Go Back   Video Games Indonesia > Hobby > Role Playing Cyber Novel

Role Playing Cyber Novel Create your own story here. Only one person per topic. Come in for great stories originally made by our forum members!




Reply
 
Thread Tools Display Modes
Old 11-09-2007, 12:27 AM   #1
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
[Story] Silent Angel

Yosh..... akhirnya chapter pembukanya jadi juga.
Bisa dibilang ini adalah karya original gw yang pertama.
Entah kenapa tiba2 gw pengen bikin cerita percintaan di sekolah.
Tapi gw berharap kalian menyukainya.
Seperti biasa, komentar dan saran sangat wellcome.
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote

What's Hot on VGI

 
Old 11-09-2007, 12:27 AM   #2
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
Silent Angel

Chapter 0: Prelude

Hai, perkenalkan namaku Kaze Yuki. Murid SMU kelas I Denatake Gakuen. Sebuah sekolah yang bisa dibilang cukup damai. Sehingga hari hariku disini terasa sedikit membosankan. Bulan ini adalah bulan Juni tahun 2005 dan kami baru saja bisa bernapas lega dari ujian mid semester.

Musim semi pun tiba, hujan yang tak menentu tentu sangat menyebalkan. Tapi hari ini cuacanya bisa dibilang sangat cerah, kita bisa melihat bunga yang tertidur di musim dingin mulai terbangun oleh hangatnya matahari.

“Yo! Kaze, ngapain lu ngelamun saja?” Oh ya! Kenalkan ini sahabatku sejak SD, namanya Yutaka Matsuo dengan nama panggilan ‘Taka’. Sangat berbeda denganku yang tergolong cowo biasa, dialah sang idola para murid wanita di sini. Selain pintar, punya tampang, jago bergaul, dan duit pun dia punya. Terus terang, kadang aku minder kepada dia. Tapi walaupun begitu, yang paling kuhormati dari dia adalah dia tak pernah melupakan sahabatnya.

“Ah…. Cuma merasa ngantuk saja.” Jawab aku dengan ogah ogahan.

Taka pun menghela napas seakan merasa kasihan kepadaku, dia pun berkata lagi “Dasar lu ini, masa tak ada kerjaan lain selain memandang keluar jendela. Sana, sekali kali cari gebetan sana!”

Aku pun memalingkan mukaku lagi menghadap jendela “Ah….. males ah. Cewe tipe jaman sekarang itu kalo gak matre, centil, ato gak suka pake dandanan yang aneh aneh.”

Sambil tertawa keras, Taka pun berkata “Hahaha, itu lah yang dinamakan perkembangan jaman bung! Lihat saja cewe jaman sekarang seksi seksi kan?”

“Seksi? Cewe cuma pake celana aja dibilang seksi.” Kataku dengan cetus.

Lalu Taka duduk diatas mejanya yang terletak di sebelah kanan mejaku. Sudah pasti dia akan meledek aku sebagai responnya “Dasar cowo kuno yang idealis, pantesan aja gak dapet cewe ampe sekarang.”

“Dasar cowok narsis, cowo mana yang berdandan setiap pagi kecuali badut?” balas aku. Lalu kami berdua langsung berdiri dan langsung tatap muka.

“Oh….begitu ya? Ayo, kalau begitu kita tentukan siapa yang benar.” Kata Taka dengan nada menantang.

Tentu saja aku tak mau kalah, lalu aku pun berkata dengan nada yang serupa “Ayo! Siapa yang takut menghadapi cowo narsis seperti elu.”

Kita pun berdua memasang kuda kuda dan berteriak “Ayo! JAN KEN PON !”

Aku mengeluarkan gunting dan dia kertas. Dengan spontan pun aku berteriak “Yes, gw yang menang!”

*keplak!*

Tiba tiba ada yang memukul belakang kepalaku dengan buku.
“Aduh! Kenapa gw yang kena? Reina?”

Dengan memencakan pinggang, cewe yang berambut pendek sebahu yang hilite warna coklat langsung menjawab “Dasar, pagi pagi sudah teriak teriak!”

“Hahaha” ketawa Taka dengan keras.

*keplak!*
Aku pun tersenyum lebar ketika melihat kepala bagian belakang Taka juga jadi korban pukulan Reina.

“Aduh, sayang! Kenapa aku juga kena?” tanya Taka sambil memegang kepalanya.

Reiko langsung berteriak lagi “Kamu itu juga sama aja! Pagi pagi udah berisik! Selain itu kamu itu pacarku! Jangan bikin malu aku dong!”

Seisi kelas pun langsung menertawakan kita. Yah…memang kita sering disebut trio pelawak oleh sekelas. Tapi setidaknya hal yang seperti ini lah yang membuat hari hari di sekolah yang membosankan menjadi sedikit menyenangkan.

“Oh ya? Bukannya tugas ketua kelas membantu guru sebelum kelas dimulai? Kok kamu datang ke sini sebelum kelas dimulai?” tanyaku sambil mengelus kepalaku yang dipukul oleh Reina.

“Oh ya? Hampir lupa.” Kata Reina sambil pergi ke depan kelas.

Lalu dia pun memberi pengumuman “Teman teman! Nanti kita kedatangan teman baru. Tapi teman baru kita ini tak mampu berbicara. Jadi pak Guru minta tolong untuk lebih memperhatikan dia.”

“Baik!” respon semua kelas. Sedangkan sifat cuekku kambuh lagi, aku cuma duduk dan memangku kepalaku dengan tangan kananku sambil melihat keluar jendela.

*ting tong*
Bel yang menandakan kelas perwalian pun berbunyi. Seperti biasa, para murid buru buru kembali ke tempat duduk masing masing termasuk Reina yang duduk di depan kananku.

Kitami-sensei pun masuk kedalam kelas, Reina pun memberi aba aba ke kelas “Berdiri! Beri Salam!”

“Selamat Pagi Kitami-sensei!” kata seluruh kelas sambil membungkuk.

Setelah seluruh kelas duduk kembali, Kitami-sensei pun memulai berbicara “Selamat pagi anak anak! Hari ini kita mendapatkan teman baru dari Kyoto. Bapak berharap agar kalian bisa berteman baik dengannya. Sakura! Ayo masuk!”

Lalu terdengar langkah ringan masuk ke dalam kelas. Aku yang pertama kali tak acuh, mulai melirik sedikit ke arah murid pindahan tersebut. Ternyata murid pindahannya adalah seorang Wanita.

Dengan penasaran, leherku pun berputar agar bisa melihat murid pindahan tersebut dengan jelas. Alangkah kagetnya aku, ternyata masih ada di Jepang ini gadis yang anggun dan tanpa dandanan yang aneh aneh. Bahkan rambut panjangnya masih hitam legam. Bahkan kulitnya yang putih agak kepucatan memberi persona tersendiri.

Murid pindahan itu pun berdiri di depan kelas dengan seragam lama sekolahnya dulu yang terdiri dari kemeja putih, dasi merah, rok merah, dan blazer coklat. Perbedaan dengan seragam sekolah kita hanyalah pada warna rok dan blazernya yang berwarna biru tua.

Dia pun menuliskan namanya, “Sakura Nishirei” begitulah membacanya. Lalu dia hanya membalikan badannya lagi kehadapan kelas.

“Nah, anak anak. Kenalkan teman baru kita, Sakura Nishirei. Bapak minta tolong ke kalian agar Sakura punya pengalaman yang indah di Denatake Gakuen ini.”

Seluruh kelas pun langsung ramai menyambut kedatangan Sakura, ada yang bertepuk tangan, ada yang berkata ‘Selamat datang’, dan sebagainya.

Aku tak bisa melepaskan pandangan mataku darinya, tapi yang pasti aku hanya melihat dia membungkuk di depan kelas dan tak ada perubahan ekspresi pada wajahnya yang sendu itu.

“Baiklah Sakura. Hmm….sebaiknya kamu duduk dimana ya? Kamu tak apa kan duduk agak dibelakang?” tanya Kitami-sensei.

Sakura hanya menggelengkan kepalanya.

Kitami-sensei tersenyum dan berkata “Baiklah, kamu duduk di dekat jendela kedua dari belakang. Di depannya Kaze-kun.”

Aku pun terkejut mendengar itu. Sedangkan Taka dan Reina hanya tersenyum melihat aku kaget.

Sakura hanya mengangguk dan berjalan ke meja kosong yang berada di depanku. Entah kenapa aku senang melihat jalannya itu, dia membawa tas tentengnya di depan pinggangnya dan berjalan dengan anggun.

Sebelum dia duduk, Sakura menganggukan kepalanya sedikit di depanku sebagai salam dan aku yang terbengong hanya bisa berkata “Sama sama.”

Entah kenapa mukaku jadi terasa panas. Yang bisa kulakukan adalah menuntup mukaku ini. Kitami-sensei pun mulai mengabsen kami satu persatu.

Kelas perwalian pun selesai, kegiatan kelas pun berjalan normal seperti biasanya seprti matematika yang bikin pusing, pelajaran sejarah yang membuatku mengantuk, dan yang paling aku tak bisa adalah pelajaran sastra. Tapi hari ini tampaknya aku lebih terganggu oleh cewe yang di depanku ini.

Bukan terganggu sih sebenarnya, tapi lebih tepatnya terus terpukau oleh sosoknya dari belakang. Ya betul, aku sangat suka dengan rambut hitam panjangnya yang terlihat mulus alami. Sampai sampai aku tak sadar bahwa sekarang adalah jamnya istirahat siang.

Entah kenapa Taka dan Reina langsung menyeretku keluar. Ya benar, mereka menyeretku sampai celanaku kotor sampai keluar kelas.

Sesampainya di luar kelas aku segera berdiri dan protes “Ada apa sih dengan kalian?”

Tanpa menjawab apapun mereka langsung menarikku lagi ke tempat mengobrol favorit kita, yaitu loteng gedung sekolah kita.

“Hahaha, kali ini benar benar musim semi ya?” kata Taka sambil memegang dahinya.

Reina tersenyum dan berkata “Kaze kaze, akhirnya ketemu cewe impian mu ya?”

“Bicara apa kalian ini?”aku berusaha menyangkal yang tampaknya percuma bagi mereka.

Taka menepuk punggungku cukup keras dan berkata “Sudah deh, jangan bohong! Masa lu lupa bahwa kita sudah berteman lama sekali. Ayo lah, ini kesempatan mu! Setidaknya katakan ‘hai’ ato belikan dia minuman atau sejenisnya untuk salam perkenalan.”

“Iya betul Kaze! Traktir dia sesuatu seperti minuman atau makanan kecil sebagai perkenalan. Memang langkah pertama memang sulit, tapi selanjutnya akan mudah. Ayo lakukan!” kata Reina sambil ikutan mendorongku turun lagi.

Mau tak mau, aku pun turun ke kantin. Itu pun karena aku memang sedang lapar. Tapi ketika mengantri tiba tiba aku berubah pikiran, aku jadi membeli 2 buah roti melon dan 2 kaleng jus jeruk. Aku pun berpikir “Kok aku jadi melakukanya? Sudah lah tak ada salahnya toh berkenalan.”

Aku pun berjalan kembali ke lantai dua dimana kelas kita berada. Aku memastikan keberadaan Sakura dengan melihat dari luar kelas yang ternyata memang sedang sendirian di dalam kelas. Ketika membuka pintu kelas pun, jantungku berdetak dengan cepat. Langkah demi langkah mendekati dia, semakin kencang pula detak jantungku.

Ketika di depan dia, aku terlalu tegang sampai berdiri tegap seperti di acara pidato ‘si botak’ kepala sekolah.

Mulai perlahan dan gagap, aku pun mulai menyapa dia “Ha……ha…..hai, kenalkan….namaku Kaze Yuki, panggil saja Kaze. Senang berkenalan dengan mu. I….i…ini sebagai tanda pertemanan.”

Aku pun memberikan roti melon dan jus jeruk yang aku telah beli tadi. Dia pun kaget melihat pemberianku, wajah yang tak berekspresi itu pun tersenyum manis kepadaku. Melihat senyumannya aku langsung berpikiran “YEAH!!!! Akhirnya aku bisa!!!”

Tiba tiba Sakura menjadi panik membongkar tas-nya. Tak lama dia mengeluarkan sebuah buku gambar dan sebuah pen. Dia menulis sesuatu dan menunjukannya ke aku, isinya adalah “Senang berkenalan dengan mu Kaze, namaku Sakura Nishirei. Kamu bisa panggil aku Sakura. Terima kasih atas roti dan jus-nya.”

Aku pun langsung mengibaskan tanganku dan berkata “Ah tidak apa apa kok! Sungguh! Oh ya ngomong ngomong, kalian berdua keluarlah!”

Aku pun menengok ke arah pintu kelas dan telah mengetahui pasti mereka berdua akan menguping pembicaraanku. Taka dan Reina pun berdua masuk ke dalam kelas.

“Hahaha, hebat juga kau Kaze bisa tahu kita disana.” Kata Taka sambil menggaruk kepalanya.

“Hei gw udah hafal sifat lu. Ayo kalian kenalan dengan Sakura.” Kataku.

Reina pun memberi jabat tangan terlebih dahulu dan berkata “Hey, nama gw Reina Hasuka. Senang bertemu dengan mu.”

Sakura pun menulis lagi dan menunjukannya ke kita dengan senyum “Senang bertemu dengan mu juga, Hasuka.”

“Kyaa!!! Kamu itu imut abis deh! Panggil aku Reina-chan aja! Ok?” kata Reina sambil memeluk Sakura. Sedangkan Sakura hanya bisa mengangguk.

“Ayo, sudah. Sekarang giliran si Taka.” Kataku untuk menghentikan tingkah lakunya Reina. Reina pun melepaskan pelukannya.

Taka dengan membungkuk bersalaman dengan Sakura sambil berkata “Kenalkan namaku Yutaka Matsuo, panggil saya Ta-Ka-Chan~~”

*keplak!*
Reina memukul kepala Taka sekali lagi.

“Maaf maaf, baiklah panggil saya Taka saja. Senang bertemu dengan mu.” Kata Taka sambil mengelus kepalanya.

Sakura menulis dan menunjukan ke kita “Senang bertemu dengan mu juga Taka.”

“Bagaimana kalau kita makan siang di kelas saja?” tanyaku ke semua.

“Baiklah.” Jawab Reina dan Taka, sedangkan Sakura hanya mengangguk.

Kami pun memulai makan siang kami. Setelah kami semua selesai makan siang, kami mulai mengobrol kembali.

“Oh ya Sakura, kamu senang pindah kesini?” tanyaku.

Dengan senyum yang lebar, dia mengangguk.

Lalu Reina pun bertanya “Sakura-chan, apa hobi mu?”

Sakura menjawabnya dengan menulis lagi “Aku senang main piano, karena aku sangat menyenangi musik.”

Aku pun ada melihat senyum yang tulus ketika dia menulis itu, tampaknya dia memang benar benar senang akan musik. Lalu pun aku bertanya sekali lagi “Sakura, jenis musik apa yang kamu suka?”

Lalu dia menulis “Aku senang musik Jazz, klasik, dan yang paling aku senangi adalah musik opera.”

“Wah seleramu bagus sekali.” Tanpa sadar aku berkata dengan senyum yang cukup lebar.

Dia pun membalas senyumku dan langsung aku berpikir “Wah senyumannya memang manis sekali.”

“Wah, tampaknya kalian sudah akrab.” Kata Kitami-sensei dari belakangku.

Aku pun menengok dan Kitami-sensei melanjutkan “Bagus lah. Reina? Mana Aba abanya?”

Kami pun langsung kembali ke tempat duduk masing masing dan Reina memberi aba aba untuk memberi salam ke Kitami-sensei. Sekarang adalah pelajaran Fisika favoritku, begitu dengan Kitami-sensei yang juga guru favoritku. Selain beliau adalah wali kelas kita, dia juga pandai mengajar dan pandai mengakrabkan diri ke murid.

Pelajaran pun terus berjalan hingga saatnya kita pulang ke rumah.

*ting tong*
Setelah bel berbunyi, aku pun langsung merenggangkan badan. Seperti biasa, kita ke locker sepatu bersama –sama. Tapi yang membedakan kali ini adalah adanya Sakura yang ikut kita.

Aku juga bersyukur bahwa Sakura menunjukan senyumnya di hari pertamanya di sekolah ini. Setelah mengganti sepatu, kami berjalan di halaman depan sekolah menuju pintu gerbang depan. Tiba tiba terlihat sebuah Mercedes Benz CLS berwarna hitam parkir di depan sekolah dengan seseorang Wanita setengah baya di sebelahnya.

Sakura pun segera berlari ke wanita tersebut dan kita pun mengikuti Sakura dengan berjalan. Dari jauh tampak Sakura memakai bahasa isyarat untuk memberitahu bahwa kami adalah temannya.

“Oh! Ternyata kalian teman barunya Sakura ya? Kenalkan saya Hanako Nishirei, ibunya Sakura. Saya sangat berterima kasih sekali kalian mau berteman dengan putri saya” kata Wanita tersebut mengenalkan dirinya dengan membungkuk dan senyuman.

