlu melakukan beberapa upgrade dan tuning untuk membalapi ‘Devil Z’. Tentu saja aku harus meningkatkan kemampuanku menyetir…………”
Setelah itu Wataru pun tertidur dengan nyenyak.
5 Febuari 2005; 6:00 AM; Apartemen Wataru
*kring…….kring…….kring……cklek*
Wataru mematikan jam wakernya, dengan setengah mengantuk dia beranjak dari ranjang ke kamar mandi. Setelah dia mandi, dia segera mencari makanan untuk sarapan.
“Hmmm…. Masih ada sisa nasi goreng kemarin.” Gumam Wataru sambil mengambil tempat nasi goreng dan memasukannya ke dalam microwave.
“Yosshh……2 menit saja cukup.” Wataru memijit tombol waktu pada microwave dan meninggalkannya sebentar untuk merapikan diri.
Setelah itu Wataru makan sarapannya dan sikat gigi setelahnya. Semuanya selesai, barulah dia berangkat menuju tempat kerjanya dia, ‘Omega Speed’.
5 Febuari 2005; 7:30 AM; ’Omega Speed’
Wataru memakir 350Znya di depan bengkel dan berjalan masuk ke dalamnya.
“Yo, Wataru. Bagaimana akhir pekanmu?” tanya oyaji yang menyiapkan peralatan.
Wataru tersenyum dan berkata “Bisa dibilang salah satu akhir pekan yang paling menarik dalam hidup ku.”
“Huh? Ada apa sih memangnya?” tanya oyaji.
“Aku telah bertemu dan menghadapi Devil Z.” jawab Wataru.
Oyaji terkejut dan berkata “Kamu gak bercanda?”
“Tidak Oyaji! Aku serius, kemarin ketika aku di Daikoku futo dan ketemu Ryo-san. Tiba tiba teman setimnya memberi tahu adanya Devil Z.” kata Wataru.
“Ok aku percaya kamu nak. Teruskan ceritamu.” Kata Oyaji.
Lalu Wataru meneruskan ceritanya tentang apa yang terjadi pada malam sebelumnya. Setelah beberapa saat Wataru selesai bercerita dan oyaji berkata, “Ternyata dia masih berlari diatas Wangan. Oh ya Wataru, hari ini kita harus menyeleaikan tuning untuk nissan Silvia ini.”
Mereka memakai jaket kerjanya dan mereka berdua mengerjakan tugasnya untuk mentuning sebuah Nissan Silvia S15 berwarna kuning. Mereka berdua melakukan bermaca-macam pekerjaan seperti mengganti camshaft, men-setting turbo, men-setting ECU, sampai menyetel bagian kaki – kakinya.
Wataru-pun menutup kap mobil tersebut dan berkata “Bagus, sudah selesai. Sesuai permintaan client. Silvia untuk balapan touge.” Wataru pun membersihakan tangannya dari oli. Jam sudah menunjukan angka 12 siang, menandakan waktunya untuk istirahat siang. Wataru pun pamit ke oyaji untuk pergi makan keluar. Namun ketika Wataru mau masuk ke dalam 350Znya, terlihat NSX Ryo datang.
Last edited by TheSisterPrincess; 07-08-2007 at 03:50 PM..
|
|
|
14-08-2007, 10:27 PM
|
#8
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 6: The Comeback of Akina’s Butterfly
Ryo dan Chitose keluar dari NSX tersebut dan Ryo berkata “Yo, lagi sibuk gak?”
Watarupun menjawab “Enggak kok, baru mau keluar buat makan siang. Oh ya kenapa Chitose ada disini?”
“Kelas yang kuajar buat hari ini sudah selesai, makanya aku datang untuk melihatmu kerja dan kebetulan Ryo mengajaku kemari.” Jawab Chitose.
“Yuk makan siang sama sama, gw rencana mau makan di ‘Yoshinoya’ nih.” Kata Wataru.
“Boleh, aku juga belum makan siang nih dan sekalian.” Kata Ryo.
Wataru dan Chitose masuk ke 350Z dan Ryo masuk ke NSX-nya, lalu mereka pergi ke restoran Yoshinoya terdekat. Sesampainya disana mereka menuju ke counter untuk memesan makanan.
Wataru melihat menu dan berkata “Yah…sayang Gyudon-nya sudah tak ada, apa boleh buat.”
Ryo pun berkata “Yah Jepang lagi memboikot import daging sapi sih, yah….’butadon’ gak pa pa deh.”
“Aku juga deh dengan ‘negidaku’, kamu Chitose?” Tanya Wataru.
“Butadon juga deh.” Kata Chitose.
Mereka pun memesan pesanannya masing2, setelah mendapatkan makanan mereka mengambil satu meja makan. Chitose duduk di sebelah Wataru dan Ryo duduk di hadapannya. Merekapun mulai menyantap makanan mereka sambil diselingi oleh beberapa pembicaraan.
“Oh ya, Ryo-san. Ngomong ngomong ada perlu apa sampai datang ke sini?” tanya Wataru.
Sambil sedikit mengunyah Ryo menjawab, “Oh…..itu, bentar.” Ryo menyelesaikan kunyahannya dan melanjutkan “Cuma mau mengobrol aja tentang balapan tadi malam.”
“Tadi malam?” Wataru melanjutkan makannya lagi.
“Cuma mau sedikit kasih komentar buat balapan tadi malam, muridku.” Kata Ryo.
Setelah Wataru mengunyah makanan, dia bertanya lagi “Boleh sih, bagaimana komentar Ryo-san?”
“Yah….. kamu sudah lulus sebagai pembalap Wangan. Juga kamu memiliki style menyetir yang cukup jarang di kalangan pembalap, gw sebut style itu Hybrid Style.” Jawab Ryo.
Wataru menunjukan wajah bingung dan berkata “Hybrid? Kok aku jadi ingat Toyota Prius?”
“Hybrid itu maksudnya campuran tahu.” Ryo menunjukan senyum geli dan melanjutkan “Dasarnya pembalap itu stylenya bisa dikatagorikan dua macam, yaitu Agresif dan Pemikir. Kalo style agresif, pembalap tersebut bakal hanya melaju secepatnya dan lebih mengandalkan reflek. Jadi bisa dibilang dia menyetir bukan pake otak tapi pake tulang belakang dimana itu merupakan pusat syaraf reflek. Kalau tipe pemikir, pembalap tersebut tak selalu maju secepatnya, tapi kadang memakai trik dan strategi untuk memperlambat musuh atau mengambil posisinya atau dengan kata lain menyetir pake otak. Tentu saja, masing masing punya kelemahan dan kelebihan. Kalo contoh pembalap agresif adalah pengendara ‘Devil Z’ dan untuk pemikir adalah pengendara ‘BlackBird’.”
“Jadi kalau hybrid bagaimana dong?” tanya Wataru.
“Kalo hybrid bisa dikatakan membalap dengan otak dan tulang belakang. Jadi kamu itu menyetirnya pake tulang belakang sambil otakmu menyusun strategi.” Kata Ryo.
Setelah Wataru minum tehnya, dia berkata “Hmmm….. apa yang di katakan Ryo-san benar, Cuma selama ini aku gak menyadarinya. Tapi tak peduli apa-pun style membalap aku, yang penting aku mau mengalahkan Devil Z nantinya.”
Ryo hanya tersenyum melihat semangat Wataru dan berkata padanya “Sebaiknya kamu juga berusaha mengalahkan ‘Blackbird’, kan tak ada salahnya memasang target untuk mengalahkan rival-nya ‘Devil Z’ .“
“Iya sih, tapi sebelumnya aku juga ingin mengupgrade 350Z ku.” Kata Wataru.
“Hmm…tapi 350Z mu udah bisa dibilang sangat bagus untuk wangan, tapi kalau target mu itu ‘Devil Z’ tentu saja kamu perlu sesuatu yang lebih bertenaga.” Kata Ryo.
Wataru menghela napas dan menjawab, “Yah untuk sekarang sih pake ‘Nitrous’ adalah metode yang paling gampang, tapi cara tersebut merupakan cara yang paling tak aku suka.”
Setelah Ryo mengunyah satu suapannya, dia membalas“Nitrous ya? Aku juga bilang sebaiknya jangan deh. Kalau begitu kamu harus mengganti turbo-mu dengan yang lebih besar lagi, bahkan kalau benar benar mau mendapatkan kekuatan yang sama dengan ‘Devil Z’ ada baiknya kamu memasang twin turbo atau turbo yang lebih besar lagi pada mesin 350Z-mu, apalagi mesinmu sudah di-stroke sampai 4.0 L. Secara teori powernya bisa lebih dari 800 HP.”
Wataru pun berkata“Tapi sementara aku tak punya uang untuk beli turbo baru.” dan setelah itu Wataru menghela napas.
“Bagaimana kalau kau cari sponsor, kan banyak yang melakukan itu?” kata Ryo.
Wataru menyelesaikan kunyahannya dan menjawab “Aku tak enak hati sama oyaji, soalnya selama ini oyaji memberiku diskon yang cukup besar untuk part 350Z ku, bahkan beberapa ada yang dikasih. Bisa dianggap oyaji sudah menjadi sponsorku, tapi aku tak enak hati kalau aku meminta lebih dari itu.”
