Home Reviews [Review] Mystery Case Files: The Malgrave Incident

Wii U     Jul 27, 2011 10:41 AM

[Review] Mystery Case Files: The Malgrave Incident

Ada kabar baik, buruk, sekaligus keduanya bagi para fans dari Mystery Case Files (MCF), yang merupakan salah satu serial game casual terpopuler itu. Mari kita mulai dari kabar baiknya. Ada MCF lagi yang baru dan dijuduli sebagai The Malgrave Incident, yay! Lanjut ke kabar buruknya. Kalian mesti memiliki sebuah Wii untuk memainkannya, karena game tersebut hanya rilis secara eksklusif untuk konsol Nintendo tersebut.

Sementara kabar terakhir, bisa dikatakan baik bagi beberapa pihak dan sekaligus bisa dikatakan buruk bagi banyak pihak. The Malgrave Incident cukup panjang dan sekaligus menunjukkan perkembangan yang baik atas genre hidden object, namun sayangnya tak terlalu bisa dinikmati dengan nyaman untuk dimainkan berkat kontrol Wii, yang entah kenapa makin tidak fleksibel atau pun cukup enak untuk dimainkan.

Mungkin memang masih banyak yang bisa diharapkan dari salah satu franchise terdepan Big Fish ini. Misalnya pada usaha mereka untuk memperlebar game ini ke arah gameplay secara multiplayer. Namun hal itu tak cukup untuk menutupi kelemahan pada jalannya game yang terasa lamban, tampilan grafisnya yang cenderung di bawah standar, dan interface, yang anehnya sama sekali tidak casual (user friendly), membuat The Malgrave Incident terasa menjadi seri MCF yang terburuk.

Seperti sebelumnya, kita akan berperan sebagai salah seorang anggota penting dalam agensi detektif, yang kebetulan juga bernama Mystery Case Files. Dikisahkan bahwa kita diundang ke pulau Malgrave yang terpencil oleh seorang pengusaha eksentrik, bernama Winston Malgrave. Yep, pulau itu dimiliki olehnya. Melalui narasi dalam game, kita mengetahui bahwa di pulau tersebut mengalirlah mata air yang dapat menyembuhkan bak sebuah legenda.

Namun sayangnya, terjadi sebuah insiden yang memunculkan sebuah tragedi dan membuat pulau tersebut ditinggalkan para penduduknya. Malgrave memohon bantuan kepada kita untuk mengumpulkan debu-debu ‘aneh’ dari berbagai macam barang yang tersebar di pulaunya. Menurut Malgrave, itulah satu-satunya harapan untuk mengobati sang isteri yang disayanginya. Begitulah premis ceritanya, karena kita bakal mengitari pulau tersebut secara sendirian sepanjang game.

Yah, kadang-kadang Malgrave bakal mengontak kita melalui ‘handphone’ unik yang sebelumnya telah dia berikan, berbarengan dengan undangannya melalui pos. Biasanya dia menelepon agar kita bisa lebih mempercepat investigasi dan tidak melakukan hal lain. Selain itu, juga ada beberapa pesan bernada peringatan dari seseorang berinisial ‘R’, yang membuat kita jadi merasa bahwa apa yang kita ketahui mungkin bukanlah kebenaran yang sesungguhnya.

Orang tersebut bisa jadi adalah sama dengan orang yang meninggalkan bermacam rintangan hingga membuat kita kesulitan demi meneruskan investigasi ke berbagai area sekitar pulau tersebut. Rintangan-rintangan tersebut, seperti yang umumnya ada pada serial MCF, berupa puzzle-puzzle. Di awal game, puzzle-puzzle ini masih berdatangan dalam jumlah yang sedikit dan tak muncul dalam rentang waktu yang dekat.

Rata-rata sepertinya dimunculkan hanya untuk membatasi supaya kita tak terlalu jauh untuk berpindah area. Beberapa puzzle akan berujud slider atau yang senada, berkaitan dengan efek domino, mencari jalur tertentu tanpa saling bertabrakan, dan tukar-menukar cairan hingga mencapai takaran yang tepat. Ada juga puzzle yang membuat kita mesti menemukan salah satu bagiannya atau semacam petunjuk, secara otomatis menjadikannya lebih lama untuk diselesaikan.