“Ah ya sama sama.” Kata kita semua kompak sambil membungkuk.

“Baiklah kalau begitu saya dan Sakura permisi dulu.” Kata ibu Sakura sambil membungkuk, begitu juga Sakura.

Mereka naik CLS hitam tersebut dan pergi menjauh. Aku pun hanya bisa memandanginya dari jauh. Tiba tiba bahuku di tepuk oleh Taka “Sudahlah, besok kita bisa bertemu dia lagi. Tapi aku salut ke kamu untuk memberanikan diri berkenalan.”

Aku pun tersenyum dan tertawa “Hahaha, gw nyerah deh menghadapi kalian.”

“Hei, seharusnya aku yang berkata begitu.” protes Reina.

Matahari sore pun sudah nampak, kami pun berjalan kaki pulang menuju rumah masing masing.

Aku pun terus berjalan menuju ke rumahku. Oh ya, mungkin sebaiknya aku tarik omonganku tentang bahwa sekolah itu membosankan. Ah….aku tak sabar akan datangnya besok.

Last edited by TheSisterPrincess; 01-12-2007 at 10:54 PM..
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Old 05-10-2007, 12:03 AM   #3
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
Chapter 1: A New Day

*kringg!!!!*
“Ah sial!” Bunyi jam weker pun membangunkan aku dari tidurku yang lelap di bawah selimut yang hangat.

Aku pun bangun dan turun dari tempat tidur dan berjalan terhuyung huyung menuju kamar mandi. Aku pun membuka keran wastafel dan mulai menyikat gigiku dengan keadaan mata hampir tertutup. Setelah menyikat gigi langsung saja aku berkumur.

Lalu seperti biasa, langsung kutanggalkan pakaian tidurku di dekat wastafel. Masuk ke shower box dan langsung saja kuputar keran. Air pun mulai keluar dari keran dan langsung membasahi kepalaku. Mulailah aku menyetel suhu air agar menjadi hangat.

Lalu mukaku pun kuhadapan ke shower langsung dan langsung membuat mataku melek. Aku yang mulai tersadar mengingat ingat hal hal yang penting dari hari kemarin, seperti PR dan tugas. Tapi pagi ini yang muncul di bayanganku adalah senyuman Sakura.

Aku pun langsung bersemangat dan bersenandung ‘Fly me to the Moon” cukup keras bahkan dengan tarian yang bisa dibilang sangat norak. Tampaknya tak banyak yang bisa kuceritakan di sini, aku hanya menyabuni tubuhku dan keramas selayaknya orang mandi di pagi hari. Menutup keran, keluar dari shower box, dan aku pun mengeringkan badanku dengan handuk. Handuk itu pun kupakai untuk ke kamarku.

Kupakai seragam sekolahku dari celana panjang hitamnya berserta sabuk, kemeja putih, dasi merah, dan jas biru tuanya. Aku pun merapikan penampilanku dan berkaca di depan cermin, tapi mengingat bahwa aku mengatakan “Cowo yang berdadan setiap pagi seperti badut.” kemarin ke Taka langsung saja aku menjauhi cermin. Yah…. Sekali kali aku terlihat ‘sedikit’ lebih rapi pagi ini.

Aku pun turun tangga dan mengucapkan “Selamat pagi, mami dan papi.” ke yang tentunya orang tuaku. Mamiku Emi Yuki dan Papiku Naoki Yuki. Mamiku sedang mempersiapkan sarapan sedangkan Papiku seperti biasa…..baca koran yang membosankan itu.

“Kaze, ada apa nih? Tak biasanya pagi pagi semangat begini?” tanya mamiku dengan senyumnya yang ramah itu.

Papi yang sedang membaca koran nyeletuk “Paling paling tentang cewe.”

“Iya” jawabku secara tak sadar.

Kedua orang tuaku pun langsung menengok melihatku, sepertinya mereka ingin memastikan bahwa aku menjawabnya dengan serius.

“Serius nih Kaze?” kata mamiku dengan muka penasaran.

Aku pun hanya membuang muka sambil menggaruk pipiku dengan jari telunjuk dan hanya berkata “Heemmm…..gimana ya?”

“Wah…..sayang, akhirnya musim semi datang untuk putra kita.” Kata mamiku sambil memeluk papi dari belakang.

“Sial, aku keceplosan.” Kata hatiku.

“Sudah ah! Mana sarapannya? Nanti aku bisa telat nih.” kata aku supaya mami berhenti meledekku.

Mamiku pun tersenyum dan meledeku lagi “Kenapa? Mau ketemu si dia ya? Ini supaya beruntung mami masakin telur dadar berbentuk hari.”

Ternyata mamiku serius dengan ucapannya, dia menghidangkan telur dadar berbentuk hati. “Sudahlah” pikirku karena memang aku sudah lapar. Juga…..betul juga sih….aku memang mau bertemu dia secepatnya.

Langsung saja kuambil dua potong roti tawar, kuberi sedikit mentega, dan kutaruh telur norak tadi diatas salah satu roti dan kurangkap dengan roti satunya lagi.

“Itadakimasu” kataku. Kugigit sandwish telur tersebut, hmm…enaknya. Walaupun hanya telur dadar, yang ini buatan mamiku. Pokoknya istimewa deh, tak seperti telur dadar yang lain.

Tak lama kemudian aku sadar bahwa aku ingin ketemu dia secepatnya. Langsung aja aku habiskan sarapanku secepatnya.

“Gochisosama.” Kataku sambil cepat cepat berdiri dari kursi makan. Aku pun membawa tas ranselku dan sedikit berlari menuju pintu depan rumahku.

“Hati hati ya?” teriak mamiku dari dapur.

“Iya!” jawabku.

Aku pun langsung memakai sepatuku dan langsung membuka pintu.

Ketika membuka pintu, aku langsung berpikir “Wah! Pagi yang indah.” Ya memang, mungkin ini merupakan pagi yang paling indah yang pernah kualami. Aku melangkah secara tak sabar yang lama kelamaan menjadi lari. Aku berlari sambil mengucapkan “Ohayo.” ke para tetangga dan mereka pun juga membalas dengan ucapan yang sama.

Pertama kalinya aku berlari ke sekolah walaupun aku sebenarnya tidak terlambat. Iya betul, aku sudah tak sabar melihat wajah dia sekali lagi. Di sebuah pertigaan, aku berpapasan dengan Taka.

“Hei! Tumben lu lari lari ke sekolah. Aha! Gw tahu apa sebabnya.” Katanya Taka dengan wajahnya yang cukup menyebalkan.

Aku pun melanjutkan lariku dan berkata “Kalo sudah tahu, ya udah. Gw duluan ya?”

“Tunggu.” Kata Taka sambil menahanku dengan memegang tas ranselku.

“Hek..” aku pun sedikit tercekik dengan tas ranselku.

“Ada apa sih?” aku mengomel ke Taka.

Dia pun menjawab sambil membuka botol susunya “Tenang saja, lagipula percuma lu sampai di sekolah cepat cepat. Kemungkinan besar dia belum sampai di sekolah.”

Ketika dia meneguk susunya sedangkan aku berpikir sebentar seperti seorang yang bloon. “Iya juga ya?” jawabku dengan polos.

Taka pun tersenyum dan mulai tertawa “Hahaha, ternyata memang betul bahwa cinta kadang membuat seorang pria jadi bodoh!”

Aku pun langsung mengancam “Diam lu, mau kusebarkan bagaimana lu jadian dengan Reina?”

Taka pun terdiam sebentar dan berkata “Iya sori……jangan disebarin ya?”

Senyuman kemenangan pun tampak di wajahku dan aku berkata “Jangan lupa, kita sudah berteman sangat lama.”

Wajah pucat Taka pun berangsur angsur tersenyum kembali. Tiba terdengar suara langkah orang berlari dari belakang.

*Keplak!*
“O…ha…yo!!!!!” kata Reina sambil memukul kepala kita berdua dari belakang dengan bukunya itu.

Kami berdua pun langsung berbalik badan dan berteriak “Ada apa sih? Kan kami belum ngapain ngapain!”

“Ayo! Kalian ngapain santai santai begini? Gw pengen ketemu Sakura secepatnya!” kata Reina dengan semangat.

Taka pun menghela napas dan berkata “Ternyata yang jadi bodoh menjadi dua orang sekarang.

*keplak!* Kepala Taka pun kena pukul sekali lagi.

“Ayo! Jangan banyak ngomong!” kata Reina sambil menarik Taka secara paksa. Aku pun hanya bisa mengikuti mereka dari belakang.. Ternyata memang Reina yang terkuat diantara kita bertiga.

Ketika kami mau melewati sebuah perempatan, tampak CLS hitam yang kami lihat kemarin. “Pucak dicinta ulam pun tiba nih” pikirku dengan senyum. Kita pun terhenti sejenak dan melihat ke arah mobil itu.

Tak lama tampak Sakura beserta ibunya keluar dari CLS tersebut. Dari gerak gerik mereka aku bisa menebak bahwa Sakura tak mau diantarkan dengan mobil.

“Sakura-chan! Ohayo!” Si Reina langsung melepaskan pegangannya ke Taka dan berlari ke arah Sakura seakan tak melihat masalah yang ada.

Sakura yang baru sadar akan keberadaan kita langsung melambaikan tangannya dengan senyum. Wah…..senyumannya memang sangat indah dan juga dia sekarang memakai seragam sekolah kita, wah manisnya. Aku pun membalas lambaian tangannya.

“Tante, ohayo gozaimasu.” Kata kami semua sambil membukuk ke Ibunya Sakura.

“Ohayo semuanya.” Ibunya Sakura terdiam sebentar dan menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.

Dia pun mengelus kepala Sakura sambil berkata “Maafkan ibu, Sakura. Ternyata kamu ingin berangkat ke sekolah bersama teman ya?”

Sakura pun tersenyum lebih lebar lagi dan mengangguk kegirangan.

Ibu Sakura pun tersenyum dan berkata “Baiklah kalau begitu.”

Lalu dia pun berkata kepada kami “Tante minta tolong titp Sakura ya? Tante permisi dulu.”

Ibu Sakura pun naik CLS tersebut dan melambaikan tangannya. Kami pun juga membalasnya dengan lambaian tangan.

Lalu tiba tiba terasa genggaman tangan yang kecil tapi terasa hangat. Bertapa kagetnya aku, ternyata tangan tersebut adalah tangan Sakura. Dia mulai berlari sambil menarik tanganku, lalu aku pun berusaha mengikutinya agar genggaman yang hangat ini tak lepas.

“He…Hei tunggu!” teriak Taka sambil berusaha mengikuti kami.

Reina dengan semangat mengikuti kami juga sambil berkata “Ayo!, kita lomba siapa yang paling cepat sampai sekolah.”

Aduh duh….ternyata bukan hanya aku yang bersemangat ke sekolah hari ini, ternyata yang lain juga! Oh ya, aku tentu tak mau kalah dengan Taka dan Reina.

“Ayo Sakura, kita mesti sampai duluan di sekolah!” kata aku.

Dia pun tersenyum dan mengangguk. Secara tanpa sadar kami terus bergandengan tangan sampai di sekolah.

Ketika mau sampai di dekat sekolah, kami pun sudah kecapaian sehingga tak bisa berlari lagi. Tapi senyum di muka kita semua masih ada dan bisa dibilang tak ada pemenang di antara kita. Juga gandengan tangan Sakura belum lepas lepas, tentu saja aku tak melewatkan kesempatan ini.

“Suit suit, kalian mesra nih ye?” ledek Taka dari belakang kita. Sakura pun secara spontan melepaskan tangannya. Sial, nih Taka merusak saat saat yang bagus aja nih. “Ya sudahlah.” kupikir.

Last edited by TheSisterPrincess; 01-12-2007 at 10:58 PM..
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Old 05-10-2007, 12:04 AM   #4
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
Kamipun melanjutkan jalan kami ke locker sepatu. Seperti biasa, kamipun mengganti sepatu kami dengan selop yang telah ada di dalam locker tersebut.

Setelah itu pun kami mulai berjalan ke lantai dimana kelas kita berada. Ketika sedang menuju ke kelas kita, aku pun berpikir “Apakah Sakura bisu sejak lahir ya? Mungkin tak baik aku menanyakannya sekarang, biarlah untuk sementara begini dulu.”

Aku pun tetap berusaha senyum dengan pertanyaan membayangi kepalaku. Sesampainya di kelas kami pun langsung menaruh tas kami masing masing di meja.

“Yuk, gw mau bantuin pak guru dulu ya?” kata Reina sambil berlari keluar kelas lagi. Aku pun mulai mengajak ngobrol Sakura “Sakura? Tadi sama ibu mu ada apa?”

Seperti biasa, dia pun mulai menulis sebagai jawabannya “Tak ada apa apa, cuma aku mau pergi ke sekolah dengan jalan kaki Cuma ibuku memaksa untuk mengantarkanku.”

Aku pun merasa lega tak ada sesuatu yang perlu dicemaskan, senyum pun muncul di bibirku. “Mungkin beliau sangat cemas dengan keselamatan mu, sudahlah jangan marah ke beliau. Kan maksud dia baik.”

Dia pun membalas “Tapi aku kurang nyaman di perlakukan istimewa. Kan aku juga mau berjalan ke sekolah bersama teman.”

Membaca kata teman, senyumku pun semakin lebar. “Baguslah dia sudah menganggap kami temannya.” Pikirku.

Aku pun berpikir untuk penyelesaian masalahnya. “Oh ya Sakura, kalau boleh tahu. Dimana rumah mu?”

Sakura pun berpikir sejenak dan menulis alamat rumahnya.

“Ah! Bagus tak begitu jauh dengan lingkungan kita! Bagaimana kalau kita jemput kamu di rumah kamu?” aku pun memberikan ide dengan antusias.

Lalu Taka pun nyeletuk “Wah ide bagus tuh! Tumben lu pinter?”

“Diam lu ah! Nah Sakura, bagaimana?” tanyaku lagi

Sakura pun tampaknya memikirkan pendapatku dan menulis “Ide yang bagus, aku akan bicarakan dengan ibuku.”

Lalu tak lama aku mendengar bel tanda dimulainya pelajaran dibunyikan. “Ya, sudah deh. Nanti kita lanjutkan.”

Dia pun mengganggukan kepalanya dan membalikan badannya. Aku pun seperti biasa langsung memangku tangan dan melihat pohon-pohon sakura yang telah kehabisan kelopaknya juga langit cerah yang berwarna biru.

Kadang aku juga pandang Sakura yang duduk di depanku. Terus terang, aku sangat menyukai cewe berambut hitam panjang dan lurus. Kebanyakan cewe sekarang senang mengecat rambutnya seakan tak puas akan warna alaminya.

Tak kusangka, jaman sekarang masih ada cewe seperti Sakura.

“Kaze! Kaze! Hoi!” teriak Kitami sensei yang sedang mengabsen.

Aku pun terkaget sambil celingak celinguk kebingungan seakan tak sadar apa yang terjadi.

Setelah sadar aku sedang diabsen, aku pun langsung mengangkat tangan sambil teriak “Hadir Pak!”

Seperti biasa pasti mata dan tawa jahil Taka dan Reina mengarah ke aku, tapi…. kali ini ditambah tawa geli dari Sakura. Aku hanya bisa menutup mukaku dengan tangan.

“Aduh, sial.malu maluin aja.” kata hatiku. Setelah itu pun aku berusaha melihat ke depan, yah……bisa papan tulis juga bisa cewe yang sekarang duduk di depanku kan? Apalah, yang penting sekarang aku tidak melihat luar melulu.

Untuk hari ini, setelah perwalian akan ada pelajaran bahasa Inggris. Aduh, memang sih aku tak berbakat dalam berbahasa tapi salah satu penyemangat adalah gurunya, Miyabi-sensei. Tapi karena beliau sangat akrab dengan kita maka sering kita panggil Michan-sensei.

Oh ya satu hal lagi, jangan sekali-kali memanggilnya Michan-sensei di depan Kitami-sensei. Karena Kitami-sensei itu naksir Miyabi-sensei, jadi beliau sangat menjaga imagenya di depan Miyabi-sensei.

Dasar kalau orang sudah jatuh cinta ya? Walaupun menyebalkan Kitami-sensei tetaplah guru yang baik.

Miyabi-sensei pun masuk ruang kelas, seperti biasa Kitami-sensei selalu mencoba memberikan senyuman yang paling lebar untuk Miyabi-sensei tapi tampaknya Miyabi-sensei tidak memperhatikannya.

Reina pun memberi aba aba dan kami sekelas memberi salam. Tapi Miyabi-sensei pun tampaknya tidak memperdulikan senyuman Kitami-sensei “Kenapa sih wali kelas kalian, senyam senyum gak jelas seperti itu?”

