|
| Role Playing Cyber Novel Create your own story here. Only one person per topic. Come in for great stories originally made by our forum members! |
11-11-2007, 12:34 AM
|
#1
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
[Story] Dancing with The Death
Halo semuanya, ini merupakan judul karya ku yang ke tiga sekaligus karya original ku kedua.
Ide yang muncul pas saat stress menghadapi ujian.
Semoga cerita bertema percintaan dan perang ini menarik untuk kalian.
Seperti biasa saran dan kritik sangatlah wellcome.
|
|
|
|
The Following 2 Users Say Thank You to TheSisterPrincess For This Useful Post:
|
|
11-11-2007, 12:35 AM
|
#2
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
“.......dan akhirnya terlahirlah Utopia.”
Itu lah kata-kata yang kutulis di akhir laporan khusus menyambut 5 tahun berakhirnya ‘AlTeW Conflict’ yang terjadi di tahun 2112. Yah...begitulah, baru sekarang aku punya waktu untuk beristirahat sejenak. Aduh capeknya menulis laporan untuk satu majalah edisi khusus.
Sekarang ini aku sedang cuti panjang setelah menulis laporan khusus tersebut dan juga sekalian cuti untuk bulan madu bersama suamiku tercinta. Tapi walaupun aku sedang liburan, aku selalu tak bisa menahan diri untuk menulis dan menulis. Makanya pun kalau waktu senggang, aku sering meng-update blogku. Bisa dikatakan menulis adalah pekerjaanku sekaligus hiburanku.
Di pinggiran pantai di Karibia ini, aku pun tak tahan untuk mengambil laptop dari tas ranselku. Suasana klasik ala abad lalu membuatku jadi sangat ingin menulis. Yahh.... sekalian menunggu suamiku yang sedang kerja.
Kerja? Memang iya. Kami sedang berlibur dengan uang yang pas-pasan, jadi suamiku sementara bekerja sebagai fotografer. Uang yang di dapat tentu nantinya akan dipakai untuk kembali ke Jepang. Tapi aku tak protes sedikit pun kami berlama-lama disini, karena seperti yang kubilang tadi. Suasana disini amat cocok untuk menulis, sekaligus suasana ini membuatku teringat akan mereka berdua.
Ya, betul. Yang kumaksud mereka berdua adalah sepasang kekasih yang juga sekaligus pahlawan yang membuat dunia seperti sekarang. Mereka mampu menunjukan kekuatan sejati dari cinta yang tak semua manusia mampu melakukannya. Setelah dipikir beberapa saat, aku pun memutuskan untuk menulis cerita tentang mereka berdua di blogku.
Ketika tombol on pada laptop kutekan, telepon genggamku berbunyi. Ternyata ada panggilan dari teman lamaku. Dia hanya menanyakan kabarku dan suamiku, mumpung dia menghubungiku, sekalian kutanya apakah ku boleh menampilkan e-mail yang dia kirim untuk bahan berita ditampilkan mentah-mentah di blogku. Dia pun menjawab “ya” dengan antusias.
Setelah pembicaraan kami selesai, aku pun tak sabar mengupdate blogku dengan cerita tersebut. Jariku pun mulai mengetik lebih cepat dari mulut berbicara. Inilah tulisan yang kuketik di blogku.
19 November 2117
Dancing with The Death (Part 1: The Death)
Pertama-tama saya minta maaf untuk pembaca sekalian karena sudah lama tak mengupdate blog saya ini dikarenakan saya harus membuat laporan khusus untuk 5 tahun berakhirnya perang di sebuah majalah. Sebagai permintaan maaf, saya akan menuliskan tentang dua pahlawan kita langsung dari perspektif saya dan beberapa teman saya.
Sudah lima tahun ya? Sungguh tak terasa. Mungkin beberapa dari pembaca tahu bahwa saya adalah Mika Kangoshi yang merupakan mantan wartawan perang dan sekarang juga seorang wartawan.
Kedengarannya memang sangat lucu, karena pekerjaanku yang sekarang bisa dikatakan tak berbeda jauh sama sekali dibanding yang dulu. Tapi memang beginilah aku yang tak bisa lepas dari bidang jurnalistik. Bicara tentang AlTeW Conflict, sebagian besar dari pembaca pun seharusnya ingat siapa sang pahlawan yang mengakhiri perang tersebut dan membuat dunia damai seperti sekarang. Bukannya sombong, tapi saya mengenal dan berteman baik dengan sang pahlawan tersebut.
Baiklah, tentu saja kita mulai dari pelajaran sejarah di mana dan kapan manusia harus berperang melawan ‘alien’ yang berteknologi tinggi pada tahun 2050 atau yang disebut ‘Human Wars’. Seluruh dunia langsung bersatu melawan para alien tersebut. Dalam waktu 7 tahun, seluruh dunia pun berhasil memukul mundur para alien tersebut dan mendapatkan beberapa teknologi yang misterius, contoh yang paling gampang adalah anti gravitasi yang dipakai semua kendaraan di jalanan sekarang.
Diantara teknologi yang didapat manusia, tentu saja ada senjata dengan teknologi alien atau yang disebut ‘Altew’, Alien Technology Weapon. Penemuan beberapa Altew membuat perkembangan teknolgi militer maju pesat melebihi yang semestinya.
Dari beberapa Altew yang ditemukan, akhirnya manusia bisa membuat senjata militer yang didambakan sejak dulu yaitu robot perang yang efisien sekaligus efektif. Tapi untuk membedakannya dengan robot sipil, mereka memanggil robot militer tersebut dengan panggilan ‘Pauldron’.
Banyak Altew yang dipakai di Pauldron, seperti alat anti gravitasi, brain wave controller, plasma cutter, dan sebagainya yang di rahasiakan oleh militer pada waktu itu. Diantara semua Altew, hanya satu teknologi yang tak bisa dipelajari oleh manusia, yaitu Altew yang paling mengerikan. ‘BlackHole Emitter’ atau yang sering disingkat BHE. Sesuai namanya, Altew ini bisa menghasilkan gravitasi yang sangat besar sehingga membuat blackhole untuk menghisap segala sesuatu yang di sekitarnya untuk beberapa saat.
Kerusakan yang ditimbulkan BHE sangatlah besar, target yang dikenai akan lenyap dari atas muka bumi tanpa bekas sama sekali. Karena dianggap berbahaya, maka Altew itu dititipkan pada Negara Kesatuan Eurika yang merupakan salah satu dari dua negara adi kuasa dan senjata tersebut di sembunyikan di tempat yang di rahasiakan.
Perang pecah setelah BHE di tembakan dan melenyapkan sebagian kota Moscow yang menjadi ibu kota Republik Vetelita. Kuingat dengan jelas bagaimana daya rusak yang dihasilkan oleh BHE dari yang kulihat di televisi. Negara Kesatua Eurika berkata bahwa itu adalah kecelakaan, tapi Republik Vetelita menganggap bahwa itu adalah hal yang disengaja. Sehingga Republik Vetelita sebagai negara adi kuasa kedua menuntut agar BHE dipegang oleh mereka, dengan alasan senjata tersebut tak bisa dipercayakan pada Eurika.
Hal ini jelas-jelas di tolak oleh Negara Kesatuan Eurika. Akhirnya konflik pun dimulai, kedua negara adi kuasa tersebut langsung membangun cepat-cepat kekuatan militer mereka, umur wajib militer pun diturunkan manjadi 15 tahun, remaja umur 18 tahun di paksa kawin untuk menghasilkan keturunan yang akan dijadikan tentara, dan negara lain di tarik paksa untuk memihak salah satu fraksi.
Sehingga dunia benar-benar terbagi dua pihak, fraksi Eurika yang terdiri dari Benua Amerika, Eropa, dan Australia dan fraksi Vetelita yang terdiri dari benua Asia dan Afrika.
Altew conflict dimulai dengan perang di kota Turku di Finlandia, kota yang terletak tak jauh dari garis perbatasan antara kedua fraksi. Di kota inilah, BHE di tembakan untuk kedua kalinya. Walaupun akhirnya kota tersebut berhasil dipertahankan oleh fraksi Eurika. Tapi bagiku, tak ada pemenang dalam perang ini. Kedua bilah pihak telah menjadi korban tembakan BHE.
Tak ada puing-puing bangunan, api, dan tak ada mayat yang tergeletak. Yang ada hanyalah kawah bekas tembakan tersebut. Yang paling aku ingat adalah kata-kata seorang prajurit yang selamat dari serangan BHE yang akhirnya meninggal karena bunuh diri.
“Ternyata manusia adalah makhluk yang mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari para alien yang menyerang bumi 60 tahun yang lalu.” unknown soldier of Vetelita.
Aku masih ingat wajah ketakutan tentara tersebut beberapa hari sebelum dia bunuh diri dengan pistolnya. BHE, memang sebuah senjata yang sangat mengancam fraksi Vetelita tapi seorang peneliti di fraksi Eurika sendiri berkata.....
“Kami sendiri tak tahu sampai kapan manusia bisa mengendalikan kekuatan senjata ini. Satu-satunya harapan kami adalah, senjata ini jatuh di tangan yang benar.” unknown Eurika's Scientist.