Walau rasanya makin lama makin sulit menuju akhir game, kebanyakan puzzleterhitung cukup mudah untuk diselesaikan. Misalnya kita mesti menempatkan buku-buku dengan urutan yang tepat, atau memainkan nada yang tepat pada sebuah piano. Petunjuknya sering bisa kita temui pada lokasi yang tak terlalu jauh dari puzzle tersebut, atau paling tidak tertulis pada catatan kita secara in-game. Jadi, bisa dikatakan game ini tak bakal membuat otak kita terlalu giat untuk bekerja.

Beberapa puzzle bahkan bisa dilewatkan berkat fitur skip yang diimplementasikan. Fitur tersebut tak bisa diperkirakan kemunculannya, kadang juga rasanya butuh waktu yang lama untuk munculnya fitur tersebut saat kita sedang kebingungan akan puzzle yang sedang dihadapi. Satu-satunya alasan mengapa kita mutlak memerlukan fitur tersebut karena kita tak mendapatkan instruksi apa pun demi memecahkan puzzle-puzzle di dalam game ini.

Begitulah, sama sekali tak ada petunjuk atau apa pun yang membuat kita mengerti bagaimana cara menyelesaikan puzzle-puzzle tersebut. Bahkan jika misalnya pun cara kita salah, tak ada respon balik yang sekedar memberitahukan di mana letak kesalahannya. Yep, we’re totally on our own. Banyak-banyaklah melakukan trial-and-error sepanjang game. Hal yang sama juga terjadi pada aspek adventure, kita bakal sering mengalami kehilangan arah & tujuan selanjutnya yang mesti didatangi.

Kadang memang ada objektif yang mesti kita turuti, misalnya memperbaiki sirkuit listrik, menghindari kebocoran gas beracun, atau sekedar mengutak-atik lubang kunci. Namun karena item-item dan petunjuk-petunjuk penting datang dan pergi secara random dari inventory, kita jadi tak memiliki pegangan yang pasti untuk pergi ke mana dan mesti melakukan apa. Ketiadaan pakem gameplay dasar, yang seharusnya casual (user friendly), membuat kita jadi bingung pada akhirnya.

Satu puzzle yang bakal sering kita temui berulang kali, utamanya setelah berhasil mengumpulkan debu-debu ‘aneh’, bakal berujud tumpukan lingkaran yang bisa diputar-putar. Debu-debu tersebut, seperti yang telah dibicarakan sekilas sebelumnya, bakal kita kumpulkan tiap kali menyelesaikan sebuah sesi hidden object, yang akan sering bermunculan di pulau Malgrave. Beberapa sesi akan membuat kita benar-benar memelototi layar demi bisa menemukan item yang ditentukan.

Namun seringnya tak terlalu menyulitkan, terlebih jika mengetahui padanan kata-kata dalam bahasa Inggris. Sayangnya, banyak dari sesi tersebut yang akan berulang kali mengambil lokasi dan item yang sama. Ditambah lagi dengan sering dimunculkannya sesi hidden object yang berlokasi jauh banget dari posisi kita. Memang kita bakal cukup terbantu dengan adanya peta, yang menampilkan area mana yang memiliki sesi hidden object.

Namun hal tersebut membuat kita jadi sangat bergantung pada peta tersebut dan mesti bolak-balik membukanya, karena tak adanya semacam petunjuk atau penanda yang membuat kita jadi mengetahui adanya sesi hidden object lagi yang telah dimunculkan. Mengikuti peta tersebut pun pada dasarnya membuat kita mesti menyusuri area demi area, hingga bisa menemukan lokasi keberadaan sesi hidden object yang mesti dijalani itu.

Terlepas dari tersamarnya objek-objek yang dimunculkan di layar, daftar item yang mesti ditemukan cukuplah jelas walau menemukannya belum tentu sama jelasnya. Tiap sesi hidden object memiliki tiga ‘lapis’ yang berbeda hingga membuat kita bisa melakukan zoom dengan pandangan yang lebih dekat. Semakin dekat pandangan kita, semakin sedikit bagian layar yang bisa kita lihat secara seksama sembari sedikit menggeser-geser pandangan. Tampilan grafis terlihat lumayan di sini.

Fitur zoom bukanlah ide yang buruk, hanya saja berkat lumayan menyusahkannya pergeseran layar dan mengklik item yang dicari dengan Wiimote, membuat pandangan kita malah menjadi nanar dan bingung apakah objek yang terlihat benar-benar ada atau hanyalah halusinasi. Hidden object seharusnya menantang kita untuk menemukan objek yang ‘tersembunyi’ pada tampilan yang sederhana, bukannya memaksa kita untuk mencari sesuatu yang perlu di-zoom.