“Wah…..kasihan Kitami-sensei.” Kata hatiku, selamat berjuang ya Kitami-sensei. Sudah lah, kembali ke pelajaran. Miyabi-sensei, hmmm seperti nama artis bokep saja tapi memang betul sih Miyabi-sensei adalah wanita yang seksi. Hahaha mungkin Kitami-sensei tertarik dengan keseksiannya itu, yang pasti beliau juga guru favorit para murid lelaki.

Tapi….jangan sekali-kali berbicara tentang dadanya yang besar itu, dia akan marah karena bagi beliau dada besar hanya lah sebuah beban untuk bergerak. Betul beliau senang berolah raga dan bersifat agak sembrono.

“Ok, boys and girls! We will start our lesson today. Open page 30 in the text book and look at simplified version of ‘Romeo and Juliet’. Kaze! Read it loudly.” Kata Miyabi-sensei.

“Sial” kata hatiku, aku paling tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Sudah lah, kalau sudah dipaksa yah nekat saja. Aku pun mulai membaca tulisan yang berada di buku tersebut walaupun dengan terbata bata “O….o…Once u….pon a time, there….are…..two….fa…fa…”. Pokoknya aku membaca cerita tersebut sampai selesai.

“Oh…good….that’s good Kaze, for a rapper.” Komentar Miyabi-sensei dan seluruh kelas pun tertawa mendengar komentar beliau.

“That’s fine, it looks like you read with your feeling. Well, I can guess you are falling in love with someone.” Kata Miyabi-sensei dengan tersenyum.

“Eh…ah….” Sial, kenapa aku jadi salah tingkah?

Miyabi-sensei pun terkejut karena tebakannya betul “Eh! So my guess is right. Hem…hem…hem, I wonder who she is?”

Aku pun cuma terdiam karena malu, tetapi tampaknya setelah Miyabi-sensei melihat wajah baru yang sedang duduk di depanku ini. Beliau hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatan mengajarnya.

“Oke, Taka. Translate that story to Japanese.” Perintah Miyabi-sensei.

“Eh, aku?” Balas Taka.

Miyabi-sensei pun menghadap ke Taka “Remember, in my class you must always speak in English. Understand?”

“Yes, your highness.” Seluruh kelas pun tertawa mendengar respon Taka.

Miyabi-sensei pun memukul ringan kepala Taka, lalu Taka pun mulai mentranslasikan cerita yang kubaca tadi.

Aku pun menghela nafas sebentar dan melihat ke depanku. Perasaan tadi aku melihat Sakura memandang ke aku lalu membuang muka. Wajar saja kalau seorang gadis malu jika tahu ada yang suka padanya. Gimana ya? Ini bisa dibilang bagus dan jelek.

Tanpa ambil pusing, aku pun melanjutkan pelajaran. Seperti biasa di akhir pelajaran Miyabi-sensei memberi kami PR yang tentu saja kurang disukai kami. Tapi itu lah kewajiban seorang murid, bukan?

Kami pun melanjutkan pelajaran yang lain hingga bel makan siang pun dibunyikan. Aku pun langsung merebahkan tubuhku ke atas meja. “Duh, perasaan kok hari ini lebih capek dari hari hari sebelumnya?” tanya kata hatiku.

Lalu aku merasakan satu sentuhan jari yang lembut. Aku pun mengangkat kepalaku dan kulihat wajah manis dari Sakura “Ada apa Sakura?”

Dia pun menulis responnya “Kamu tak apa apa?”

“Tak apa apa, cuma merasa agak cape hari ini.” Aku pun kembali menjatuhkan kepalaku diatas lengan.”

Tiba tiba datang dua pukulan datang dari belakang kepalaku. “Hei Kaze! Makan yuk di atap yuk!” teriak Taka dan Reina sambil memukul kepalaku.

Hasilnya kepalaku membentur meja. “Aduh! Kalian ini! Kenapa sih?”

“Seperti biasa! Ayo makan siang di loteng!” teriak Taka.

Lalu Reina memegang tangan Sakura “Ayo Sakura-chan, ikut dengan kami makan siang di atas. Kamu bawa bekal kan?”

Sakura pun mengangguk sambil mengeluarkan kotak makanannya. Tangan kiriku pun masih memegang dahiku dan tangan kananku pun mengambil kotak makanan.

Yah, yang pasti aku sudah tak sabar memakan masakan mamiku yang tentu enak. Kami berempat berjalan ke atas, di mana ‘markas rahasia’ kami berada. Kami pun menaiki tangga satu persatu. Tampaknya Reina sangat senang dengan Sakura sampai sampai terlalu bersemangat menarik Sakura sambil naik tangga.

“Hoi, sudah. Sakura jangan di tarik terlalu keras, nanti jatuh saja.” Dasar Reina, cewe yang sekali bersemangat susah diatur. Tapi sedikitnya setelah mendengar kata kataku, dia langsung meringankan pegangannya dan berjalan agak pelan.

“Sori kalo gw tadi terlalu cepat.” Minta maaf Reina pun ditanggapi dengan gelengan kepala dan senyum oleh Sakura. Kami pun akhirnya sampai di loteng ‘markas rahasia’ kami.

“Huahhh” aku pun langsung merenggangkan badan ketika menghirup udara segar di atas loteng. Kami pun langsung duduk di atas lantai.

“Sakura, apa tak apa apa duduk diatas lantai?” tak biasanya aku lihat orang langsung mau duduk diatas lantai.

Dia pun hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum sekali lagi. Aku pun langsung membuka bekal yang aku bawa yang berisi nasi dengan kari.

“Huh? Nasi kari untuk bekal?” kata Reina dengan heran melihat isi bekalku.

“Yah, maklum lah. Cuma ini yang tersisa dari tadi malam.” Argumenku.

Aku pun mulai penasaran dengan bekal yang dibawa Sakura. Dia pun membuka kotak bekalnya dan terlihat nasi dan beberapa potong tamago.

Terus terang aja di bayanganku adalah dia membawa sesuatu yang ‘wah’, tapi ternyata tidak. Aku pun penasaran dengan siapa yang membuat bekalnya “Hmm, Sakura ngomong ngomong siapa yang mempersiapkan bekal mu? Ibu mu?”

Dia pun hanya menggelengkan kepalanya dan menunjuk dirinya sendiri.

“Wah hebatnya Sakura! Mau kah jadi pengantinku?” kata Taka.

*keplak*
Reina pun memukul kepala belakang Taka dengan bukunya yang ciri khasnya itu.

“Taka!” teriak Reina dengan mata berkaca kaca.

“Aduh duh….sori sori, hanya bercanda kok. Masa kaya kamu tak tahu gw aja?” kata Taka sambil mengelus kepala Reina. Taka mengelus kepala Reina cukup lama sehingga aku tak tahan ingin meledeknya “Ehem….suit suit, mesra nih ye?”

Mereka pun terdiam sejenak “Sakura, omongan Taka jangan di anggap serius. Dia memang suka bercanda seperti ini. Ayo semuanya, kita makan yuk! Gw udah lapar nih!”

Kedua orang tersebut pun tampaknya langsung berbaikan, dasar memang pasangan yang aneh. Mungkin sebenarnya satiap pasangan di dunia ini adalah pasangan yang unik. Aku pun sudah tak sabar makan nasi kari favoritku ini.

“Itadakimas!” aku pun langsung melahap satu atau dua suap. Kami pun mulai menyantap bekal masing masing. Tampaknya hari ini mataku agak nakal, aku terus melihat ke arah Sakura. Yang pasti tamagonya Sakura kelihatan cukup enak.

Memang dasar perasaan seorang perempuan memang tajam, dia pun menyadari aku penasaran akan bekalnya. Dia pun menyodorkan bekalnya, aku pun langsung merasa tak enak hati “Ah…. Tidak pa pa, kan aku sudah ada bekal.”

Dia pun menggelengkan kepalanya dengan senyumannya sambil memegang perutnya seakan mengatakan “Aku tak mau makan terlalu banyak.”

“Tak apa apa nih?” tanyaku memastikan. Dia pun menggelengkan kepalanya. Aku pun dengan agak sungkan mencoba tamago buatan Sakura. Aku pun memasukannya ke dalam mulutku, lalu terasa ada keempukan dan sedikit kegurihan, rasa manis telurnya pun terasa pas.

“Hmm… enak lho.” senyum Sakura pun melebar setelah mendengar pujianku.

“Kok aku jadi pengen juga.” Kata Reina.

“Heh, nanti Sakura sendiri gak kebagian.” Kataku.

“Gini saja, kita tukaran lauk saja. Mau gak Sakura?” kata Taka.

Sakura pun mengangguk.

Aku pun menjadi merasa bersalah, lalu aku juga menawarkan kari yang kubawa “Oh ya, Sakura. Mau sedikit kari punyaku?”

Dia pun mengangguk lagi, aku pun memberi kotak yang berisi kari. Lalu kari tersebut di tuang sedikit ke tempat nasinya. Dia pun melahap nasi dengan kari yang barusan dia ambil. Aku pun tak sabar menunggu reaksi dari dia.

Sakura pun menunjukan tanda ok pada tangannya yang kecil itu.

“Nah sekarang giliranku.” Kata Taka.

“Tidak aku dulu!” potong Reina.

Aku pun hanya tersenyum kecil melihat dua sejoli itu berantem untuk menentukan siapa yang duluan. Tapi yang pasti aku yakin bahwa Reina lah yang akan menang.

Tuh kan benar? Akhirnya Reina yang mengambil duluan. Yah… aku pun hanya bisa tersenyum melihat kebiasaan mereka sejak mereka jadian.

“Akhirnya berantem suami istri selesai juga?” aku pun berkata begitu sambil menyantap bekalku.

“Diam Lu!” teriak mereka berdua bersamaan.

Aku pun cuma tersenyum licik dan berkata “Tuh kan betul? Kalian ini kompak banget seperti suami istri. Setujukan Sakura?”

Sakura pun hanya tertawa kecil walaupun tak terdengar suaranya. Kami pun melanjutkan acara makan siang kami yang tentu saja diselingi gosip seputar sekolah termasuk tentang Kitami-sensei.

*ting tong*
Bel tanda berakhirnya istirahat pun dibunyikan. Kami pun buru buru membereskan barang-barang kami.

Kami pun menuruni tangga turun dan menuju ke kelas kita. Setelah itu pun kami pun langsung duduk di meja masing masing.

“Nah, Sakura. Asik kan tadi makan di loteng.” Aku pun iseng bertanya pada Sakura.

Dia pun tak mengeluarkan buku gambar dan pen-nya, melainkan dia menjawabnya dengan senyuman yang bisa kukatakan sangat bersinar seperti halnya senyum dewi.

Aku pun tak peduli apa pun komentarnya, tapi mungkin bukan, yang pasti itulah kata kata yang cocok menggambarkan senyumannya.

Bayangan senyumannya terus tergambar di pikiranku, sampai-sampai…..
*PLAK*

Aduh, ternyata Reina memukul kepalaku dengan bukunya.

“Hei, aku bilang berdiri! Guru sudah datang tuh!” teriak Reina.

“Eh…oh….maaf maaf.” Aku pun buru buru berdiri dari kursiku. Reina pun memberi aba aba untuk memberi salam dan seluruh kelas membungkuk untuk memberi salam pada guru yang telah masuk ruang kelas.

Akhirnya pun pelajaran pun dimulai. Yah mungkin tak ada yang istimewa selama jam pembelajaran yang ini. Tapi yang cukup mengejutkan adalah ketika kami berempat hendak pulang.

*ting tong*
Aduh, tenaga yang terkumpul saat istirahat pun hilang kembali.

“Hei Kaze, seperti biasa. Yuk pulang sama sama!” ajak Taka sambil menepuk punggungku. Aku pun berdiri sambil menenteng tasku.

Lalu kulihat Reina juga mengajak Sakura untuk pulang sama sama “Yuk, Sakura-chan kita pulang sama sama.” Lalu Sakura hanya mengangguk.

Kami pun menuruni tangga dan mengganti sepatu di tempat locker. Saat kami keluar, terlihat CLS punya keluarganya Sakura. Melihat mobil keluarganya sudah menunggu, Sakura hanya bisa menghela nafas dan raut wajahnya terlihat agak sedih.

Sesampainya di dekat mobil tersebut, keluar ibunya Sakura dari kursi pengemudi. Tampaknya kali ini mereka tak memakai supir pribadinya. Kami pun otomatis memberi salam kepada ibunya Sakura “Konbawa, tante”

“Konbawa, semuanya.” Balas ibunya Sakura.

Lalu ibunya Sakura memberikan ajakan yang agak mengejutkan buat kami “Kalau kalian tak keberatan, maukah kalian minum teh bersama kami di rumah? Tante punya sesuatu yang mau dibicarakan”

“Hmm…saya sih tak keberatan, tapi kami perlu bilang dengan orang tua saya dulu.” Kataku.

“Iya saya juga.” Kata Reina dan Taka.

Kami pun menelpon orang tua masing masing dan tampaknya mereka semua mengijinkan kami untuk berkunjung ke rumah Sakura. Kami pun memberi tahu ke ibunya Sakura bahwa kami semua bisa ikut.

Lalu kami pun di persilahkan untuk masuk ke dalam mobil tersebut. Kami bertiga duduk di kursi belakang sedangkan Sakura duduk di kursi depan bersama ibunya yang duduk di kursi pengemudi.

Jantungku yang sudah cape, berdetak kencang lagi. Seakan penuh tanda tanya dan rasa penasaran, apa yang dimaksud dengan ‘sesuatu’ itu.

Lalu CLS itu pun mulai melaju menuju rumah Sakura.

Last edited by TheSisterPrincess; 01-12-2007 at 11:01 PM..
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Old 29-10-2007, 04:25 PM   #5
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
Chapter 2: Behind the Curtain

Dalam perjalanan menuju rumah Sakura, terus terang saja aku merasa kurang nyaman. Meskipun kursi CLS sangatlah nyaman, di dalam hati masih bergema pertanyaan pertanyaan.

Yang anehnya malah Taka dan Reina malah tenang banget atau lebih tepatnya gembira. Pertanyaan pun muncul lagi di benakku “Kenapa cuma aku yang merasa cemas?”

CLS pun berhenti di rumah bertingkat dua yang tidak begitu besar tapi mempunyai design modern yang cukup bagus. Pintu garasi pun terbuka melalui remote.

Setelah mesin mobil itu dimatikan, kami keluar dari mobil tersebut dan masih terlihat beberapa box-box untuk orang pindahan. Lalu mereka disambut oleh seorang pelayan perempuan memakai baju maid ala Eropa.

“Selamat datang nyonya dan Sakura-sama. Juga selamat datang untuk para tamu tamu.” kata pelayan tersebut dengan sebuah bungkukan.

Kami pun diantar ke ruang tamu dan langsung di persilahkan duduk diatas sofa yang berada di sana.

“Ngomong-ngomong, saya belum tahu nama kalian. Kalau bisa, saya boleh tahu kan?” tanya Ibu Sakura.

Oh ya, memang betul. Ibu Sakura belum tahu nama kita. Setelah mendengar permintaan itu, aku pun langsung berinisiatif memperkenalkan diri terlebih dahulu “Oh ya, kami belum menyebutkan nama kami ya? Maaf, kalau begitu dari saya ya? Nama saya adalah Kaze Yuki.”

“Kaze? Sakura sering bercerita tentang kamu. Tolong jaga Sakura baik-baik ya?” kata Ibu Sakura. Sakura pun meresponnya dengan menggoyangkan tubuh ibunya, menunjukan bahwa dia sedeang malu.

Lalu giliran Reina memperkenalkan diri, “Perkenalkan nama saya Reina Hasuka!”

“Senang bertemu dengan mu Reina, Sakura juga cerita tentang kamu. Ternyata betul bahwa kamu itu gadis yang enejik ya?”, Ibu Sakura pun memasang senyum sekali lagi.

“Bukan tante, lebih tepatnya hiperaktif.” celetuk Taka.

*keplak*
Reina memukul kepala Taka dengan bukunya yang sudah jadi ciri khasnya itu.

“Aduh! Kok bisa-bisanya kamu masih bawa tuh buku?” tanya Taka.

“Siap-siap kalau kamu berulah.” balas Reina.

Semua orang tertawa melihat kejadian itu, lalu Taka pun mulai memperkenalkan dirinya “Kenalkan nama saya Yutaka Matsuo.”

Entah kenapa, ini perasaanku atau tidak. Aku melihat ada reaksi kaget walaupun tak tampak jelas dari ibunya Sakura.

Lalu tiba-tiba wajah ibu Sakura tersenyum lagi, “Iya, ketika Sakura bercerita tentang kalian. Wajahnya terlihat senang sekali, tampaknya dia sangat senang berada di dekat kalian. Oh ya, Setsuna!”

“Baik nyonya.” sahut pelayan tersebut.

“Oh ya, kita punya persediaan teh tidak?” tanya ibunya Sakura.

Pelayan itu berpikir sebentar “Maaf nyonya, tampaknya kita tak membawa persediaan teh.”