Sudahlah, aku kira cukup pelajaran sejarahnya. Kita langsung menuju ke cerita sang pahlawan jauh sebelum mereka dikenal oleh masyarakat sipil pada saat itu. Cerita ini saya dapat dari seorang teman yang juga bersahabat dengan sang pahlawan tersebut. Walaupun sebenarnya aku sudah tulis ulang dan sudah dimuat di beberapa majalah, tapi itu semua telah kena editan dari sang editor sehingga banyak yang tak terungkap.
Ryu Toyoda adalah teman dekat saya sekaligus teman dekat sang pahlawan sejak sekolah militer. Saya pernah meminta sumber berita darinya. Tapi barusan dia memberiku ijin untuk menampilkan secara mentah suratnya di blog ini.
-------------------------------------------------------------
Posted by: Ryu “Omega Dragon”
Hai Mika, apa kabarmu?
Sesuai permintaan mu, aku akan menceritakan segala sesuatu tentang dia, “The Death”.
Mungkin aku akan menceritakannya berdasarkan yang aku lihat ya? Soalnya aku tak bisa menulis ala Jurnalis. ^^
Aku masih ingat betul kejadian yang terjadi setahun sebelum perang berakhir. Waktu itu kami baru saja merebut kembali markas yang berada di kaki gunung Fuji di Jepan. Diantara bangun-bangunan yang rusak, kulihat sebuah mobil kuno berwarna hitam yang parkir di depan kontainer tempat kantor “The Big Boss” sementara berada.
Lalu aku pun langsung bergumam “Mobil apa ini? Masih pakai roda? Hmmm..... Nissan GTR? Buset dah.....ini kan mobil udah satu abad masih dipakai? Bentar......rasanya gw pernah tahu seseorang yang pakai mobil seperti ini. Tapi siapa ya?”
Yah.... aku memang orang yang mudah lupa kalau hal-hal beginian.
Selesai mengamati mobil kuno itu, aku masuk ke kantor dan langsung melangkahkan kakiku menuju ruangan komandan. Saat aku berniat mengetuk pintu ruangan komandan, terdengar suara yang sudah akrab dengan telingaku dari balik pintu.
Aku yang penasaran menempelkan telingaku ke pintu.
“Letnan dua Andrei Nikolaev, lapor bertugas!”
Langsung muncul di benakku, “Andrei Nikolaev? Oh ya betul, cuma ‘Drei’ yang nyetir mobil kuno seperti itu.”
Lalu aku pun melanjutkan kegiatan mengupingku.
“Letnan Andrei Nikolaev, hmmm...... lahir di Moscow. Bagaimana keadaan disana?”, terdengar suara komandan alias ‘The Big Boss’ dari balik pintu.
“Ibu kota kerajaan Vetelita dalam keadaan damai dan aman, komandan!”
Last edited by TheSisterPrincess; 06-05-2008 at 06:56 PM..
|
|
|
11-11-2007, 12:38 AM
|
#3
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
“Jadi kamu bantuan yang dikirim dari Divisi 12? Hmm... baiklah, kuucapkan selamat datang di Divisi 13 dan juga sekaligus di markas ini. Barang-barang kamu telah sampai disini tadi pagi termasuk ‘Grim’. Oh ya, kamu akan saya tempatkan di skuadron 13 yang baru saja dipimpin oleh Letnan Ryu Toyoda. Ryu? Kamu disitu kan?”
Waktu itu aku sendiri cukup kaget bahwa komandan tahu aku sedang menguping dari balik pintu. Mau tak mau aku pun masuk ke ruang komandan.
“Wah, big boss hebat banget bisa tahu saya dibalik pintu?” kataku sambil tertawa dan menggaruk-garuk kepala.
Sang komandan hanya terlihat menghela nafas dan dia berkata “Letnan Ryu Toyoda, inilah insting yang sudah dilatih bertahun-tahun. Juga tolong perbaiki tingkah laku mu itu. Juga, tolong bawa Letnan Andrei keliling markas. Sekarang kalian berdua bisa pergi.”
“Yes Sir!” sahut kami berdua dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Andrei pun tampak diam saja dan terus ke mobilnya.
Aku pun yang kesal karena dicuekin langsung buka mulut, “Hoi, dasar kamu ini. Gak bilang hai atau sejenisnya. Kok tak bilang-bilang kamu dipindahkan kesini?”
Dia pun tampak mengacuhkan aku, terlihat dia sedang mengeluarkan tas dari bagasi mobilnya.
“HEI!!!” Teriak aku.
Akhirnya dia menengok ke aku, “Dimana barak?”
Tampaknya aku benar-benar dicuekin, memang sejak dari sekolah militer dia memang selalu begitu.
Aku pun menghela nafas, “Ayo ikutin aku.”
Kami pun berjalan menuju barak yang letaknya tak jauh dari situ. Ketika aku berjalan, aku melihat satu unit Pauldron sedang dibawa masuk ke hangar. Pauldron tersebut ditutupi kain hitam selayaknya barang-barang militer yang dirahasiakan.
Supaya tak sepi, aku pun mulai bergumam “Kemarin aku memang terdengar kabar bahwa Pauldron generasi ketiga akan datang membantu kita. Aku tak menyangka bahwa itu kau. Generasi pertama selayaknya robot biasa, manusia memakainya untuk melawan para alien 60 tahun yang lalu. Bisa dibilang senjata yang gagal, tapi sejak generasi kedua Pauldron jadi senjata yang efektif sejak kita memiliki teknologi alien. Aku jadi tak bisa ngebayangkan generasi ketiga yang kamu pakai.”
Lalu dia berhenti sejenak, memperlihatkan wajah dinginnya sambil berkata “Kadang ada baiknya kamu tak mengetahui sesuatu.”
Aku pun cuma terdiam saja melihat wajah itu. Sambil berjalan, aku pun mulai memperhatikan penampilannya yang agak misterius: wajah campuran Jepang dan Rusia, badan yang langsing namun kekar, rambut pendek berwarna hitam, dan tinggi sekitar 170 cm. Memang penampilan tak ada yang istemewa untuk seorang tentara, kecuali wajahnya yang kosong dan dingin itu.
Pada akhirnya kami sampai di barak, aku pun ikut mengantarkan dia ke kamarnya yang lokasinya bersebelahan dengan kamarku.
Barak kami adalah barak sementara yang dibangun dari gabungan beberapa kontainer sehingga parktis ketika mau dibangun maupun di bongkar.
Aku pun membuka kamar kosong tersebut dan memberikan kuncinya ke Andrei. Ketika aku hendak mau masuk ke kamarku, alaram tanda bahaya di bunyikan.
Terdengar suara keras dari speaker “Perhatian, ada serangan musuh. Untuk para pilot harap bersiap dengan segera untuk scramble. Perhatian......”
Pengumuman tersebut terus dibacakan berulang-ulang. Aku pun langsung masuk ke kamar untuk mengambil helm pilot aku dan segera berlari ke arah hangar. Andrei juga terlihat keluar membawa helmnya. Tapi yang aneh, helm dia agak berbeda dengan punya pilot pauldron lainnya karena punyanya memiliki visor.
Tapi waktu itu aku tak peduli dengan itu. Kami hanya fokus untuk berlari ke hangar secepatnya. Ketika sampai di hangar, Pauldronku sudah siap di jalankan. Tampaknya mekanik kami belum berani menyentuh Pauldron milik Andrei yang dijuluki ‘Grim’.
Aku pun langsung menaiki Pauldron jenis ‘P-22 Mercutio’ yang cukup terkenal pada saat itu. Dengan tinggi sekitar10 meter, berpostur seperti manusia, memiliki kamera dengan kaca berbentuk V, satu booster di punggung, armor yang tak bersudut, memiliki dua antena di kepala, alat anti gravitasi di kedua kaki, dan kokpitnya yang terletak di bagian dada. Untuk unitku, warna tentu saja kupilih biru tua.
Aku pun langsung memakai helm dan memasuki kokpit. Screen pun menyala dan menunjukan beberapa data ketika booting.
*bip bip*
“Tolong masukan nama dan id number” kata komputer pauldronku.
“Letnan Ryu Toyoda, number id JZA80.” aku pun langsung menyebutkan kata kunci.
Layarpun langsung menunjukan apa yang dilihat oleh kamera dan komputer pun berkata “Selamat siang, letnan Ryu. Aktivitasi selesai. Selamat melaksanakan tugas.”
Aku pun langsung mengambil senapan laser yang letaknya tak jauh dari pauldronku dan segera menaruh di punggungnya. Langsung aku absen semua anggota skuadronku. Saat itu terbesit perasaan sedih di hatiku. Sebenarnya aku diangkat jadi pemimpin skuadron karena mantan pemimpin kami tewas pada perang sebelumnya. Selain itu, 2 teammateku KIA, sedangkan yang satunya lagi MIA.
Jadi pada saat itu Skuadron Omega cuma terdiri dari 4 orang saja termasuk Andrei.
“Omega 1 disini, tolong lapor status kelian. Oh ya untuk Omega 7 dan 8, sekarang callsign kalian Omega 3 dan 4.” aku mulai berbicara dengan dua anggota skuadron lainnya yang masih hijau.