Juga terdapat semacam sistem hint yang akan terisi kembali secara perlahan, namun sistem tersebut sebenarnya tidaklah terlalu membantu saat dipergunakan karena hanya sekedar melingkari area di sekeliling objek yang kita cari. Hal tersebut juga makin memperjelas ‘kebiasaan’ game ini untuk menempatkan objek yang tersembunyi itu pada bagian pinggir layar, membuatnya hanya sedikit terlihat saat kita memelototinya.

Terkadang kita merasa butuh bantuan dari sistem hint tersebut hingga dua kali dalam satu sesi hidden object, karena masalah terbesar dari game ini adalah pada tampilan grafisnya yang tak terlalu bagus. Pada TV yang berukuran lumayan besar, namun tanpa dukungan HD, tampilan grafisnya bakal terlihat kabur dan cenderung seperti memudar, yang tentu saja bukanlah hal yang kita inginkan jika ingin menemukan sebuah kelereng atau sebatang korek api di antara tumpukan banyak barang.

Walau sebenarnya art design yang tampil cukup bagus, sayangnya keterbatasan Wii membuatnya jadi tak terlalu menonjol. Warna-warna cenderung redup, namun latar belakangnya bak sebuah lukisan, yang sayangnya terasa samar. Animasi yang seharusnya terasa hidup, kadang muncul lewat ombak yang menerpa dermaga atau papan plang yang tertiup angin. Ada beberapa yang terlihat baik seperti saat menaiki perahu atau menembakkan sebuah meriam.

Pulau Malgrave adalah sebuah kota kecil yang dipenuhi toko-toko, rumah-rumah, dan beberapa pabrik, yang semuanya telah ditinggal para penghuninya. Membuat kita kadang merasa kesepian sepanjang game namun sekaligus membuat kita bisa mondar-mandir dengan tenang. Tampak jelas bahwa pulau tersebut benar-benar ‘sengsara’ setelah ditinggalkan. Banyak tumpukan, baik berupa sampah atau sisa bangunan yang sebelumnya berdiri kokoh.

Gedung teater, yang mungkin dulunya mewah, kini ditumbuhi sebuah pohon di dalamnya. Toko daging sekarang membeku di segala arah berkat ruang pendingin yang bekerja secara berlebihaan. Sepanjang game, kita juga kadang menemui lokasi-lokasi dengan pemandangan yang unik, seperti pemandian outdoor, sebuah pemakaman, dan bahkan kincir angin yang indah. Bukanlah pulau yang jelek untuk dikunjungi, walau belum tentu kita mau tinggal di situ.

Sayangnya lagi, berkeliling pada aspek adventure ini terasa kian menjemukan sekaligus tak nyaman. Tiap layar memberikan pergeseran yang terbatas. Jadi, saat berhenti, kita mesti menggerakan kursor yang lambaaat itu ke pinggir kiri layar, lalu kanan layar, dan kadang ke atas atau bawah layar. Bukannya langsung berpindah ke layar berikutnya secara instan, mengklik sebuah panah petunjuk akan membuat game jadi bergaya first-person dan menggeser layar secara perlahan.

Perlahan, kadang lurus dan kadang berputar, namun juga seringnya salah tujuan membuat kita berpindah ke layar yang tak kita inginkan. Pergeseran layar secara first-person ini sebenarnya tambahan yang cukup baik, namun karena tak bisa di-skip jadi membuat kita merasa cepat bosan. Bahkan mengklik pada sebuah titik akan melakukan zoom pada objek tersebut, walau belum tentu penting, dan kembali lagi secara perlahan ke pandangan semula secara perlahan.

Layar-layar dimunculkan dengan waktu loading yang tak terlalu sering dan sebenarnya tak terlalu lama, namun berkat sekuens first-person, waktu kita jadi terasa lebih lama untuk menunggunya. Berbicara mengenai interface-nya yang aneh, seperti menaruh ikon Wiimote (yang berfungsi sebagai ‘handphone’ sekaligus pengukur banyaknya debu yang kita kumpulkan) dan catatan (sekaligus peta) secara bertumpuk di sisi kiri layar, membuat kita sering salah mengklik pilihan yang diingini.