“Ya sudah kalau begitu, kamu tahu supermarket terdekat kan?”

“Iya nyonya.”

“Hmmm… kalau begitu, Sakura kamu ikut Setsuna pergi ke supermarket. Biar kamu tahu daerah sekitar sini. Oh ya, jangan lupa beli bahan buat makan malam.”

Sakura hanya bisa mengangguk dan ikut dengan pelayan yang bernama Setsuna tersebut ke supermarket terdekat.

Setelah mereka berdua pergi, ibu Sakura pun berbicara “Terus terang saja, saya tadi sengaja membuat Sakura pergi. Karena ada hal yang penting yang ingin saya bicara kan ke kalian semua.”

Aku pun langsung menelan ludah ketika mendengar kata ‘penting’.

Lalu ibunya Sakura pun memulai pembicaraan “Tante ingin membicarakan tentang Sakura. Tolong ya untuk tak menyampaikan ini ke Sakura.”

Wajah senyumnya ibu Sakura pun menjadi lebih serius “Mau kah kalian tetap menjadi temannya Sakura? Kalau kalian keberatan saya bisa saya akan memeberi kalian uang atau barang kalian ingin kan.”

Aku pun langsung menggebrak meja tamu “Maaf tante, bukan saya bermaksud lancang. Pertemanan bukan lah sesuatu yang bisa di beli dengan uang. Kami bertiga betul-betul rela berteman dengannya apapun kekurangan Sakura sendiri, karena pada dasarnya setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing masing.”

“Tante, apa yang di katakan Kaze benar. Kami berteman dengan Sakura dengan tulus. Tentu saja kami akan menjaga pertemanan kami sebaik-baiknya.” tambah Reina.

“Kami bertiga memang bersahabat sejak dulu. Tapi walaupun hanya baru dua hari, Sakura telah memberi warna baru diantara kami.” lanjut Taka.

Ibu nya Sakura terlihat kaget sejenak dan sedikit demi sedikit meneteskan air mata “Hiks...hiks.....syukurlah masih ada seorang teman seperti kalian.”

Aduh.....gimana nih? Aku pun bingung dan takut kalau apa yang kukatakan salah.

“Hmm....tante gak apa apa?” tanyaku.

Ibu Sakura pun menghapus air matanya dan berkata “Begini, Sakura mempunyai trauma dengan sekolahnya yang lama. Sebenarnya dia menjadi tak bisa bicara karena faktor trauma.”

Setelah menghapus semua air matanya, ibu Sakura pun melanjutkan ceritanya “Sakura dulu adalah seorang penyanyi opera yang terbaik di sekolahnya dulu. Ketika ada suatu pertunjukan, pita suaranya mengalami kelumpuhan sementara sehingga pertunjukan tersebut dihentikan di tengah jalan. Keadaan ini dimanfaatkan salah satu rivalnya yang berusaha menyingkirkannya, sampai sampai menghasut teman lainnya juga. Karena kejadian itu dia mengalami trauma yang berat, dia sampai tak berani mengeluarkan suaranya lagi.”

Air mata ibunya Sakura pun mulai tampak lagi. Kami bertiga pun saling memandang seakan bertanya lewat hati “Apa yang sebaiknya kita lakukan?”

Aku pun mulai berbicara lagi “Tante, tenang saja. Kami bertiga akan menjaga Sakura sebaik-baiknya. Terutama supaya Sakura tak mengalami trauma yang sama. Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya di tindas. Tapi saya cukup beruntung bertemu dengan kedua sahabat saya ini dulu.”

Ingatan pahit masa lalu pun sempat melintas di kepalaku, tapi aku tak mau membicarakan itu sekarang.

“Kami kembali!” terdengar suara Setsuna bersamaan dengan suara pintu terbuka. Ibu Sakura pun langsung menghapus sisa air matanya.

Terlihat Sakura berjalan riang masuk ke ruang tamu dan melihat seksama ibunya. Dia pun menunjuk ibunya lalu menunjuk matanya sendiri, seakan bertanya “Apa yang terjadi dengan matamu, bu?”

Ibu Sakura pun berusaha tersenyum dan berkata “Oh hanya tadi mata ibu kelilipan debu, kan rumahnya masih baru, jadi banyak debu.”

Wajah seriusku pun kupaksa tersenyum dan berusaha berperilaku senormal mungkin. Begitupun dengan Reina dan Taka.

Aku pun beranjak dari sofa tersebut dan berkata “Oh ya Sakura dan Setsuna-san, ada yang perlu kubantu.”

“Ah, tidak apa-apa! Ini sudah menjadi tugas saya. Mungkin yang perlu bantuan adalah Sakura-sama.” kata Setsuna sambil melihat Sakura yang kesusahan membawa kantung belanja.

“Sakura, ayo kubantu bawain barangnya.” Sakura pun langsung memberi kantung belajaannya.

Tapi terlihat dia masih memegang satu kardus.

Sambil mengangkat beberapa kantung belajaan, aku pun bertanya “Itu tak perlu sekalian kubawa?”

Sakura hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Oh tadi Sakura-sama, mampir ke satu toko kue. Dia bilang mau membelikan kue buat temannya.” kata Setsuna sambil membuka kemasan berisi teh.

Wajah, Reina pun langsung bersinar-sinar mendengar kata ‘kue’.

“Apa kue? Kue apa? Kue apa? Wah gw suka banget ama kue.” Reina langsung loncat dari sofa dan berlari menuju ke Sakura.

Sakura pun membuka kardus tersebut dan memperlihatkan ke Reina, “Wah......... strawberry cheesecake favoritku.”

“Sakura! Cepat tutup kardusnya sebelum Reina jadi buas gara-gara lihat kue!” teriak Take.

Yah, betul sih. Si Reina kalau sudah lihat kue susah dikendalikan.

Reina pun langsung menengok ke Taka, sambil tersenyum sinis pun Reina bertanya “Hmmm... ada apa Taka?”

Wajah Taka pun langsung berubah pucat, “Hahaha tak ada apa-apa kok.”

Senyum kami yang di sengaja, berangsur-angsur menjadi alami lagi. Memang Taka dan Reina mempunyai bakat membuat suasana jadi menyenangkan. Sedikitnya juga, aku sangat suka dengan cheesecake.

Sakura pun tersenyum seakan puas karena pilihannya disukai Reina. Aku pun menaruh kantung belanjaan di tempat yang ditunjuk Setsuna dan Setsuna pun mulai menyiapkan teh beserta piring untuk kue yang dibeli oleh Sakura.

“Sakura, sini duduk sebelah ibu.” Ibunya Sakuranya memanggil Sakura sambil menepuk tempat kosong disebelahnya.

Lalu kulihat Sakura menuruti perintah ibunya. Dia pun duduk dengan anggunnya seperti biasa. Ibunya Sakura pun menepuk bahunya Sakura.

“Sakura, kamu sangat beruntung punya teman yang sangat baik.” Kata Ibu Sakura dengan senyuman yang mirip dengan milik anaknya dan Sakura pun membalas senyum yang tak kalah indahnya.

Setsuna pun meletakan beberapa cangkir teh beserta piring kecil berisi Strawberry Cheesecake.

“Silahkan dinikmati.” kata Setsuna setelah menaruh semua makanan.

Kami pun memulai menyantap cheesecake yang dibeli Sakura. Karena ini pilihan dia, tentu saja rasanya enak.

Tapi tampaknya ada dua orang yang tak tahu sopan santun, yah.... siapa lagi kalau bukan kedua orang di sebelahku yang sedang rebutan satu buah Strawberry ini?

“Hey, kok kamu tiba-tiba ngambil Strawberry punyaku?” teriak Taka.

“Hmm.... habisnya aku suka sekali sama Strawberry.” kata Reina sambil terus mengunyah Strayberry yang baru diambilnya dari Taka.

Taka pun berusaha mengambil strawberry milik Reina, “Hei, berikan punya lu dong.”

“Enak saja, ini buat yang terakhir tahu.” kata Reina sambil menarik piringnya menjauhi Taka.

“Ah...aku kan juga senang Strawberry.” mohon Taka.

Sambil cuek, Reina pun bilang “Ngalah ama pacar, kenapa?”

Aku pun tak tahan dengar rengekan si Taka, “Ya sudah, mau punyaku saja?”

Taka pun cuma terdiam saja mendengar tawaranku.

“Kenapa? Tak mau yang dari gw ya?” tanyaku sambil nada meledek.

Tiba-tiba Reina menaruh strawberrynya di piring Taka, “Nih, gw kasih deh.”

Taka hanya sebentar terdiam dan memandang Reina dalam beberapa detik.

“Habisnya aku gak tahu kalau kamu suka Strawberry juga. Juga aku tak mau terlalu egois, kasihan kamu nanti.” kata Reina sambil membuang muka.

“Ah... Terima kasih....” Taka pun jadi salah tingkah.

Sementara itu pun aku, Sakura, dan Ibunya hanya tertawa geli melihat tingkah laku mereka berdua. Dasar mereka memang ahlinya mengubah suasana.

Kami pun melanjutkan perjamuan teh dan pada akhirnya jam tanganku menunjukan angka 5:30 sore. Sudah waktunya kami bertiga pulang ke rumah masing-masing. Sedikitnya pada sore ini ibunya Sakura setuju bahwa kita bertiga bisa menjemput Sakura setiap pagi. Beliau pun mau berbaik hati mau mengantarkan kita ke rumah, tapi kami bertiga menolak. Jadi kami bertiga pulang dengan jalan kaki.

Dalam perjalanan pulang tiba-tiba Reina berkata “Ibunya Sakura baik ya?”

“Iya, tapi gw agak shock bahwa kita ditawari imbalan untuk berteman dengan Sakura.” jawabku.

Taka pun berkata “Gw rasa gara-gara Sakura di tindas di sekolah dia yang lama.”

“Siapa sih dia? Aku pengen tahu.” kataku dengan nada kesal.

Taka pun terdengar sedang menghela nafas, “Sudah lah, yang masa lalu biarkan berlalu. Yang penting kita berteman sebaik-baiknya dengan Sakura agar kejadian yang sama tak terulang.”

“Tumben lu bisa ngomong dengan benar.” celetuk aku.

“Betul-betul, biasanya lu gak pernah ngomongin sesuatu yang benar.” kata Reina.

Taka pun terkejut mendengar respon kita, “Ehhh... masa sih?”

Aku dan Reina pun tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Taka.

“Tapi.....apakah menurut kalian tadi aku marah merupakan hal yang salah?” tanyaku.

Reina pun menjawab “Menurutku tak apa-apa, malah mungkin dengan marah spontan kamu secara tidak langsung menunjukan keseriusan kita berteman dengan Sakura.”

“Iya menurut tak apa-apa kok. Aku puji kamu sudah bertindak sebagai laki-laki. Kuberi kau nilai 100 muridku.” kata Taka sambil menepuk pungguku beberapa kali.

“Siapa murid mu?” kataku.

Kami bertiga kembali tertawa dan pada akhirnya di satu perempatan kami harus berpisah menuju rumah masing-masing. Aku pun mampir sebentar ke mini market terdekat.

Yah, seperti biasa aku mau membeli beberapa cemilan dan majalah disana. Seperti biasa ketika aku sampai disana, aku diucapkan selamat datang oleh kasir mini market tersebut. Kuambil beberapa kotak Pocky, Caramel Corn, dan majalah Option 2 edisi yang terbaru. Kubayar semua belanjaanku di kasir dan segera aku keluar dengan sedikit berlari menuju rumahku.

“Aku pulang!”, aku pun langsung melepas sepatu dan menuju kamarku untuk ganti baju. Setelah itu aku segera menuju ruang makan untuk makan malam.

“Tadi bagaimana Kaze?” tanya mamiku.

“Tak ada yang istimewa.” jawabku.

Mamiku terus menerus masak-memasaknya. Sedangkan papi terus asik membaca koran. Daripada tidak melakukan apa-apa, kubuka bungkus majalah yang kubeli tadi. Sedikitnya ada satu artikel yang menarik untukku, yaitu tentang kembalinya Devil Z yang berhadapan dengan 350Z misterius berwarna hitam.

Pada akhirnya, makan malam pun akhirnya tersedia. Sebagaimana keluarga makan malam, tentu saja kami masing-masing bercerita tentang kejadian pada hari itu. Seperti papi yang harus menghadapi klien yang rewel, mami yang ngegosipin tetangga, dan tentu saja aku bercerita tentang kunjunganku ke rumah Sakura.

“Gochisosama.”, aku pun langsung pergi ke kamarku sambil membawa majalah yang baru kubeli.

“Kaze, hari ini ada PR?” tanya mamiku.

“Tidak ada, tapi hari ini aku agak cape. Jadi setelah mandi aku mau nyantai.” jawabku dari tangga.

“Baik lah kalau begitu.” jawab mamiku.

Aku pun menaiki tangga dan segera menuju kamar mandi. Kutanggalkan bajuku, shower mulai mengeluarkan air hangat, dan aku masuk ke shower box tersebut. Pikiranku kosong ketika di dalam shower box. Setidaknya aku bisa melupakan sebentar pikiran yang mengganjal di dalam kepalaku.

Setelah mandi, kukeringkan tubuhku, dan langsung memakai pakaian yang tadi kupakai. Setelah masuk ke kamarku, aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang springbed kesukaanku. Langsung kunyalakan lampu baca dan mulai kulanjutkan membaca artikel yang tadi.

Entah kenapa kali ini aku tak begitu bisa konsentrasi membaca majalahku kali ini. Masih terbayang wajah terkejut ibu Sakura ketika mendengar nama lengkap Taka. Aku pun berusaha berpikir bahwa itu hanyalah perasaanku, tapi terus terang saja tak mudah untukku untuk merubah pikiranku sendiri. Juga kepalaku juga campur aduk dengan wajah senyumnya Sakura. Mungkin benar kata Taka bahwa orang bisa jadi bodoh karena jatuh cinta.

Aku pun terus membaca majalahku dan akhirnya kubuka satu kotak pocky juga aku mainkan lagu-lagu di album TRUE dari Mika Nakashima di Sony Boombox kesayanganku. Memang bisa dibilang suatu kebiasaan buruk makan di atas ranjang. Tapi beginilah kalau aku ingin relaks, baca majalah, nyemil, dan mendengar lagu diatas ranjang.

Secara tak sadar jam sudah menunjuk angka 10:00 malam. Sudah waktunya untukku tidur. Dengan segera aku ke wastafel untuk sikat gigi dan segera aku menuju ranjang untuk tidur.

Sebelum tidur, terlintas di pikiranku “Apa pun yang terjadi, aku akan menjaga agar Sakura terus tersenyum.”

Last edited by TheSisterPrincess; 01-12-2007 at 11:03 PM..
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Old 01-12-2007, 11:05 PM   #6
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
Chapter 3: Deep Within

Aku melihat tanganku bersimbah darah. Kulihat beberapa anak dengan seragam sekolahku terkulai lemas dan bersimbah darah. Kepalaku sakit sekali, kutengokan kepalaku untuk melihat sekelilingku dan kulihat Sakura sedang duduk terkulai lemas dengan pakaian yang tersobek-sobek.

*kring kring*
Aku langsung terbangun dari mimpi burukku itu. Aku mendesah untuk beberapa detik. Jam 7 pagi sudah diperlihatkan oleh jam wakerku. Entah kenapa aku bisa bermimpi buruk, mungkin karena aku terlalu banyak memikirkan tentang Sakura kemarin.

Tapi entah bagaimana mengungkapkan perasaan ini, aku mau bertemu dia tapi ada keraguan di hatiku yang mengatakan akan ada masalah jika aku terus bersamanya. Tapi bagaimana pun aku harus pergi ke sekolah hari ini.

Setelah kegiatan pagi yang biasa kulakukan, aku pun akhirnya berangkat ke sekolah. Oh ya, hampir lupa bahwa aku harus menjemput Sakura di rumahnya. Aku pun langsung berjalan menuju arah rumahnya.

Kebetulan aku juga bertemu Taka di suatu perempatan.

“Hmm? Kenapa wajah lu? Tampaknya surem banget?” tanya Taka.

Aku pun dengan dengan berat hati menjawab “Tidak, hanya tadi bermimpi masa lalu dan anehnya aku juga melihat Sakura disana.”

Kami pun hening sejenak, lalu Taka memukul pundakku “Hahaha dasar kamu ini. Sejak dulu kamu itu sering terlalu serius memikirkan hal yang kecil-kecil. Lagipula, aku yakin Sakura itu gadis baik yang tak akan membuang temannya begitu saja gara-gara masa lalunya. Lagipula itu hanya mimpi kok jangan terlalu dipikirkan.”

Aku pun mulai sedikit tersenyum, tapi entah kenapa dadaku ini masih terasa sesak. Pada akhirnya kami pun sampai di depan rumahnya Sakura dan tampaknya Reina sudah sampai dulu.

“Hei, O-ha-yo” sapa Reina dengan semangat.

“Ohayo.” balas kami.