“Omega 3 siap”
“Omega 4 siap”
Merekapun menjawab dengan antusias sejak nomor callsign mereka menjadi lebih kecil. Aku mantan omega 2 tak menunjukan wajah senang sekalipun, karena omega 1 yang dulu adalah pemimpin skuadron yang handal dan baik hati. Aku tak tahu apakah aku bisa memimpin seperti beliau.
“Omega 1 ke Letnan Andrei, apakah persiapan mu sudah selesai?” aku pun mencoba mengontak Andrei.
“Persiapan akan selesai 10 detik lagi.” entah kenapa aku merasa sedih mendengar responnya yang datar, dingin, dan kosong tersebut. Bahkan dia jauh lebih dingin dari ketika kami di sekolah militer.
“Baiklah, sekarang callsign kamu Omega 2. Paham?” tanyaku.
“Paham.” mendengar responnya, aku pun menghela nafas sekali lagi.
Persiapan pauldron milik Andrei tampaknya sudah selesai. Pauldron yang diselimuti kain hitam itu pun mulai berdiri. Entah kenapa aku merasakan tekanan melihat sosoknya yang seperti dewa kematian.
Bodi bercat hitam legam, visor kamera berbentuk V berwarna merah, armor seperti ksatria kegelapan, 3 booster, dan 2 alat anti gravitasi yang menyala kemerahan pada kedua kakinya. Yang paling mencolok adalah jubah hitam yang dikenakannya di bagian belakang.
Selain penampilannya yang seram sekaligus indah, aku merasa ada sesuatu di dalam Pauldron tersebut. Aku merasa pauldron yang diberi nama ‘Grim’ bukanlah sembarang mesin, tapi aku merasakan sesuatu yang hidup pada mesin tersebut.
Setelah ‘Grim’ berdiri dengan tegap, tiba-tiba terdengar dari radio pauldronku “Omega 2 telah siap.”
Aku pun tersadar dari lamunanku, langsung kubalas panggilan tersebut “Bagus, sekarang Omega Squadron siap berangkat. Operator, bisa bantu kami dalam scramble ini?”
“Disini operator Mei Li Zhuge akan membantu Omega Squadron dalam operasi scramble kali ini. Musuh datang dari arah timur dan diperkirakan akan tiba dalam 10 menit lagi.” kata Mei ke semua anggota skuadron.
“Baiklah, ‘The Big Boss’ disini. Misi kalian adalah menghancurkan 3 skuadron musuh yang datang dari Timur. Omega 2 akan menyerang musuh sendirian dan Omega 1, 3, dan 4 cover dari belakangnya.” Perintah dari komandan spontan membuatku kaget.
“Komandan! Apa anda serius dengan perintah anda?!” aku pun mempertanyakan perintah tersebut.
“Ya, ini perintah.” balas komandan dengan dingin.
“Komandan! Bukannya sama saja dengan menyuruh letnan Andrei melakukan bunuh diri?” aku pun berusaha berargumentasi dengan komandan.
“Letnan Ryu Toyoda, kalau anda membantah akan saya beri anda hukuman. Kemampuan ‘Grim’ memang di desain untuk maju sendirian di medan perang. Letnan Andrei Nikolaev, apakah anda sanggup?” jawaban komandan membuatku tak berani menjawab apa-apa.
“Ya, saya mampu.” Andrei pun menjawab tanpa ragu.
Aku pun kesal dan berkata “Ya sudah deh! Terserah kalian. Semuanya segera menuju ke timur!”
Ketika kami berempat sampai di pintu timur markas, aku pun langsung memerintahkan Andrei untuk memimpin skuadron ini meskipun sebenarnya akulah sang pemimpin skuadron.
“Omega 3 dan 4, cover sayap kiri dari Omega 2! Dan jaga jarak 5 detik dengan Omega 2!” perintahku masih dengan nada kesal.
“Roger.” jawab kedua orang tersebut.
Lalu kulihat jubah ‘Grim’ mengeras dan membentuk sepasang sayap, booster dan alat anti gravitasinya menyala kemerahan, dan tongkat yang diambilnya dari punggungnya.
Tongkat tersebut memanjang hingga menyamai tinggi sebuah Pauldron dan plasma cutter berwarna merah tampak keluar dari atas tongkat tersebut sehingga tongkat tersebut tampak seperti tongkat sabit kematian yang sering digambarkan dipakai oleh dewa kematian.
‘Grim’, nama panggilan yang diambil dari ‘Grim the Reaper’ alias dewa kematian. Selain sosoknya yang menyeram, aku juga merasakan perasaan yang tertekan di dalam hatiku dan sekaligus bersyukur bahwa dia berada disisi kita pada waktu itu.
--------------------------------------------------------------
Maaf ya para pembaca, untuk surat dari Ryu sementara sampai saat disini dulu. Juga tampaknya suamiku sudah selesaia bekerja. Aku janji akan melanjutkannya di update berikutnya. Sampai ketemu lagi di part II.
Last edited by TheSisterPrincess; 06-05-2008 at 06:57 PM..
|
|
|
06-05-2008, 12:21 AM
|
#4
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Aku pun meng-upload update untuk blogku. Setelah itu aku tekan tombol power dan laptopku pun dalam keadaan mati. Suamiku yang berlari kearahku pun akhirnya sampai di hadapanku.
“Bagaimana pekerjaan hari ini sayang?” tanyaku.
Dia pun menggaru-garuk kepalanya sambil menjawab “Yah, lumayan. Tadi banyak wisatawan yang mau di foto juga foto souvernirnya cukup laku.”
Sambil mendengarkan pembicaraannya, aku pun kembali memasukan laptop ke dalam ranselku.
“Tadi menulis blog?” tanya dia.
Aku pun tersenyum dan menjawab “Iya, kali ini aku menulis kisah mereka berdua.”
“Kisah mereka berdua ya?” Suamiku tampaknya sedang bernostalgia dalam pikirannya sambil menatap matahari terbenam di ufuk barat pantai Karibia yang tampak sangat damai, tenang, dan romantis.
Last edited by TheSisterPrincess; 06-05-2008 at 06:59 PM..
|
|
|
06-05-2008, 12:23 AM
|
#5
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Akupun terbangun dari tidurku yang lelap. Dengan menggunakan setelan babydollku, aku menuju kaca jendela dan membuka kordennya. Kulihat pandangan pantai pada pagi hari yang indah.
Jam dinding di ruang tidur tersebut sudah menunjukan jam 9 pagi. Tampaknya suamiku sudah pergi ke pantai untuk mulai bekerja, karena kamera yang biasanya diletakan di atas meja sudah tak ada lagi.
Tanpa memikir panjang pun, aku menuju shower box untuk mandi. Setelah itu aku segera berkemas-kemas untuk menuju kafe favoritku yang terletak tak jauh dari pantai. Tentu saja, aku tak akan melupakan laptop yang merupakan partner setia menulisku.
Sesampainya di kafe tersebut.
“Selamat pagi, tempat yang biasanya bu?” tanya seorang pelayan di kafe tersebut.
Aku pun menunjukan senyum dan berkata “Tentu saja.”
Aku pun menuju kursi yang memiliki pemandangan menuju pantai yang paling bagus di kafe tersebut.
“American breakfast, seperti biasanya?” tanya pelayan itu lagi.
“Tentu saja, jangan lupa extra sausnya ya?” jawabku.
“Baiklah” kata pelayan tersebut sambil membungkuk.
Sambil menunggu pesananku datang, aku pun membuka laptopku untuk melihat berita-berita yang ada. Di jaman yang serba damai begini, melihat berita memang merupakan sesuatu yang percuma karena tak ada konflik yang terjadi sekarang. Juga aku melihat beberapa komentar yang kebanyakan meminta entry blogku yang kemarin diteruskan secepatnya.
Seiring waktu, pesananku pun datang. Kuseduh sedikit teh hangatku dan jariku pun memulai mengetik untuk blogku. Tentunya, aku tak lupa untuk makan sarapanku.
***
20 November 2117
Dancing with The Death (Part II: The Angel)
Hai, para pembaca sekalian terima kasih atas komentar untuk part 1. Tampaknya banyak dari kalian semua tak sabar membaca cerita berikutnya. Begitupun saya yang tak sabar untuk melanjutkannya. Inilah lanjutan surat dari Ryu Toyoda.
--------------------------------------------------------------
Musuh datang sebentar lagi, tapi kami tentunya tak akan membiarkan mereka memasuki markas ini sedikit pun. Maka kami akan langsung mendatangi musuh.
“Omega 2, intercept jalur musuh dalam waktu 1 menit lagi. Omega 3 dan 4, jaga jarak dengan Omega 2 kira-kira 5 detik dibelakangnya. Apakah kalian semua paham?” perintahku ke semua Omega skuadron.
“Omega 3 disini, paham!”
“Omega 4 disini, siap melaksanakan misi!”
Kedua orang tersebut menjawab dengan antusias. Tapi, Drei merespon dengan nada yang datar.
“Omega 2 disini, siap melaksanakan tugas.”
“Baiklah, kita akan meluncur sebentar lagi. Misi akan dimulai dalam waktu 10....9.....8.....7....6....5.....4....3.....2.... 1....0. Misi dimulai!” teriakku.