“Kalau begitu tak ada jalan lain selain menabung ya?” kata Ryo.
Wataru menyadari sesuatu dan menengok ke Chitose “Oh sori Chitose, tampaknya kamu tak bisa ikut ngobrol.”
“Tak apa apa kok, malah aku senang melihat kalian berdua mengobrol.” Kata Chitose yang sudah selesai makan siang dan memangku tangannya.
Merekapun menyudahi pembicaraan tersebut dan segera menghabisi makanannya. Setelahnya mereka pergi keluar restoran.
“Ok, Chitose. Jadi kau mau pulang atau ikut aku?” Tanya Wataru.
“Kalau mau ikut Wataru kamu naik 350Znya dan kalau mau pulang aku bisa mengantarkan kamu.” Kata Ryo.
Chitose berpikir sejenak dan menjawab “Kebetulan aku sudah tak ada kelas lagi hari ini, jadi aku ikut Wataru aja deh.”
“Aku sudah tak ada orderan lagi untuk hari ini, tapi ada yang ingin kukerjakan pada 350Z ku ini.” Kata Wataru.
“Tak masalah, lagipula aku sudah lama tak menengok oyaji.” kata Chitose.
Wataru membalas “Ok deh kalau itu mau-mu.”
“Aku juga masih ada pekerjaan nih di rumah.” Ryo bangkit dari kursi terlebih dahulu.
Lalu Ryo berangkat terlebih dahulu dengan NSX-nya dan Wataru melambaikan tangannya.
Wataru membuka kunci mobil dan berkata “Yuk masuk, Chitose.”
Chitose menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam mobil. 350Z pun kembali ke ‘Omega Speed’. Sesampainya disana mereka bertemu dengan oyaji.
5 Febuari 2005; 2:15 PM; ’Omega Speed’
“Waduh waduh, kalian berdua. Selamat datang Chitose.” Kata oyaji.
Chitose membungkuk dan mengucapkan salam “Lama tak bertemu oyaji, apa kabarnya?”
“Baik baik, seperti yang kamu lihat. Oh ya Wataru, mau ngapain kamu sekarang? Kita sudah tak ada orderan lagi hari ini.” Tanya oyaji.
“Cuma mau melakukan perawatan dan sedikit tuning untuk 350Z, gak pa pa kan aku pinjam perlatannya?” tanya Wataru.
“Tak apa apa, lagipula bengkel kita lagi kosong. Tapi mulai besok kita mendapat beberapa order lho. Jadi siapkan istirahat yang banyak.” Oyaji memperingatkan.
“Baik, oyaji. Oh ya oyaji, ada persediaan oli gak? Aku perlu buat ganti oli 350Z ku nih.” Kata Wataru.
Oyaji berusaha mengingat ingat dan menjawab “Oh masih ada beberapa di gudang.”
“Ok, oyaji aku ambil satu ya? Seperti biasa potong dari gaji-ku saja.” Kata Wataru sambil menuju ke gudang yang terletak di belakang bengkel tersebut.
“Sudah sana! Dasar kamu ini” kata oyaji sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Oyaji duduk di sebuah kursi dan Chitose memberinya satu cangkir teh hijau.
Oyaji menerima cangkir yang berisi the hijau tersebut dan berkata “Ah..terima kasih Chitose.” Oyaji pun meneguk teh hijau tersebut dan berkata lagi “Seperti biasa, teh buatanmu enak banget.”
“Terima kasih, oyaji.” Kata Chitose sambil menaruh satu cangkir teh hijau yang lainnya di atas meja dekat kursi tersebut dan Chitose duduk di kursi yang berada di sebelah kursi oyaji.
“Oh ya Chitose, bagaimana hubanganmu dengan Wataru?”. Tanya oyaji. Chitose menjawab “Berjalan dengan lancar kok oyaji, malah kami makin dekat sekarang.”
Oyaji hanya tersenyum mendengar jawaban Chitose dan Oyaji berkata “Chitose, apa pun yang terjadi. Tolong jaga Wataru sebaik-baiknya.”
“Baik, oyaji. Aku berjanji.” Kata Chitose dengan senyum.
“Terima Kasih Chitose.” Kata Oyaji.
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki Wataru dari gudang yang terletak di lantai dua .
“Ngobrol apaan sih?” tanya Wataru.
Chitose tersenyum dan berkata “Tak ada apa apa kok.”
“Kalau tunggu aku mengganti oli 350Z ku ya?” kata Wataru sambil memakai jaket kerjanya.
Chitose tersenyum dan menganggukan kepalanya. Wataru pun memulai pekerjaannya dengan mengdongkrak 350Znya dan membuka lubang untuk mengosongkan oli dari bawah mobil.
“Oh ya Oyaji, Silvia yang tadi siang gimana? Sudah diambil?” tanya Wataru dari bawah 350Z.
“Sudah kok, oh ya dia mau kamu melakukan refine tuning besok malam, bisa gak?” tanya Oyaji.
Wataru berpikir sejenak dan menjawab “Bisa saja, ngomong ngomong dia mau mengetesnya di mana?”
“Di Haruna-san, itu tempat kamu biasanya berlatih drift kan?” tanya Oyaji.
“Iya, mungkin aku kenal pengendara Silvia tersebut. Kalau boleh tahu siapa nama dia?” tanya Wataru.
Oyaji melihat buku catatannya dan membacakan namanya “Hmmm…. Reiko Fujikawa”.
“Huh! Reiko-sempai” teriak Chitose dan Wataru secara serentak.
*duk*
Kepala Wataru membentur bagian bawah 350Z.
“Aduh duh duh…” Wataru mengaduh aduh.
“Taru-kun! Kamu gak apa apa?” tanya Chitose sambil belari ke Wataru.
Wataru pun keluar dari kolong 350Z dan berdiri lalu mengusapi dahinya.
“Memangnya kalian kenal dia?” tanya Oyaji.
Wataru pun menjawab “Hmm…sebenarnya dia kakak kelas kami, sekaligus pacarnya Ryo-san, dan juga seseorang yang telah mengajari aku drift. “
“Lalu kenapa bisa terkejut seperti itu?” tanya oyaji.
Wataru mengecek bawah mobilnya dan menjawab “Soalnya terakhir kali dengar dia pergi ke Jerman tanpa bilang apa apa ke kita. Lalu Ryo-san dengan susah payah mencari nomor telepon dia disana. Setelah itu baru kita tahu bahwa dia di Jerman.”
“Orangnya seperti apa sih dia itu?” tanya oyaji lagi.
“Cewe tomboy, orangnya cuek, dan juga ketua geng Bosozoku. Bahkan pas aku pertama kali dilatih menuruni gunung Haruna, aku diancam kalau waktu downhill ku diatas menit 5, aku bakal diseret sepanjang uphill gunung haruna pakai mobilnya. Berkat ancamannya, aku bisa melaju cepat dan ngedrift di atas gunung Haruna dalam seminggu. Tapi aku masih agak dendam gara gara Ryo-san menyerahkan aku ke Reiko-san untuk diajari drift.” Jawab Wataru dengan muka sedikit sebal.
Tiba tiba Chitose memotong pembicaraan “Hmmm….Wataru, sebenarnya aku sudah tahu bahwa dia akan pergi ke Jerman. Sebenarnya ada dua alasan, pertama ayahnya sakit di Jerman dan juga mau menguji reaksi Ryo-san. Juga sebenarnya, dia bukan ketua geng Bosozoku. Ini sudah lama menjadi rahasia anak perempuan di sekolah kita agar tak ada cowok yang jahil ke perempuan. Tapi kelihatannya tentang Bosozoku, Ryo-san sudah tahu sejak dulu rasanya soalnya mereka menjadi dekat sejak Ryo-san tahu bahwa dia bukan ketua geng Bosozoku.”
“Apa!? Sial, ternyata aku sudah dibohongi setelah beberapa tahun oleh dia.” Wataru terkejut mendengar hal itu.
Chitose menutup kedua belah tangannya dan menunduk, ia pun berkata “Sori Wataru, sebenarnya aku sudah mau bilang sejak dulu tapi aku terus lupa untuk melakukannya.” Dengan senyumnya itu.
“Gak apa apa kok Chitose, kamu gak salah apa apa kok. Lagipula, berkat kebohongan dia aku jadi bisa drift dalam seminggu di atas gunung Haruna, juga kamu sudah mengatakannya kan tadi barusam? Lagipula dengan melihat senyummu aku gak bisa marah jadinya.” Kata Wataru dengan senyum.
Wataru membuka kap mesin 350Z dan melepas oil filternya. Sambil melakukannya Wataru bertanya “Tapi, kok kamu tetap terkejut pas mendengar dia balik ke Jepang?”
“Kali ini dia benar benar gak kasih kabar apa apa ke aku tentang kepulangannya, makanya aku juga terkejut mendengarnya.” Kata Chitose.