Tak lama terlihat Setsuna keluar dari pintu depan rumah tersebut, “Maaf, agak lama. Sakura-sama silahkan.”

Lalu terlihat sang matahari pagi pujaanku. Entah kenapa aku jadi bisa merasakan kelegaan dalam hatiku ini dan melupakan sementara perasaan sesak yang tadi kualami. Kami pun mulai memulai hari ini yang semoga lebih baik dari hari sebelumnya.
Reina pun langsung menyapa Sakura, “Sakura-chan, apa kabar mu hari ini?”

Sakura pun dengan tersenyum mengepalkan tangannya di depan dadanya, mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.

Bagiku selama Sakura baik-baik saja, aku pun akan merasa ikut senang. Entah kenapa aku jadi mulai peduli kepada seseorang cewe yang sedang berjalan dengan anggunnya di depanku ini. Tampaknya aku mulai sadar bahwa aku mulai menyukai Sakura.

Gadis yang elegan, sopan, sederhana, dan yang paling kusuka adalah kecantikannya yang natural. Kurang apa coba? Mungkin yang kurang ada pada diriku yaitu keberanian mengungkapkannya. Tapi tampaknya masih terlalu cepat untuk mengungkapkannya sekarang. Biarlah waktu yang tepat akan datang.

Lama-kelamaan aku pun tersenyum kembali. Langit cerah, udara hangat, dan senyuman bidadari, hari ini benar-benar hari baru yang indah, alangkah bahagianya jika setiap pagi aku mengalami ini.

“Hei, Kaze!” panggil Taka.

“Yep? ada apa?” balasku.

“Besok kan hari sabtu, yuk kita ke kota sama-sama!” ajak Taka.

Sementara aku sedang berpikir, Reina juga mengajak Sakura “Sakura-chan kamu juga ikut ya?”

Tentu saja kalau Sakura ikut, aku juga harus ikut. Jadi aku menunggu jawaban dari Sakura terlebih dahulu.

Sakura pun memikirkan hal tersebut untuk beberapa lama dan akhirnya dia menganggukan kepalanya menandakan dia mau ikut ke kota.

“Baiklah, gw juga ikut.” kataku setelah tahu keputusan Sakura.

“Memberi jawaban aja lama.” sindir Reina.

Aku pun membalas “Terserah gw dong.”

“Tumben, biasanya untuk mengajak pergi lu harus dipaksa dulu.” tambah Taka.

Aku pun tak bisa menjawab apa-apa lagi dan secara tak sengaja aku bertemu mata dengan Sakura. Dia pun langsung memalingkan muka dengan tersenyum malu. Aku pun tak tahu harus berbuat apa, selain menggaruk kepalaku.

Tiba-tiba aku tanpa sadar tertawa cukup keras dan membuat kaget Taka, Reina, dan tentu saja Sakura.

“Lu, kenapa? Lagi sakit demam ya kamu ini?” tanya Taka.

Aku pun menepuk kepala Taka, “Tidak, hanya gw merasa lucu. Kok bisanya gw berteman akrab dengan kalian?”

*keplak*
Reina memukul kepalaku dengan bukunya lagi, “Udahlah jangan terlalu jadi pemikir, enjoy saja apa yang terjadi sekarang dan masa depan. Bukan kah moto kita sejak dulu adalah itu? Lagipula kalau ada masalah, kita akan membantumu. Bukankah begitu Sakura?”

Sakura cuma mengangguk dengannya senyumannya yang sangat indah itu sekali lagi. Dalam hati aku berkata “Tak heran aku bisa jatuh hati padanya.”

Sahabat dan seorang wanita yang membuatku jatuh cinta, sekilas aku bersyukur bahwa aku hidup di dunia yang kuanggap membosankan sebelumnya. Tampaknya keputusanku masuk ke Denatake Gakuen tak salah.

Kami pun berjalan hingga sampai di sekolah dan segera menuju ruang kelas kecuali Reina yang harus menemui Kitami-sensei terlebih dahulu.

Aku pun seperti biasa duduk di kursiku, begitu juga Sakura dan Taka duduk di kursi masing-masing. Sambil menunggu kelas perwalian dimulai, aku pun memulai pembicaraan, “Jadi kita besok mau ngapain nih?”

“Seperti biasa, gw mau ke arcade center.” jawab Taka.

Aku pun menghela nafas, “Mau main maximum tune lagi?”

Taka dengan senyum menjawab “Iya dong, apa lagi game yang kita mainkan di arcade center?”

“Tenang saja, elu gak bakalan menang dari gw.”, aku pun tak tahan lagi untuk meledek si Taka.

“Jadi lu mau bilang R32 gw lebih lambat dari Z33 lu huh?” kata Taka dengan nada tinggi.

Aku pun membalas, “Ternyata lu mengerti juga apa yang gw maksud.”

Takapun membalas “Jadi....kita tentukan dengan...JAN KEN.”

“PON!” teriakku sambil mengayunkan tanganku.

*keplak keplak*
Tiba-tiba Reina memukul kepala kami lagi dengan buku.

“Kalian ini! Pak guru sudah datang tuh!” teriak Reina yang dibarengin tawa dari seluruh kelas dan Kitami-sensei.

Kami berdua pun sambil mengelu-elus bagian kepala yang dipukul Reina kembali ke bangku kami. Seperti biasa, Kitami-sensei mengabsen kami seperti biasa. Suasana yang damai dan tenang pagi ini, matahari yang hangat, angin yang sejuk, ditambah kicauan burung.

Kali ini selain aku melihat keluar jendela, aku juga melihat rambut hitam panjang yang indah melambai-lambai karena tiupan angin. Pelajaran hari ini dimulai dari matematika yang membuat kita dibingungkan oleh sin, cos, dan tan, atau dengan kata lain triogono-apalah.

Lalu pelajaran Fisika, Kitami-sensei pun kembali memasuki kelas kami. Topik hari ini adalah gravitasi, yang terus terang membuatku ingin mencaci maki si tuan Newton.

Lalu berikutnya adalah pelajaran biologi yang penuh dengan nama-nama latin yang aneh bin ajaib.

Setelah pelajaran yang aneh-aneh itu, akhirnya waktu istirahat pun tiba. Dengan tak sabar, kami pun langsung mengambil bekal kami dan pergi ke markas rahasia kami alias loteng gedung sekolah.

Kami pun mengobrol sambil menikmati bekal yang kami bawa.

“Oh ya, Sakura! Ngomong-ngomong kamu jadi terkenal lho.” kata Reina.

Sakura menanggapinya dengan senyuman sedangkan aku secara tak sadar mengkerutkan mukaku.

Taka pun menambahkan “Wah, Kaze harus extra hati-hati nih.”

Aku pun secara reflek memukul bagian belakang kepala Taka cukup keras.

“Wah-wah, ada yang cemburu nih....” ledek Reina.

Aku pun cuma membuang muka sambil berkata “Berisik ah!”

Sementara Sakura cuma terlihat tersipu malu. Aku pun hanya bisa melanjutkan makanku dengan muka agak memerah karena malu. Memang sih, akhir-akhir ini popularitas Sakura naik dengan cukup pesat tapi cuma kami saja yang bisa berbicara dengan Sakura.

Aku pun tak tahu apakah ini hal yang baik atau bukan. Tapi sekali lagi, bagiku yang terpenting adalah kebahagiaan Sakura.

Acara makan siang yang kebetulan berjalan cukup damai tanpa adanya rebutan makanan antara Taka dan Reina pun akhirnya diakhiri oleh bel berakhirnya istirahat siang. Terus terang, bagiku hari ini berjalan terlalu damai buatku.

Kami pun berjalan menuruni tangga, tapi ketika di lantai dua Sakura memberi tahu kita bahwa dia mau pergi ke toilet sebentar. Tanpa perasaan curiga apa pun kami bertiga masuk ke dalam kelas.

“Udah tiga hari ya sejak dia datang?” tanya Taka.

Reina pun menjawab, “Iya, tapi dia sudah memberikan warna baru diantara kita bertiga.”

“Tapi tampaknya yang paling berubah adalah Kaze.” ledek Taka.

“Masa sih?” kataku.

Lalu Reina menambahkan “Iya betul, sejak ada dia senyumanmu itu juga tampak lebih hangat dibanding sebelumnya..”

Aku kehilangan kata-kata untuk menyangkal lagi, soalnya tak ada satupun kata-kata dari sahabatku ini yang salah satupun. Tak lama Miyabi-sensei memasuki ruangan kelas menandakan pelajaran bahasa Inggris dimulai. Reina pun langsung memberikan aba-aba, tapi yang ganjil adalah Sakura belum ada di kursinya.

Rasa khawatirku pun muncul dan aku pun berkata ke Miyabi-sensei “Teacher, can i go to toilet?”

“Sure, you can.” Miyabi-sensei mengijinkan.

Tanpa membuang satu detik pun, aku berlari menuju toilet berada. Aku lihat seorang murid wanita keluar dari toilet dan dia langsung kutanya “Apa masih ada orang di dalam?”

Dia pun cuma menggeleng-gelengkan kepalanya dan terdiam mungkin karena kebingungan melihat wajah panikku. Aku pun langsung berlari lagi ke sekeliling sekolah dan sampai akhirnya aku melihat Sakura dari kaca jendela lantai 2.

Aku bertambah panik setelah melihat bahwa Sakura dibawa secara paksa oleh beberapa murid kelas 2 dan 3 menuju gudang olah raga yang berada di lapangan. Aku tak tahu alasannya mereka memperlakukan Sakura sekasar itu, tapi aku sudah bisa menebak bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang tidak baik ke Sakura.

Marah, cemas, senewen dan perasaan lainnya yang tak baik buat jantung berkecamuk dalam hatiku. Dengan secepat-cepatnya aku berlari ke arah gudang tersebut.

Sesampainya disana, pintu masuk gudang dijaga oleh dua murid kelas dua dengan badan yang cukup besar dan tinggi.

“Hei, ngapain lu disini. Bocah kelas satu tak ada urusannya pergi sana! Atau gak, lu tahu sendiri akibatnya.” kata salah satu murid kelas dua itu.

Aku pun langsung membalas dengan nada marah, “Minggir kalian! Tentu saja aku ada urusannya! Tadi aku melihat Sakura dibawa kedalam, apa yang akan kalian lakukan?”

Lalu salah satu mereka menjawab, “Tentu saja kami akan bersenang-senang dengannya. Tapi sebelumnya kami akan mematahkan satu atau dua tulang kamu terlebih dahulu.”

Salah satu dari mereka mengayunkan tinjunya kearahku, tapi aku hindari tinju tersebut dan kubalas pukul tepat diwajah sehingga tulang rahang dia berubah posisi. Hasilnya yang kutinju pertama langsung pingsan saat itu juga.

Yang satu lagi berusaha memukulku dari belakang, aku pun langsung memegang tangannya dan langsung menghantam perutnya dengan lututku. Dia pun juga langsung jatuh pingsan.

Aku langsung berusaha membuka pintu gudang tersebut, tampaknya selagi aku berurusan dengan kedua orang tersebut mereka berhasil memblokir pintu tersebut rapat-rapat.

Aku sangat tahu bahwa waktu yang kumiliki tak sedikit. Aku berlari memutari gudang tersebut dan menemuka jendela kaca yang letaknya cukup tinggi.

Segera kupanjat pohoh yang terdekat dan aku pun meloncat masuk dengan memecahkan dan menerobos kaca jendela tersebut.

“SAKURA!!!!!” aku berteriak dan terjatuh sampai terguling beberapa kali. Rasa sakit pada tubuhku tak kupedulikan dan langsung aku berdiri. Kulihat satu orang menindih tubuh Sakura dan empat orang lainnya memegang erat tangan dan kakinya.

Orang yang menindih Sakura terlihat memegang beberapa sobekan kain yang ternyata adalah sobekan baju seragam Sakura. Melihat baju Sakura yang terobek-robek dan air matanya membuat rasa amarahku tak terbendung lagi.

Langsung kulayangkan tendangan ke kepala orang yang menindih Sakura, hasilnya orang tersebut langsung terpental jauh. Lalu ke empat orang lainnya berdiri dan mulai menyerangku.

Tanpa ragu aku memukul, menendang, dan bahkan melempar mereka. Aku mengamuk dan berteriak tak terkendali seperti monster. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah bagaimana menghabisi mereka semua yang telah berniat tak baik pada Sakura.

Secara tak sadar ke empat orang tersebut telah tergeletak tak berdaya di sekelilingku. Tapi aku tak sadar bahwa diantara lima orang tadi, ada yang masih punya tenaga untuk memukul bagian kepalaku dengan tongkat bat.

Tentu saja darah mengalir deras dari kepalaku, menambah berkas darah di baju seragamku. Sebagai balasannya, aku merebut tongkat bat itu dan langsung menghujamkannya pada perutnya dan dia langsung pingsan detik itu juga.

Kulempar tongkat bat tersebut dan kulihat tapak tanganku yang bersimbah darah. Kulihat juga Sakura terkulai lemas sambil gemetaran dihadapanku. Pemandangan mengerikan seperti di mimpiku tadi malam.

Aku pun menutupi tubuh Sakura yang hampir memperlihatkan bagian tubuh pribadinya dengan jas seragam sekolah yang telah ternodai oleh darah yang sebagian besar disebabkan dari luka di kepalaku. Setelah itu secara tak sadar aku berlari ke arah luar gudang. Kulihat Reina dan Taka berlari dari arah berlawanan. Tapi tak kuhiraukan mereka dan tetap berlari menjauhi mereka.

Taka pun berteriak “Hei Kaze! Apa yang terjadi?”

Aku tak menjawab dan tetap berlari menjauh menghindari mereka. Walaupun rasa sakit akibat pukulan di kepalaku tadi masih sangat terasa, aku tak peduli dan tetap berlari.

Tak lama aku rubuh karena mulai kehilangan kesadaran. Taka pun langsung berusaha menolongku, “Hey! Kaze! Kaze!”

Aku yang mulai kehilangan kesadaran berkata “Taka, maafkan aku jika aku telah melanggar janji yang telah kita buat.”

Mataku semakin berat, dengan pandangan agak buram aku melihat Reina berjalan dengan Sakura yang mengenakan jas seragamku. Sakura segera lari mendekatiku dan menggoyangkan tubuhku yang tak berdaya. Dia menangis, air matanya dapat kurasakan dengan tubuhku ini, ingin rasanya aku menghapus air matanya dengan tanganku. Sayang tanganku sudah tak mampu kugerakan, untuk bicara “Jangan menangis, Sakura” saja tak mampu.

Lambat laun pandanganku jadi gelap gulita, dengan kata lain aku kehilangan kesadaran. Dalam kegelapan itu aku bisa merasakan bagaimana rasanya jika aku mati nanti. Rasanya damai sekaligus sedih karena terus terbayang wajah sedih dari Sakura.
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Old 01-12-2007, 11:07 PM   #7
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
Lambat laun aku melihat seberkas cahaya. Setelah aku sadar, aku melihat diriku sedang berbaring diatas ranjang di suatu ruangan yang sangat asing untukku. Kulihat sekelilingku dan pertama yang kulihat adalah Sakura yang menangis disamping ranjang tempat aku berbaring.

Kali ini aku punya kekuatan untuk mengangkat tanganku dan mengelus kepalanya Sakura.

“Maaf, pasti kamu takut dengan diriku yang sekarang ya?” kataku dengan agak berat.

“Bodoh, Sakura-chan itu bukannya takut padamu melainkan khawatir dengan keadaanmu.”, kata Reina yang kulihat sedang berdiri di sebelah Taka di sudut ruangan tersebut.

“Kalian? Ini dimana?” tanyaku.

Taka pun menjawab sambil melangkah mendekatiku, “Jelas-jelas ini di rumah sakit. Setelah kamu pingsan, UKS langsung memanggil kira-kira delapan ambulans buat kamu dan korbannya kamu juga. Kamu itu.....”

“Taka, maafkan aku.....” aku meminta maaf sekali lagi.

Takapun mengetuk kepalaku “Sudahlah, anggap saja ini pengecualian dengan alasan membela diri dan untuk melindungi orang yang penting buat kita. Yang penting sekarang kamu harus hibur Sakura, karena dialah yang paling khawatir dengan keadaan lu.”

Aku pun memandang wajah Sakura, masih terlihat sisa bekas air mata di wajahnya. Pada saat yang sama, Taka dan Reina keluar dari ruangan tersebut.

“Sakura....aku....” sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Sakura loncat memelukku. Tubuhku yang penuh rasa sakit bisa melupakan rasa sakitnya, hangatnya pelukan ini terasa sampai di hati.

Aku hanya bisa mengelus rambutnya yang lembut tersebut dan berkata “Maaf telah membuatmu khawatir Sakura.”

Sakura melepaskan pelukannya dan langsung menghapus air matanya. Diambilnya notes kecil dan sebuah pen, dia pun menulis “Tak apa, hanya saja aku sungguh-sungguh takut jika terjadi sesuatu padamu.”