Terlihat Grim langsung meluncur dengan cepatnya di depan kami.
“Omega 3 ke Omega 1! Kami tak bisa mengikuti di belakangnya!”
“Tetap berusaha mengikutinya dari belakang!”, kecepatan Grim tak bisa dibandingkan dengan P-22 Mercutio kami yang merupakan Pauldron tercepat di kelasnya.
Tak sampai satu menit, kulihat di radar bahwa Grim sudah melakukan kontak dengan unit musuh.
Yang paling mengejutkan, musuh yang berjumlah 3 skuadrom atau 24 unit Pauldron, hilang satu persatu di radarku. Sampai pada akhirnya radar pauldronku tak menunjukan tanda satu musuh pun.
Tak lama kemudian aku sampai di lokasi dimana tempat Grim dengan pasukan musuh melakukan kontak. Bertapa terkejutnya aku, tempat itu menjadi kuburan para Pauldron. Yang berdiri disana hanyalah Grim yang memegang sabit kematiannya dan jubahnya berkibar.
“Omega 2, la....laporkan status!”, aku masih terkejut melihat keadaan sekelilingku.
“Omega 2 kepada Omega 1, status ok.”, jawabnya dengan nada datar.
Entah apa julukan yang pantas untuknya? Mesin pembunuh, monster, atau mungkin yang paling tepat adalah Dewa Kematian. Jantungku masih berdetak keras karena melihat sosoknya yang mengerikan dan kenyataan yang ada. Tanganku yang memegang tongkat kendali juga bergetar ketakutan.
“Omega Skuadron! Ada satu unit yang tak dikenal sedang menuju kesana!” kata Mei lewat radio.
Aku pun melihat radar dan tak ada satupun tanda-tanda dari unit yang dimaksud sebelumnya, “Operator! Unit tersebut tak tampak di radar. Darimana anda dapat informasi tersebut?”
“Unit tersebut tampak dari pesawat pengintai, terakhir terlihat di 10 km timur dari lokasi kalian dan diperkirakan menuju tempat kalian berada.”
Hanya satu unit, tentu saja aku sempat mengira Mei sedang bercanda tapi dalam misi bercanda adalah hal yang tabu. Maka aku pun menganggap serius omongan Mei.
“Ke semua unit Omega, persiapkan kontak dengan musuh.”, tapi tiba-tiba aku melihat Grim meloncat tinggi dan timbul ledakan di tempat dia bediri sebelumnya.
Aku pun terkejut untuk keberapa-kalinya, tak ada tanda-tanda serangan misil. Tanah tadi mengalami kerusakan seakan-akan sebuah ranjau meledak, tapi aku yakin di sekitar sini tak ada ranjau yang ditanam.
Aku melihat sekelilingku, tapi yang tampak hanyalah 2 unit temanku dan puing-puing dari Pauldron yang hancur oleh Grim. Sungguh keheningan yang aneh.
Tiba-tiba kudengar suara benturan diudara, kulihat keatas dan tampaklah kilat-kilat merah dan biru bergantian di tempat berlainan di udara.
Tak lama kemudian aku menyadari bahwa Grim sedang bertarung dengan subuah Pauldron berwarna putih dengan plasma cutter berbentuk anggar yang menyala kebiru-biruan.
Kami yang berada di darat hanya terbengong-bengong melihat kecepatan dua Pauldron tersebut yang sedang bertarung di udara.
Gerak-gerakan mereka sangat sulit ditangkap oleh mata. Aku hanya berpikir bagaimana pilot-pilot tersebut bisa bereaksi secepat itu? Terus terang saja, aku menyangka bahwa aku sedang bemimpi saat itu.
Aku tak bisa mendeskripsikan pertarungan saat itu, yang kutahu mereka saling beradu plasma cutter di udara dengan kecepatan yang tak dapat dipercaya.
Setelah beberapa saat pertarungan tersebut, kedua pauldron tersebut mendarat bersamaan dan berdiri berhadapan. Akhirnya aku bisa melihat pauldron putih tersebut dengan jelas. Sosoknya bisa dibilang berlawanan dengan Grim, desain bodi yang lebih feminin seperti dewi, berwarna putih, dan yang mencolok adalah sayap yang menyala-nyala kebiruan seperti plasma cutternya yang berbentuk anggar.
“Omega 3 disini, saya akan back-up Omega 2.”, kata salah satu anggota skuadron sambil melangkah mengdekat.
“Jangan mendekat!” teriak Drei yang memecah keheningan saat itu.
Tiba-tiba pauldron misterius mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Grim.
Secara spontan Grim melakukan gerakan menghindar, Drei pun berteriak “Awas!”
Temanku dengan code name ‘Omega 3’ pun langsung spontan juga ikut melakukan gerakan menghindar. Tapi benar-benar beruntung, tangan pauldron ‘Omega 3’ tiba-tiba hancur seperti dihantam sesuatu yang tak tampak, bisa kupastikan bukan disebabkan sesuatu seperti misil. Pauldron ‘Omega 3’ pun langsung terpental dan rubuh.
Mataku terbuka lebar seakan bertanya-tanya “Apa yang terjadi?”
“O…omega 3, laporkan status!”, aku berusaha mengontak ‘Omega 3’ walaupun mulutku masih bergetar seakan tak mampu berkata-kata.
“Aku tak apa-apa, tangan kanan menghilang tapi bagian lain masih berfungsi dengan baik.”, aku pun bernafas lega mendengar teman seperjuanganku masih hidup. Aku tak mau lagi kehilangan teman satu skuadron, karena siksaan yang paling berat untukku adalah kehilangan teman di medan perang.
“Kalian semua mundur.” Kata Drei.
“Apa?” tanyaku memastikan.
“Mundur kalian semua!!! Pauldron kalian tak akan mampu melawannya!”, teriakan Drei membuatku kaget. Karena dia tak pernah mengeluarkan suara sekeras itu.
Spontan kedua temanku dan termasuk aku segera menjauh dari medan pertempuran sampai kami hanya bisa melihat kedua Pauldron yang penuh misteri itu dari kejauhan.
Jantungku berdetak sangat kencang, tercenggang melihat teknologi yang bagaikan sihir, bertanya-tanya “Sampai mana manusia bisa berkarya?”
Keadaan tegangpun memuncak saat Grim dan Pauldron putih tersebut berhadapan diatas tumpukan ‘mayat’ Pauldron korban Grim. Langitpun memendung dan mulai menggemuruhkan suara halilintar. Air turun satu persatu dari langit sehingga terjadi hujan.
Waktu terasa seakan berhenti karena kedua Pauldron tersebut tetap gak melakukan satu gerakan satu pun. Aku pun meneguk air liur dalam mulutku dan keringat dingin membasahi dahiku
Pauldron putih pun melakukan ancang-ancang melompat, membuat Grim bersiap-siap mengayunkan sabit kematiannya itu.
Tapi yang dilakukan Pauldron putih tersebut adalah melompat menjauhi Grim dan kembali ke balik garis pertahanan mereka.
Aku melihat ke radar, tak ada satu pun tanda dari musuh.
“Operator, apakah ada unit musuh di sekitar kita?”, aku memastikannya ke Mei.
Aku menunggu jawaban beberapa detik dan barulah ada jawaban, “Operator disini, dari kamera pesawat pengintai dan foto satelit tak ada tanda-tanda Pauldron satu pun. Misi selesai. RTB”
“Roger, Omega Skuadron RTB”, aku pun bisa sedikit bernafas lega sekarang karena sedikitnya bahaya tak tampak di depan mataku dan juga tak ada temanku yang KIA maupun MIA dalam misi ini.
Kami pun mulai kembali menuju markas.
Sesampainya disana, ketika kami turun dari Pauldron kami para mekanis langsung membenahi Pauldron kami terutama milik ‘Omega 3’ yang kehilangan lengan kanannya.
Mei terlihat berlari mendekati kami dan terlihat terkejut saat dia melihat Drei.
Last edited by TheSisterPrincess; 06-05-2008 at 07:04 PM..
|
|
|
06-05-2008, 12:24 AM
|
#6
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
“Ada apa Mei?” tanyaku.
“Eh…ah…hmm….tadi ‘The Big Boss’ meminta kalian melapor kepadanya tentang misi tadi.” Jawab Mei.
Kami pun otomatis berjalan mengikuti Mei yang sedang menuju ruang briefing yang letaknya bersebelahan dengan kontainer ruang Komandan. Tapi yang menarik perhatianku adalah wajah Mei yang memerah setelah melihat wajah Drei.
Kami pun sampai di depan ruang briefing, Mei pun membuka pintu tersebut dan langsung tampak tubuh ‘The Big Boss’ atau komandan kami yang agak gemuk namun kekar dan berkulit gelap sebagaimana orang hitam keturunan Afrika pada umumnya.
“Baiklah, kalian silahkan duduk. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan ke kalian sebagai satu-satunya special unit di markas ini.” kata komandan.
Kami pun dengan segera duduk di tempat duduk yang telah tersedia disana dan komandan memutar rekaman pertempuran dari unitku.