Wataru menghela napas sambil memberi oli pada oil filter baru dan berkata “Dasar Reiko-sempai, hal hal beginian tak pernah bilang bilang sama kita.”
“Hihihi, makanya Ryo-san tertarik sama dia kan?” kata Chitose.
Sambil kembali ke kolong 350Znya untuk menutup kembali lubang untuk mengeluarkan oli dan berkata “Hahahaha, mungkin sih. Tapi tak bisa dipungkiri, teknik drift dia hebat sekali. Tak salah di juluki ‘Akina no Ageha’.”
“Tapi ngomong ngomong Ryo-san tahu gak tentang ini?” kata Wataru sambil memasukan oli baru ke mesin 350Znya.
Chitose berpikir sejenak dan menjawab “Kemungkinan terbesar sih tahu, kan mereka selalu kontakan. Tapi mengingat Reiko-sempai suka ngasih kejutan gak tahu deh.”
“Akan aku tanyakan besok deh ke Reiko-sempai.” Kata Wataru sambil menaruh sisa oli ke mobilnya.
Setelah botol oli tersebut kosong dan oli pada mesin sudah penuh, Wataru menyalakan stop kontak dan berkata “Oil pressure, ok. Baik oyaji aku sudah selesai nih mau pulang dulu deh.” Jam di dinding bengkel sudah menunjukan jam 4:30 PM, menandakan bahwa bengkel sebentar lagi tutup.
“Ok, Wataru sampai besok pagi. Oh ya, jangan lupa besok malam janjinya Ryoko-san jam 9 di puncak gunung Haruna” Kata Oyaji.
Sambil menyandarkan tangannya diatas 350Z, Wataru berkata “Baik oyaji. Yuk, Chitose masuk ke mobil.”
Chitose membungkuk ke oyaji dan pamit “Oyaji, Chitose balik dulu ya?”
“Ya ya…. Sampai nanti ya.” Oyaji melambaikan tangan.
Sambil melihat 350Z Wataru pergi, oyaji bergumam “Dasar, pasangan anak muda sekarang, heboh banget.”
Dalam perjalanan pulang, Wataru bertanya pada Chitose “Oh ya, sori makan malam kali ini yang murah saja ya? Weekend kemarin duitnya sudah kepake banyak.”
“Gak apa apa kok Taru-kun, aku kadang senang kok makanan yang murah murah. Bagaimana kalau kita makan di stasiun Shinagawa? Katanya di sana warungnya enak lho.” Kata Chitose.
“Boleh deh!” Kata Wataru sambil menyetir mobilnya ke stasiun Shinagawa. Sesampainya disana mereka segera ke depan restorannya dan memesan makanannya lewat sebuah vending mechine. Wataru memesan nasi kari sedangkan Chitose memesan miso ramen.
Sambil menikmati makan malamnya melakukan sedikit pembicaraan.
“Hahaha aku agak deg deg an nih melihat seperti apa Reiko-sempai sekarang.” Kata Wataru.
“Terakhir rambutnya panjang berwarna coklat kan?” kata Chitose.
“Iya, tapi gak tahu deh sekarang yang pasti lihat saja deh besok. Oh ya besok mau ikut?” kata Wataru.
“Gak deh, aku tak bisa keluar malam di hari biasa lagipula besoknya aku ada kelas yang diajar, sori ya?” kata Chitose.
Sambil menikmati makanannya, Wataru menjawab “Gak apa apa kok.”
Setelah mereka selesai makan, Wataru mengantar Chitose pulang. Sesampainya di apartemennya, Wataru segera tidur.
6 Febuari 2005; 10:00 AM; Karasuma School
“Selamat pagi semuanya, untuk hari ini kita akan memulai ikebana dengan gaya bebas .” Kata Chitose di depan muridnya. Chitose sekarang sedang mengajar kesenian Jepang di Sekolah kesenian yang letaknya tak jauh dari rumahnya dan yang juga didirikan oleh keluarganya sendiri.
“Baik, Karasuma-sensei” sahut semuanya dengan memulai rangkaian bunga ‘ikebana’nya masing masing. Sedangkan Chitose mulai berkeliling melihat murid muridnya memulai perkerjaannya. Dengan berkeliling Chitose berpikir “Sayang, hari ini tak bisa melihat Wataru.”, lalu Chitose menghela napas.
“Kenapa sensei?” tanya salah satu muridnya.
“Tak apa apa kok, ada pertanyaan.?” kata Chitose dengan senyum.
Dengan senyum jahil murid tersebut bilang “Lagi mikirin cowo sensei ya?”
Dengan muka memerah, Chitose menjawab “Ah kamu ini, tanya tentang pelajaran dong.”
Murid tersebut cuma tertawa geli, sedangkan Chitose mulai berkeliling lagi memperhatikan muridnya. Seperti hal-nya yang dilakukan oleh seorang guru yang mengajar Ikebana, Chitose berkeliling, menjawab pertanyaan muridnya, dan memberi petunjuk.
Pada akhirnya kelas tersebut selesai pada jam 12 siang. Chitose beristirahat di teras sekolah kesenian tradisional tersebut, tiba tiba Chitose melihat Nissan Silvia Kuning berbalut bodykit type 5 dari URAS dengan GT-wing dibelakangnya, Super Advan Racing ver 2 berwarna merah sebagai velgnya, dan juga sticker berwarna ungu yang menggambarkan kupu kupu di bagian kaca belakang.
Mobil tersebut berhenti di depan sekolah tersebut, lalu keluar seorang wanita berambut pendek berwarna coklat, mengenakan celana jins dan kaus hitam dengan jaket jeans untuk atasannya dari Silvia tersebut.
“Reiko-sempai!” Chitose segera berdiri menuju perempuan tersebut.
“Yo, Chitose-chan. Sudah lama tak bertemu. Wah wah kamu makin cantik aja.” Kata Reiko-san dengan senyum.
“Ah! Reiko-sempai juga.” Balas Chitose.
Sambil memperhatikan kimono Chitose, Reiko berkata “Bisa, aja kamu. Seperti biasa kamu memang sangat cocok memakai kimono.”
“Oh ya Reiko-san, kok tak bilang bilang sih mau balik ke Jepang?” Tanya Chitose.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya Reiko menjelaskan “Yah….. apa boleh buat, sebelum pulang banyak yang harus di-urus sehingga lupa menghubungi kalian. Lalu sampai di Jepang hari Jumat, tapi karena sangking senangnya ketemu kembali ama Silvia-ku langsung saja kumasukan ke bengkel untuk di tuning. Baru sampe sekarang baru bisa jalan-jalan, juga barusan aku ke rumah Ryo tapi tak ada orang, begitu juga apartemen Wataru, rumahmu juga sudah aku datangi tapi kamu gak ada jadi aku tanya orang di rumah mu dan jadinya kesini deh. Hahaha“
Chitose hanya bisa terdiam sebentar mendengar cerita Reiko.
“Oh ya Chitose, Kamu punya nomor telponya Ryo gak?” tanya Reiko.
“Punya sih. Kenapa?” tanya Chitose.
“Aku bisa pinjam telepon gak? Soalnya sementara ini aku tak punya telpon dan nomor handphone-nya Ryo, jadi aku tak bisa menghubunginya.” Kata Reiko.
Sambil mengambil dan menyerahkan Handphonenya, Chitose bilang dengan tersenyum “Boleh saja, pasti sudah sangat rindu ya?”
“Hehehe iya, terima kasih baget lho.” Kata Reiko sambil menerima handphone milik Chitose dan menelpon Ryo.
Sementara Reiko menelpon Ryo, Chitose hanya memperhatikan ekspresi Reiko yang sangat senang karena bisa menghubungi Ryo, kekasihnya. Setelah beberapa saat, Reiko menyudahi pembicaraannya dengan Ryo.
Sambil menyerahkan balik handphonenya Chitose, Reiko berkata “Terima kasih Chitose, ngomong ngomong bagaimana kabar Wataru?”
“Dia baik baik saja kok, juga hubungan kami makin dekat saja. Oh ya Reiko-sempai, yang sebenarnya mentuning mobil Reiko-sempai itu Wataru. Sekarang ini dia bekerja di bengkel itu. Jadi Reiko-sempai bakal bertemu dengan Wataru nanti malam.” Kata Chitose dengan senyum.
“Wah! Tak menyangka dia yang mentuning mobil ini. Sebenarnya aku memilih bengkel tersebut karena aku membaca salah satu BBS yang menyebutkan bahwa di bengkel itu ada tuner yang handal, tak menyangka bahwa itu dia.” Kata Reiko.
Chitose melihat jam di handphonenya yang menunjukan 1:50 PM dan berkata “Maaf Reiko-sempai, sebentar lagi saya ada kelas yang mau diajar nih.”
“Ya sudah, gak apa apa. Aku juga mau pergi ke Akihabara buat nyari handphone baru.” Kata Reiko sambil masuk ke Silvia-nya dan pergi mengendarainya.
Lalu sambil berjalan ke kelasnya, Chitose menelpon Wataru untuk memberitahukan apa yang barusan dia alami,
6 Febuari 2005; 9:00 PM; Puncak Gunung Haruna
Wataru dengan 350Znya menunggu di tempat parkir yang terletak di puncak gunung Haruna. Setelah menunggu beberapa saat, terlihat Silvia Reiko.