Aku pun tersenyum dan berkata “Hahaha, tenang saja. Sekarang aku baik-baik saja, dulu sudah terbiasa begini kok. Yang pasti, aku juga bersyukur kamu tak apa-apa.”

Sakura pun menjawab kembali dengan menulis di notesnya, “Ya, aku juga bersyukur kamu tak mengalami luka yang serius.”

Lalu tiba-tiba terdengar suara pintu dan terlihat seseorang yang hampir bisa dipastikan bahwa dia seorang dokter dari jubah putihnya.

Dokter tersebut membetulkan kacamata, lalu bicara ke aku “Ternyata kamu lagi, kukira sejak kamu masuk SMA kamu akan berhenti berkelahi ternyata....”

“Yah, sensei. Habis bagaimana lagi, aku harus melindungi seseorang.” kataku dengan senyum.

Dokter yang kebetulan sudah akrab denganku tersenyum sambil menulis sesuatu diatas kertas, tak lama kemudian dia berkata “Aku hanya berharap ini terakhir kalinya kamu datang dengan terluka di rumah sakit. Baiklah, kali ini kamu tak mengalami luka yang benar-benar serius. Kamu boleh pulang hari ini juga, paling setiap hari perbannya perlu diganti dan diberi alkohol. Datanglah lagi minggu depan untuk diperiksa kembali.”

Akupun meraba-raba perban yang dililitkan di kepalaku dan menjawab “Baiklah, terima kasih sensei.”

Sakura keluar ruangan itu terlebih dahulu, ketika aku hendak keluar dokter tersebut berpesan “Jika kamu terluka karena harus melindungi sesuatu yang berharga, dengan senang hati aku akan mengobati lukamu.”

Aku pun hanya merespon dengan senyum dan menutup pintu ruangan tersebut. Diluar sudah menunggu Taka dan Reina.

“Oh, jadi lu sudah boleh pulang dari rumah sakit?” tanya Taka.

Aku pun menjawab “Iya, jadi besok kita bisa pergi ke kota seperti yan direncanakan sebelumnya.”

Taka menyerahkan tas ransel milikku dan kami pun mulai melangkah untuk keluar gedung rumah sakit. Tapi di depan pintu kami dicegat oleh sekelompok ibu-ibu dengan wajah seram.

“Kamu Kaze Yuki?” tanya salah satu ibu-ibu tersebut.

Aku pun dengan perasaan bingung menjawab “I...iya, ada apa ya?”

“Kami adalah orang tua dari anak yang kamu pukuli siang ini, kami tak bisa mentolerir kekerasan terjadi pada anak kami. Maka oleh sebab itu kami akan menuntut pertanggung jawaban dari kamu.” jawaban dari salah satu ibu-ibu.

Jawaban tersebut mengundang kemarahan Taka, “Apa! Mereka itulah yang hendak melakukan sesuatu yang buruk pada Sakura! Jadi anda sekalian tak berhak bicara seperti itu!”

“Bukannya selain Sakura Nishirei, kalian semua adalah tiga berandalan dari SLTP Sukahako? Oleh sebab itu kami tak bisa mempercayai kalian begitu saja.” kata ibu-ibu tersebut.

“Brengsek, dengarkan kataku sekali-kali...”, sebelum Taka menyelesaikan kata-katanya Reina menghentikannya dengan memegang pundaknya dan menggelengkan kepalanya.

Lalu Reina dengan tenang berkata “Begini, disini ada Sakura yang jelas-jelas jadi korban dari kenakalan anak ibu. Kaze hanya datang menolong Sakura dari kenakalan mereka, bukannya itu alasan yang cukup untuk memukul anak ibu? Bukankah begitu Sakura-chan?”

“Omong kosong! Dia kan bisu, mana bisa bersaksi untuk kalian? Yang pasti saya akan melaporkan kejadian ini ke kepala sekolah, karena saya yakin anak saya adalah anak yang baik, tidak seperti kalian anak-anak berandalan.”, kata-kata ibu tersebut membuat hati kita panas.

Tapi aku hanya terdiam, karena merasa bersalah telah menyeret Taka, Reina, dan Sakura ke masalah yang telah aku buat. Aku tak berani berkata karena takut memperburuk masalah. Tapi entah kenapa Sakura maju kedepan dan memperlihatkan baju seragamnya yang telah robek dan sebuah tulisan “Inilah bukti saya dicabuli oleh anak ibu, semua yang dikatakan teman saya adalah benar.”

Tapi ibu-ibu yang menyebalkan itu tetap melawan “Siapa tahu itu bukti palsu yang kalian buat sendiri untuk menjatuhkan martabat keluarga kami yang terkenal kaya ini.”

“Kalau ibu-ibu sekalian masih bersih keras ini bukan disebabkan oleh anak anda sekalian, bagaimana kalau kita selesaikan di pengadilan?” kata seseorang yang ternyata adalah ibunya Sakura yang datang bersama seseorang yang kelihatannya terkenal namun aku lupa siapa dia.

Ibu-ibu tersebut terlihat sangat terkejut melihat ibunya Sakura dan seseorang yang ikut bersamanya.

Lalu Taka berbisik, “Itu bukannya pengacara yang terkenal?”

Reina membalas dengan bisikan juga, “Rasanya iya, aku sering lihat di berita.”

Sementara aku hanya kaget karena ibu Sakura sampai datang kesini. Sementara itu ibu-ibu tersebut langsung membungkuk-bungkuk di depannya ibu Sakura, entah apa yang membuat mereka langsung merubah sikapnya.

Yang pasti sekarang aku bisa sedikit bernafas lega karena tampaknya masalah sudah terselesaikan yang ditandai oleh perginya ibu-ibu tersebut.

“Kaze-kun, kamu tak apa-apa?” tanya Ibu Sakura.

Aku pun dengan sedikit terbengong menjawab, “Iya, terima kasih atas bantuannya.”

Ibunya Sakura dengan tersenyum, membalas “Ini tak sebanding dengan pertolonganmu atas Sakura. Saya sampai tak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih yang pantas.”

“Ah....tidak apa-apa. Lagipula bukannya wajar kalau seorang teman menolong temannya?” jawabku.

Ibu Sakura tersenyum sekali lagi, “Baiklah, kalau begitu tante akan mengantar kalian pulang.”

Kami pun tak menolak ajakan itu karena letak rumah sakit dengan daerah kita cukup jauh. Seperti biasa, ibu Sakura mengendarai CLS-nya lalu mengantarkan kami ke rumah masing-masing. Sedangkan pengacara tadi pergi terlebih dahulu dengan sebuah taksi.

Walaupun bau alkohol tercium cukup tajam dari perban di kepalaku, kali ini aku bisa merasa cukup nyaman duduk di dalam mobil ini. Mungkin karena aku merasa lega sudah melakukan sesuatu yang benar hari ini.

Dalam perjalanan aku melihat tapak tanganku dan mengepalkannya. Aku merasa lega bahwa sedikitnya tinju ini akhirnya bisa bermanfaat untuk melindungi seseorang yang berharga untukku, bukan untuk berkelahi yang tak jelas tujuannya.

Ibu Sakura mengantarkan Taka dan Reina terlebih dahulu. Aku pun diantarkan terakhir ke rumahku.

Sesampainya di depan rumahku, aku segera keluar dari mobil tersebut dan segera mengucapkan “Terima Kasih, untuk telah mengantar saya pulang.”

Ketika aku mau membuka pintu pagar rumahku, tiba-tiba Sakura mencium pipiku. Aku sempat kebingungan dan makaku merah padam. Muka Sakura juga memerah dan dia segera kembali ke mobil.

Aku hanya terus terbengong melihat mobil itu terus pergi menjauh. Lalu pelan-pelan aku melangkah masuk rumah.

Tentu saja orang tuaku terkejut melihat perban diatas kepalaku ini. Mereka langsung menanyakan apa yang terjadi dan langsung kujawab apa saja yang ditanyakan mereka. Tapi karena badanku sudah capek dan sakit-sakit semua, maka aku menjawab cepat semua pertanyaan mereka sambil menikmati makan malam.

Setelah makan malam pun aku langsung tidur-tiduran diatas ranjang karena badanku meminta sendiri untuk diistirahatkan. Aku meraih telepon genggamku untuk menelpon Taka untuk menanyakan rencana besok.

“Yo, Taka! Bagaimana besok?” tanyaku.

Dia pun menjawab “Besok ngumpul di depan rumah Sakura jam 10 pagi.”

Akupun berkata “Baiklah. Ada yang ingin kuceritakan.”

“Apa?” tanya dia.

Aku pun terdiam sebentar dan menjawab “Tadi Sakura mencium pipiku setelah mengantarku tadi.”

“APA!!!!” teriakan Taka cukup membuat telingaku sakit.

Lalu setelah teriakan tersebut dia berkata “Wah, hebat banget lu, bisa dapat ciuman dari cewe yang baru dikenal 3 hari. Mungkin aksi penyelamatanmu yang menyebabkan hal seperti ini. Hahaha..... tampaknya lu jadi pangeran berkuda putihnya dia nih. Suit-suit! Hei Seksi!”

“Diam lu cowo narsis! Ya.....tapi.......aku jadi gak tau aja gimana ngehadapin Sakura besok hari.” kataku sambil menggaruk kepala.

“Tenang saja saudaraku, aku bukan cowo yang melupakan hutang budiku begitu saja. Besok akan kubantu lu supaya kamu makin dekat ama dia. Kamu tenang saja. Yuk!” Taka langsung menutup teleponnya.

Bantuan darinya membuat aku tambah khawatir. Kenapa? Karena yang membuat dia jadian dengan Reina adalah aku. Tapi.....entah kali ini aku merasa akulah yang butuh bantuan. Memang benar, orang jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta.

Aduh......tampaknya aku dihadang masalah yang lain yang tampaknya lebih runyam dibanding tadi. Ah..... ingin rasanya berteriak sekerasnya. Kali ini, aku benar-benar semakin jatuh cinta lagi. Aku tak bisa memikirkan apa-apa lagi, rasa-rasanya aku sudah menjadi gila.

Yang bisa kulakukan hari ini adalah tidur, mungkin pikiranku bisa sedikit benar setelah tidur. Aku pun memutuskan untuk tidur.

Setelah sikat gigi, aku pun berbaring diatas ranjang. Aku pun memegang pipi kiriku yang masih terasa hangat yang berasal dari bibirnya Sakura. Tampaknya aku memang perlu bantuan Taka kali ini, tapi entah apa yang direncanakannya besok.
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Old 07-02-2008, 01:18 AM   #8
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
Chapter 4: Going Down to Earth

Aku terbangun tanpa bunyi alarm dari jam wakerku. Sambil dengan mata setengah tertutup aku melihat jam sudah menunjukan pukul 6:30 pagi dengan alarm yang kusetel pada jam 7.

Tampaknya aku terbagun oleh dua hal, pertama adalah rasa aneh pada bagian kepala yang diperban dan kedua adalah rencana si Taka yang membuatku sedikit khawatir. Dengan menghela nafas, aku mematikan alarm yang tak berbunyi pagi ini.

Aku pun segera pergi ke kamar mandi untuk mandi dan segala macam yang biasa dilakukan orang pada pagi hari. Tapi yang membedakan kali ini hanyalah acara mengganti perban di kepalaku setelah mandi.

“Uh.....perban ini menyebalkan.”, aku pun bergumam sendiri di depan cermin wastafel sambil melilitkan perban. Setidaknya darahnya tak mengalir sederas kemarin. Tapi setidaknya aku masih memikirkan cara menutup perban menyebalkan ini. Setidaknya aku harus berpenampilan yang cukup keren di depan Sakura, dong.

Tak peduli kata-kataku yang dulu kepada Taka tentang cowo narsis. Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana tampil maksimal di depan Sakura. Hanya dengan celana dalam, aku melihat semua isi lemari bajuku untuk mencari kombinasi pakaian yang paling bagus.

Karena terlalu asik mencari setelan yang pas, secara tak sadar mamiku sudah berdiri di dekat pintu kamarku sambil, “Ehem....tak biasanya kamu cari baju sampai begini, biar mami tebak. Pasti kamu mau pergi dengan Sakura.”

Wajahku pun menunjukan bahwa tebakannya benar dan mami hanya tersenyum sambil masuk ke kamarku.

“Sini biar mami yang milihin, kan selera berpakaianmu kan jelek.”, akupun tak berkutik apa-apa ketika mamiku mulai memilihkan pakaian untukku. Tak lama kemudian mami memberikan satu set pakaian yang terdiri dari satu t-shirt hitam, satu kemeja hitam dengan garis-garis putih vertikal, celana panjang jins hitam, dan sebuah kalung salib berwarna silver.

“Yap, dengan ini percaya deh kamu pasti jadi keren.” kata mamiku.

Aku menerima pakaian-pakaian tersebut dan akupun berkata “Terima kasih, tapi apa yang harus kulakukan untuk menutup perban ini? Kan malu juga jalan-jalan dengan perban di kepala.”

Mamiku berpikir sebentar lalu melihat isi lemari sekali lagi.

“Sudah pakai ini saja.” kata mamiku sambil menaruh topi kupluk diatas kepalaku.

Akhirnya lengkap sudah yang diperlukan olehku untuk pergi, aku pun tak lupa mengucapkan “Terima kasih mami.”

Mamiku pun dengan tersenyum keluar dan menutup pintu kamarku. Dengan segera kupakai pakaian yang dipilih tadi dan kulihat di kaca.

Memang benar baju yang dipilih tadi membuatku jadi keren.

Hahaha, aku pun jadi ingin mentertawakan diriku sendiri. Tak biasanya aku bisa melihat diriku yang rapi begini, walaupun terus terang saja aku merasa kurang nyaman memakai pakaian ini. Maklum, aku tak biasa pakai baju yang ribet-ribet.

Jam di dinding pun baru menunjukan pukul 8 pagi. Aku yang sudah berpakaian rapi ini pun berpikiran bahwa aku ini sangatlah bodoh. Kenapa?

Karena aku sudah terlalu siap sekarang, padahal waktu yang dijanjikan masih 2 jam lagi. Setidaknya aku harus berangkat jam 9:30, jadi aku ada waktu lowong satu setengah jam.

“Kaze! Kamu sarapan dulu!”, mamiku pun teriak dari lantai bawah.

“Iya!” tanpa pikir panjang aku pergi ke lantai bawah.

Aku menuruni tangga dan segera kulihat papiku yang sedang membaca koran pagi. Kudengar suara tawa yang ditahan dari papiku.

“Ada apa cekikikan?” tanyaku dengan sedikit nada sebal.

Papiku pun langsung memaksakan menghentikan tawanya tersebut, “Ehem....Tidak apa-apa, kok.”

“Pasti papimu itu sadar bahwa anaknya mirip dirinya di masa lalu, Kaze. Ternyata istilah ‘Like son like father’ memang betul hihihi.” kata ibuku sambil menggoreng telur.

Papiku cuma terdiam pura-pura tak mendengar, begitupun aku. Muncul rasa penasaran bagaimana mereka berdua bertemu, tapi perasaan itu aku abaikan sementara karena aku sudah menetapkan untuk berusaha mendekati dan mengenali Sakura lebih jauh.

“Kenapa Kaze?”, aku pun jadi sedikit salah tingkah karena mamiku melihat aku mengepalkan tangan dengan semangat secara tak sadar.

Mamiku hanya tersenyum melihat reaksiku dan beliau memberikan sepiring telur goreng berbentuk hati seperti tempo hari yang juga didampingi dua potong roti tawar.

Aku pun kehabisan kata-kata dan hanya bisa menghela nafas sebelum memakannya. Seperti biasa, telur goreng mamiku enak sekali tapi ingatan tentang ciuman kemarin mematikan syaraf perasa pada lidahku.

Mukaku memerah secara tiba-tiba dan mengundang pertanyaan pada mamiku.

“Hayo, mikir apa?”, aku pun kaget mendengar pertanyaan dari mamiku tersebut.

Aku pun cepat-cepat menghabiskan sarapan tersebut dan berkata “Tak ada apa-apa. Hanya saja pagi ini agak panas ya? hahaha. Aku pergi dulu ya?”

Langsung aku menuju pintu untuk memakai sepatu dan terdengar mamiku berteriak “Hati-hati ya? Semoga berhasil kencannya!”

Aku pun hanya bisa berjalan keluar dengan bergumam karena mamiku yang sedikit rese kalau hal-hal beginian.

Kulihat jam tangan dan menghela nafas sekali lagi karena jam tanganku masih menunjukan pukul 8:30 pagi. Pikiranku mengatakan sekali lagi betapa bodohnya aku ini karena terlalu buru-buru.

Dengan segera aku menuju taman yang terdekat dan duduk di kursi taman tersebut. Kuraih handphoneku untuk menghubungi Taka.

*tut.....tut.....*”Yo, Kaze! Ada apa lu nelpon gw pagi-pagi begini?”, Taka menjawab panggilan teleponku.