Komandan pun memulai pertemuan tersebut, “Kalian tentu melihat dengan jelas Pauldron misterius berwarna putih dari pertempuran yang terjadi barusan. Dari data intelejen menyebutkan bahwa itu adalah prototype Pauldron generasi ketiga yang telah dikembangkan oleh fraksi Eurika. Mungkin satu-satunya unit yang mampu menghadapinya adalaha hanya Grim. Jadi aku minta kalau kalian berhadapan dengannya, jangan buang nyawa kalian, dan serahkan unit ini kepada Grim. Letnan Andrei Nikolaev, apakah anda mampu melakukannya?”
Drei mengangguk dan Komandan pun melanjutkan “Sementara radar kita yang paling muktahir sekalipun tak bisa mendeteksi unit ini. Jadi unit ini hanya bisa dideteksi secara visual jadi pasang mata kalian lebih lebar-lebar dalam pertempuran. Mulai sekarang unit ini disebut dengan nama ‘The Angel’. Letnan Mei Li Zhuge, harap luncurkan pesawat mata-mata tak berawak di setiap serangan musuh untuk memastikan keberadaan ‘The Angel’ diantara unit musuh.”
“Baik, komandan!” jawab Mei.
Aku pun mengangkat tangan, “Big Boss! Kenapa ‘The Angel’ tadi mundur dari pertempuran tadi?”
“Saya pun tak punya jawaban yang pasti, ada kemungkinan unit tadi hanya memastikan kekuatan tempur di markas ini. Kita juga dirugikan karena Grim juga tampak oleh musuh, tapi kita juga bisa mengetahui unit rahasia dari musuh. Sekali lagi saya minta kalau bertemu dengan ‘The Angel’, serahkan pada Grim. Sekian!”, komandan pun menutup pertemuan.
Kami pun mulai keluar dari ruangan tersebut. “Mei pasti kau senang satu markas dengan tunanganmu sekarang.”kata komandan dengan tersenyum kepada Andrei dan Mei yang keluar di belakang ku.
Mei hanya tersipu malu sedangkan Andrei tetap dengan wajahnya yang dingin itu. Aku hanya bingung kok bisa-bisanya dia tetap berwajah dingin di depan wanita yang telah menjadi tunangannya tersebut.
Aku pun hanya bisa menghela nafas melihat dinginnya ekspresi Drei. Kami pun menuju kamar masing-masing untuk beristirahat hingga pada jam makan malam.
Aku pun tidur sejenak dan bangun jam 6 malam. Segera aku keluar kamar dengan celana panjang dan kaus berwarna biru ala angkatan udara. Aku mengebel kamar Drei yang merupakan tetangga baruku.
“Masuk.” Panggilnya dari dalam.
Aku pun masuk ke kamarnya dan kulihat sebuah ruangan yang hanya terdiri dari meja, tempat tidur, dan beberapa kardus. Tampaknya dia sedang melihat video pertempurannya dengan ‘The Angel’ yang barusan terjadi.
“Ada apa?” tanya Drei.
Aku pun menjawab “Tidak, hanya memberi tahu nanti ada pesta penyambutan anggota baru di kafetaria jam 7.”
“Baiklah.”, jawabannya yang bernada cuek itu, terus terang membuatku sedikit sebal.
Tapi aku pun berusaha sabar, sambil menutup pintu aku berkata “Jangan telat ya?”
Aku pun pergi ke depan pintu masuk barak untuk merokok sejenak. Kuambil satu kardus rokok Mild Seven dan kunyalakan dengan pematik elektronik. Kuhisap pelan-pelan dan kuhembuskan asapnya pelan, memberikan sedikit perasaan tenang pada diriku.
Lalu dari barak wanita tampak Mei keluar dan berjalan menuju ke arahku. Dengan sedikit sikap malu, dia mulai berbicara ke aku “Hmm…Ryu, bisa minta bantuan mu gak?”
Aku pun agak bingung menanggapi permintaan tersebut, “Memangnya kamu perlu bantuan apa?”
Mai masih dengan sikap malu-malunya itu menjawab “Begini lho, aku ingin tanya. Andrei itu orang yang seperti apa sih?”
“Lho bukannya kamu yang memilih akan menikah dengannya?” tanyaku dengan heran.
Mei pun tertawa kecil, “Iya, tapi dia itu kupilih diantara beberapa calon yang diajukan oleh orang tuaku.”
Aku pun bertanya “Atas dasar apa kamu memilihnya?”
Mei pun menjawab “Waktu kulihat wajahnya lewat foto, terlihat rasa kesepian di wajahnya. Makanya itu aku menebak bahwa dia adalah pria yang menarik.Selain itu dia terlihat cukup tampan. Hihihi…”
Terus terang, aku senang dengan tawanya itu. Tapi apa boleh buat, dia sudah bertunangan dengan Andrei.
Dengan sedikit berat hati aku menjawab pertanyaannya, “Andrei itu orang yang pendiam tapi sebenarnya dia sangat peduli dengan temannya. Tapi dia itu sangat sulit mengungkapkan perasaannya. Yah…. orang yang cukup susah di ajak gaul.”
Mei pun terlihat tersenyum membuatku sedikit cemburu. Walaupun batas waktu wajib menikahku masih setahun lagi, tapi setidaknya aku ingin menikah bersama gadis yang kucintai bukan dijodohkan dengan orang tua atau dipilih secara acak oleh pemerintah.
“Terima kasih Ryu.” kata Mei sambil kembali ke barak wanita. Aku pun menghisap rokok sekali lagi dan menghembuskan asapnya. Kulihat jam sudah menunjukan angka 18:45. Sudah saatnya mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut Drei.
Sambil terus menghisap rokok aku pergi ke kafetaria. Kebetulan hari ini adalah giliranku bertugas untuk mempersiapkan makan malam di kafetaria hari ini.
Sambil mempersiapkan, tiba-tiba terdengar suara dari belakangku “Hei Ryu!”
Aku pun menengok ke belakang dan kulihat Faisal alias ‘Omega 3’ dan Arjuna ‘Omega 4’.
“Oh kalian? Faisal! Bagaimana keadaan Pauldron kamu?” tanyaku sambil terus sibuk mempersiapkan makan malam.
Last edited by TheSisterPrincess; 06-05-2008 at 07:02 PM..
|
|
|
06-05-2008, 07:02 PM
|
#7
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
“Hahaha, rusak parah. Untung para mekanik punya komponen tangan cadangan.” kata Faisal sambil menggaruk-garuk kepala.
Dengan masih sibuk mempersiapkan alat-alat makan untuk makan malam, aku memperingati Faisal “Untung ada Drei yang memperingatkan kamu, kalau tidak anggota Skuadron kita sekarang akan berkurang satu lagi.”
Setelah itu aku hanya terdiam saja, membuat Faisal merasa sedikit bersalah.
“Maafkan aku Ryu, aku janji akan lebih berhati-hati di lain waktu.” Kata Faisal sambil membungkuk dan menggaruk kepalanya.
Arjuna pun berkata “Sudahlah! Yang penting kita semua selamat. Ryu! Sini aku bantu!”
“Ya, sekalian aku juga bantuin!” kata Faisal dengan antusias membantuku sehingga persiapan makan malam selesai dengan cepat.
“Akhirnya selesai juga.” ucapku dengan ekspresi puas melihat ruang makan itu siap untuk makan malam.
“Hei yang lain sudah datang tuh.” kata Faisal sambil mengintip keluar. Semua orang disatu markas tersebut masuk satu persatu dan mengantri secara tertib mengambil makanan yang telah disediakan.
Satu tim skuadron kami pun duduk satu meja dengan komandan kami dan juga Mei, kecuali Drei yang duduk sendirian di sudut ruang makan tersebut. Aku pun berdiri menuju Drei dan mengajaknya “Drei, ayo duduk dengan kita.”
Dia pun hanya terdiam dan berjalan menuju meja kami. Aku pun mempersilahkan dia duduk disebelah Mei dan dia hanya menurut saja tanpa berkata apa-apa.
Aku pun menyentikan mata untuk memberi isyarat pada Mei untuk memulai pembicaraan dengan Drei.
“Drei, bagaimana kabarmu?” Mei pun mencoba berbicara dengan Drei.
Drei pun tampak terkejut “Ah....baik aja.”
“Kamu senang gak dipindah ke markas ini?” tanya Mei sekali lagi.
Drei pun menjawab “Biasa saja, aku sudah biasa dipindah satu markas ke markas yang lain.”
Jawaban Drei yang cenderung cuek membuat Mei menjadi tambah gugup hingga terdiam. komandan pun menghela nafas sambil memegang keningnya, tampaknya beliau baru tahu ada pria secuek Drei.
Komandan pun bangkit berdiri dan memberi pengumuman kepada semua staff di ruang makan tersebut “Ehem...Saya ingin mengumumkan bahwa kita kedatangan satu pilot pindahan dari divisi 12, Andrei Nikolaev. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengannya. Andrei, saya harap kamu berdiri.”
Drei pun berdiri dan memberi salam hormat. Seluruh ruangan pun memberi tepuk tangan dan Drei pun langsung duduk di kursinya. Ekspressinya pun tak berubah sedikit pun dan dia hanya melanjutkan makannya.