“Yah….Wataru, sudah lama gak bertemu.” Sapa Reiko.
Wataru menghela napas dan menjawab “Ya….memang sudah cukup lama. Aku tadi udah dapat telpon dari Chitose tentang Reiko-sempai mendatanginya tadi sore. Ngomong ngomong Reiko-sempai tetap ceroboh seperti dulu ya?”
“Hei tidak sopan kamu ini.” Kata Reiko dengan tersenyum.
“Hahaha bagaimana di Jerman?” tanya Wataru
“Negara yang sangat menarik, pasti kamu juga bakal senang kesana.” Kata Reiko.
“Nanti aja deh, kapan kapan. Ya sudah dimulai aja test runningnya. Nanti Reiko-sempai menyetir dengan aku di kursi navigator, lalu lakukan sekali downhill dan sekali uphill” kata Wataru.
Lalu mereka berdua masuk ke Silvia tersebut, Reiko di kursi pengemudi dan Wataru di kursi Navigator. Lalu Reiko mulai mengendarai Silvia-nya menuruni gunung Haruna.
|
|
|
17-08-2007, 01:06 PM
|
#9
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 7: The Flight of Butterfly.
Silvia melaju dengan kecepatan 160 km/h, suatu kecepatan yang cukup cepat untuk diatas jalan pergunungan yang hanya terdiri dari dua jalur. Tapi dengan kecepatan yang cepat itu, Reiko tetap tenang menyetir, dan Wataru juga dengan tenang menulis beberapa catatan diatas notes-nya.
Silvia Reiko terus melaju sehingga mencapai tikungan hairpin pertama ke kanan. Beberapa saat sebelum tikungan, Reiko mengerem, menurunkan gigi, mengerem sekali lagi, dan membelokan stirnya ke kanan ketika masuk ke dalam tikungan tersebut. Silvia tersebut mengalami slide dan Reiko langsung mencounter stirnya dan menginjak pedal gas lagi. Silvia tersebut melakukan drift yang sangat bagus sehingga bumper depan Silvia tersebut mempunyai sedikit jarak dengan apex tikungan tersebut. Silvia keluar dari tikungan dengan kecepatan 120 km/h
“Wuahaha, ternyata walaupun sudah lama tak membalap di gunung Haruna Reiko-sempai belum kehilangan sentuhan ya?” kata Wataru sambil terus menulis pengamatannya diatas notesnya.
Dengan terus menyetir, Reiko berkata dengan senyum “Dengan siapa kamu berbicara huh? Ini masih pemanasan lho. “
“Ayo, siapa yang takut?” kata Wataru.
Tikungan ke kanan yang diikuti tikungan hairpin ke kiri sudah menunggu Silvia tersebut. Silvia tersebut melakukan braking drift seperti yang dilakukan sebelumnya dan diikuti inertia drift pada tikungan hairpin tersebut.
“Akhirnya, inertia drift-nya muncul juga nih.” Kata Wataru.
“Ayo! Ini belum apa apa.” Kata Reiko.
Silvia sekarang menuju dua tikungan hairpin berturut turut, yang pertama ke kanan dan berikutanya ke kiri. Dari 140 km/h, Reiko mengerem mobilnya hingga 90 km/h sebelum masuk tikungan yang pertama dari kedua hairpin tersebut dan melakukan inertia drift sekali lagi.
Raungan Silvia tersebut menggema di atas gunung Haruna. Silvia tersebut melahap beberapa tikungan yang ada secara berurutan dengan inertia drift andalannya.
Wataru yang terus menerus memperhatikan cara menyetirnya Reiko dan mencatat pengamatannya berpikir “Wah Reiko-sempai masih hebat seperti dulu, memang Inertia Drift dia memang hebat. Seakan akan nissan Silvia ini sedang menari.”
Setelah Silvia melewati tikungan Hairpin ke kanan. Mereka mengahadapi jalan lurus yang aka di akhir oleh tikungan hairpin ke kiri. Silvia tersebut melakukan drift di hairpin tersebut dan bemper belakang mobil tersebut hampir mengenai guardrail. Tapi Reiko mencegah Silvia-nya mendapatkan sebuah baretan.
“Yosh…. Sekarang ‘five hairpin’ favorite gw, Itadakimasu!!!” teriak Reiko. Lima tikungan hairpin yang berawal pada tikungan ke kanan tersebut, dilahap juga dengan inertia drift. Tapi yang berbeda pada Inertia drift kali ini adalah Reiko menyangkutkan salah satu bannya pada selokan dangkal yang terletak di sisi jalan tersebut, sehingga menambah grip mobil tersebut dan membuat mobil tersebut belok dengan keceptan tinggi.
“Wah wah apa tak berlebihan buat pemanasan nih? ‘Inertia gutter drift’ nya sudah keluar.” komentar Wataru.
Dengan semangat Reiko berkata “Gw sudah kepanasan nih, hahaha.”
Reiko yang sudah mulai terbiasa kembali dengan gunung Haruna, melewati dua tikungan hairpin ke kanan dan ke kiri dengan sangat mudah.
“Ayo, hairpin terakhir nih Reiko-sempai.” Semangat Wataru.
“Tenang saja, the last bite is always the best one!” kata Reiko sambil melakukan gerakan drift pada mobilnya yang membuat jarak bemper cukup dekat dengan guardrail.
Seterusnya Silvia melewati tiga tikungan yang tak seberapa tajam dan akhirnya sampai di kaki gunung Haruna.
Silvia tersebut parkir sejenak di tempat parkir yang terletak di kaki gunung Haruna.
“Gimana perasaanya Reiko-sempai setelah sekian lama tak membalap di sini?” tanya Wataru sambil meneguk sebotol air.
“Wah, memang menyetir di gunung Jepang tetap yang terbaik walaupun aku sudah beberapa kali menyetir di atas Nurburgring.” Kata Reiko yang kebetulan meneguk sebotol air.
“Nurburgring? Itu kan sirkuit yang bisa dikatakan tersulit di dunia, sampai sampai dijuluki ‘The Green Hell’.” Kata Wataru.
Dengan tertawa kecil, Reiko menjawab “Memang ‘The Green Hell’ merupakan kata kata yang cocok buat sirkuit itu. Tapi bisa dikatakan di situ juga merupakan surga bagi pembalap, karena sirkuit tersebut mempunyai semua tikungan yang ada di dunia ini.”
“Pantesan skillnya Reiko-sempai tak berkurang, hahahaha. Bagus deh. Oh ya ada yang kurang pada settingannya?” tanya Wataru sambil menulis sesuatu pada notesnya.
“Oh ya, stirnya lebih sedikit di ‘understeer’ kan deh, juga untuk respon mesinnya di fokusin di putaran tengah aja deh.” Jelas Reiko.
“Bagus, kalau begitu kita sebelum di setting, mobilnya di coba lagi di uphill untuk mengetahui beberapa kekurangan lagi?” saran Wataru.
Dengan semangat Reiko menjawab, “Boleh saja.” Lalu Silvia menelusuri jalan yang sama kebali ke puncak gunung Haruna.
6 Febuari 2005; 9:20 PM; Puncak Gunung Haruna
Sambil keluar dari Silvia, Wataru bertanya “Jadi kekurangannya masih sama dengan yang tadi ya?”
“Iya sih, itu saja. Tapi sebenarnya Silvia ini udah sangat memuaskan. Tak menyangka kamu juga jadi mekanik yang lumayan handal.” Kata Reiko.
Sambil membawa perlatannya Wataru membalas “Yah, semua ini berkat aku kuliah di Todai sih. Juga berkat kesempatan dan juga ilmu yang diwariskan oleh oyaji.”
“Oyaji? Pemilik bengkel itu ya?” tanya Reiko.
Sambil menghubungkan ECU Silvia dengan Laptopnya, Wataru menjawab “Iya, dia pemilik ‘Omega Speed’.”
Wataru mulai merubah beberapa statistik ECU agar lebih bertenaga di putaran tengah.
Sambil melihat ke 350Z Wataru, Reiko bertanya “Fairlady Z itu milikmu?”
“Iya” kata Wataru sambil terus melakukan pekerjaannya.
Dengan senyum Reiko menjawab “Mobil yang bagus.Kamu setting untuk apa?”
“Yak, bagus sudah selesai.” Wataru membereskan kabel kabel tersebut dan meneruskan “Oh itu aku setting buat Wangan, total tenaganya sudah mencapai 600 HP.”
“Ternyata kamu mengikuti jejak Ryo untuk membalap di wangan, ya?” gumam Reiko.
Wataru meneruskan kerjanya pada bagian suspensi. Silvia tersebut didongkrak, dilepas semua rodanya dan Wataru memulai pekerjaannya kembali membuat Silvia tersebut lebih understeer. Setelah selesai, semua roda dipasang kembali dan Silvia diturunkan dari dongkraknya. Setelahnya Wataru membereskan semua alatnya.