Akupun membalas, “Begini, aku nunggu di rumahlu sampai waktunya menjemput Sakura.”

Taka terdiam sejenak, “Hahaha, jangan bilang karena kamu gelisah jadi kepagian.”

Sial, tebakan dia memang betul. Aku pun tak bisa menjawab apa-apa, tapi Taka pun meneruskan “Baiklah, datang saja. Aku tak akan keberatan kok.”

“Aku akan datang sebentar lagi.”, kututup pembicaraan tersebut. Aku segera bangkit dan berjalan ke arah rumah Taka.

Ketika berjalan masih kuingat kata-kata Taka bahwa dia akan membantuku. Aku masih penasaran, apakah yang dimaksud ‘bantuan’ oleh si Taka. Makin dipikir, makin sakit pula luka di kepalaku. Memang sebaiknya aku menghindari memikirkan sesuatu yang tak berguna jauh-jauh.

Secara tak sadar aku sudah sampai di depan rumah Taka yang tak kalah megahnya dengan rumah Sakura. Jariku memencet tombol bel yang terletak di sebelah pagar. Tak lama kemudian terlihat Taka membuka pintu.

Wajahnya terlihat seakan mau tertawa melihat penampilanku yang tak pernah dilihatnya sebelumnya, “Hmm.....ha..hahaha, memang betul kalau sedang jatuh cinta manusia bisa menjadi bodoh.”

“Diam, cowo narsis!” teriakku.

Dia pun melirikku dengan senyuman sinis, sambil mengibaskan jari telunjuknya dia membalas lagi “Ck..ck...ck....lihat! Siapa yang narsis sekarang? Aku atau kamu?”

Aku cuma bisa mengepalkan tangan karena kesal tak bisa membalas.

“Baiklah, ayo masuk. Kita main game saja untuk ngisi waktu luang.”, Taka mempersilahkan aku masuk ke rumahnya.

Sambil melepaskan sepatu dan memakai selop, aku bertanya kepadanya “Om dan Tante mana?”

“Bapak dan Ibu? Mereka sedang ada urusan business di luar negeri.” jawab Taka. Kadang memang kasihan Taka itu walaupun dia bisa dikatakan cowo yang sempurna, dia sering merasa kesepian di rumahnya ditinggal orang tuanya kerja. Setidaknya dia tak kesepian seperti sebelum aku berteman dengannya.

Aku pun masuk ke ruang tengah rumah tersebut dan mengecek koleksi game PS2 yang dia punya.

“Ngadu Ridge Racer 5 yuk!” ajak aku sambil memberikan box game tersebut ke Taka.

“Boleh.” kata Taka sambil menerima box itu dan memasukan CD game ‘Ridge Racer 5’ ke disc tray PS2.

Sambil memainkan game balapan itu, aku melakukan pembicaraan dengan Taka.

“Yo, Taka.”, aku pun memulai pembicaraan

“Apa, Kaze?” balasnya.

Aku menanyakan “Gimana hubunganmu dengan Reina?”

Tersenyum dia menjawab “Itu pertanyaan yang bodoh Kaze, masa kau gak lihat hubungan kami setiap hari.”

Dengan senyum yang tak kalah lebar, aku membalas “Hahaha, betul juga ya? Kacau balau.”

“Diam lu cowo narsis ke dua.” kata Taka dengan muka sebal

“Lu juga cowo narsis pertama, jangan main tabrak dong.”, nampaknya dia melampiaskan kekesalan dengan menyerempet mobilku di game.

“Itu namanya strategi tahu.” bantah Taka.

Mendengar kata ‘strategi’, aku teringat oleh bantuan yang ditawarkan Taka kemarin malam, “Oh ya? Bagaimana lu mau bantu gw supaya makin dekat dengan Sakura?”

Gerakan mobil Taka di game tiba-tiba menjadi kacau, “Ternyata lu mengharapkan bantuan dari gw?”

Aku pun bertanya balik “Bukannya lu yang menawarkan bantuan?”

Dengan tersenyum jahil dia menjawab “Iya sih, tapi aku gak menyangka sampai kau berharap. Juga, walaupun lu menolak gw akan tetap menjalankan rencana gw dengan Reina untuk kamu.”

“Rencana apa?” tanyaku lagi.

Dengan senyum yang lebih licik lagi, dia berkata “Ada aja, pokoknya ketika kuberi tanda kamu harus bertindak.”

“Huh......ya sudahlah. Yang penting aku menang.” kataku dengan tenangnya.

Dia sungguh kaget bahwa balapan sudah selesai dan dimenangkan olehku, “Wah sialan lu! Ayo sekali lagi!”

Akhirnya kami melakukan balapan beberapa kali hingga saatnya kami pergi ke rumah Sakura. Taka pun berpakaian yang tak kalah keren denganku, tapi dia memang sudah biasa bedandan seperti itu. Maklum, dia itu kan cowo narsis.

Dalam perjalan, kami pun bertemu dengan Reina.

“Lho? Tak biasanya kalian pergi berdua?” tanya Reina.

Tampaknya Taka yang lagi benar-benar berjiwa jahil ini berkata “Tadi dia nangis-nangis ke aku minta bantuan.”

*duk*
Aku pun memukul kepala Taka karena kesal, “Mau kubuat kepala lu seperti kepala gw?”

“Cuma bercanda kok!” teriak Taka sambil memegang kepalanya.

“Kaze, bagaimana dengan luka di kepalamu?” tanya Reina.

Sambil mengelus kepala, kujawab “Yah..... sedikitnya lukanya sudah tak separah kemarin.”

Dengan tersenyum kecil Reina berkata “Bagus lah, jangan bikin khawatir Sakura ya? Soalnya yang paling khawatir diantara kita adalah Sakura. Tapi ngomong-ngomong...... ada apa dengan penampilan lu hari ini? Tak biasanya lu pake pakaian serapi ini?”

Taka pun menyela “Maklum, mau bertemu malaikatnya hari ini.”

“Diam kalian semua!” kataku dengan sebal.

Mereka berdua hanya bisa tertawa melihat sahabat mereka yang satu ini, yaitu aku ini yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis.

Dan akhirnya kami sampai di rumah gadis itu.

“Ayo siapa yang memencet belnya?” tanya Taka dengan nada meledek.

Dengan nada yang sama Reina menjawab, “Tentu saja si Kaze sang Pangeran berkuda putihnya Sakura.”

“Ah...sudah ah kalian berdua, kepencet nih belnya.”, aku pun memencet bel yang terletak dekat pagar.

“Ya, Selamat pagi Kaze-san, Taka-san, dan Reina-san. Harap tunggu sebentar.” terdengar suara Setsuna dari interkom yang terletak di sebelah bel.

Tak lama terlihat Setsuna membuka pintu depan lalu pagar, “Ayo anda semua sekalian, silahkan masuk. Sakura-sama masih mempersiapkan diri.”

Reina masuk duluan, diikuti Taka, dan aku pun masuk yang terakhir.

“Anda tampak rapi sekali, Kaze-san.” kata Setsuna dengan senyum.

Aku pun dengan ekspresi sedikit bingung membalas “Ah....Terima kasih.”

Seperti biasa kami pun dipersilahkan duduk oleh Setsuna.

“Dimana tante? tanya Reina.

Setsuna pun menjawab “Oh, nona sedang ada keperluan di luar kota dan berangkat pagi ini.”

Sampai sekarang pun aku kurang tahu tentang pekerjaan orang tua Sakura, tapi tampaknya mereka benar-benar orang yang sibuk.

“Saya permisi dulu ya?”, Setsuna menuju lantai dua yang tampaknya dimana kamar Sakura berada.

Terdengar sedikit suara Setsuna “Sakura-sama, teman anda sudah menunggu di ruang tamu.” Lalu disusul suara pintu terbuka dan tertutup lagi, tampaknya Setsuna membantu Sakura bersiap-siap.

*duk duk duk*
Terdengar bunyi gaduh dari lantai dua lalu terdengar suara Setsuna “Sakura-sama, tenang saja. Gak apa-apa kok, malah bagus.”

Bunyi pintu terbuka pun terdengar lagi dan sekali lagi terdengar suara Setsuna “Sudahlah Sakura-sama, saya yakin anda terlihat cantik sekali hari ini malah lebih cantik dari biasanya. Jangan lupa juga notes dan pen dimasukan ke dalam tas.”

Terdengar langkah ringan dan malu-malu datang dari atas. Lalu kulihat seorang bidadari turun dari langit. Dengan cardigan, halterneck, dan rok panjang yang serba berwarna putih, dia terlihat sangat ‘pure’ dan ‘innocent’. Hanya dengan lipstick berwarna pink muda sebagai make-upnya, kecantikan alami terpancar kuat darinya.

Melihat kecantikannya, terasa rahangku mau lepas karena terpana melihatnya. Mataku terbalak lebar-lebar dan tak mau melepaskan pandangan darinya.

“Menurut kalian, Sakura-sama cantik kan?” tanya Setsuna yang berjalan di belakang Sakura.

Aku pun yang masih bengong disikut berkali-kali oleh Taka, aku pun tersadar dan segera menjawab pertanyaan itu dengan senyum “Iya, kamu terlihat sangat cantik Sakura.”

Muka Sakura pun spontan memerah dan bersembunyi dibalik tubuh Setsuna. Tetapi Setsuna mendorongnya ke hadapan kami sambil berkata “Ayo Sakura-sama, teman anda sudah menunggu.”

Sakura pun menganggukan kepalanya dengan ringan dan menuju ke arah kami. Dengan mengeluarkan notes dari tas tangannya yang berwarna putih, dia menulis “Ayo kita pergi sekarang.”

Kami pun menganggukan kepala dan segera menuju pintu pagar depan diantar Setsuna. Ketika kami keluar, Setsuna menahan aku yang keluar paling belakang dan berpesan “Tolong jaga Sakura-sama, karena dia mudah tersesat.”

“Iya, baiklah.” responku ditanggapi dengan senyum Setsuna. Aku pun berlari menyusul mereka bertiga.

Dengan segera kami pergi ke stasiun kereta api yang terdekat. Kamipun membeli tiket masing-masing dan naik kereta yang menuju ke Shibuya.

Kami pun menaiki kereta tersebut dan melakukan perjalanan. Dalam perjalanan, aku melihat wajah Sakura yang sedang asik melihat pemandangan luar sebagaimana anak kecil yang polos pertama kali naik kereta.

Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk memperhatikan wajah Sakura dari rambut hitam legam panjang yang halus bagaikan benang sutra, alis yang tipis namun padat, mata coklat yang besar dengan bulu mata yang panjang serta lentik, hidung kecil namun cukup mancung, dan bibir kecilnya yang mengingatkan lembutnya ciumannya kemarin.

“Ehem, Kaze!” suara Taka dari belakang membuatku sangat kaget.

“Eh! Ada apa Taka?!” tanyaku dengan panik.

Dengan senyum licik Taka berkata dengan nada meledek, “Jangan curi-curi pandang dong.”

“Si...siapa yang curi pandang? Aku cuma menikmati pemandangan luar kok.” aku pun berusaha menyangkal.

Reina pun juga ikutan meledekku, “Pemandangan apa?”

“Ya pemandangan.” balasku. Mereka berdua pun cuma cengar-cengir karena melihat reaksiku dan aku pun melirik ke Sakura.

Tampaknya dia masih terlalu asik melihat keluar sehingga tak sadar akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Tampaknya Sakura memang tak pernah naik kereta api, jadi biarlah dia asik sendiri untuk sementara. Lagipula, aku senang melihat wajahnya yang menikmati pemandangan itu.

“Curi pandang lagi.” ledek Taka.

“Udahlah..... lu jangan ngeledek gw melulu.” mohon aku ke Taka.

Gedung-gedung tinggi kota Tokyo sudah tampak dan tak lama kemudian speaker di kereta terdengar “Perbehentian berikutnya Stasiun Shibuya.”

“Ah! Kita sudah sampai.” kata Reina dengan semangat.

Aku pun menepuk pundak Sakura dan tampaknya dia agak terkejut oleh tepukanku. Aku pun berkata “Kita sebentar lagi sampai.” dengan senyum dan dia membalas senyumku juga.

Kereta pun berhenti dan membuka pintunya. Langsung terlihat orang ramai lalu lalang kesana kemari. Reina dan Taka sudah keluar terlebih dahulu, sedangkan aku mengikutinya dibelakang mereka dengan Sakura memegang pundakku.

Tapi tak lama kemudian terasa tangan kecil itu terlepas dari pundakku. Secara spontan aku menengok ke belakang untuk mencarinya.

Tapi untungnya dia tak terpisah terlalu jauh, terlihat tangan kecil dia yang melambai-lambai di tengah kerumunan.

Dengan sedikit perjuangan, aku pun meraih tangannya. Kulihat wajahnya yang lega karena dia sudah kutemukan.

“Kamu tak apa-apa, Sakura?” tanyaku.

Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.

Aku pun menghela nafas karena lega tak terjadi sesuatu yang buruk seperti kemarin. Senyum kembali lagi di bibirku dan akupun berkata “Kalau mau, kau boleh memegang tanganku agar tak terpisah.”

Bukannya Sakura memegang tanganku, tapi malah Sakura memeluk tanganku erat-erat. Memang itu lebih aman ketimbang hanya memegang tangan, tapi amat sangat terasa tanganku sedang berada di ‘lembah surgawi’. Hal ini membuat jantungku berdetak kira-kira dua kali lipat dari biasanya karena sangking kagetnya dan gugupnya.

Aku pun hampir tak bisa berkata apa-apa dan hanya berjalan menuju pintu keluar barat stasiun dimana patung ‘Hachiko’ berada. Aku pun menembus kerumunan orang-orang masih dengan tanganku yang dipeluk erat-erat oleh Sakura.

Tak lama kemudian terlihat cahaya matahari dari pintu keluar. Kunaiki tangga berjalan dan akhirnya tampak juga patung ‘Hachiko’. Kami pun keluar dari stasiun tersebut dan terlihat Reina dan Taka sedang menunggu kami.

Melihat patung ‘Hachiko’, Sakura pun melepaskan pelukannya dan berlari ke arah patung anjing yang terkenal itu. Sakura tampaknya sangat senang melihat patung itu sehingga dia memperhatikan patung tersebut dengan seksama.

Aku pun berkumpul dengan Taka dan Reina sambil terus mengamati Sakura yang terus asyik melihat patung itu.

“Ngapain aja lu dan Sakura lama-lamaan di dalam tadi?” tanya Taka.

Aku pun menjawab sambil menggaruk leher, “Yah....... macam-macam lah. Tadi sempat terpisah lalu aku menemukan dan tahu sendiri. Susah bergerak dalam keramaian seperti itu dengan tangan dipeluk erat seperti itu.”

“Huh? Dipeluk?” tanya Taka memastikan.
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Old 07-02-2008, 01:19 AM   #9
TheSisterPrincess
Nissan Fairlady Z
 
TheSisterPrincess's Avatar
 
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
Rep Power: 28 TheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud ofTheSisterPrincess has much to be proud of
Send a message via MSN to TheSisterPrincess Send a message via Yahoo to TheSisterPrincess
“Ah, enggak ada apa-apa kok. Jadi kita mau kemana dulu?”, aku pun berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Hmm.... sebaiknya kita makan siang dulu yuk!”, Reina pun mengemukakan idenya.

“Makan siang dimana?” tanya Taka.

Aku pun berpikir sejenak dan menemukan ide yang menurutku cukup bagus “Bagaimana kalau kita beli takoyaki di Kyotako?”

“Boleh juga! Yuk Taka.” kata Reina sambil menarik tangan Taka.

“Hei, kalian tunggu dulu!”, akupun menahan langkah mereka untuk beberapa saat. Setelah itu aku menuju ke Sakura yang masih asik melihat patung Hachiko itu.

Aku menepuk pundak Sakura dari belakang, “Sakura, yuk kita makan dulu.”

Dia pun menunjukan reaksi terkejut karena kutepuk dan dengan tersenyum dia pun menganggukan kepalanya. Tapi ketika kami hendak menjauh dari patung tersebut, Reina menahan kami berdua “Sebentar, kalian berdua di potret dulu!”

“Eh....tapi....”, tanpa menghiraukan kata-kataku Taka terus mengdorong kita berdua.

“Sudah, ayo lah. Sebagai peringatan hari pertama kita jalan-jalan berempat.” kata Taka.

Berdua dengan Sakura, kami berdiri di bawah patung tersebut.

“Ayo, yang lebih akrab dong. Seperti rangkul di pundak!” teriak Taka.

Aku pun cuma tersenyum masam mendengar permintaan Taka tersebut, tapi senyum masamku langsung hilang ketika melihat Sakura berusaha mengangkat tanganku ke pundaknya dengan susah payah. Tampaknya dengan tubuhnya yang ringan itu sulit mengangkat tanganku yang cukup besar dibandingkan punya dia.

Senyum masamku berubah menjadi senyum yang alami. Aku mengangkat tanganku dan kurangkul pundaknya.