Tak lama dia selesai makan, Drei pun segera keluar ruangan tersebut. Hal itu mengundang pembicaraan di atas meja.
Komanadan bertanya kepadaku “Ryu, apakah dia sejak dulu begitu?”
Aku pun agak bingung menjawabnya “Sejak dulu memang dia orangnya agak dingin, tapi setidaknya tak sedingin sekarang. Tak tahu apakah yang terjadi padanya selama ini.”
Wuh.....cukup panjang yang aku ceritakan. Sebaiknya kamu minta lanjutannya ke Arjuna saja. Setidaknya dia tahu apa yang terjadi setelah itu.
Oh ya! Kamu juga menanyakan kesan aku tentang Drei. Kesanku apa ya....? Yang pasti dia adalah lelaki yang paling lelaki diantara lelaki. Hahahaha, agak sulit untukku mengatakannya
Setidaknya berkat dia, kita berada di dunia yang sekarang ini.
TTD
Ryu Toyoda
--------------------------------------------------------------
Nah pembaca sekalian, itulah surat yang saya terima dari Ryo Toyoda. Untuk Ryu, kalau kamu cape nulis bilang saja ^^. Tapi terima kasih untuk susah payah menulis sepanjang ini, Ryu. Semoga kamu kekerasan di Tokyo sana.
Setidaknya kita sudah mendapat gambaran dari Ryu, bagaimana sifat sang pahlawan yang kita kenal. Dengan berakhirnya surat dari Ryu oyoda yang pertama, jangan khawatir bahwa ceritanya selesai. Karena saya sudah mendapatkan surat dari Arjuna.. Sampai jumpa di part III.
***
Aku pun merenggangkan badan setelah mengepost blog yang aku tulis. Sang pelayan kafe pun menuangkan teh ke cangkirku yang kosong. Tak lupa dia mengambil piring kotor bekasku.
Sambil membersihkan meja, pelayan itu pun berkata padaku “Bu, blognya udah ada yang baru?”
Aku pun agak kaget, ternyata pelayan kafe itu adalah pembaca blogku. Tentu saja aku menjawab pertanyaannya “Iya, barusan saya pos. Kamu baca blog saya ya?”
Dengan senyum ramah pun dia menjawab “Iya, saya senang sekali membaca blog anda. Dari yang menceritakan pengalaman di beberapa tempat di dunia, luar angkasa, dan yang terakhir tentu saja yang tentang ‘AlTeW Conflict’.”
Jawabannya membuat senyumku semakin lebar “Baiklah! Jangan lupa baca post saya yang baru ya? Lanjutannya kalau sempat besok saya buat.”
“Baik!” jawab pelayan itu dan setelahnya dia pergi.
Last edited by TheSisterPrincess; 06-05-2008 at 07:06 PM..
|
|
|
07-06-2009, 09:56 PM
|
#8
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Re: [Story] Dancing with The Death
Bunyi jam weker yang keras membuka mataku. Aku pun segera melihat jam weker yang menunjukan pukul 5:00 PM. Kutaruh kedua kakiku ke atas lantai dan duduk di atas ranjang sambil merenggangkan badan. Masih kuingat wajah pelayan tadi pagi yang seakan tak sabar menanti kelanjutan blogku. Tak ada penghargaan lain dari penulis selain wajah ceria pembaca.
Saat itu, kuputusan untuk segera melanjutkan blogku setelah aku mandi. Segera kupersiapkan bathtub yang ada di kamar hotel, setelah penuh pun aku mencelupkan sabun sehingga bathtub tersebut penuh dengan busa dan mengeluarkan bau lavender favorit ku.
Segera ku segera menanggalkan pakaian-pakaian ku dan mencelupkan seluruh tubuhku kedalam bathtub tersebut. “Ahh...” kataku dengan rileks.
Kulihat di sebelah kiri ku terdapat sebuah telepon genggamku yang bisa dibilang cukup tua. Kuperhatikan seksama telepon genggamku yang sudah beret sana sini dan ada beberapa penyok pada body telepon genggam tersebut. Maklum telepon genggamku sudah kupakai sejak perang 5 tahun yang lalu. Dia telah melewati masa-masa suka dan duka bersamaku dalam perang tersebut. Juga, beberapa kenanganku akan mereka ada dalam memori telepon genggam ini.
Kubuka mailbox-ku 5 tahun yang lalu, masih bisa kubaca pesan-pesan dari ‘Drei’ dan ‘dia’. Semakin banyak pesan lama yang kubuka, semakin ingin pula aku melanjutkan blogku secepatnya.
Ketika aku sedang asyik berendam dan membuka mailbox lama-ku, tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar mandi “Sayang! Aku pulang!”
Aku pun langsung membalas “Ya sayangku! Aku baru saja mau selesai mandi.”
Setelah keluar dari bathtub dan mengeringkan badan, aku pun keluar dengan hanya mengenakan handuk.
Kulihat suami-ku tidur terlelap diatas ranjang dalam keadaan masih memakai pakaian perginya. Aku pun hanya bisa menghela nafas, apa boleh buat. Dia tentu sangat capai dari berkerja seharian. Aku pun mencium keningnya dan memakai pakaianku.
Akhirnya setelah duduk diatas kursi, mataku pun langsung fokus ke layar dan jari ku pun mulai mengetik kembali.
*** 20 November 2117
Dancing with The Death (Part III: The Brothers in Arms)
Mungkin pembaca sekalian terkejut jika blog ini saya update dua kali dalam sehari. Berterima kasihlah pada salah satu pembaca blog saya yang membuat saya bersemangat melanjutkan blog ini pada hari ini juga.
Berikut ini adalah cerita lanjutan dari yang dari tadi pagi, hanya saja sekarang akan di ceritakan oleh Arjuna. Silahkan menikmati.
*******************************
Posted by: Arjuna “Omega Karna”
Hai, Mika!
Aku dikasih tahu sama Ryu bahwa kau membutuhkan bahan berita ya? Serahkan saja padaku! Aku akan melanjutkan apa yang di ceritakan oleh Ryu.
Tapi sebelumnya ada sedikit pengenalan kembali dariku. Pada waktu itu aku di tempatkan di divisi 13 skuadron 13 atau yang sering disebut “Omega Squadron - Pauldron Special Unit”. Salah satu skuadron elite dari Kerajaan Vetelita, namun pada waktu itu hanya kami bertiga yang masih selamat lalu tak lama kemudian datang Andrei Nikolaev dari Divisi 12 yang merupakan divisi khusus penelitian dan pengembangan senjata. Jadi aku bisa menebak “Grim” atau pauldron milik Drei adalah prototype Pauldron generasi ketiga yang dikembangkan Divisi 12.
Di Omega Squadron, aku berperan sebagai sniper yang menyerang dengan senapan jarak jauh. Omega 3 atau Faisal, dia merupakan ahli hand to hand combat. Lalu Ryu alias Omega 1, merupakan ahli tarung jarak dekat atau setara close quarter combat.
Kembali ke cerita yang sebelumnya di ceritakan Ryu, setelah makan malam pun aku kembali ke kamarku yang letaknya berdekatan dengan kamar Drei dan Ryu. Memang peletakan kamar diatur berdasarkan skuadron.
Di dalam kamar pun aku hanya berbaring dan berharap musuh tak datang pada malam itu. Tapi perang tadi siang masih menghantui kepalaku. Masih kuingat apa yang kulihat dari scope senapan ku. Bagiku “Grim” terlihat seperti Iblis Kematian, apa yang disentuhnya akan menjadi abu.
Karena sangat takut, tanganku yang memegang tuas kendali gemetaran. Mungkin kalau aku tak mengingat bahwa “Grim” ada berada sisi kita, aku bisa menekan tombol untuk menembaknya.
Dalam keadaan berbaring dan berusaha menenangkan diri, aku mendengar bunyi pintu dari luar kamar ku. Aku pun bangun sejenak lalu membuka pintu untuk melihat siapa yang membuat bunyi tersebut.
Setelah kuintip, sosok belakang Drei tampak menuju ke ruang tengah dari barak. “Mungkin kalau aku mendekati dia, mungkin ketakutan yang kualami tadi akan menghilang.” pikirku.
Memang biasanya aku merawat salah satu senapan tua koleksiku di ruang tengah barak karena kamar di barak terlalu kecil untuk bongkar pasang sebuah senapan. Kubuka locker tempat koleksi senjataku dan menarik sebuah koper panjang dengan ukiran huruf “L96”.
Akupun mengambil satu kantong kecil berisi alat-alat yang kuperlukan untuk melakukan perawatan senapan. Setelah itu pun aku membawa koper dan kantong tersebut ke ruang tengah dimana Drei menuju ke sana.
Ketika memijakan kakiku di ruang tengah barak tersebut, kulihat Drei sedang membaca sebuah buku kecil bersampul warna putih. Kuberjalan mendekatinya lagi dan tampak judul buku tersebut “Perang dan Kemajuan Manusia” karangan Fujiwara Taiki.
Yang kuingat pasti, buku itu salah satu karangan terkenal yang terbit sebelum “AlTeW Conflict” pecah. Buku yang menjelaskan sejarah manusia yang tak pernah lepas dari perang.