“Oh ya Wataru, bayaran sudah aku kasih ke oyaji dan ini sedikit tips.” Kata Reiko dengan senyum dan menyerahkan sebuah foto ke Wataru.
Dengan muka memerah melihat foto tersebut, Wataru berkata “Ini ini…….foto Chitose dengan kimono?”
Dengan senyum Reiko bilang “Yep aku ambil diam diam tadi siang, tip yang bagus kan?”
“Wah terima kasih Reiko-sempai, aku akhir akhir ini jarang lihat Chitose dengan kimono. Cihuy!” Wataru mengekspresikan kegembiraannya.
“Hehehe, tapi kalo mau foto yang ini. Kamu harus menang balapan dulu sama aku.” Kata Reiko dengan senyum licik.
Wataru berpikir sejenak dan bertanya “Balapan yang gimana dulu nih?”
“Gampang, kita balapan sampai mobil di belakang berhasil menyusul mobil yang didepan. Kamu boleh memilih kok, mau di depan atau di belakang.” Kata Reiko.
Wataru berpikir sejenak “Wah lawan Reiko-sempai cukup susah, apalagi ini adalah home coursenya dia. Tapi aku ingin lihat foto itu. Kalau aku didepan, aku bisa disusul kapan saja. Hmm…kalau di belakang, dengan power 350Z ku bisa menyusul Silvia tersebut kapan saja dengan kesempatan menang lebih besar.”
“Bagaimana Wataru?” tanya Reiko yang memperhatikan Wataru berpikir.
Akhirnya Wataru mengambil keputusan “Baik, aku akan sebagai pihak yang mengejar.”
“Bagus” kata Reiko sambil mengibas kibas kertas foto tersebut.
Kedua orang tersebut segera masuk ke dalam mobilnya masing masing. Silvia segera melaju terlebih dahulu diikuti oleh 350Z Wataru.
“Sial, kalau secara kemampuan aku kalah dengan dia berarti sebisa mungkin aku harus meniru beberapa gerakan dia. Sedikitnya aku juga tahu gunung Haruna. Point race ini adalah menyusulnya sebelum ‘Five Hairpin’, kalau tidak aku tak punya kesempatan lagi.” Pikir Wataru sambil mulai melajukan 350Znya.
Silvia mengeluarkan bunyi mesin dengan putaran tinggi, menandakan dimulainya balapan. 350Z langsung berusaha mengejarnya. Hairpin pertama dari gunung Haruna sudah cukup membuat sulit Wataru, tapi dia terbantu dengan melihat gerakan Silvia Reiko.
“Wah wah….ternyata dia tetap bisa membelajari gerakan ku dengan cepat. Dasar sejak dulu memang dia orang yang cepat belajarnya.” Pikir Reiko yang sebentar lagi menghadapi tikungan ke kanan yang diikuti oleh hairpin ke kiri.
Reiko melakukan inertia Drift yang juga diikuti juga oleh Wataru. Tapi karena berat bodi 350Z, mobil tersebut lebih lambat dalam menikung.
Persaingan terus berlanjut, setelah kedua mobil melewat dua hairpin Silvia Reiko memperlebar jarak dengan 350Z. Tapi berkat jalan lurus yang panjang dan power yang besar dari mesin VQ35nya, 350Z berhasil menempel pada Silvia Reiko lagi.
Lurusan yang diakhiri oleh hairpin ke kanan, sudah tak begitu berat bagi Wataru. Karena setelahnya ada jalan lurus yang tak kalah panjang dengan lurusan sebelumnya.
Setelah hairpin ke kanan tersebut, 350Z langsung menunjukan kekuatannya sebagai mobil yang di setting untuk Wangan. Dengan segera Silvia Reiko segera tersusul dan balapan pun berakhir. Kedua mobil pun berhenti di sisi kiri jalan.
“Waduh gimana ini?”gumam Reiko sebelum keluar mobil.
Wataru yang keluar dari 350Z sambil menunjukan rasa senangnya berkata “Yeah! Mana fotonya?”
“Bentar ini.” Reiko memberi kertas fotonya dan segera berlari ke mobilnya.
“ Terima ka…..sebentar ini. Hei Reiko-sempai” teriak Wataru kearah Silvia yang segera mengebut dan hilang dari pandangan.
“Sial!!! Gw di tipu lagi. Reiko-Sempai!!!” teriak Wataru sambil memegang kertas foto kosong dengan tulisan ‘Ini Foto lho’ dengan nomor handphonenya Reiko yang baru.
6 Febuari 2005; 9:40 PM; Dekat kaki gunung Haruna.
“Huahahaha, gak tak bisa berhenti ketawa melihat muka Wataru ketika menerima kertas foto kosong tersebut.” Kata Reiko dengan menyetir ke arah tempat tinggalnya.
Reiko menyetir dan masih membayangkan lari 350Z Wataru pada balapan tadi. “Oh ya, mungkin aku perlu menelpon Ryo-kun lagi.” Kata Ryoko.
Ryoko memakir mobilnya di sebuah tempat parkir dan mengambil posisi dekat sebuah vending mechine. Setelah membeli sekaleng Fanta Grape, Reiko meraih handphonenya dan menelpon Ryo.
“Tut….tut….Ya, Ryo disini.” Ryo menjawab panggilan telepon.
“Yo, Ryo-kun ini nomor telpon ku yang baru.” Balas Reiko
“Oh, Reiko lagi dimana lu?” tanya Ryo.
*psttt….*
Reiko membuka kaleng minumannya dan meneguknya
“Barusan ketemu Wataru di atas gunung Haruna.” Jawab Reiko.
“Huh? Ada perlu apa dengan Wataru di atas sana? Mau mengajari drift lagi?” tanya Ryo.
Reiko meneguk minumannya lagi dan menjawab“Gak lah, dia itu yang sekarang men-tuning Silvia gw. Yah sekalian melihat kemampuannya sekarang.”
“Jadi gimana perkembangannya menurut kamu?” tanya Ryo.
Dengan senyum Reiko menjawab “Gimana caranya lu mendidik dia sampe jadi sehebat ini? Tadi iseng aku balapan dengannya di atas Haruna, walaupun aku belum melaju dengan kecepatan maksimal tapi dia bisa mengikuti beberapa gerakanku yang belum tentu semua orang bisa, apalagi dengan power mobilnya yang besar itu seharusnya semakin sulit melakukannya.”
Ryo tersenyum dan membalas “Sejak lu pergi ke Jerman, dia sudah tak kuajarkan apa apa lagi kok. Tapi dia sering mengasah kemampuan driftnya di atas Haruna, jadi walaupun dia sendiri tak begitu cepat di atas sana tapi tentu saja kemampuan driftnya berkembang lebih jauh.”
“Pantesan….gw kira dia bakal berhenti begitu saja berlatih setelah dilatih ama gw dengan ancaman bohongan. Hahaha tapi dia gak berubah untuk kepolosannya, barusan saja aku ngerjain dia lagi.” Kata Reiko.
“Hm? Lu kerjain dia apa lagi?” tanya Ryo.
“Tadikan aku diam diam ambil gambar Chitose dengan kimono, kucetak terus kukasih ke dia sebagai tip. Lalu kujanjikan sebuah foto lagi kalau dia menang balapan dengan aku, tapi kertas foto itu kosong hanya ada tulisan ‘ini foto lho’ sama nomor telpon ku yang baru. Jadi setelah dia menang, aku kasih aja, terus aku langsung kabur.” Kata Reiko.
Ryo terdiam sebentar dan menjawab “Hahaha, dasar kamu ini. Walaupun sudah dari Jerman, sifat jahil lu juga belum berubah. Tapi bisa gak ketemu besok? Aku kangen nih.”
Reiko menjawab dengan muka memerah “Bodoh, baru bilang kangen sekarang. Kenapa tak bilang pas aku disana?”
“Soalnya kalau kamu jauh, bilang kangen sakit sekali rasanya. Jadi sebisa mungkin aku tak bilang, tampaknya ini kesempatan yang baik untuk bilang kangen.” Kata Ryo.
“Ya sudah, besok juga aku tak tahu mau ngapain kok. Tapi kamu tak kerja?” tanya Reiko.
“Kalo soal waktu bisa diatur kok, tenang saja. Ya sudah deh, aku mau menyelesaikan pekerjaan nih. Kalau begitu besok pagi aku telpon lagi ya?” kata Ryo.
“Baiklah, besok kutunggu telpon mu.” Kata Reiko mengakhiri pembicaraan lewat telepon tersebut.
Reiko bersandar pada silvianya, menghela napas, dan menghabiskan minumannya. Setelah menghabiskan semua minumannya, dia melempar kaleng kosongnya ke tempat sampah, dan segera masuk ke Silvianya dan pulang ke tempat tinggalnya.
7 Febuari 2005; 10:30 AM; ‘Omega Speed’
“Hoaaemmm” Wataru menguap sambil melihat para pekerja bekerja.
Oyaji yang melihat Wataru menguap, dia bertanya “Hei Wataru! Kamu gak pa pa kan? Kalo masih mengantuk cuci muka saja.”