“Tak apa-apa kan?” tanyaku.

Dia hanya menggeleng dangan malu-malu.

“Nah gitu dong! Baiklah! 1...2...3...Cheese!” teriak Reina.

Terlihat lampu blitz dari handphone Reina. Taka dan Reina pun tampaknya senang menangkap gambar aku merangkul Sakura.

Setelah itu pun kami pergi ke tempat yang kami rencanakan sebelumnya, yaitu Kyotako yang terkenal akan kelezatan Takoyaki-nya.

Kami pun mengantri untuk membeli takoyaki tersebut, karena aku dan Taka penganut ‘Ladies First’ maka kami membiarkan Sakura dan Reina duluan mengantri di depan kami. Sambil menunggu antrian, aku melihat foto yang diambil tadi.

Terlihat wajah ceria Sakura yang juga memerah yang mungkin disebabkan oleh rangkulanku dan aku.....Bagaimana aku bisa tersenyum begini? Tak biasanya aku tersenyum kalau sedang di foto.

“Wah tak biasanya lu senyum kalau difoto?” celetuk Taka dari belakang sambil menaruh lengannya di pundakku.

“Elu mah! Jangan bikin kaget dong!”omel aku.

Taka pun tertawa “Hahaha, sori-sori. Tapi tampaknya memang ada yang berubah di wajahmu.”

Aku pun agak bingung mendengar komentar Taka, “Huh? Lu ngelindur? Memangnya gw ngejalani operasi plastik atau semacamnya?”

Taka pun mengerutkan dahinya mendengar jawabanku, “Aduh...duh....kamu itu bodoh atau tolol, maksud gw yang berubah adalah ekspresi pendiam yang bodoh itu berubah menjadi ekspresi orang bodoh yang periang.”

“Bisa hilangkan kata bodohnya?” protesku.

Taka pun menepuk pundakku, “Gunakanlah kesempatan kali ini untuk mendekatinya.”

Aku pun melihat Sakura yang berdiri di depan Reina dan aku berpikir bahwa mungkin memang benar keberadaannya sudah mengubah diriku yang dulu.

Tak lama aku menyadari bahwa giliran kami memesan sebentar lagi. Reina pun memesan untuk dirinya dan membantu memesankan untuk Sakura setelah itu baru giliran Taka lalu aku. Masing-masing diri kami memesan satu porsi yang berisi 10 takoyaki.

Setelah itu kami berempat menyantap takoyaki tersebut di atas trotoar dengan bersandar di sebuah pagar.

Sambil makan takoyaki yang sangat enak itu, aku pun memperhatikan sekelilingku. Dari cewe-cewe pesolek yang norak, laki-laki yang berpakaian norak, dan akhirnya aku melihat Sakura yang sedang menikmati takoyaki bersandar di sebelahku.

Benar-benar seperti melihat sebuah pohon Sakura yang sedang berbunga di tengah hutan yang kering. Seperti melihat oasis yang rindang di tengah panasnya padang gurun. Juga seperti pelangi setelah badai angin topan.

Aku dan Sakura pun beradu pandang membuat muka kami berdua memerah dan saling membuang muka secara reflek. Sambil pelan-pelan menengok ke arah Sakura, aku bertanya “Enak tidak takoyakinya Sakura?”

Sakura pun memandang ke arahku dan mengangguk dengan tersenyum. Lalu dia menunjuk kearah kepalaku lalu menaikan bahunya mengisyaratkan “Bagaimana luka di kepalamu?”

Aku pun menjawab sambil menunjuk kepalaku sendiri, “Kepalaku? Masih baik-baik saja, setidaknya aku masih ingat namaku sendiri.”

Walaupun tak terdengar, Sakura tertawa terbahak-bahak oleh candaan murahanku. Setidaknya aku memang senang melihat ekspresi senangnya.

“Kaze~~~ bagaimana takoyakinya? enak tidak?~~~” kata Taka dengan gaya ala banci yang mebuat kaget aku dan Sakura setelah mati.

*ctok!*
Reina pun menjitak kepala Taka dari belakang, “Kamu itu! Orang lagi enak-enak makan jangan di gituin dong! Sori ya Sakura dan Kaze, makan kalian jadi terganggu.“

Sakura hanya menggelengkan kepalanya dengan tertawa geli dengan tingkah Reina dan Taka. Aku pun berbisik ke Taka “Kamu itu! Suasana sedang bagus-bagusnya, kamu rusak lagi!”

Taka pun membalas dengan berbisik juga, “Sori-sori, tapi tenang saja nanti akan kuberi lu kesempatan yang bagus. Lihat saja nanti.” Taka pun tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

“Terus terang saja aku agak curiga dengan apa yang dibalik senyum mu itu.” balasku.

“Kok sama sahabat, lu curiga?” tanya Taka.

Aku pun membalas “Karena kita bersahabat makanya gw ini curiga, karena gw tahu betul lu itu seperti apa.”

“Hahahaha!” tiba-tiba kami berdua tertawa keras sehingga Sakura dan Reina kaget. Tampaknya Sakura benar-benar tak tahu kenapa kami tertawa dan hanya memandang kami dengan wajah bingung.

Reina pun menghela nafas dan berkata “Ayo kalian ini, cepat selesaikan makannya. Nanti kita gak ada waktu untuk keliling nih!.”

Kami pun melakukan seperti apa yang dikatakan Reina. Dengan segera kami menghabiskan takoyaki yang tersisa.

Sambil mengelap mulut dengan tissue, aku bertanya ke mereka “Jadi kemana berikutnya?”

“Ke arcade center!!!” teriak Taka sambil mengangkat tangan.

Reina pun dengan muka masam berkata “Dasar kalian ini, kalau pergi pasti ke arcade center. Tapi setelah itu giliran kami ya?”

“Baik-baik, pokoknya hari ini adalah hari pembalasan untuk waktu itu. Kaze!!!”, Taka berteriak

Aku pun melangkah menjauhi Taka dengan Sakura dan Reina, “Yuk, kita pura-pura tak kenal dia.”

“Iya-iya, malu aku punya pacar norak seperti itu.” kata Reina dan Sakura hanya tersenyum geli.

“Hei-hei! Kalian ini! Jangan tinggalin gw dong! Hoi tunggu!” Taka pun langsung berlari menyusul kami.

Kita berempat menuju arcade center yang masih di daerah Shibuya yang cukup terkenal, yaitu Namcoland. Setelah sampai disana, kami disambut berbagai suara bising sebagaimana arcade center semestinya.

Kami pun langsung mendatangi mesin Maximum Tune yang merupakan mesin game balap yang sedang popular saat itu. Sesuai dengan rencana sebelumnya, aku dan Taka akan melakukan balapan dalam game tersebut.

“Ayo, sekarang gw gak akan kalah!” kata Taka dengan semangat dengan duduk di kursi salah satu dari mesin yang tersedia.

Aku pun dengan tenang duduk di mesin di sebelah kirinya, “Gak bakalan. Pasti gw yang akan menang.”

“Lihat saja nanti.” kata Taka sambil menunjuk ke arahku.

Aku pun hanya menengok ke belakang dan kulihat Sakura berdiri di sebelah Reina yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kami. Sakura hanya terlihat takjub akan warna-warni lampu dan layar yang berada di dalam arcade center.

“Sakura! Mau coba main? Kamu bisa pinjam kartuku kalau mau.” ajakanku ditanggapi dengan kaget oleh Sakura.

Setelah beberapa detik berpikir, Sakura menganggukan kepalanya. Aku pun menyuruhnya duduk diatas kursi mesin sebelah kiriku. Aku pun menjelaskan dasar permainan dan caranya secara singkat, lalu koin aku masukan ke mesinnya termasuk kartu yang berisi data ‘S30’ milikku.

“Reina! Ayo sekalian ikutan! Kamu masih punya ‘S15’ yang aku kasih kan?” Takapun juga mengajak Reina.

Reina pun menghela nafas sambil mengambil kartu data dari dompetnya “Baiklah kali ini aku ikutan.” Reina pun duduk di atas mesin di sebelah kanan Taka.

Setelah kami berempat siap, balapan pun dimulai. Seperti yang sudah aku perkirakan, balapan ini didominasi oleh aku dan Taka. Sakura tampaknya sangat senang dan seru menggerakan roda stir di depannya.

Aku yang melihat kejadian itu hanya tersenyum dan kembali konsentrasi ke balapan karena Taka memberikan perlawanan yang cukup berarti untukku. Sedangkan Reina terus bersaing dengan Sakura karena Reina sendiri bukan orang yang jago main game balapan.

Setidaknya balapan ini sangat menyenangkan dan tentu saja yang paling senang adalah aku karena aku bisa menang melawan Taka di depan Sakura.

“Wah kurang ajar lu! Masa gw dipepet ke pinggir seperti itu?” protes Taka.

“Hohoho, kan itu termasuk strategi.” aku pun mengulangi kata-kata Taka tadi pagi.

Taka pun hanya terdiam mendengar jawabanku. Akupun menengok Sakura yang masih memulihkan diri dari adrenalin yang dialami selama balapan tadi.

Kuulurkan tanganku kearah Sakura, “Ayo Sakura, kita main game yang lain.”

Sakura memandang kearah telapak tangan kananku selama beberapa detik, setelah itu tangan kanannya yang sangat lembut memegang uluran tanganku. Kutarik pelan-pelan tubuhnya yang ringan tersebut.

Dia pun mengembalikan kartu yang berisi data mobil ‘S30’ yang barusan kupinjamkan.

“Ah! Itu buatmu saja. Lagipula itu kartu tak aku pakai lagi.” kataku dengan tersenyum.

Dia pun menundukan kepalanya seakan-akan mengucapkan terima kasih dan dia menunjukan senyumannya kepadaku.

“Ayo kita mainkan game lainnya.” ajakku.

Sakura pun melihat mesin-mesin game yang mengelilinginya, satu-persatu mesin dilihatnya.

“Ada yang menarik buatmu?” tanyaku lagi.

Sakura menunjuk salah satu mesin yang paling besar di arcade center tersebut, ‘Taiko no Tatsujin’.

“Oh ‘Taiko no Tatsujin’ ya? Kamu ngerti mainnya?” tanyaku.

Sakura hanya menggelengkan kepala dan aku pun tersenyum sambil memasukan koin ke dalam mesin game tersebut.

“Baiklah, dasarnya memukul drum sesuai lambang yang muncul dilayar. Kalau muncul warna biru artinya pukul pinggir drum dan merah pukul tengah drum. Lalu lambang yang kecil hanya perlu pukul drum dengan satu stik dan yang besar perlu pukul drum dengan kedua stik. Lalu kalau sudah tahu lambangnya, tinggal sesuaikan dengan irama lagunya. Baiklah, sebagai contoh aku mainkan satu lagu setelah itu kamu ya?” jelas aku.

Ketika aku hendak memilih lagu, tiba-tiba Reina merebut stik drum dariku “’Taiko no Tatsujin’ ya? Serahkan saja pada ‘Taiko no Queen’!”

Reina memainkan satu lagu dengan penuh semangat, sampai-sampai mencetak rekor baru. Aksi ‘Taiko no Queen’ membuat Sakura kagum dan ingin segera memainkan game tersebut. Tapi hasilnya adalah, Sakura tak berhasil menyelesaikan satu lagu pun.

Dia pun hanya tampak kesal karena gagal di tengah jalan, sebagai hiburan aku mengajaknya memainkan game fighting ‘Tekken’. Aku yang bermain melawannya hanya memberikan sedikit perlawanan, dengan kata lain kalah yang disengaja.

Tapi setidaknya sebagai hadiah aku bisa melihat senyumnya yang amat sangat kusukai itu. Dengan capainya kami dalam arcade center, kami pun keluar dari situ dan mulai menuju beberapa toko fashion yang memadati seluruh Shibuya.

Aku dan Taka pun menemani Sakura dan Reiko berkeliling mengunjungi toko satu-persatu. Walaupun terpaksa, kami tetap melakukannya karena memang sudah janji.

Sambil menunggu dua gadis sibuk melihat baju-baju yang ada di dalam toko, kami dua lelaki pun mengobrol sambil menunggu diluar toko.

“Tak biasanya lu sabar nungguin ginian?” kata Taka dengan senyum mengejek.

“Yah...itu...mungkin lu sendiri bisa menebaknya.” aku sendiri tahu jawabannya tapi tak bisa mengucapkan.

Taka pun meresponnya dengan tawa geli, “Dasar lu ini, tapi setidaknya aku selaut pada lu. Karena lu itu lebih punya keberanian dalam bidang ini dibandingkan lu.”

Aku pun hampir tak percaya akan apa yang dikatakan Taka, “Menurutku tidak juga, kalian tahu sendiri bahwa aku ini sebenarnya pemalu. Keberanian mendekati Sakura pun sebenarnya berkat kalian juga.”

Taka pun menepuk pundakku, “Sudahlah, tenang saja. Setidaknya, lakukan aja yang menurut kamu benar. Setidaknya ada aku dan Reina yang mendukung hubungan kalian berdua.”

“Yang menurutku benar ya? Tapi bukankah lu bilang sendiri bahwa orang menjadi bodoh karena jatuh cinta?” kataku dengan tersenyum.

Taka pun tertawa terbahak-bahak, “Hahaha... bisa aja lu itu. Tapi kalau perlu nasehat atau semacamnya, jangan ragu minta bantuan dari aku dan Reina. Kami pasti akan berusaha membantumu.”

Aku pun menganggukan kepala dan kami pun saling menyentuhkan tinju kanan kami sebagai tanda persahabatan. Kami pun saling bertukar senyum satu dengan yang lain.

“Kenapa kalian senyam-senyum begitu, kok kesannya menjijikan?” kata Reina yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka bersama dengan Sakura.

Terus terang kami terkejut akan kemunculan Reina, tapi kami berusaha menyembunyikan ekspresi terkejut kami.

“Inilah namanya persahabatan laki-laki yang indah.” kataku dengan gagah.

“Iya, persahabat laki-laki yang sejati tak akan goyah.” lanjut Taka.

Reina terdiam sebentar lalu membalikan badannya dan menarik Sakura menjauhi kami, “Sakura-chan, kita pura-pura tak kenal dengan dua orang gila ini aja.”

“Hei-hei, tunggu kami!” teriak aku dan Taka secara serentak sambil berlari menyusul Reina dan Sakura.

Kami berempat pun jalan mengunjungi beberapa toko pakaian, satu persatu. Hingga pada saatnya kami semua kecapaian dan istirahat di restoran cepat saji ‘Mos Burger’.

Kami pun tak memesan banyak-banyak, yang kami pesan hanyalah kentang goreng dan soft drink. Sambil menikmati cemilan tersebut, kami pun merencanakan apa yang akan kami lakukan berikutnya.

“Jadi kemana berikutnya?” tanyaku.

Reina pun menjawab “Kaze, aku dan Taka mau mengunjungi satu tempat berdua saja. Jadi kamu tentukan aja sama Sakura.”

“Jangan-jangan ini yang dimaksud rencana Taka?” itulah kata-kata yang muncul dalam pikiranku saat itu.

“Waduh...Kok kalian tiba-tiba begini sih? Baiklah terserah kalian. Sakura, nanti kamu mau kemana?” aku pun bertanya pada Sakura.

Sakura pun menulis di note padnya “Aku mau melihat toko lagu.”

Aku pun merespon “Baiklah, kalau begitu habis ini kita pergi ke HMV saja.”

Sakura pun tersenyum dan tentu saja aku senang bisa melihat senyumannya itu.

Tak lama kemudian Taka dan Reina bangkit berdiri, “Yuk kami pergi dulu ya?” kata Reina.

“Hei...hei...tunggu dulu.” kata-kataku pun tak dihiraukan mereka dan mereka tetap bejalan keluar restoran tersebut.

Aku pun langsung berpikir “Waduh, gimana nih? Aku sendiri belum siap mental. Kalau begini aku jadi bingung apa yang harus kulakukan.”

Ketika aku sedang berpikir keras tiba-tiba Sakura menarik-narik bajuku seakan bertanya apakah ada masalah.

“Tak ada apa-apa kok.” bertepatan dengan aku selesai berbicara, ada pesan yang masuk kedalam handphoneku.

Ternyata ada pesan dari Taka dan kulihat isi pesannya, “Hei, kami mengintip kalian dari suatu tempat. Yang pasti lu sekarang harus mengajaknya ke HMV. Jangan khawatir, kami akan membimbingmu.”

Aku pun menengok kanan kiri melihat sekelilingku dan kulihat Taka dan Reina bersembunyi sambil menunjukan tanda OK dengan tangannya. Kutengok ke arah Sakura dan mukanya yang entah kebingungan atau malu-malu.

Isi kepala ku pun bertanya-tanya sikap apa yang perlu kulakukan.
TheSisterPrincess is offline   Reply With Quote
Reply


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off

Forum Jump


PT Visi Global Interaktif
Powered by vBulletin® Version 3.8.4
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
All times are GMT +8. The time now is 01:22 PM.