“Kamu senang dengan buku itu?” aku pun mencoba memulai pembicaraan dengan Drei sembari duduk di salah satu kursi dan menaruh koper di atas meja.
Tampaknya Drei agak terkejut pas aku aja bicara, setelah itu pun dia membalas “Bukannya senang, melainkan saya tertarik dengan konsep yang ada di dalam buku ini.”
“Bilang aja senang!” kata hatiku. Waktu itu aku sadar, tampaknya Drei memang orang yang tertutup dan jarang berbicara ke orang lain, sama seperti diriku yang dulu.
“Sudah baca sampai mana?” tanyaku pada Drei.
“Bab 5, tentang teori keseimbangan Dunia.” jawabnya.
Tentu saja aku juga membaca buku yang menjadi favoritku, namun buku itu hancur di markas sebelumnya tapi aku masih ingat semua isi-nya. “Konsep Yin Yang, Siang dan Malam, Baik dan Buruk. Semua konsep ‘saling menyemimbangkan’ muncul di hampir semua kepercayaan dan ajaran. Begitu juga jika di dunia ini ada perdamaian, tentunya ada perperangan.” aku pun menyeletuk kata-kata pertama dalam bab 5 dari buku tersebut.
Tampaknya Drei agak terkejut untuk kedua kalinya. “Letnan satu Arjuna juga membaca buku ini?”
“Sudah lah, panggil saja aku Arjuna. Bolehkah kau kupanggil Drei?” dia pun hanya mengangguk dan aku melanjutkan “Tentu saja aku membaca buku tersebut, bagian yang paling aku ingat adalah bab 5 tersebut.”
“Istilah ‘Tak ada perang maka dunia akan kiamat’ pun ada benarnya. Karena keseimbangan dunia hancur dan perkembangan teknologi manusia sebagian besar datang dari teknologi perang.” akupun menyebutkan kalimat favoritku dari bab tersebut.
Lalu Drei melanjutkan “Kebanyakan perkembangan teknologi manusia memang banyak yang bersifat tidak bermoral dan tidak etis, bahkan dunia kedokteran banyak tertolong oleh percobaan Nazi pada manusia pada perang dunia II. Pisau merupakan teknologi perang pada jaman batu, teknologi nuklir dari perang dunia II, dan juga anti-gravitasi dari human wars.”
Aku pun tersenyum kecil mendengar lanjutan dari kalimat itu. “Ironis memang dunia yang kita tempati sekarang. Kita mendapat teknologi dengan menteteskan darah. Drei....apa kamu mau tahu apa alasanku menjadi sniper?”
Drei pun terdiam sejenak mendengar pertanyaan anehku tersebut lalu dia pun menjawab “Boleh saja.” Tiba-tiba dia menjawab dengan nada dingin lagi.
“Kakek ku adalah seorang Sniper handal di Kopasus Indonesia dan juga orang pertama yang bisa menjatuhkan satu unit alien.”
Lalu Drei memotong “Jadi yang menjadi titik pembalik keadaan perang adalah kakekmu?”
Aku pun mengangguk dan melanjutkan. “Betul, sejak itu manusia bisa mendapatkan sampel teknologi alien dan menggunakan teknik ‘backward engineering’ berhasil menciptakan teknologi baru. Setelah itu dia menjadi pahlawan di Human Wars.”
“Apa karena kakekmu sniper yang menjadi pahlawan maka kamu menjadi sniper?” tanya Drei lagi.
“Sebenarnya tidak, karena setelah itu aku mau menjadi lain dari kakekku yaitu menjadi close quarter combater. Tapi perang yang kami alami beda, kakek perang melawan alien sedangkan kita melawan sesama manusia. Juga kakek tak menggunakan Pauldron seperti sekarang.”
Lalu aku pun terdiam sejenak dan mata Drei yang dingin sekaligus tenang seakan memintaku melanjutkan kata-kataku.
“Masih kuingat ketika pertama kali aku dikirim ke medan perang. Aku masih ingat wajah korban pertamaku di medan perang. Setelah aku terdesak, aku mengeluarkan pisau plasma cutter dan langsung merobek bagian kokpitnya. Dia pun panik dan hampir menembakan senapannya ke arahku. Dengan spontan aku menghujamkan plasma cutterku ke kokpitnya langsung. Aku tak ingat apa-apa setelah itu, yang kuingat hanyalah kamera Pauldron ku terciprat oleh darah.” tiba-tiba tanganku bergetar dan mulutku berhenti berbicara. Tangan kananku pun menutupi mukaku.
Tiba-tiba si Drei mengambil tempat duduk yang lebih dekat dengan ku dan memanggilku sembari memandang mataku “Ayo ceritakan semuanya agar kau menjadi lebih tenang.”
“Setelah itu pun aku minta pindah ke sniper unit, sedikitnya aku tak perlu melihat korbanku dari dekat. Untungnya darah sniper dalam diriku sama kentalnya dengan kakek ku.”
Drei pun sedikit tersenyum. Walaupun cuma sesaat, aku sangat yakin dia tersenyum.
Last edited by TheSisterPrincess; 07-06-2009 at 10:01 PM..
|
|
|
07-06-2009, 09:59 PM
|
#9
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Re: [Story] Dancing with The Death
“Dalam perang, musuh utama kita adalah diri kita sendiri, jika kamu ragu maka kamu bisa tewas di medan perang. Juga kemenangan terbesar bagi kita tentara adalah selamat dari medan perang. Menang perang hanyalah istilah politikus belaka.” kata-kata Drei membuat diriku sedikit tenang.
Tapi tetap saja aku hanya tersenyum sedih. “Memang, selamat di medan perang adalah suatu hal yang bagus untuk kita sendiri. Tapi alangkah bagusnya kalau kita hidup di dunia yang damai.”
Drei pun hanya bangkit berdiri “Setidaknya kita masih mempunyai teman seperjuangan, itu sudah lebih dari cukup untuk di atas medan perang.” Lalu dia berjalan kembalai menuju kamarnya.
Andrei Nikolaev memang sosok yang penuh misteri, aku pun tak menyangka dia bisa berbicara banyak seperti itu. Dibalik sikapnya yang acuh itu, ternyata dia cukup perhatian. Cukup berbeda dengan sosoknya ketika dia mengendarai “Grim”.
Aku pun teringat kembali bahwa aku semestinya merawat L96 kakekku. L96 yang telah membawa kemenangnan manusia akan alien. Kubongkar satu persatu komponen senapan yang usianya lebih dari satu abad tersebut. Hampir tak ada karat karena perawatan yang kulakukan dan kualitas senapan itu sendiri.
Yang pasti, aku merasakan sesuatu.
“Faisal! Kamu sejak tadi di situ kan?” Aku merasakan Faisal menguping pembicaraanku dengan Drei. Faisal, seorang pemuda dari Turki. Orangnya cukup periang meskipun dia sebenarnya adalah seorang keturunan bangsawan yang mesti keluar dari negaranya karena Turki sedang dikuasai oleh Eurika.
“Hahahaha...kebetulan aku mau merawat Kukri-ku. Kok kamu bisa merasakan kehadiranku seperti ‘Boss’?” dia pun duduk di meja tak jauh dengan ku. Dengan sambil merawat koleksi masing-masing, Faisal pun memulai pembicaraan.
“Sebagai sniper, musuh besar kita adalah serangan dari belakang itu adalah kata kakekku. Makanya aku berlatih merasakan kehadiran manusia di belakangku.”
“Kemana Ryu?” tanya Faisal.
Aku pun mengingat-ingat sambil mengintip ke laras L96 “Tak tahu, tadi kelihatanya dia sedang berbicara dengan si Boss.”
“Oh ya....tampaknya si Drei tak secuek yang kukira, walaupun Ryu bilang bahwa si Drei lebih dingin sekarang.”
“Tampaknya.....” Aku terdiam sejenak dan melanjutkan “Dia agak kesepian namun. Mungkin dari luar dia tampak cuek namun sebenarnya cukup perhatian namun tak tahun cara mengungkapkannya.”
Faisal pun tertawa geli “Hehehe.....kalau dia cewe, berarti dia ‘Tsundere’ dong?”
“Tsundere?” Aku pun terdiam sejenak mendengar istilah yang asing di telingaku.
“Itu istilah dari anime atau kartun jepang. Artinya cewe yang suka sama seseorang namun menyembunyikan perasaannya dengan bersikap ketus ke orang yang dicintainya.”
Aku pun memandang aneh ke arah Faisal. “Cewe yang seperti itu kelihatannya menyebalkan.”
“APA?! Tsundere itu karakter hasil mahakarya di abad 21! Tanpa karakter Tsundere anime tak akan berjaya!”
Kesabaran aku pun mulai hilang. “Dasar gila....” cetusku.
“Bukan orang gila! Kamu seharusnya menyebutku OTAKU!!!!”
“Diam atau ku...” aku pun mengarahkan bagian selonsong L96 ku kearah kepala Faisal walaupun aku tahu selosong aja tak akan bisa menembak, tapi itu sudah cukup membungkam Faisal.
Kami pun menghela nafas bersama dan tiba-tiba kami tertawa.