“Gak pa pa kok Oyaji, tadi sudah cuci muka” balas Wataru.
“Waduh waduh, memangnya tadi malam kamu di atas gunung Haruna sampai jam berapa?” tanya Oyaji.
“Aku sampai rumah jam 10:30, habis itu langsung tidur. Tapi karena perasaan ku lagi kesal tadi malam, aku jadi mimpi buruk lalu pas bangun bukannya tambah segar malah tambah capek.” Jawab Wataru sambil menandanangani beberapa bon.
Oyaji memasang wajah bingung dan bertanya lagi “Memangnya ada apa sampai kamu kesal? Tak biasanya kamu begitu.”
“Hmmm… itu susah diceritakan, yang pasti tadi malam aku di kerjain ama Reiko-sempai lagi setelah sekian lama.” Kata Wataru.
“Huahaha, sudah lah semangat dikit dong!” kata Oyaji. Setelah itu oyaji segera berbisik ke Wataru “Nanti kuberi kamu bonus atas kerja mu tadi malam, tadi pagi Reiko-san telepon ke oyaji bilang bahwa dia puas dengan mobilnya.”
Dengan wajah bersinar Wataru berkata “Benar kah Oyaji?”
“Iya nak, benar.” Kata Oyaji dan dia berbisik lagi ke Wataru “Aku tahu kamu lagi perlu duit untuk Valentine day minggu depan kan?”
Lalu oyaji memegang salah satu bahu Wataru sambil tersenyum dan mulai berkeliling kembali di bengkelnya dan kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Wataru melanjutkan pekerjaannya lagi seperti mengawasi para pekerja, memberi petunjuk, dan menjawab pertanyaan mereka.
Ketika Wataru lagi sibuk-sibuknya bekerja, dia melihat sebuah Toyota Sport 800 yang dibuat pada tahun 1965 berwarna biru muda metalik masuk ke halaman parkir bengkel.
“Wah ada apa nih mobil seklasik ini masuk bengkel ini?” pikir Wataru.
Lalu keluar seorang Wanita keluar dari mobil tersebut yang ternyata adalah Chitose.
“Wah Chitose, ini mobil kamu?” tanya Wataru sambil mendatangi Chitose.
Chitose menutup pintu Toyota tersebut dan berkata “Tidak, ini mobil koleksi ayah-ku tapi aku boleh memakainya.”
Wataru mengamati mobil itu sejenak dan berkata “Wah masih mulus, pasti dirawat dengan baik.”
Chitose hanya tersenyum melihat Wataru mengamati mobil tersebut.
“Oh ya kamu lagi tak ada kelas nih?” tanya Wataru.
“Nanti sore jam 5 ada satu kelas, pagi ini aku bebas makanya aku datang kesini sekalian mau betulin mobil ini.” Kata Chitose
“Ada apa dengan mobil ini?” tanya Wataru.
“Hmm… tadi pagi agak sulit di starter lalu asapnya lebih hitam daripada biasanya.” Kata Chitose.
Wataru berdiam sejenak dan menjawab “Mungkin ada masalah ama businya, mobilnya dimasukin ke dalam dulu ya?”
Wataru menyetir mobil tersebut kedalam bengkel bersama Chitose di dalamnya. Lalu dia memakir mobil yang berukuran kecil tersebut diantara Toyota Supra dan Nissan Skyline GT-R R34 yang bisa dibilang sangat berbeda dari segi ukuran. Mereka berdua keluar dari mobil tersebut. Wataru membuka kap mesin mobil tersebut dan membuka beberapa bagian atas dari mesin tersebut. Lalu dia mengamati jenis busi dari mobil tersebut.
“Mobilnya di dinginkan sebentar ya? Soalnya bahaya kalau di cabut sekarang.” Kata Wataru.
“Baiklah kalau begitu. Tapi apakah bisa selesai hari ini Taru-kun?” tanya Chitose.
“Bisa saja.” Jawabnya
“Sebaiknya aku menunggu dimana ya?” tanya Chitose.
Wataru menjawab “Kalau mau menunggu di ruang kerja ku juga boleh, mungkin di sana lebih nyaman dari sini. Kamu tahu kan ada dimana? Soalnya aku mau pergi tanya oyaji dulu tentang persediaan busi yang seperti tadi”
“Baiklah” jawab Chitose. Wataru pergi ke ruangan oyaji yang berada di bawah sedangkan Chitose pergi masuk ke ruang kerja Wataru yang berada di lantai dua dan penuh dengan pajangan mobil-mobilan. “Wah jadi ini ruang kerjanya Taru-kun.” Komentarnya. Lalu Chitose melihat sebuah bingkai foto di atas meja kerja Wataru dan berkata “Lho inikan foto aku dengan kimono waktu kemarin?”
Last edited by TheSisterPrincess; 21-08-2007 at 07:49 PM..
|
|
|
21-08-2007, 07:47 PM
|
#10
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Stage 8: Knowing You (part I)
“Yo, Chitose. Untuk businya oyaji punya stocknya.” Kata Wataru sambil membuka pintu ruang kerjanya yang kemudian terkejut karena Chitose sedang melihat foto tersebut.
Dengan senyum Chitose berkata “Hihihi, dapat dari Reiko-sempai ya ini? Wah aku sendiri tak sadar kemarin di foto ama dia.”
“Ya gara gara foto ini juga aku kena di kerjain ama dia kemarin malam.” Kata Wataru sambil memalingkan mukanya yang agak memerah karena malu.
Chitose cuma tertawa geli, mendatangi Wataru, memegang tangannya, dan berkata dengan tersenyum “Cerita dong, bagaimana pertemuan mu dengannya tadi malam?”
“Duh….ternyata gw benar benar tak bisa melawan senyum mu itu. Baiklah, selagi menunggu mesin Toyota itu dingin akan kuceritakan” kata Wataru sambil mengantarkan Chitose duduk di kursi tamu dan Wataru sendiri duduk diatas kursinya yang mempunyai bentuk menyerupai sebuah bucket seat. Wataru mulai menceritakan kejadian yang dialaminya tadi malam.
7 Febuari 2005; 11:30 AM; ‘Omega Speed’
“Hahaha, dasar kamu ini.” Chitose tertawa setelah mendengar cerita Wataru.
“Soalnya aku tak ada foto kamu pake kimono, sekali ada kupajang aja di sini biar semangat kerja. Tapi aku tak ada buat yang di rumah.” Kata Wataru dengan masih menunjukan muka malunya.
Lalu Chitose berkata lagi “Sudahlah kalau mau foto aku pake kimono lagi, kamu bisa melakukannya nanti sore, kan aku ada kelas tarian tradisional nanti sore jam 5. Yang pasti aku harus pake kimono sekali lagi nanti sore.”
“Tak apa apa nih, aku datang nanti sore?” tanya Wataru.
Dengan tersenyum Chitose berkata “Tak apa apa kok, malah aku melihatkan tarian ku ke kamu kok.”
“Hmm…baiklah, aku segera kesana setelah bekerja. Oh ya, mungkin sekarang businya bisa diganti sekarang.” Kata Wataru sambil bangkit dari kursinya.
Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke bengkel yang berada dibawah. Dengan segera Wataru mengeluarkan busi baru dari kardusnya yang sudah diletakan di sebelah mobil tersebut dan mencabut busi lama yang terpasang di mobil Toyota tersebut. Lalu Wataru memasang busi yang baru dan memasang kembali semua komponen yang ada.
“Ok, sudah selesai. Sebentar ya? Kita coba dulu.” Wataru mulai menstarter mobil tersebut dan dengan segera mobil itu hidup dengan suara kaburator khas mobil lama.
“Wah suara mobil klasik memang asik. Nah, Chitose sudah tak ada masalah lagi.” Kata Wataru.
“Oh ya Wataru, biaya perbaikannya bagaimana?” tanya Chitose.
Wataru dengan senyum berkata “Sudahlah, ini aku yang bayar. Cuma busi ini kok.”
“Wah, jangan begitu donk. Kan aku jadi gak enak nih.” Kata Chitose.
“Ga pa pa kok, bener kok. Anggap saja hadiah dari ku untuk ayahmu itu. Ini salah satu koleksi ayahmu kan?” tanya Wataru.
“Iya. Tapi baiklah kalau kamu memaksa bayarin aku. Aku sangat berterima kasih” kata Chitose.
“Aduh aduh Chitose, sudahlah tak baik lho menolak pemberian dari pacar.” Kata Wataru sambil tersenyum dan melepas sarung tangannya.
Chitose membalas “Tapikan…”
“Sudahlah, sebagai gantinya nanti pakailah kimono yang paling kamu sukai ya?” Wataru memotong pembicaraan Chitose sambil mengelus kepalanya.
“Baiklah, kalau kau memaksa. Kalau begitu, aku mau balik ke rumah dulu.” Kata Chitose.
Wataru merogoh kantongnya dan memberikan kunci Toyota tersebut. Wataru berkata “Ini kuncinya, bilang ke ayahmu mobil ini bagus sekali.”
“Baiklah, kalau begitu aku mau pamit ke oyaji dulu.” Kata Chitose.
