[GBA] Final Fantasy VI Advance - Square Enix/Nintendo - RPG (Oleh Edria Sandika) By Edria Sandika Published: July 12, 2007 PrintEmail
Sedih memang kalau berbicara tentang GBA saat gamer handheld lebih terfokus pada Nintendo DS dan PlayStation Portable. Game-game yang benar-benar berkualitas untuk GBA saat ini sudah sangat minim. Di bulan Februari 2007 ini dirilis remake RPG Final Fantasy VI Advance untuk melengkapi remake seri FF yang sudah lebih dulu keluar di GBA (kecuali Final Fantasy III yang dirombak total dan khusus untuk NDS), boleh dibilang FFVI Advance ini adalah penutup dan akhir yang manis untuk seri FF di GBA.
FFVI Advance merupakan remake dari versi SNES/Super Famicom yang dahulu dirilis di tahun 1994 (di USA dirilis dengan nama Final Fantasy III), sebuah game RPG dari franchise Final Fantasy dengan cerita yang amat kompleks, jumlah karakter yang banyak (sampai 18 orang), dan grafis yang sangat bagus dimasanya. Dengan alur cerita yang kompleks (bahkan disebut-sebut sebagai salah satu storyline terbaik yang ada di seri FF) dan perkembangan karakternya yang perlahan-lahan namun menarik, tidak heran FFVI yang dirilis oleh Square Co Ltd (sekarang Square Enix) ini merupakan salah satu seri yang cukup fenomenal dan meninggalkan nostalgia tersendiri di era 16-bit tersebut. Selain menjadi RPG yang berpengaruh, FFVI juga merupakan seri terakhir yang dirilis untuk SNES, karena mulai FFVII dan seterusnya dirilis di konsol Sony PlayStation. Lalu bagaimana pula dengan FFVI Advance yang kebetulan juga menjadi seri remake terakhir untuk GBA ini?
Storyline-nya (atau plot), masih sama dengan versi aslinya, tidak ada yang dikurangi atau ditambah skenario baru. Berkisah tentang seorang gadis misterius bernama Terra yang selama ini dikontrol oleh Kerajaan Gestahlian, dan dikejar-kejar oleh kelompok pemberontak The Returners. Dalam perkembangan ceritanya, ada sekitar 18 karakter dengan latar belakang yang berbeda-beda dan unik.
Grafis B+
Dari segi grafis, FFVI Advance tidak jauh berbeda dengan versi aslinya yang ada di SNES. Tetap dengan grafis 2D yang manis dan megah, yang pada masanya sudah sangat bagus. Kalaupun terasa berbeda, hanya karena dahulu dimainkan di depan TV berlayar besar, namun kali ini dimainkan dengan layar kecil GBA. Hal tersebut memberikan pengalaman tersendiri, entah itu disukai atau malah dibenci bagi yang memainkannya. Tapi yang jelas, tidak ada hal yang menganggu dari grafisnya tersebut. Karena itulah, game ini tidak cocok bagi mereka yang mengharapkan grafis 3D yang keren atau setidaknya spektakuler untuk GBA karena ini murni remake dari versi SNES-nya.
Sound A-
Untuk musiknya terdengar ada sedikit perubahan. Bagi yang pernah memainkan versi SNES-nya, hal pertama yang disadari perbedaannya adalah pada lagu battlenya. Kali ini terdengar lebih nge-bass dan energik. Masih mengandalkan tune yang sama dari maestro Nobuo Uematsu, kali ini disesuaikan untuk GBA. Hasilnya tidak mengecewakan, game ini masih diiringi oleh salah satu masterpiece-nya beliau tetapi dengan kualitas sound GBA yang sejujurnya sangat ambivalen. Sama seperti grafisnya, boleh jadi dengan musik dan sound ala GBA ini ada yang bakal suka atau malah benci, semua kembali ke selera masing-masing.
{mospagebreak}
Gameplay A
Dari segi gamplay, sesuai ciri khas seri FF klasik, tetap mempertahankan sistem turn based seperti yang ada di versi SNES-nya (sistem yang sangat jamak di era 16-bit). Siapapun yang memainkannya tidak akan menemui kesulitan yang berarti. Akses menu, battle, magic, esper (summon force dalam game ini) semua sudah dirancang dengan rapi. Sebagai bonusnya, ada tambahan empat esper baru khusus untuk versi GBA ini. Nantinya, sistem Turn Based ini lebih disempurnakan lagi di game Chrono Trigger, Super Mario RPG, dan tentunya Final Fantasy VII.
Apakah game ini benar-benar translasi mentah dari versi aslinya? Harus diakui, tidak ada satupun perubahan signifikan yang terdapat dalam remake ini. Jadi jangan berharap kalau game ini menawarkan sesuatu yang baru. Yang ada hanyalah Beastiary (semacam daftar lengkap dari monster-monster yang dihadapi), dan music test apabila menamatkan game ini. Tapi bukankah fungsi utama dari sebuah game yang diremake adalah karena nostalgia? Siapapun yang pernah memainkan apalagi menamatkan FFVI tidak akan kecewa dengan game ini, karena semua aspek tetap dihadirkan meskipun itu bukan lagi sebuah pengalaman baru, melainkan sedikit berbeda dibandingkan ketika memainkan game ini di SNES (mungkin ini juga berlaku bagi remake seri FF lainnya yang ada di GBA).
Longevity B-
Sesuai fungsinya yang ‘hanya’ sebagai remake, tentu saja replay value dari game ini relatif sedang. Kita tidak akan menemukan pengalaman baru selain sebagai sebuah nostalgia dari era 16-bit, dan nama besar Final Fantasy yang berpengaruh di lingkungan RPG. Tetapi bukan berarti game ini sekali tamat langsung buang, dengan storyline yang kompleks dan dan gameplay yang bagus itulah yang membuat franchise Final Fantasy menjadi berkibar. Bukankah filosofi utama sebuah game itu adalah bagaimana kita memainkannya, bukan kenapa gamenya seperti itu? Lagipula, FFVI tidak bisa ditamatkan dalam waktu singkat, ada begitu banyak hal yang harus dieksplorasi dalam game ini.
Remake ini merupakan tambahan koleksi pustaka game-game GBA yang berkualitas menjelang akhir hayatnya. Apalagi bagi penggemar FF, remake ini boleh dibilang sudah memenuhi ekspektasi mereka. Memang bukan sebuah kejutan, tetapi masih layak untuk dikoleksi. Siapa yang bakal lupa dengan kemahsyuran nama FFVI dari era 16-bit? Mungkin hanya bisa ditandingi oleh game RPG lainnya yaitu Chrono Trigger (yang mengherankan, kenapa game ini tidak diremake juga untuk GBA?). Bagi yang ingin bernostalgia atau masih belum mem-peti es-kan GBA-nya, FFVI Advance adalah game yang cocok untuk dimainkan saat ini.