“hahaha...dasar kamu ini....kok bisa-bisanya tergila-gila dengan kartun seabad yang lalu?” aku pun merenggangkan badan sejenak.
“Yah...karena aku senang dengan ceritanya. Pertemuan dengan perempuan yang disukai di sekolah, pencarian harta, petualangan di luar angkasa. Setidaknya aku merasa damai jika menontonnya.”
“Cinta masa sekolah ya? Kakek-ku sering bercerita bahwa dia bertemu nenek pas SMU. Beda dengan kita yang dijodohkan oleh negara.”
“Setidaknya belum ada yang mau di jodohkan dengan ku dan andaikan perang ini usai sebelum aku dijodohkan, aku bisa memilih dan mendekati wanita yang kucintai.”
“Hmm...aku dan Ryu juga belum dapat informasi apa-apa tentang perjodohan, tapi di skuadron kita cuma Drei aja yang sudah.” Kataku sambil mulai merakit kembali L96.
“Cuma aku merasa agak aneh dengan sikap cuek Drei terhadap Mei, seakan-akan Drei menghindar dekat-dekat dari Mei. Seperti berkata ‘Jangan mendekatiku’ atau ‘sebaiknya kamu membenciku saja’, padahal Mei itu adalah calon pasangannya dan sedikitnya Mei kelihatannya mecintai Drei.”
Kata-kata Faisal pun mengingatkan aku pada sesuatu hal dan aku pun terdiam selama beberapa detik.
“Ada apa?” Faisal heran melihatku yang tiba-tiba diam seribu bahasa.
Aku pun kembali ke kesadaranku “Tidak....cuma aku agak khawatir dengan Ryu.”
“Tentang Ryu memiliki rasa suka ke Mei?”
Aku pun kaget mendengar Faisal tahu apa yang aku khawatirkan. “Iya, setidaknya Ryu tak bisa dekat-dekat dengan Mei sejak Drei datang kesini.”
Faisal pun membalas “Jangan khawatir, Ryu itu seorang profesional. Dia tak akan menembak teman seperjuangannya cuma gara-gara masalah asmara.”
Aku pun menghela nafas. “Bukan hal itu yang kupikirkan, yang lebih kupikirkan adalah perasaan Ryu. Dia tak bisa mecintai wanita yang disukai cuma gara-gara satu undang-undang yang dibuat oleh orang pemerintah.”
Tiba-tiba raut muka Faisal mengkerut seolah meredam amarah. “Orang pemerintah yang brengsek itu......seenaknya membuat undang-undang dan membuat kita berperang sementara mereka cuma bisa teriak-teriak kalau ada daerahnya yang direbut.”
“Letnan satu Faisal!” Aku pun berteriak karena apa yang di katakan Faisal bisa berakibat fatal jika di dengar oleh atasan kami. Tapi aku bisa mengerti dia Faisal, seorang anak bangsawan Turki. Dia dipaksa pindah mempertahankan daerah lain sehari sebelum Turki di serang sehingga Turki di bawah kekuasaan Eurika. Sampai sekarang dia masih menyalahkan dirinya sendiri. Menurutnya lebih baik dia mati ketika Turki di serang daripada pergi meninggalkan Turki dan mendapat kabar bahwa keluarga dan kekasihnya tewas dalam serangan tersebut.
Dia pun menggenggam kukri dia erat-erat dan mengamatinya. “Sampai sekarang, aku merasa diriku adalah seorang pecundang. Pergi meninggalkan negara sendiri dan meninggalkan orang tua, adik-adikku, dan kekasihku mati di tangan musuh.”
Aku pun berkata. “Bagaimana pun kau harus menjaga mulutmu apapun yang ada di pikiran mu.”
Faisal pun menaruh kembali kukri-nya ke atas meja dan dia tampak lebih tenang. “Oh ya Arjuna, tadi buku apa yang dibaca Drei?”
“Oh itu? “Perang dan Kemajuan Manusia” karangan Fujiwara Taiki.”
“Fujiwara Taiki.....bukankah dia wartawan Jepang yang menghilang dan dikabarkan masuk ke organisasi pemberontakan ‘White Feather’?”
Last edited by TheSisterPrincess; 07-06-2009 at 10:02 PM..
|
|
|
07-06-2009, 10:02 PM
|
#10
|
|
Nissan Fairlady Z
Join Date: Jul 2003
Location: In 370Z with Mio
Age: 22
Posts: 7,723
Thanks: 28
Thanked 36 Times in 17 Posts
|
Re: [Story] Dancing with The Death
‘White Feather’ sebuah organisasi pemberontakan yang tak memihak kedua fraksi. Tapi organisasi ini tak pernah melakukan pemberontakan bersenjata melainkan dengan berusaha membongkar apa yang ada di balik perang yang memungkinkan bisa mendamaikan dunia. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang terpelajar, profesor, dan yang paling penting adalah wartawan.
Wartawan mereka tersebar di seluruh dunia untuk mencari dan menyebarkan berita yang mereka percaya bisa mendatangkan perdamaian. Tentu saja pemerintah dari kedua fraksi menyebut berita tersebut adalah propaganda musuh dan tak sedikit wartawan yang digantung di depan umum dengan tuduhan mata-mata musuh.
Fujiwara Taiki menghilang secara tiba-tiba sebulan setelah perang dimulai dan pada saat yang sama White Feather didirikan. Tentu saja hal ini yang memunculkan kecurigaan bahwa Fujiwara Taiki masuk ke White Feather dan ada gosip dialah salah satu pendirinya.
“Iya, itu adalah dia.” aku pun menjawab pertanyaan Faisal.
“Di buku dia membicarakan bahwa perang memajukan manusia, bukan kah dia secara tak langsung mendukung adanya perang? Kok dia masuk White Feather yang anti perang?”
Aku pun tersenyum kecil. “Di bagian buku tersebut, dia juga menulis bahwa perang memang memaksa teknologi maju lebih cepat. Tapi juga ada cara lain yang lebih bermoral dan etis, seperti kompetisi balap mobil dimana setiap kompetitor mengembangkan teknologi baru untuk mobilnya yang akhirnya bisa diterapkan pada mobil-mobil biasa. Juga selama manusia ‘perang’ melawan kekurangan dan kebutuhannya, teknologi akan terus berevolusi. Teknologi masih bisa dikembangkan dalam keadaan damai selama tujuannya baik. Perdamaian bisa diraih jika manusia bisa saling percaya satu sama lain.”
“Tapi tampaknya hal itu mustahil.” Faisal memotong kata-kataku. “Karena sifat curiga adalah sifat bawaan manusia.”
“Ya...itulah kata-kata yang dia tulis setelah itu. Ironisnya, perang yang terjadi beberapa saat setelah buku ini diterbitkan disebabkan oleh hilangnya rasa percaya antar dua negara.”
Tiba-tiba Faisal berdiri dan menyarungkan Kukrinya.
“Tak jadi merawat Kukri-mu?”
“Tiba-tiba aku capek, aku mau tidur selagi sempat. Aku punya perasaan besok akan ada serangan, jadi aku akan menikmati tidurku selagi bisa.” Dia pun berjalan keluar ruang tengah menuju kamarnya.
Tak bisa dipungkiri, bagi kita tentara tidur di malam yang tenang adalah sebuah anugrah. Kita tak tahu kapan musuh akan menyerang dan juga kita tak tahu apakah itu akan menjadi malam terakhir kita sebelum mati di medan perang atau tidak. Sedikitnya bagi kami, ranjang adalah surga di muka bumi.
Kebetulan perawatan pada L96 kakekku sudah selesai dan hanya tinggal dirakit kembali. Tak memakan waktu sampai 5 menit, L96 itu sudah utuh kembali dan aku taruh di kopernya kembali.
Segera aku menuju kamar dan ganti baju dengan baju tidurku. Aku set jam wekerku di pukul 5:00 dan aku berdoa supaya jam weker aku duluan yang bunyi sebelum alarm serangan.
***
Itu adalah bagian pertama kisah dari Arjuna. Bagian selanjutnya akan saya post di blog berikutnya. Masih banyak kejutan di kisah berikutnya. Juga saya ucapkan terima kasih terlebih dahulu ke Arjuna yang sudah susah payah menceritakan apa yang terjadi pada waktu itu.
**************************
Aku pun merenggangkan badan sejenak dan berpikir bahwa apa yang di ceritakan Arjuna terlalu detail, tapi menurutku ada baiknya juga dimunculkan. Kadang pemerintah jarang memikirkan perasaan tentara yang di kirim berperang. Juga latar belakang Faisal dan Arjuna kurasa cukup menarik untuk disimak oleh pembaca.
Tentu saja aku tak lupa mengklik tombol post. Lalu kumatikan laptop ku dan jam pun menunjukan pukul 11 malam atau waktunya aku tidur, Setelah cuci muka, aku pun tidur di sebelah suamiku yang tercinta.
Last edited by TheSisterPrincess; 07-06-2009 at 10:05 PM..
|
|
|
|
Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
|
|
|
| Thread Tools |
|
|
| Display Modes |
Linear Mode
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
PT Visi Global Interaktif
Powered by vBulletin® Version 3.8.4 Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
All times are GMT +8. The time now is 01:20 PM.
|
|
 |