“Sebaiknya jangan deh, oyaji lagi sibuk sekali mengurus pembukuan sekarang.” Kata Wataru.
Chitose diam sebentar dan berkata “Baiklah kalau begitu, sampaikan salamku pada oyaji ya?
“Baiklah” balas Wataru sambil melihat Chitose masuk ke Toyota Sport 800 tersebut dengan anggun.
Wataru melambaikan tangannya ke Toyota tersebut dan terlihat tangan Chitose juga melambai ke arah Wataru. Setelahnya Wataru pergi keluar untuk beli makanan untuk dirinya dan para pekerja lain yang kebetulan menitip makanan untuk istirahat siang. Setelah istirahat siang, mereka segera melanjutkan pekerjaannya masing masing.
7 Febuari 2005; 9:30 AM; Kediaman Ryo.
*kring….kring….kring….* telepon rumah Ryo yang tereletak di lantai satu rumah tersebut berbunyi cukup keras sehingga membangunkan tidur lelap Ryo.
“Aduh siapa sih pagi pagi begini?” katanya sambil menuruni tangga dan mengangkat telepon tersebut. Ryo mengangkat telpon tersebut dan mendengar suara perempuan yang sangat dikenalinya, Reiko.
“Halo, Ryo ya?” tanyanya lewat telepon.
“Hoaahhemm, iya ini gw Reiko.” Jawab Ryo dengan mengantuk.
Lalu Reiko membalas dengan lebih semangat lagi “Hei! Melek dong! Jangan lupa kita hari ini ada kencan!”
“Nnnggg? Kencan apa?” tanya Ryo.
“Kalo lupa, gw datengin rumah lu dan gw baretin NSX lu!” gertak Reiko.
“Eh iya iya gw ingat, aduh jangan begitu dong kan aku bercanda.” Kata Ryo.
Reiko terdiam sebentar dan menjawab “Dasar,kalo menyangkut mobilnya langsung begitu deh.”
“Duh, jangan pegang kelemahan ku dong.” Mohon Ryo.
“Kalo tak di beginikan kamu bakal ngantuk terus.” Kata Reiko.
Ryo menghela napas dan berkata “Ternyata lu belum lupa sifat gw ya?”
“Hahaha bagaimana lupa sifat jelek mu yang itu?” kata Reiko.
“Ya sudah gw jemput lu nanti di losmen lu jam 10:30, alamatnya masih yang dulu kan?” tanya Ryo
“Iya, cepetan sana mandi dulu.” Suruh Reiko sambil menutup telponnya.
Ryo menjauhkan telinganya dari gagang teleponnya dan berpikir “Dasar, sifatnya sejak dulu tak pernah berubah.”
Ryo menutup gagang telepon rumahnya dan segera pergi mandi.
7 Febuari 2005; 10:25 AM; Kediaman Reiko.
NSX merah Ryo berhenti di depan sebuah losmen dimana Reiko tinggal. Ryo turun dari mobilnya dan menguncinya. Ryo berdiri sebentar melihat losmen tersebut dan memulai langkahnya menuju unit yang ditinggali Reiko di lantai dua bangunan tersebut.
*ting…tong…* Ryo memencet bell yang berada di samping pintu unit tersebut.
“Ryo ya?” kedengaran suara Reiko dari balik pintu.
Ryo membalas “Iya, ini gw!”
“Bentar” kata Reiko dengan suara langkah menuju pintu tersebut.
*cklek* Reiko membuka pintu tersebut.
Ryo pun menyapa “Yo….apa ka…” , tapi omongan Ryo terputus karena terkejut karena melihat Reiko hanya memakai BH untuk atasannya dan celana hitam selutut untuk bawahannya.
“Ada apa sih sampai terkejut begitu?” kata Reiko melihat respon dari Ryo.
Ryo mendorong Reiko kedalam losmennya sambil berkata “Dasar kamu itu, sifat cuek mu itu perbaiki sedikit dong.”
“Habis bagaimana? Aku belum menentukan baju yang cocok buat nanti.” Kata Reiko.
Ryo menghela napas dan berkata “Kan bisa pake yang baju yang lain dulu, dasar pertemuan pertama setelah beberapa lama malah jadi kaya begini.”
“Hahaha, ya inilah gw.” Kata Reiko sambil mencari baju dari kopernya dan meneruskan omongannya “Menurut mu kaos mana yang bagus? Yang merah atau kuning?”
Ryo berpikir sambil berkata “Hmm… menurut gw yang merah lebih bagus deh.”
“Menurut gw lebih bagus yang kuning, tapi baiklah kalau kamu demen yang merah. Dasar sejak dulu demennya warna merah.” Kata Reiko.
Ryo tersenyum “Kamu juga, sejak dulu demennya warna kuning.”
Reiko hanya tersenyum dan memakai pakaiannya. Setelah beberapa saat Reiko selesai berdandan dan memakai pakiannya, dia memakai kaus merah dengan jaket kulit hitam dan celana hitam selutut yang di rangkap dengan rok mini.
“Bagaimana, bagus gak?” tanya Reiko.
Ryo menghela nafas lagi dan berkata “Tak biasanya kamu berdandan seperti ini,? Tapi bagus kok.”
“Ya ini kan pertama kalinya kita kencan dari sekian lama kan?”tanya Reiko.
Ryo tersenyum dan berkata “Tapi tetap saja kencan terakhir kita sebelum kemarin terasa baru terjadi minggu lalu, mungkin karena sifat lu belum berubah kali ya? Hahaha”
Reiko hanya tersenyum dan memakai sepatu boot hitam berhak tinggi miliknya.
“Wah tak biasanya kamu memakai hak tinggi?” kata Ryo.
“Kan kamu senang cewe berhak tinggi, makanya mumpung bukan aku yang nyetir aku pakai. Kenapa? Kurang bagus?” tanya Reiko.
Ryo membalas “Bagus kok, Cuma kelihatannya kamu makin feminin aja.”
“Bodoh, ini untuk kamu tahu.” Jawab Reiko.
Ryo tertawa geli dan menjawab “Penampilannya makin feminin tapi tetap aja sifatnya tomboi begini.”
Reiko hanya berjalan keluar losmennya sambil menyembunyikan mukanya yang memerah dan berkata “Udah cepetan kita pergi!”
Mereka berdua menuju NSX dan Reiko berkata “Wah NSX lu jadi lebih keren. Body kit Do Luck, GT Wing, dan bahkan carbon hood.”
“Iya dong, masa aku tak upgrade mobil gw selama ini. Bahkan gw sudah memasang twin turbo, yang pasti suaranya makin asik.” Kata Ryo.
Ryo mebuka pintu mobilnya dan bertanya “Ngomong ngomong, lu mau kemana?”
Sambil membuka pintu dan masuk ke NSX, Reiko berkata “Aku mau mengunjungi Daikoku Futo sebentar, sudah kangen berat ama tu tempat.”
“Daikoku Futo ya?” kata Ryo sambil menstarter NSXnya.
7 Febuari 2005; 12:30 PM; Daikoku Futo
Keadaan di Daikoku Futo bisa dibilang sangat sepi jika dibandingkan keadaannya pada akhir minggu. Hanya ada beberapa mobil dan truk yang sedang pakir di situ, hal ini membuat NSX merah Ryo yang pakir di depan restoran McDonald kelihatan cukup mencolok disana.
Reiko yang keluar dari NSX tersebut langsung merenggangkan badan dan berkata “Wah kangennya sama ini tempat.”
Ryo hanya tersenyum melihat Reiko sambil menutup pintu mobilnya dan membuka bagasi belakang NSX untuk mengambil sesuatu, lalu memberikannya ke Reiko.
“Reiko, selamat datang kembali ke Jepang.” Kata Ryo sambil memberikan seikat bunga mawar merah.
Reiko yang melihat ini terkejut dan bertanya “Wah sejak kapan kau jadi seromantis ini?”
“Hmm….sebenarnya aku belajar dari Wataru.” Ryo menjawabnya dengan enggan.
“Hahaha dasar kamu ini, kalo soal romantis kamu kalah sama Wataru ya?” kata Reiko.
Ryo yang mukanya memerah hanya memalingkan muka dan menjawab “Biarin, sedikitnya aku yang ngajarin dia balapan.”
“Ya sudah deh, bunganya di simpan dulu di mobil, gak lucu kalau ke restoran fast food bawa bunga kan?” kata Reiko dengan senyum.
Ryo yang masil salah tingkah menjawab “Eh..iya deh, di taruh di atas kursi aja.”
Reiko menaruh bunya tersebut di kursi navigator NSX dan mereka berdua masuk kedalan restoran cepat saji tersebut.
Setelah masuk restoran tersebut mereka mengoder pesanannya masing masing, Ryo memesan McChicken dangan softdrink dan kentang goreng dan Reiko memesan McBurger Teriyaki yang juga disertai softdrink dan kentang goreng.
Ryo yang membayar semuanya itu berkata “Kok pesanannya sama dengan waktu itu ya?”
“Hahaha, bahkan menu kesukaan kita tak berubah sejak saat itu ya?” kata Reiko sambil membawa nampan pesanannya.