Inventory akan terbuka dan memenuhi bagian bawah layar saat dipilih dari sisi kanan, namun menggunakan sebuah item membuat kita mesti menekan serta menahan tombol A dan B secara berbarengan, kemudian digeret ke lokasi yang diingini. Seperti fungsinya sebagai ‘handphone’, Wiimote kadang berdering dan memunculkan suara Malgrave, yang bakal menyuruh-suruh kita untuk mempercepat investigasi.

Dubber dari Malgrave terdengar pas dengan karakterisasinya. Kita bakal bertemu dengannya nanti, begitu pun dengan ‘R’. Karakter kita, seperti biasanya, tak akan berbicara sekali pun, hanya berkomentar dalam bentuk tulisan. Anehnya, hanya sedikit juga untuk keterlibatan elemen musik dalam game ini. Hanya terdengar alunan biola yang itu-itu saja, alias monoton. Efek suara tak terlalu vital, namun cukup membantu atmosfer game.

Bisa jadi elemen terkuat dari game ini, sekaligus yang tak terlalu begitu dimainkan, adalah sesi multiplayer. Hidden object umumnya dimainkan secara single-player, namun Wii dikenal banyak memiliki game party yang bisa dimainkan bareng teman atau pun anggota keluarga. Jadi Big Fish mencoba menjembatani hal tersebut. Jalan cerita utama dapat dimainkan secara kooperatif, ditambah tiga pilihan sesi multiplayer lainnya lagi.

Hingga empat pemain bisa berlomba-lomba menemukan item baru yang dimunculkan, mengumpulkan objek yang tertera di daftar item, atau menemukan objek dalam waktu tertentu demi mengoper bom ke pemain lain. Jika para pemain sama-sama menyukai hidden object, game ini sangatlah menyenangkan untuk dimainkan bareng sekali waktu, walau tetap tak bisa menutupi kelemahan grafis yang membuat Wii terasa tak begitu cocok untuk genre hidden object.

Terlepas dari sesi multiplayer, game ini akan menghabiskan waktu lebih dari delapan jam untuk menyelesaikan keseluruhan jalan cerita secara single-player. Kedengarannya memang lama, namun hal itu terjadi lebih karena kita sering mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas, menunggui kamera berpindah secara perlahan antar area yang itu dan itu lagi, dan memelototi objek-objek yang pixelated dengan tampilan grafis rendah.

Bahkan jalan ceritanya, tanpa mengumbar spoiler, sebenarnya cukup mengecewakan. Sepanjang game, kita seperti bukannya melakukan investigasi. Hanya mengikuti jejak demi jejak, mengumpulkan debu-debu ‘aneh’ itu, lalu berpindah ke lokasi lain. Nantinya, semua bakal terungkap dengan cepat di akhir game, namun malah jadi terkesan seperti buru-buru dan membuahkan rasa anti klimaks untuk ending-nya.

Editor’s Tilt - 6,0

Pada akhirnya, game ini bak menjadi korban berkat keterbatasan Wii dalam hal teknis, yang membuatnya juga terasa lebih susah diakses dibanding seri-seri sebelumnya yang rilis di PC dan DS. Setting game sebenarnya menarik dan puzzle-puzzle nya menantang, namun jika kalian bukanlah penggemar serial MCF, merasa desperate akan adanya game baru di Wii, atau memiliki teman yang bisa diajak bermain bareng secara multiplayer, sebaiknya game ini tak perlu dijajal.

VGI Ratings for [Review] Mystery Case Files: The Malgrave Incident

6,0

Gameplay Variasi yang baik untuk berbagai lokasi yang mesti didatangi dan puzzle-puzzle nya yang menantang. Sayang kontrol Wii terasa kian tak enak, juga agak sulitnya permainan akibat kurangnya pakem gameplay casual (user friendly).

5,5

Graphic Kualitas grafisnya memiliki standar yang rendah dan banyaknya selingan sekuens first-person yang menjemukan.

5,5

Sound Hanya terdengar musik latar yang itu-itu saja sepanjang game, alias monoton dan repetitif.

7,0

Longevity Pengimplementasi sesi multiplayer yang baik untuk bermain barengan sesama teman penyuka hidden object, serta puasnya bermain berkat panjangnya waktu, yang lebih dari delapan jam, untuk menyelesaikan keseluruhan game.

6,0 Average

Overall

Comments (0)    Post Comment + using:

  • Facebook
  • Twitter
  • VGI
More on VGI Network

Games

Reviews

Movies

Online

Signature

Technology

Loading
Close
0.151471853256