Mereka berdua menaiki tangga menuju lantai dua restoran tersebut dan duduk di dekat jendela mengarah ke tempat parkir Daikoku Futo yang terlihat lebih lenggang karena dilihat dari atas.
Reiko meminum sedikit softdrinknya dan bertanya “Ryo, lu masih ingatkan bagaimana hubungan kita sampai seperti ini?”
Ryo hanya tersenyum dan berkata “Bagaimana gw bisa melupakan kejadian konyol itu?”
1 December 2000; 10:00 PM; Daikoku Futo
Pada waktu itu NSX merah Ryo belum memiliki body kit dan GT wing, yang ada hanyalah velgnya yang telah diganti dengan Volk racing CE28 dan sedikit modifikasi pada mesin. Di Daikoku Futo, Ryo bersama Wataru yang kesana dengan menumpang Ryo hanya melihat pembalap jalanan berkumpul dan sedikit yang melakukan balapan karena cuaca dingin dan jalanan yang cukup basah. Jadi mereka berdua hanya melakukan sedikit pembicaraan.
“Ryo-san, apakah tak apa apa jika aku belajar dengan NSX ini? Takutnya ketika aku punya mobil sendiri takutnya nanti bingung.” Tanya Wataru.
Ryo yang memegang sekaleng kopi hangat berkata “Tak apa apa kok, kalau sudah bisa di satu mobil biasanya akan hanya memerlukan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan mobil lain. Yang penting untuk awalnya adalah basicnya, dengan ini yang kamu perlukan untuk jadi pembalap hebat hanyalah pengalaman, tapi kamu bilang ingin memperdalam teknik drift. Hmm… untuk drift diperlukan mobil yang nantinya akan sering dipakai balapan.”
“Mendengar itu aku jadi ingin cepat punya mobil.” Kata Wataru.
Ryo berpikir sejenak dan berkata “Masalahnya teknik membalap kamu sudah sangat bagus dan tinggal perlu pengalaman. Untuk drift memang sih sangat di sarankan untuk belajar dengan mobil yang akan kamu sering pakai untuk membalap. Kalau boleh tanya, kamu rencana pake mobil apa nantinya?”
Wataru sambil menunjukan konsep 350Z dari majalah yang dibawanya dimana code name untuk project tersebut adalah ‘240Z’. “Lihat Ryo-san, Nissan akan membangkitkan lagi 240Z, dengan jiwa yang sama dan juga dengan teknologi yang lebih baru. Bukankah ini akan menjadi mobil yang hebat? Setelah melihat artikel ini, aku memutuskan inilah yang akan menjadi mobil ku di masa depan.”
Ryo mengambil majalah tersebut dan membacanya sejenak, dia pun berkomentar “Hmmm….’240Z’ masa depan ya? Tampaknya akan berlayout FR. Baiklah kalau begitu, kita perlu sebuah mobil berlayout FR, untuk latihan drift mu itu. Walaupun mobil yang kamu pakai bakal berbeda, tapi sedikitnya karakter mobil FR ada kemiripan yang mendasar. Tapi masalahnya dimana kita bisa pinjam atau pake mobil berlayout FR ya?”
Wataru hanya tersenyum “Ya sudahlah, untuk saat ini setidaknya aku mau mengumpulkan duit untuk beli mobil. Mungkin untuk belajar membalapnya aku akan melakukan seperti apa yang dilakukan biasanya.”
“Yah, mungkin untuk sementara itu ide yang bagus.” Kata Ryo.
Wataru melihat jam tangannya dan berkata “Aduh, aku harus siap siap untuk kerja nanti nih.”
“Ya sudah deh, kamu kuantar pulang.” Kata Ryo.
Mereka berdua masuk ke NSX, tapi sebelum masuk NSX Ryo menyadari bahwa mereka di perhatikan oleh seseorang yang cukup di kenal oleh Ryo, Reiko.
“Hmm? Bukannya itu Reiko mantan teman sekelas gw yang di gosipkan ketua geng bosozoku. Tapi kok pakaian dia biasa saja ya??” pikir Ryo.
Reiko menyadari bahwa dirinya terlihat oleh Ryo. Dengan segera Reiko masuk ke Silvia kuningnya yang belum dimodifikasi apa apa dan segera pergi dari Daikoku Futo terlebih dahulu.
Ryo melihat sebuah sticker dari Silvia tersebut yang bergambarkan kupu kupu dan bertuliskan ‘Purple Butterfly’. “’Purple Butterfly’? Itu kan salah satu tim Wanita yang terkenal di gunung Haruna?” pikir Ryo.
“Ayo, Ryo-san kok melamun?” tanya Wataru.
Ryo tersadar dan menjawab “Eh Sori, yuk pergi.”
NSX merah tersebut segera pergi dari Daikoku Futo.
2 December 2000; 9:00 PM; Puncak Gunung Haruna.
NSX datang dan masuk ke tempat parkir di puncak gunung haruna.
“Yah…..si Wataru lagi berkerja, jadi aku sendirian aja deh.” Ryo bergumam sambil mencari tempat kosong untuk parkir mobilnya.
Setelah Ryo memakir NSXnya di salah satu tempat yang kosong, dia melihat sekelompok mobil dengan sticker yang sama pada Silvia Reiko.
“Rupanya ‘Purple Butterfly’ lagi pada ngumpul nih. Mungkin aku bisa tanya sedikit tentang Reiko.” Pikir Ryo sambil keluar mobilnya.
Ryo mendekati salah satu mereka dan berkata “Hmmm… permisi, boleh bertanya sebentar tidak?”
Salah satu dari sekumpulan pembalap wanita tersebut dan menoleh, dia pun menjawab “Ya? Ada yang bisa dibantu?”
“Saya ingin tanya, apakah salah satu anggota kalian ada yang bernama Reiko Fujikawa?” tanya Ryo.
“Oh Reiko-sempai itu ketua tim dan juga pelatih kami.” Kata dia.
Ryo yang berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya bertanya lagi “Terakhir saya dengar dia itu ketua bosozoku, benar kah itu?”
Mereka setim saling bertanya satu sama lain dan salah satu dari mereka menjawa “Kami tak pernah mendengar hal itu, tapi yang pasti dia melindungi kami dari para pembalap pria yang memandang rendah kemampuan wanita dalam membalap.”
“oh begitu, ya sudah deh kalau begitu….” Sebelum Ryo menyelesaikan kalimatnya, Ryo mendengar suara mesin inline 4 dengan turbo dan ketika Ryo menengok ke belakang terlihatlah Silvia kuning milik Reiko.
“Oh, itu Reiko-sempai” kata salah satu dari mereka.
Tapi ketika tahu ada Ryo diantara rekan timnya, Reiko segera memasang pesneling mundur dan berbalik arah untuk keluar tempat parkir tersebut.
Bersamaan dengan itu Ryo segera menuju NSXnya dan mengejar Silvia tersebut.
Silvia tersebut berlari dengan tempo yang cukup kacau sehingga memperlambat laju Silvia tersebut dan memberi kesempatan NSX untuk mengejar.
Walaupun Reiko dalam keadaan panik dan keadaan trek yang cukup basah, Silvia tersebut mampu melewati beberapa tikungan. Tapi dengan terus mendekatnya NSX Ryo, membuat Reiko semakin panik dan akhirnya tergelincir di tikungan hairpin ke empat yang kebetulan cukup lebar. Silvia tersebut pun tak mengalami satu beretan sekalipun.
NSX langsung berhenti dan Ryo langsung berlari ke arah Silvia tersebut. Ryo mengetuk kaca jendela tersebut dan berteriak “Hoi! Reiko, kamu tak apa apa?”
Reiko membuka kaca jendela dan menjawab “Tak apa apa, tapi kenapa kamu mengejar ku?”
“Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu mengebut seperti itu?” tanya Ryo.
Reiko terdiam sebentar dan menjawab “Reflek, bodoh!”
Ryo yang mendengar hal terdiam sebentar dan menjawab “Hahahaha, sama donk. Aku juga mengejarmu karena reflek. Hahahaha jawaban yang bagus.”
“Hei! Ini bukan sesuatu yang untuk di ketawakan, bodoh!” teriak Reiko.
“Ya sudah lah, tenangkan diri mu sebentar, tampaknya ada yang membuatmu gelisah kalau ada aku. Parkirkan mobil mu sebentar di pinggir. Untuk tenangkan dirimu, kita mengobrol sebentar yuk, lagipula pas sekolah kita hampir tak pernah ngobrol satu sama lain.” Kata Ryo dengan tersenyum.
“Huh! Baiklah kalau itu mau mu.” Kata Reiko dengan muka cemberut dan sambil memakir mobilnya di sisi kiri jalan tersebut di belakang NSX Ryo.
Last edited by TheSisterPrincess; 22-08-2007 at 03:33 PM..
|
|
|
|
Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
|
|
|
| Thread Tools |
|
|
| Display Modes |
Linear Mode
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
PT Visi Global Interaktif
Powered by vBulletin® Version 3.8.4 Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
All times are GMT +8. The time now is 01:26 PM.
|
|
 |